Delapan Belas

1601 Words
Beberapa hari setelah permintaan aneh Kara, yang ternyata terus berlanjut hingga sekarang. Bahkan permintaan aneh itu kini malah berpindah ke Fatih. Seperti tadi pagi. Entah kenapa Fatih ingin sekali makan nasi goreng yang nggak digoreng. Permintaanya itu membuat Kara dan Mbak Siti –yang  biasa membantu kara masak– menggaruk kepala bingung. Gimana caraya coba? Alhasil, Kara dan Mbak Siti mengakalinya dengan mencampurkan nasi, telur orak-arik, sosis goreng, kecap dan garam sedikit yang diaduk rata di atas piring. Sama sekali nggak digoreng apalagi nyentuh wajan. Kayak nasi goreng jamannya Kara kecil dulu, tapi untungnya dimakan lahap oleh Fatih. Habis tak tersisa. Fatih juga pernah mengajak Kara malam-malam ke rumah orang tuanya. Alasannya Fatih ingin sekali makan burung goreng peliharaan ayahnya itu. Tentu saja idenya itu ditentang habis-habisan oleh ayah mertua Kara. Enak aja burung harga jutaan mau digoreng. Yang ada burung Fatih duluan yang bakal digoreng. Tingkah mereka ini tentu membuat banyak orang berspekulasi bahwa Kara hamil. Bahkan Fatih juga sudah pernah mengajak Kara untuk mencoba mengeceknya langsung ke dokter. Tapi langsung ditolak Kara. Karna setaunya, orang hamil biasanya akan mengalami morning sick terus ngidam-ngidam pengen makan yang asem-asem gimana gitu. Nah dia kalo pagi ngerasa biasa aja tuh. Gak ada acara pengen makan mangga muda juga. Dan soal keinginan Fatih yang ingin makan aneh-aneh itu mungkin karna pengen aja. Nggak ada sangkut pautnya sama dia hamil. Tapi satu lawan banyak tentu membuatnya kalah. Saat ini ditangannya sudah ada sebelas testpack. Dengan berbagai merek yang berbeda, walau ada juga yang sama. Bukan dia yang beli loh. Ini dikasih sama orang yang gencar banget nyuruh dia periksa. Tiga dari Mbak Siti -beli pakai uang belanja majikannya-, satu dari Leta, empat dari emaknya dan tiga dari mertuanya. Ini kalo udah dipake, hasilnya harus dia bagi-bagiin ke yang ngasih nggak sih? "Itu apa?" "Oh? Ha?" Kara membalikkan badannya. Menatap Fatih yang baru keluar dari kamar mandi. Sudah lengkap dengan setelan tidurnya. "Tespack?" kata Fatih saat sudah duduk di ranjang, di samping istrinya. Kara mengambil alih handuk untuk mengeringkan rambut sang suami. Tangan Fatih mengambil satu testpack yang tercecer begitu saja. "Kamu beli banyak banget." "Bukan aku yang beli ih. Itu dikasih semua." Fatih mengangguk-ngangguk. "Gimana hasilnya?" "Belom dicoba. Katanya disuruh nunggu besok pagi-pagi pas bangun tidur. Tapi kalo kelupaan ya besoknya lagi. Terus kalo lupa lagi ya besoknya lagi. Besoknya lagi. Besoknya lagi-." "Besoknya lagi aja terus." Fatih berdecak. Heran dengan kecerewetan Kara yang walaupun sudah malam tetap saja tidak luntur. "Ini nanti aku coba semua apa gimanan A'? terus hasilnya tak bagiin satu-satu gitu ke yang ngasih? Biar adil." "Ada-ada aja kamu. Pakenya satu atau dua aja cukup. Buat ngeyakinin. Atau kamu mau langsung periksa ke dokter?" "Nggak ah. Nanti kalo dokternya tanya aku sakit apa gimana? Aku mesti jawab apa coba? Masak dijawab 'aku tu sebenernya nggak sakit apa-apa dokter. Cuma formalitas aja biar keluargaku nggak nyuruh periksa-periksa mulu' gitu?" Fatih tertawa mendengar bayolan Kara. Uuhhh.. istrinya siapa sih gemesin banget. Fatih memutar tubuhnya menghadap Kara. Membuat aktivitas Kara terhenti. "Sini. Duduk." Fatih menarik tangan Kara. mengambil handuknya dan melemparnya sembarangan ke atas kursi. "Ih main lempar-lempar. Itu handuk basah A'. Bentar tak jemurin dulu." "Nanti aja." Cegah Fatih menarik Kara agar duduk kembali. Kara nurut. Tapi kini kaki kirinya malah selonjoran di atas paha Fatih. Sedang kaki kanannya berada di belakang tubuh Fatih. Posisinya sekarang tepat menjepit tubuh Fatih yang kini memegang test pack yang semula dia jajarkan di atas kasur. "oh ya, jangan lupa loh A' besok kita musti ke nikahannya Leta. Duh, udah merid aja tuh anak. Enaknya aku kasih kado apa ya?" Kara diam, berpikir. "Ada saran A'?" tanya Kara mendongakkan kepalanya menatap Fatih. Tangannya yang semula memeluk perut kini berpindah memeluk leher suaminya. "Terserah kamu." balas Fatih menatap Kara. Tangan kirinya berpindah ke belakang, menjaga tubuhnya agar tidak roboh karna tubuh Kara yang bergelayutan pada tubuhnya. Sedangkan tangan kanannya kini malah mengelus-ngelus paha Kara yang ditumpang dipahanya. Membuat gaun Kara semakin tersibak ke atas. Yang diusap-usap malah semakin memepetkan tubuhnya ke arah Fatih. Membuat tubuh mereka semakin menempel. Kara menggerak-gerakkan kaki kirinya. Kebiasaannya ketika merasa bosan. Tapi tindakannya itu malah membuat Fatih menahan nafas. "Itu tespack sisa banyak kan? Mereka kado itu aja gimana A'? Kan lumayan Leta kalo mau ngetes hamil nggak perlu beli lagi. Gimana?" "Terserah kamu." jawab Fatih serak. Gerakan kaki Kara benar-benar membuatnya tidak fokus. "Ih, tapi masa testpack sih A' kadonya. Duh duh duh.. Ketahuan banget aku nggak modalnya. Padahal Leta kan sering banget traktir aku. Kado apa ya??" Kara mengetuk-ngetukkan jarinya di bibir. Membuat Fatih semakin tak fokus karna melihat bibir Kara yang seperti menggodanya. "Kado apa dong A'?" Shit. Entah sadar atau tidak tindakan Kara yang kini menekuk kakinya benar-benar membuat Fatih ingin langsung menyergapnya. Gaunnya tersingkap hingga kepinggul. Memperlihatkan celana dalam warna hitam yang tengah Kara pakai saat ini. Kara yang sadar akan tatapan Fatih yang tertuju pada tubuh bagian bawahnya, membenarkan posisi duduk dan gaunnya. Ditariknya kembali bagian bawah gaunnya hingga menutupi paha hingga lutut. Entah dia salah lihat atau gimana, ekspresi Fatih seperti terlihat kecewa melihat tindakannya itu. Ho ho ho.. "Kenapa A'?" tanya Kara sok polos. "Nggak papa." Fatih mengalihkan tatapannya. "Oh ya udah. Kara tidur dulu ya. Malam Aa' ku sayang..." Kara mengambil posisi tidur. Ditariknya selimut hingga menutupi dadanya. Pandangan Fatih mengikuti gerakan Kara. Entah kenapa ada perasaan kecewa melihat Kara yang sudah mau tidur. Padahal sekarang masih jam... 22.00 . Ternyata sudah malam ya. Hahhh.... Batin Fatih kecewa. Menyusul Kara, Fatih mengambil posisi di sampingnya. Ikut menutupi tubuhnya dengan selimut. Dalam hati Kara terkikik geli. Kalo mau bilang aja kali A'... Perasaan dia mulu yang gercep kalo pas lagi pengen. Kara menatap Fatih yang sudah memejamkan matanya. Tangannya merambah ke bagian bawah. Mencari si burung perkutut yang hampir digoreng sama ayah mertuanya. "Kamu ngapain." Fatih membuka matanya terkejut saat merasakan sesuatu bergerak-gerak di dalam celananya. "Hehehe, nidurin si dedek dulu A'. Kasian udah malam tapi belom tidur." Kara nyengir. Ucapannya itu membuat Fatih megap-megap. Tapi tak urung langsung mengacc tindakan Kara dengan menutupi seluruh tubuh mereka dengan selimut. Membantu Kara menidurkan adiknya yang ngajak begadang.   **** Kara menatap selembar Foto di tangannya. Masih tak percaya dirinya tengah hamil saat ini. Tadi pagi saat ketiga tespack yang dia gunakan memunculkan garis dua, suaminya itu langsung mengajaknya periksa ke rumah sakit. Padahal hari ini dia sudah janji akan menemani Leta full seharian. Tapi saat dirinya dinyatakan hamil hampir lima minggu, Fatih langsung melarangnya dan malah menyuruhnya datang mepet saja saat akad dan resepsi. Ihh nggak asik dong. Tapi nggak papa lah. Pasti Leta nggak bakal berani ngamuk karna ada dedek embul diperutnya. Tangan Kara mengelus-ngelus perutnya. Sehat-sehat ya nak di perut mama. Eh- "A', nanti dedek embul manggil kita apa?" Fatih melirik Kara sekilas, "Ayah bunda?" "Hmmm... Masa bunda sih, nanti aku dikira bunda-bunda Paud gimana?" tolak Kara. "Ayah ibu?" Tawar kembali Fatih. "Nanti kayak panggilan Aa' ke kakek neneknya dedek embul dong." "Terus apa?" "Apa ya? Mommy daddy? Duh, kita kan produk Indonesia asli ya, kecuali Aa' atau aku rada bule-bule gitu sih nggak papa. Aku juga nggak mau dedek embul manggil kita sama kayak aku manggil grandparentsnya. Mmmmm... Mamah papah aja kali ya?" "Boleh. Terserah kamu." "Oke fix. Mbul, nanti kamu manggil kita mamah papah ya." Kara tersenyum, sambil mengusap-ngusap perutnya. Pandangan Kara beralih keluar jendela. Dia langsung terseyum senang melihat sesuatu yang dia inginkan sejak lama berada tak jauh di depan sana. "A', aku mau beli es potong dulu. Nanti berhenti dideket gerobak bapaknya ya." Mobil berjalan perlahan karna terjebak macet. "Mana?" "Itu, disekitaran orang yang jualan itu loh." Fatih hanya mengangguk. Untung yang jualan di sebelah kiri. Jadi dia tak perlu susah-susah nyebrang. Kara membuka jendela mobil saat mobil mereka tepat di samping gerobak jualan. "Pak, aku mau es potongnya dong." ucap Kara sedikit keras. Entah kenapa macet panjang kali ini membuatnya bersyukur karna dia bisa pesan tanpa bersusah payah keluar dari mobil. "Yang rasa apa neng?" "Rasa yang pernah ada pak, ada nggak??" Si bapak penjual tertawa. Membuat Kara ikut tertawa juga. "Jangan lama-lama pesannya." Sahut Fatih ketus. "Duh, suami aku marah pak. Yaudah, aku mau semua rasa pak, satu-satu." "Siap neng." Si bapak memotong-motong esnya. Kara melihat es itu dengan ngiler. "Kamu mau nggak A'?" "Enggak." jawab Fatih cepat. Sedikit bad mood karna ucapan Kara tadi dan macet yang semakin parah. "Dikasih coklat nggak neng?" "Dikasih pak. Pak aku mau satu lagi. Masih semua rasa ya pak. Nggak usah dikasih coklat tapi." "Oke neng." Si bapak kembali memotong es dengan cepat. Takut kalo si pembeli jadi menunggu tak sabar karna mobilnya udah bisa jalan. "Kan aku nggak minta. Kenapa belinya nambah banyak?" "Kan tadi itu yang pengen aku. Sekarang dedek embul juga pengen. Oh ya, A' mana uangnya?" Minta Kara menengadahkan tangannya. Fatih menatap Kara heran. Padahal dompet Kara ada di atas dashboard mobil, tepat di depannya. Tapi kenapa malah minta uang padanya? Tapi Fatih tetap diam meskipun heran. Diserahkan dompetnya pada Kara. "Berapa pak?" "Dua puluh ribu neng." Si bapak mengangsurkan plastik bening berisi es pesanan Kara. "Ini pak. Makasih ya pak." "Sama-sama neng. Makasih." Mobil perlahan berjalan menjauh. Tak pake lama Kara langsung mengambil es warna pink diplastik. Memakannya dengan lahap. "Sebanyak itu bakal habis nggak?" tanya Fatih saat melihat Kara yang seperti kesenangan. "Nggak tau." Diambilnya es yang sekarang warna hijau. Entah rasa melon atau alpukat kali ini. "Kalo nggak tau kenapa belinya kebanyakan?" "Kan tadi udah bilang, aku sama dedek embul yang pengen. Mau nyobain satu-satu." "Terus kalo sisa gimana?" Perkataan Fatih membuat Kara menatapnya. "Kan ada si papah yang bantu ngabisin." jawab Kara enteng. Gimana aku nggak tambah gemuk coba. Batin Fatih miris  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD