Lima Belas

1346 Words
"A’." Fatih berdehem menjawab, setelah mengucapkan alamat rumah mereka pada supir taxi yang mereka naiki. "Jadi, dari  kemarin Aa’ sama Bu Tika terus ya??" Jiwa penasaran Kara tak bisa ditunda hingga rumah. Tubuhnya bahkan kini miring menghadap Fatih. "Iya." Kara manyun mendengar itu. Padahal baru beberapa saat lalu mood  dia lagi bagus karna sikap manis Fatih, tapi sekarang langsung dibuat terjun bebas. Tak lagi mendengar suara istrinya, Fatih mengalihkan perhatiannya dari barang di waistbag yang tengah dia cari. "Kenapa?" tanya Fatih heran. Wajah Kara terlihat amat kesal. Dan itu menggangu penglihatannya. "Nggak papa." Kara acuh. Membenarkan duduknya, mepet ke pintu dan memilih memandang keluar jendela. Males lihat suaminya. Disisi lain, Fatih bertambah heran melihat Kara yang duduk semakin menjauhinya. Padahal seingatnya, mereka tadi baik-baik saja. Fatih terdiam, mengingat-ngiat apa saja yang telah mereka lakukan hingga membuat Kara kesal. Fatih memandang Kara lamat-lamat. Bingung ingin bertanya sebabnya. "Kamu..." Fatih diam. Menggeleng pelan, tidak jadi melanjutkan pertanyaannya. "Maaf ya karna buat kamu nunggu lama di bandara." ucap Fatih hati-hati. Tapi melihat Kara yang masih terdiam memandang keluar, membuat Fatih berfikir pasti bukan itu alasannya. "Yaudah, nanti aku bakal minta maaf ke Yogi deh." Fatih masih memandang Kara. Berfikir mungkin istrinya itu tidak suka dengan tingkahnya tadi pada rekan dosennya itu. Tapi Kara masih diam. Tetap memandang keluar jendela. Bahkan kini kepalanya ditumpukan pada tangan kanannya. Mungkinkah Kara marah karna ini... Fatih duduk meringsek mendekati Kara. Tangannya memeluk bahu dan pinggangnya. Menghilangkan jarak di antara mereka. "Maaf ya tadi malam nggak angkat telfon kamu. Aku capek banget. Bahkan langsung tidur pas masuk kamar. Lagian subuh-subuh aku juga udah telfon balik. Oh ya, aku juga beliin requestan kamu loh. Beli sebelum ke bandara sih. Lima sekaligus. Gimana? Suka?" jelas Fatih panjang lebar. Kara berdecak dan menatap Fatih datar. Kalau saja dia sedang tidak marah, sudah pasti dia akan heboh mendengar Fatih bicara sepanjang itu. Sebuah kemajuan yang sangat luar biasa. Kara melepas paksa pelukan Fatih. Hu hu hu... Sayang banget padahal. Tapikan dia lagi marah. Jadi harus totalitas marahnya. Kara mendorong d**a Fatih, membuat jarak. "Aa' itu gimana sih. Aku itu marah karna Aa' bilang di sana Aa' sama Bu Tika mulu. Enteng banget Aa' bilangnya. Kayak nggak ngerasa bersalah sama sekali. Nggak tau apa, yang di rumah khawatir nunggu Aa' ngasih kabar. Mau nelfon duluan takut kalo gangu. Mau ngechat juga tau kalo Aa' balesnya malem. Itupun cuma sebentar. Dan dengan mudahnya Aa' bilang di sana sama Bu Tika terus? Alah.. Bodo ah. Terserah Aa'." Nafas Kara memburu. Tapi dia lega karna telah menyuarakan isi hatinya. Masih menatap sauminya dengan mata berkaca-kaca, sebelum kembali mengalihkan kembali pandangnnya keluar jendela. Menahan tangis. Jangan nangis dulu-jangan nangis dulu... Fatih terperangah mendengar luapan isi hati istrinya itu. Merasa bersalah juga. Karna disaat seharuanya mereka sedang dalam momen kangen-kangenan, malah membuat Kara marah dan salah paham seperti ini. Fatih menatap tak enak pada supir taxi di depannya. Mengucapkan kata maaf atas ketidaknyamanannya. Sebelum kembali fokus menenangkan dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Fatih duduk mendekati Kara kembali. Tubuhnya dibuat menyerong, mengunci Kara. Kaki mereka bahkan bersentuhan. Tangannya memeluk Kara. Sedangkan kepalanya bersandar pada bahu istrinya. "Maaf, serius aku nggak maksud buat kamu marah. Aku nggak tau kalo ternyata jawaban aku buat kamu semarah ini. Di sana aku emang bener sama Bu Tika. Itu juga cuma di ball room. Saat lagi di acara atau kita perlu diskusi tentang riset. Ada dosen lain juga kok. Banyak. Nggak cuma kita berdua. Demi Tuhan, aku nggak pernah cuma berduaan sama dia. Aku juga baru tau saat di pesawat kalo riset tim Bu Tika juga lolos." Fatih diam. Memandang Kara yang sepertinya lebih baik dari pada tadi. "Sayang, maaf." ucap Fatih tulus. Mencium kepala istrinya lama. Kara masih diam. Air matanya masih terus keluar sejak tadi. Kara mengusap mata dan ingusnya dengan lengan baju. "Maafin aku ya..." ucap Fatih lagi, saat melihat Kara masih bungkam. Fatih mengeratkan pelukannya. Kara berbalik. Mendorong d**a Fatih yang tetap tak ingin menjauh dan menatap mata Fatih lurus. "Seharunya, waktu aku tanya, Aa' langsung bilang, cuma ketemu pas acara doang. Jadi akunya nggak salah paham." "Iya, maaf ya..." "Padahal Aa' tau kalo aku nggak terlalu suka sama Bu Tika. Apalagi saat tau kalo Bu Tika masih suka tepe-tepe ke Aa', padahal dia tau kalo Aa' udah nikah dan aku istrinya." "Iya, maaf sayang..." "Aa' juga bilang sayang cuma kalo ada maunya. Jarang banget panggil Kara sayang. Cuma pas Kara marah atau Aa' lagi pengen sesuatu." "Maaf sayang. Besok lagi enggak." "Enggak mau bilang sayang lagi maksudnya?" "Eh- maksudnya bakal sering bilang sayang lagi sama Kamu. Enggak kalo pas Kara marah atau Aa' lagi pengen sesuatu." Fatih panik. "Aa' juga seharusnya tau. Cewek itu kalo bilang nggak papa ya mesti ada apa-apanya. Dan itu pasti karna cowoknya salah." "Iya Kara. Maaf ya..." "Tuh kan nggak ada sayangnya lagi." Ingin rasanya Fatih menepok jidat. "Eh- Enggak gitu maksudnya."  Fatih menarik tubuh Kara lembut. Ganti memeluknya dari depan. "Tolong maafin Aa' ya kalo salah. Langsung ingetin  juga kalo Aa' ngelakuin sesuatu yang kamu nggak suka. Karna Aa' nggak tau dan nggak bisa baca apa yang kamu pikirin. Kamu kasih tau Aa', biar Aa' bisa benerin dan minta maaf sama kamu. Sayang banget sama kamu." Fatih mengecup kening Kara lama. Meresapi setiap momen yang mereka lakukan. Kara menganga takjub. Dan membalas memeluk Fatih erat. Tak percaya suaminya bisa bicara semanis itu. Duh, jadi tambah baper kan. "Alhamdulillah kalo mas sama mbaknya udah baikan. Saya jadi nggak harus muter-muter lagi saking nggak enaknya nanya nomer rumahnya berapa. Tadi masnya belum nyebutin soalnya." ucap supir taxi saat dirasanya pasangan yang tengah dimabuk asmara itu sudah bisa diajak bicara. "Eh, ya ampun. Maaf ya pak..." Fatih menggaruk belakang kepalanya, merasa tidak enak dengan sang supir taxi. Kemudian menyebutkan blok dan no rumah mereka. Sedangkan Kara malah semakin merapatkan wajahnya pada d**a Fatih. Malu euyy.. Tadi dia terlalu lebay nggak sih?? Semoga aja tidak. Taxi berhenti tepat di depan rumah mereka. Kara langsung lari ke dalam rumah setelah beberapa kali gagal membuka gerbang saking buru-burunya. Sumpah. Dia malu sama pak supir. Fatih sendiri hanya meringis dan menggelengkan kepala melihat polah Kara. "Ini Pak uangnya." "Oh iya mas makasih. Eh- ini kelebihan mas." ujar supir taxi menyodorkan kelebihan uang yang seharusnya dibayarkan. "Oh.. Itu bonus buat bapak. Anggap aja sebagai permintaan maaf atas sikap kami tadi." "Oalah, padahal nggak masalah loh. Saya malah baper liat mas sama mbaknya. Kayak film-film yang sering anak saya tonton." Fatih hanya tersenyum mendengar jawaban itu. Keluar dan mengambil koper yang sudah dikeluarkan lebih dulu oleh sang supir taxi. "Sekali lagi makasih ya mas. Mari." Sang supir menekan klakson mobilnya. Pamit.   **** Fatih menutup pintu rumah. Menguncinya dua kali. Tapi saat membalikkan badan dia terkejut saat melihat Kara tepat di depannya sedang mengintip-ngintip keluar rumah. "Pak supirnya udah pergi kan ya??" tanya Kara menatap Fatih. "Udah." Kara menghela nafas lega. Kara mendekati Fatih dan menggandeng lengannya untuk lebih masuk ke dalam rumah. Fatih menaruh tas dan kopernya asal saat di ruang keluarga. Duduk di lengan sofa dan menarik Kara untuk berada di kukungannya. Kara yang paham maksud suaminya hanya tersenyum. Mengusap rahang dan kepala suaminya itu lembut. Membuat Fatih ikut tersenyum manis hingga menampakkan giginya. Kara mendorong tubuh Fatih kebelakang. Membuat mereka jatuh ke atas sofa dengan Kara di atas. Fatih dan Kara tertawa. Menertawai tingkah mereka. Kara menyejajarkan wajahnya dengan wajah Fatih. Cup "Disini?" tanya Kara berbisik. "Hem." jawab Fatih masih mempertahankan senyumnya. Tangannya mengusap-usap punggung Kara. "Sekarang?" tanya Kara lagi. Tepat di depan bibir Fatih. Membuat jakun Fatih naik turun, menatap bibir merah Kara. "Iya.. " jawab Fatih serak. Tatapannya masih terpusat pada bibir Kara. Kara tersenyum menggoda melihat Fatih yang sepertinya sudah tak sabar. Menggigit dagu Fatih gemas, Kara berbisik, "Tahan A', kita belom sholat. Dan Aa' perlu makan untuk energi malam ini." ucap Kara diakhiri kecupan di bibir Fatih. Fatih membuka matanya saat Kara melepan kecupan singkatnya itu. Istrinya itu benar. Fatih membawa Kara bangun dan menariknya ke kamar. Segera menyelesaikan kewajiban akhirat dan mengisi kebutuhan jasmaninya sebelum terfokus  menyelami surga dunia dengan istri tercintanya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD