Empat Belas

1366 Words
Kara bosan. Kakinya berulang kali mengetuk-ngetuk lantai bandara. Kepalanya juga sesekali menoleh kearah pintu kedatangan penumpang pesawat.  Memindai satu persatu orang yang melewatinya. Apa jangan-jangan dia salah jam ya?? Hahhh... Sabar...sabar Setelah mata kuliah terakhir hari ini selesai, Kara memang langsung pergi ke bandara. Jika sesuai prediksi, seharusnya sekitaran jam empat pesawat yang ditumpangi Fatih sudah mendarat saat ini. Namun sayangnya, hingga pukul setengah lima belum ada tanda-tanda suaminya itu akan muncul. Nggak papa-nggak papa. Ngaret setengah jam mah belum ada apa-apanya di Indonesia. Jenuh memandangi seisi bandara, Kara memilih memainkan ponselnya. Memborbardir suaminya  dengan pesan untuk  segera menghubunginya langsung jika sudah turun dari pesawat. Berharap semoga saja suaminya itu tidak langsung pulang dan sama sekali tidak membaca pesannya. Yahhh... walaupun sebelumnya Kara sudah mewanti-wanti bahwa dirinya akan menjemput Fatih sih. Tapi tidak menutup kemungkinan kan jika suaminya itu lupakan? Manusiakan tempatnya salah dan lupa, kata gurunya sih gitu. Saking asyiknya melihat updatean story teman-temannya di instragram, Kara sampai tak sadar jika Fatih sudah duduk disebelahnya sejak tadi. Fatih mengusap kepala Kara lembut. "Astaghfirullah." Kara berjengit kaget. Reflek bangun dari duduknya. Bersiap mensumpah serapahi orang  yang menggangu dirinya yang sedang khusyuk menyelami dunia keduanya itu. Sayangnya mulut yang  hampir mengeluarkan kata-k********r itu kini malah ternganga lebar saat melihat orang yang ditunggu-tunggunya kini malah tersenyum lebar  menatap tingkahnnya yang menurut Fatih lucu. "Aaaaaaaa’‼‼‼‼!" Kara langsun menubruk tubuh Fatih. Memeluknya erat. Membuat Fatih terjerembab kebelakang jika saja tidak ada sandaran  kursi di belakangnya. Fatih membalas pelukan Kara. Mengusap-usap punggung Kara lembut.  Ikut bahagia melihat tingkah Kara setelah beberapa hari hanya bisa melihatnya lewat handphone. "Udah, lepas dulu." Fatih mencoba melepas tangan Kara yang masih asik membelit tubuhnya. "Nanti ihhh." Suaranya terendam tertutup d**a Fatih. Enggan melepasnya. "Lanjut di rumah." Kara terdiam sebentar. Rasanya Kara tetap  ingin memeluk dan mencium bau tubuh suaminya itu. Kara masih menundukkan kepalanya, mengusap matanya yang sempat mengeluarkan air mata kangen dan bahagia. Mungkin terlihat lebay sih. Tapi biarin, suka-suka Kara dong. Toh yang nangis juga Kara kan?? "Ayo pulang." Kara tersenyum menatap Fatih. Menarik tangan Fatih agar ikut berdiri. "Kenapa nangis?" Fatih menatap Kara lekat-lekat. Melihat mata dan hidung Kara yang memerah. "Kata  siapa coba?? Lebay banget. Gitu aja nangis. Huh!” Kara memalingkan  wajahnya ke arah lain. Enggan ditatap Fatih. "Oh ya. Koper Aa’ mana?" tanya Kara mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya karna dirinya juga heran sih melihat Fatih yang hanya mencangklong waistbag untuk menaruh hape dan buku  mini andalannya. Padahal seingat Kara, suaminya itu membawa koper besar yang dia siapkan. "Oh itu ada sa– " "Woyy! Gilak lo. Main ninggalin koper segede gaban gini sama gue. Nih bawa sendiri." omel Yogi sewot saat di dekat Fatih. Tidak terima rekan kerjanya itu langsung berlari menemui istrinya dan dengan seenaknya menyuruh dia mengambil koper. Dikira dirinya babu apa. "Eh kok ada Pak Yogi??" Kara memandang Fatih  bingung. Meminta penjelasan. "Satu  tim penelitian." jawab Fatih cuek tanpa memandang Yogi. Tangannya mengambil alih  kopernya. Kara hanya geleng-geleng maklum melihat sikap datar Fatih yang kambuh. “Terima Kasih ya Pak Yogi, udah bawain koper Pak Fatih." ucap Kara, tersenyum ramah menatap Yogi. Melihat  senyum Kara, amarah Yogi lumayan mereda. Ikut  tersenyum. Tapi belum juga dirinya membalas ucapan terimakasih Kara, Fatih langsung menolehkan kepala Kara dan membawa ke dekapan dadanya. Tidak terima. "Aelahhh, lebay amat lo ah. Kasian tuh bini lo sesak napas." Yogi berdecak sebal. Sebenernya kaget juga dengan sikap Fatih yang ternyata bisa seposesif itu. Tapi melihat Kara yang mendorong dan memukul-mukul d**a Fatih  agar menjauh, membuatnya merasa kasihan juga. "Jauh-jauh." usir Fatih pada Yogi  menggunakan dagunya. Membawa Kara yang masih dalam rangkulan dan perlindungannya agar  tidak menatap Yogi  berjalan  menuju pintu keluar bandara. "Dasar Fatih Dugonggggggg‼‼" teriak Yogi mencak-mencak kesal. Fatih tidak peduli dengan teriaan Yogi yang jauh dibelakangnya. Tingkahnya bikin Fatih malu. Nggak ada jaim-jaimnya sama sekali di depan umum apalagi di depan Kara yang notabene juga mahasiswinya sendiri. Kara memukul-mukul d**a Fatih saat pernafasannya dirasa mulai pengap. "Aa' sesaaakkkk." Mendengar rengekan Kara, Fatih melonggarkan pelukannya. Terkekeh geli melihat Kara yang memasang ekspresi lega. Mengecup kening Kara lembut sebagai ganti ucapan maaf atas tingkahnya itu. "Untung Aa' wangi." ujar Kara sambil mengelus dadanya. Mendegar ucapan Kara, Fatih tidak bisa menahan kekehan gelinya. Fatih merangkul Kara kembali dan mencubit pipinya gemas dari samping. "Oh ya, Aa' cuma berdua sama Pak Yogi?" "Enggak. Banyak kok." "Terus yang lain mana?" "Nggak tau." "Ihh kok gitu. Nanti Aa' dicari." "Tadi udah pamitan." jawab Fatih sekedarnya "Beneran udah pamitkan? Takutnya nanti Aa' dicariin. Kan nggak enak jadinya." tanya Kara memastikan. Takut jika ternyata dosen-dosen yang lain menggunggu Fatih. "Beneran udah." "Syukur kalo gitu." Kara menghela nafas lega. Sesimpel itu dia percaya. "Pak Fatih! Tunggu!!" Mendegar namanya dipanggil, Kara dan Fatih menghentikan obrolan dan langkah mereka. Membalikkan badan mencari siapa si pemanggil itu. Dari arah kanan, Tika, Dosen muda yang ngehits dikalangan mahasiswa kampusnya berjalan ke arah mereka. Dengan atasan kemeja putih dan celana krem formal membuatnya terlihat anggun. Kara mengernyitkan dahinya bingung. Mau apa dosen centil itu kesini. Kara memang kurang suka dengan dosen yang satu itu. Tingkahnya yang sok banget dan sering pilih kasih membuatnya kurang disukai. Cara ngajarnya juga mengecewakan. Kayak nggak niat banget jadi dosen. Nilai plusnya cuma di penampilan luarnya aja. Untuk yang lain, mines seratus. "Pak Fatih mau pulang ya?" tanya Tika saat sampai di depan Fatih dan Kara. Tatapannya hanya tertuju pada Fatih, padahal ada Kara yang masih nemplok di sampingnya. "Iya." Untuk kali ini, Kara amat sangat suka dengan sifat Fatih yang kelewat acuh. "Saya ikut ya pak, kebetulan supir saya tidak bisa jemput. Dosen-dosen yang lain juga sudah pada pulang."  Pinta Tika dengan suara yang dibuat sesantun dan senyum semanis mungkin. Kara memberengut tidak suka. Itu senyum-senyum gitu maksudnya apa coba. Minta disleding nih dosen satu. Tatapan Kara beralih menatap Fatih, dan untungnya tidak ada tanda-tanda suaminya itu tergoda. Awas kamu A' kalo tergoda ni nenek lampir. "Sore Bu Tika." Sapa Kara ramah. Eh salah, maksudnya sok ramah. Sapaan dia cuma basa-basi-busuk kok. Nggak ada unsur ketulusan sama sekali di dalamnya. Biar mata yang minta dicolok itu nggak kelamaan natap suaminya aja. "Eh, hai?! Sore juga." Tika tersenyum tipis. Yang Kara yakin sama sekali nggak ikhlas. Duh, orang dengki ya gini. Bawaanya nethink mulu. "Jadi gimana Pak Fatih, saya boleh ikutkan?" Tika kembali menatap Fatih, penuh binar harapan. Binar harapan? Binar-binar t*i kebo kali ah. Cuih...batin Kara jijik. Lagian ini dosen satu, matanya  buta atau katarak kali ya sampai nggak bisa lihat banyak taxi yang bersliweran. Atau terlalu gaptek sampe sama sekali nggak bisa gunain aplikasi grab atau gocar. Malu sama tittle kali bu'... Ingin sekali kara meneriakkan itu. "Wahhh, gimana ya bu', tapi saya sama Pak Fatih mau pulang pake taksi." Kara langsung menjawab dengan memasang wajah pura-pura menyesal. Padahal aslinya mah... "Wahhh, gitu ya? yaudah sekalian aja yuk bareng. Biar hemat juga. Kita searahkan?" Antara ingin marah dan menahan tawa, membuat Kara memilih menggigit lengan Fatih yang merangkulnya. Gaji dosen berapa sih? Sampe nggak ada malunya ngajakin patungan di depan mahasiswinya sendiri. Heran deh Kara. Fatih sempat meringis merasakan gigitan Kara. Untung sweaternya lumayan tebal, jadi mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan Kara. "Ya nggak papa sih. Tapi kalo boleh tau, rumah ibu' di mana?" Entah kenapa Kara jadi mempunyai hiburan tersendiri melihat tingkah dosennya yang sok oke ini. Seharusnya di videoin nih. Upload youtube. Viral. Terkenal deh. Lumayankan dapat duit kalo dia diundang ke tipi-tipi. "Perumahan Griya Asri. Satu arah dengan rumah Pak Fatih. Benarkan Pak?" Tika kembali menatap Fatih sambil tersenyum. Ha?? Kara menatap Fatih bingung. Meminta penjelasan tak langsung dari suaminya itu. Karna setahu Kara antara perumahan Griya Asri dan perumahan yang Kara dan Fatih tempati jaraknya lumayan jauh. Dan meskipun searah, tapi di perempatan nanti Kara dan Fatih harus berbelok ke selatan, sedangkan si Tika-Tika ini masih harus lurus terus. Ini perlu dijelasin nggak sih ke ibu' nya?? "Maaf Bu Tika. Tapi saya sedang ingin berduaan dengan istri saya. Permisi." Pamit Fatih tegas, yang sejak tadi diam memperhatikan kejahilan istrinya yang mulai mode on jika tidak segera dia ajak pergi. Mengajak Kara untuk kembali berjalan dan meninggalkan Tika yang berteriak-teriak memanggil ingin mengejar namun terhalang rombongan orang-orang  yang  berjalan melewatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD