Kara bergelayut manja di lengan Fatih. Menyusuri mall sambil bergandengan tangan. Mata Kara tak pernah berhenti ngelirik setiap toko yang mereka lewati. Setiap ada yang menarik minatnya, dia langsung menarik Fatih untuk ikut masuk. Meskipun berakhir hanya lihat-lihat dan keluar dengan tangan hampa. Maaf, bukan karna suaminya itu nggak sanggup beliin ya, cuma nggak ada yang menarik minatnya aja. Kalo dia mau, suami gemesinnya itu pasti bakal beliin kok.
Berbanding terbalik dengan Kara yang lebih fokus ke barang-barang yang dipajang di etalase toko, Fatih harus ekstra bersabar untuk tak memberi bogeman dan lebih memilih memberi ancaman tak langsung pada orang yang menatapi istrinya sejak tadi. Resiko yang harus dia dapat jika keluar dengan Kara. Makanya dia tak pernah mengizinkan Kara keluar sendiri kecuali emang kepepet.
"Jadinya kamu mau beli apa?" Fatih ingin segera mengakiri sesi belanja mereka dan membawa Kara segera ke rumah.
"Bingung. Hehe..." Kara hanya nyengir, sama sekali tak peka kalo suaminya ingin cepat-cepat membawanya pulang.
"Kita ke supermerket aja. Isi kulkas juga udah kosong kan?" Pikir Fatih, di supermarket biasanya hanya ada laki-laki yang sudah beristri yang menemani pasangannya belanja bulanan, meskipun tak menutup kemungkinan ada juga laki-laki single yang juga belanja, tapi setidaknya tak sebanyak di sini.
"Ayok-ayok. Tapi aku pengen bawain ibu ama ayah sesuatu. Kitakan jarang main ke sana. Bawain makanan aja nggak papa?"
"Nggak usah bawain apa-apa. Kamu kesana aja ayah ibu udah seneng." jawab Fatih merangkul Kara, membawanya segera ke supermarket.
"Ih, nggak boleh gitu. Nggak enak tau."
Mereka mengambil trolli belanja. Fatih mendorongnya dengan sebelah tangan yang tak merangkul istrinya. Kara sih asik-asik aja. Tangannya sesekali mengambil barang walaupun lebih dominan snack kesukannya.
Saat mereka tiba dibagian sayur, Kara hanya mengambil sayur tertentu. Saat Fatih bertanya Kara hanya mejawab seadanya. “Ini di mamang sayur juga ada A’. lebih fresh sama lebih murah juga.”
"Kapan?"
"Ha? Apa A’?"
"Ke mamang sayurnya."
"Ohh, kalo berangkat rada siangan sih. Biasanya ikut Mbak Siti belanja ke mamang atau nggak ke pasar langsung." jawab Kara sambil memilih dan membandingkan harga barang yang dia pegang.
"Kenapa nggak bilang?" Alis Fatih mengerut, sama sekali tak suka.
"Eh?" Kara menatap Fatih tak paham, masih memegang brokoli ditangannya. "Biasanya kalo udah ada yang nemenin nggak papa."
"Kata siapa?"
"Aa’?" jawab Kara tak yakin.
Hahh
"Lain kali kalo mau keluar harus bilang. Kemanapun, dan meskipun ada yang nemenin. Termasuk dengan Mbak Siti."
"Eh? Gitu ya? Tapi si mamang sayur biasanya di depan rumah. Itu mesti ijin juga nggak?"
Ya ampun Karaaa
****
Keluar dari supermarket, Kara mengajak Fatih ke cafe favoritnya. Tempat biasa dia nongkrong sebelum nikah. Awalnya Fatih menolak, dan langsung mengajak istrinya pulang. Tapi Kara berhasil mengeluarkan jurus rayunya, membuat Fatih yang sudah bucin harus menahan sabar sebentar lagi.
Setelah pesan, Fatih pamit ke toilet sebentar. Tak ingin meninggalkan Kara lama-lama. Belum juga ditinggal lama, Fatih melihat Kara sudah didekati laki-laki. Bahkan dia berani duduk di depan Kara.
"Ehem!"
Kara dan laki-laki itu langsung mendongak, menatap Fatih yang raut wajahnya terlihat tak suka. Berbeda dengan Kara yang tersenyum sumringah melihat suminya kembali. Fatih mengambil tempat duduk di samping Kara -karena tempat duduknya yang semula sudah diduduki tamu tak diundang- dan merangkul bahunya, membuat Kara tertarik dan harus sedikit menggeser duduknya lebih mepet ke arah sang suami.
"Siapa?"
"Ni– "
"Namanya Niko A’, mahasiswa di kampus kita juga. Satu Fakultas tapi beda jurusan sama aku. Oh ya tadi semester berapa?" tanya Kara memandang Niko yang baru saja akan membuka mulut, namun kembali Kara potong. “Oh ya, semester tiga. Adek tingkat.”
Jawaban Kara membuat Niko yang semula percaya diri bisa mendekatinya langsung mengkerut takut. Dia kira kabar bahwa Kara –kakak tingkat cantik yang termasuk populer di kampusnya– telah menikah itu hanya kabar hoax. Dia nggak percaya sama sekali. Dan melihat Kara dan Pak Fatih –dosennya– jalan bareng ke mall, dia kira karna ada urusan tertentu. Makanya ketika dia melihat Pak Fatih pergi ke toilet, nggak pake lama dia langsung mendekati Kara. Sayangnya, itu semua tak sesuai ekspektasi. Jangankan dapet nomor, baru buka hape aja Pak Fatihnya udah datang. Pake acara rangkul-rangkul segala lagi.
"Oh ya, tadi kamu mau minta nomor hapekan? Sini." Kara mengulurkan tanganya. Ucapan Kara semakin membuat Niko mengkerut ketakutan. Tatapan Fatih yang sejak tadi tak ramah dan semakin tak ramah membuat Niko ingin cepat-cepat pergi.
"Eh? Em... Sepertinya teman-teman saya sudah ingin pergi. Permisi Pak Fatih, Kara." Niko langsung ngacir menjauh. Gilak, dia nggak jamin kehidupan perkuliahannya akan aman setelah ini.
Niko langsung menghampiri teman-temannya. Mengambil tasnya dan mengajak mereka untuk langsung cabut. Samar-samar Fatih sempat mendengar suara makian salah satu dari mereka. “Begok! Dibilangin juga apa.”
Sebenarnya ucapan Kara yang menawarkan Niko nomornya itu cuma bercanda. Lucu aja gitu liat muka Niko -yang sok kegantengan- pucat. Ya kali dia seberani itu ngasih nomornya di depan suaminya sendiri. Kalo di belakang suaminya mah... tetep nggak berani sih. Hahaha...
"Kenal dimana?" Fatih menatap Kara. Memainkan rambut yang pemiliknya masih asik memakan es krim.
"Disini. Baru kenal barusan." jawab Kara santai. Mengabaikan tatapan tak suka dan malah menyuapi suaminya sesendok es krim.
"Beneran?" Fatih masih tak percaya.
"Ciuz."
"Apa?" Duh, Kara lupa suaminya itu nggak paham sama bahasa gaul jaman now.
"Serius Aaaaa’." Kali ini Kara menatap Fatih yang mulai kumat posesifnya. Bukannya Kara nggak sadar maksud suaminya yang sedari tadi ngajak pulang. Kara sadar kok. Peka se peka-pekanya. Cuma dia bosan. Pulang kuliah langsung ke rumah. Gitu mulu. Otaknya butuh di refresh. Biar nggak bebal. Kan kalo pikirannya fresh, kuliah jadi enak, mood jadi enak, suami jadi enak. Eh–
"Udah, itu kopinya diminum. Nanti dingin loh."
"Hem." Fatih menyeruput kopinya, dan memang enak. Tak salah istrinya menjadikan cafe ini tempat nongkrongnya dulu.
"Sebenernya cowok tadi itu kayaknya yang pernah diceritain Leta deh. Cuman waktu itu aku masa bodo. Dan tadi baru ngeh pas liat mukanya yang kayak oppa-oppa korea. Ucul bingitzzz.. duh tau gitu tadi tanyain aja ya dia pake skincare apa." Cerita Kara tanpa disuruh. Tentu ceritanya itu membut Fatih kesal. Tapi Kara nggak peduli. Jarang banget kan liat Fatih yang lagi cembukur kayak gini.
"Udah ah ayo pulang."
Kara langsung menarik Fatih hingga terduduk kembali. Melingkarkan tangnnya dipinggang Fatih erat.
"Kan mau nonton bioskop dulu. Mubazir tiketnya." Kara memengang rahang Fatih agar mau menatapnya. Duh ngambek-ngambek deh suaminya ini.
Fatih masih diam. Sama sekali tak merespon meskipun matanya tertuju ke sang istri.
"Iya deh iya... maaf Aa’. Tadi Cuma bercanda serius deh. Maaf ya." Tangan Kara mengelus-ngelus rahang Fatih. Matanya ngedip-ngedip lucu. Biasanya suaminya itu bakal luluh kalo dia giniin.
"Maaf kenapa?" Akhirnya, suaminya mau ngomong.
"Udah bikin Aa’ marah."
"Marah kenapa?"
"Karna Aa’ cemburu."
"Kata siapa?"
"Kata aku lah. Masa kata kang sayur. Btw, aku kok geli-geli gimana gitu ngelus-ngelus muka Aa’. Minta dicukur nih. Atau Aa’ sengaja biar ada brewoknya gitu. Ih aku kok tambah geli sih bayangin ciuman sama Aa’ terus ada sensasi brewok-brewoknya gitu." Kara terkiki geli. Membuat Fatih menahan senyum. Rasa kesalnya tiba-tiba menghilang.
"Nanti dicukur."
"Oh syukur deh, aku nggak jadi ngerasa geli-gelian. Hahahaha.. nanti aku bantu nyukurinnya ya. Biar kayak couple-couple di drama gitu." Mata Kara berbinar antusias.
"Hem.."
"Yes." Akhirnya salah satu mimpinya kesampaian. Dulu sewaktu menjomblo, dia memang pernah ngehalu nyukurin brewok pasangannya. Si cewek duduk dimeja westafel. Nanti si cowoknya berdiri. Posisi mereka deket banget. Nanti mereka tatap-tatapan. Saling melempar senyum. Dan berakhir ciuman. Manis bangetttt.
"Ayo pulang."
"Yah... nggak jadi nonton ya??"
"Di rumah aja."
"Kan layarnya nggak segede di bioskop."
"Bisa diakalin."
"Gimana caranya coba?"
"Makanya pulang dulu."
Mau tak mau kara pasrah ikut pulang ke rumah. Nasib tiketnya? Dia jual lah. Dia jual ke Raka dengan harga tiga kali lipat dari harga normal. Tak mau rugi dong Kara. ho ho ho..
Biarlah dia merelakan Raka dan Leta menikmati Film yang seharunya dia dan suaminya -dia paksa ikut- nonton. Toh di rumah lebih bebaskan?
****
"A' nyetirnya jangan ngebut-ngebut. Aku mau nyari cilok isi keju dulu." Fatih menatap Kara heran. Tapi tak urung memperlambat laju mobilnya.
"Nggak ada cilok isi keju. Ngaco kamu." Fatih geleng-geleng kepala. Heran dengan permintaanya itu.
"Ih, siapa tau ada Aa'. Kan bisa tanya dulu sama tukang ciloknya." Kekeh Kara. Entah kenapa rasanya dia ingin sekali memakan itu.
"Ada-ada saja kamu." Meskipun heran, tapi Fatih tetap ikut mencari penjual cilok yang biasanya banyak di pinggir jalan.
"Itu ada yang jual cilok."
"Emm...nggak jadi ah. Kayaknya nggak ada yang isinya keju deh." Tolak Kara saat Fatih akan memarkirkan mobilnya.
"Kok aku jadi pengen minum es boba yang ada cendolnya ya. Yuk A' cari itu aja." kata Kara saat melihat cewek yang meminum es boba dan anak kecil yang lari-lari sambil memegang es cendol. Kara menyuruh Fatih menjalankan mobilnya kembali. Membuat Fatih yang sudah heran semakin heran.
"Nanti kalo udah mau sampe rumah, mampir ke warungnya Mbah Sarti bentar ya A'. Aku pengen beli ketoprak tapi nggak pake bumbu kacang. Pengennya tak kasih mayonise gitu. Di rumah masih ada kan ya?"
Istrinya itu kenapa sih?