Enam Belas

1222 Words
"A’, ini temen-temen pada tanya, hari ini Aa’ masuk nggak?" tanya Kara berjalan ke arah Fatih dengan mata masih tertuju pada ponsel di tangan. Kara mendudukkan diri di kursi samping Fatih yang tengah sarapan. Menunggu Fatih menyelesaikan kunyahannya. "Masuk. Emang nggak masuk kenapa?" jawab Fatih setelah menelan makanannya. "Ya kan yang kelas kemaren-kemaren Aa’ izin. Siapa tau hari ini Aa’ mau izin lagi. Hehehehe...." cengir Kara, yang disambut gelengan Fatih. "Ada-ada aja kamu." " Gimana rasanya A’?" "Lumayan." jawab Fatih seadanya. Mengingat waktu itu Kara pernah membuatkannya nasi goreng hambar. Kara hanya memberikan garam sedikit sekali. Alasannya lebi baik hambar dari pada keasinan. Lagian kata orang tua jaman dulu, kalo masak keasinan tandanya pengen kawin. Lah, dia kan udah kawin sama Fatih. Nanti kalo dikiranya dia pingin kawin lagi gimana? Eh, ya nggak papa deng. Kawin lagi aja sama suaminya itu ya. Hehehehe "Kamu komting kelas?" tanya Fatih. Mengingat urusan kelas mata kuliah dia lebih sering Kara yang menghubunginya. "Bukan sebenernya. Cuma si Ardi tengil suka banget ngalihin tugas ke aku. Mentang-metang aku istri Aa’." Mendengar itu, Fatih hanya menganguk-angguk paham. "Kenapa nggak makan?" tanya Fatih saat tak melihat tanda-tanda istrinya itu ikut sarapan. Malah asik memainkan handphonennya. "Udah kenyang nyemilin kerupuk." "A’ ini bagus nggak?" Kara menyodorkan handphonenya. Memperlihatkan gambar setelan baju ala-ala korean style. "Bagus." "Beli ya?" Kara mengedip-ngedipkan matanya penuh harap. "Hem." "Yes. Alhamdulillah... gomawo yeobo." Kara  langsung melakukan pemesanan. Klik klik klik transfer. Beres. "Oh ya, bilang sama temen-temen kamu, hari ini ada kuis." kata Fatih santai. Menyandarkan punggungnya ke kursi, kekenyangan. Meminum segelas air putih yang sudah disiapkan Kara sejak tadi. Kara yang sejak tadi masih berkutat dengan ponselnya -melanjutkan perburuan fashion- langsung menatap Fatih horor. "Becanda kan A'." Kara cemas. Karna dia tau, meskipun memiliki suami dosen yang mengampu mata kuliahnya, itu nggak menjamin dia dipermudah dalam segala tugas  dan bakal dapet nilai A. Mau tiap malem diladenin di atas kasur juga percuma. Yang ada dia gempor sendirian. "Enggak." Fatih membawa piring kotornya ke westafel. Menyalakan keran, hendak langsung dicuci. Tapi langsung dimatikan Kara. "Kuisnya minggu depan aja ya..." Bujuk Kara. Dia beneran takut, sumpah. Suaminya itu nggak pernah main-main sama ucapannya. "Hari ini aja ya..." Fatih sedikit menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan Kara. Mengikuti nada bicara istrinya. "Kan semalam istrimu ini nggak belajar. Sibuk manjain suminya di kasur. Nanti kalo nilainya jelek gimana? Nanti orang-orang pada ngomongin. Aku kan nggak mau bikin Aa' malu. Minggu depan aja ya..." Senyum Kara manis. "Enggak bisa.” Tolak Fatih halus, ikut tersenyum manis. Mengikuti alur istrinya "Bisa Aa'." Hahhh Fatih menegakkan tubuhnya. Memandang Kara serius. "Bilang Ke temen-temen sekelasmu. Hari ini kuis sebelum ke materi. Yang menolak, dianggap nggak hadir." putus Fatih tegas. Jiwa dosen galaknya mode on.  Usai mengatakan itu, Fatih kembali melanjutkan mencuci piringnya. Meninggalkan Kara yang terkejut dengan keputusan final Fatih. Kara memberengut. Menyampaikan pesan Fatih ke grup kelasnya. Mematikan data sambungan. Matikan hape. Bodo amat dengan respon temen-temennya. Nyesel dia ngambil kelas suaminya di semester ini. Masih memberengut, Kara menghentak-hentakkan kaki meninggalkan Fatih ke kamar. Siap-siap pergi ke kampus. Meninggalkan Fatih yang meringis kesakitan karna lengannya sempat digigit Kara.   **** Kara berjalan memasuki kelasnya. Baru beberapa langkah ia masuk, Ardi -si komting asli- langsung mencegatnya. "Kar, serius ini Pak Fatih ngadain kuis??" Sejak tadi dia pusing menghadapi teman-temanya yang menanyakan perihal kuis dadakan itu. Kara tak bisa dihubungi. Hubungi langsung Pak Fatih? Boro-boro dijawab. Di baca aja dia kurang yakin. Oleh karena itu dia sering menyuruh Kara untuk bertanya ke suaminya ketimbang dirinya yang bertanya langsung. "Seribu rius." jawab Kara dengn wajah yakin. Mendorong tubuh Ardi agar tidak menghalangi langkahnya. "Kar, nggak bisa apa Nego ke Pak Fatih biar kuisnya minggu depan." Mawar, kakak tingkat yang mengulang mata kuliah, yang kali ini mencegat Kara. "Nggak bisa mbak. Tadi udah bilang gitu, tapi tetep nggak bisa." jawab Kara halus, melepas pegangan tangan Mawar. Kara langsung berjalan ke arah bangku kosong di dekat jendela. Menjawab seadanya pertanyaan teman-temannya sambil mebolak-balikkan buku yang kini dia pegang. Selama perjalanan ke kampus tadi, Kara mendiamkan Fatih. Dirinya lumayan kesal dengan dosen yang sayangnya juga suaminya. Nggak berperasaan banget ngadain kuis dadakan.  Mau ngalahin pamor tahu bulat apa. Selama di mobil, Kara memilih mempelajari materi-materi yang pernah diajarkan. Mengacuhkan Fatih yang sesekali meliriknya. Dari arah luar, Dito masuk tergesa-gesa ke dalam kelas. Duduk dibangku belakang Kara yang kosong. Langsung membuka buku seperti Kara. "Kar, Pak Fatihnya diajak kelon aja napa. Gue belum belajar apa-apa nih elah..." ujar Dito dengan mata dangan masih ke buku. "Ogah. Lo aja sana. Siapa tau berhasil. Hahaha..." "Ogeb. Nanti suami lo malah kecantol ke gue. Lo mewek." "Semprul. Hahahaha..." Kara ngakak. Ya kali suaminya doyan yang berbatang. Yang ada nama Dito langsung dicoret dari absen kelasnya. "KARA!!! jelasin yang ini." Leta datang terpogoh-pogoh dari luar. Menenteng buku yang Kara yakin dibaca sambil berjalan. "Duh Let, kagak paham gue." tolak Kara. Dia aja baru baca malah minta dijelasin. Kara membuka-buka bukunya dan sesekali mengoret-ngoret yang sekiranya belum dia paham. Mulutnya sejak tadi tidak berhenti merapalkan materi yang sekiranya keluar. Mengabaikan suasana kelas yang bising karna keluhan, suara orang mengahapal dan buku yang dibuka-buka kasar. Namun kelas mendadak hening saat Fatih datang. "Selamat pagi semuanya." "Pagi." "Seperti yang sudah dikabarkan teman kalian, hari ini saya akan mengadakan kuis. Mengingat minggu depan sudah ujian akhir dan nilai UTS kalian masih jauh dibawah standar. Jadi saya anggap kuis ini sebagai perbaikan dari ujian kalian kemarin." papar Fatih memandang ke penjuru kelas. "Masukkan barang-barang kalian ke dalam tas selain selembar kertas dan bolpoin. Waktu kalian hanya 20 menit." "Yahhhh Pak, jangan dua puluh menit dong." Protes salah satu mahasiswa. Yang disetujui yang lain. "Lima belas menit." Decakan kesal dan lenguhan sebal terdengar seisi kelas. Memprotes sikap Fatih yang seenaknya sendiri. Sayanganya Fatih tidak peduli.   ****   "A', tadi aku dapet nilai berapa?" Kara memiringkan badannya menghadap Fatih. "Jelek." Fatih memandang Kara sekilas dan kembali fokus pada jalanan di depan. "Ck. Ya kan, aku bilang juga apa." "Yang dapet nilai tertinggi siapa?" tanya Kara penasaran. "Rahasia." "Ish ish ish ish... Sama istri sendiri kok main rahasia-rahasiaan." Kara mengeleng-gelenglan kepalanya tidak terima. "A', kira-kira nanti aku bisa dapet nilai A nggak?" "Emm..." Fatih tampak berfikir sejenak. "Enggak." "Kok gitu??" Protes Kara tidak terima. "Kamu kalo ngerjain tugas ngerasa bener nggak?" Fatih menaikkan alisnya, bertanya. "Bener kok. Hehehe... kayaknya." Kara cengengesan. "Kan tapi masih ada UAS A'. " ucap Kara optimis. "Sekalipun UAS kamu bener semua. Mentok-mentok kamu cuma dapet nilai B." ujar Fatih sambil membelokkan setir mobilnya ke arah mall di sebrang jalan. "Ihh, emang nilai ku seancur itu ya?? Aa' kan suami aku. Nggak bisa gitu buat nilai ku jadi A. Kalo perlu A ples ples." "Berarti suamimu ini bukan dosen yang amanah dong." Fatih mematikan mobilnya. Melepas sabuk pengaman, bersiap untuk turun. "Hiii... tapi Pak Ugi juga gitu. Suka banget ngasih nilai bagus ke mbak-mbak cantik yang mau diajak nonton bioskop." cerita Kara menggebu-gebu. Mereka masih di basement mall. Belum ada tanda-tanda akan turun. "Kata siapa?" Fatih memiringkan tubuhnya menghadap Kara. Menatap istrinya yang masih semangat bercerita, sampai-samapai belum melepas sabuk pengamannya walaupun mobil sudah berhenti. "Denger-denger sih gitu." Kara tak yakin. "Gak usah ghibah. Udah ah. Ayo, jadi beli nggak." Ajak Fatih membuka pintu. Membuat Kara buru-buru melepas sabuk pengamannya dan menyusul Fatih yang sudah di depan mobil menunggunya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD