"Masih marah ya?"
"Ya iyalah. Siapa coba yang nggak kesel, udah dibilangin dingin malah diceburin. Ih kesel ah sama Aa'." Kara mencebikkan bibirnya. Rasa kesal dengan suaminya belum hilang sejak tadi. Padahal Kara sudah bilang kalo dia kedinginan. Tapi malah dicemplungin ke air, mana lumayan dingin lagi airnya.
Fatih menggaruk kepalanya bingung. Emang dia tadi sejahat itu ya? Melangkahkan kaki mendekati Kara, Fatih menyodorkan sepiring penuh nasi goreng buatannya.
"Marahnya dipending dulu. Sekarang makan. Aaaa..." Tangan Fatih terulur, menyodorkan sesendok nasi goreng.
"Aa’ itu gimana sih, istrinya lagi marah bukannya minta maaf atau dibujuk gimana gitu malah disuruh makan." Protes Kara, tapi tak urung menerima suapan Fatih. Fatih tersenyum geli. Gemas melihat tingkah istrinya yang lucu.
"Aa' ikut makan dong. Kebanyakan ini kalo cuma buat aku." ucap Kara disela-sela kunyahannya.
"Iya." Fatih mengulum senyum. Inilah salah satu sifat yang Fatih suka dari Kara. Dalam kondisi marahan seperti ini pun dia tetap perhatian.
"Tadi Mbak Nia telfon. Katanya kalo jadi ikut, kita disuruh nyusul." kata Fatih sambil menyuapi Kara kembali.
"Aa' mau kesana?”
“Emang rencananya kemana aja?"
"Piknik aja sih. Tapi di sini grimis mendung kayak gini. Males jadinya kalo mau nyusul." Kara mengalihkan tatapannya keluar rumah. Gerimis memang turun kembali beberapa menit yang lalu. Dan belum ada tanda akan berhenti.
"Yaudah kita nggak usah nyusul."
"Terus mau dirumah seharian?"
"Kita pulang aja yuk. Disini sepi. Nggak asik." Ajak Kara. Padahal sebelum menikah dengan Fatih, dia terbiasa dengan suasana seperti ini saat kedua orang tuanya pergi keluar kota. Tapi terasa berbeda sekarang. Entahlah.
"Dirumah kita kan juga sepi."
"Ya tapikan beda gitu...Pulang yuk."
"Yaudah, telfon ibu dulu. Pamit."
"Ayeyy capteeennnn‼!"
****
"A'."
"Ih, Aa'..."
"Kenapa?"
"Lihat nih." Kara menyodorkan ponselnya ke arah Fatih. Terlihat postingan Reva yang berisikan piknik liburan keluarga besar mereka. Saling bersenda gurau, makan bersama, serta foto Lena dan Romeo yang diambil candid sedang mojok berduaan. Bikin Kara iri.
Tatapan Fatih beralih ke istrinya kembali. Melihat Kara yang sepertinya menyesal tidak jadi ikut.
"Tau gitu kita nyusulin ke sana ya A'."
"Tadi siapa yang lebih milih ngajak pulang??"
"Ya kan Aa' kenapa nggak bujuk-bujuk aku gitu biar mau nyusul kesana. Jadinya kan gini, aku nggak bisa upload foto-foto ala keluarga bahagia kayak mereka." Kara tak mau disalahkan. Tetap berpegang pada prinsip. Cewek selalu benar.
"Tadi bilangnya mendung, grimis, lebih enak tidur-tiduran di rumah." Fatih memaparkan ucapan-ucapan Kara
"Yakan harusnya Aa' bilang gini, di sana kan belum tentu ujan. Mau coba kesana dulu nggak?? gitu. Lagian kan tadi aku masih bete sama Aa'. Aa' ngerti nggak sih?!"
"Iya iya." Fatih mengalah. Tak ingin memperpanjang perkara yang menurutnya sepele.
"Jadi sekarang kamu mau kita nyusulin ke sana??" Tawar Fatih.
"Nggak ah. Ngapain. Besok senin A'. Mendingan tidur-tiduran aja di rumah. Isi tenaga." jawab Kara enteng
Ya Tuhan... Fatih mengelus d**a sabar.
****
"Kar, lo tau nggak. Katanya ada anak baru pindahan dari luar negri. Adek tingkat sih. Tapi kemaren gue lihat ganteng bangeettttt. Sumpah demi apa kaki gue kayak nggak ada tulang, saking lemesnya." curhat Leta pada Kara.
Hari senin biasanya menjadi hari termalas sedunia untuk mengawali hari. Ditambah dapet jadwal mata kuliah pagi. Tapi maap-maap saja. Itu semua tidak berlaku buat Kara. Karna apa? Karna Aa' dosen alias suaminya itu mengajar kelasnya hari ini. Horeeee‼!
"Lebay lo. Tulang di kaki ilang beneran baru tau rasa. Lagian, paling masih gantengan suami gue." Kara tidak peduli. Dia bukan Kara yang dulu. Kara yang memuja para pria tamvan. Sekarang yang ada adalah Kara yang dewasa. Yaaa...meskipun masih dalam tahap belajar berpikir dewasa. Ngimbangin cara berpikir suaminya gitu loh. Biar nggak dibilangin kekanak-kanakan terus. Dia juga udah ngelakuin adegan dewasa. Eh, adegan dewasa sama berpikir dewasa sama nggak sih??
"Astagfirullah itu mulut kalo ngomong. Minta di sun apa sama gumiho," Leta menetuk-ngetukkan tangannya ke meja dan kepala bergantian. Mulutnya bergumam amit-amit jabang bayi.
"Beda dong Kar. Kalo Pak Fatih itukan rada-rada mateng gimana gitu. Kalo si dedekkan masih keliatan seger, fresh. Mana mukanya rada-rada baby face lagi. Kayak oppa-oppa korea campur bule gitu." Pandangan Leta menerawang. Membayangkan cowok yang beberapa hari lalu ditemuinya. Dia memang belum sempat bercerita karna mereka baru bertemu hari ini. Dan rasanya kurang afdol jika bercerita lewat telfon.
"Inget mbak, bentar lagi mau nikah." Kara menoyor kepala Leta. Membuat khayalan Leta hancur berantakan.
"Ah resek lo. Nggak asik."
"Btw, Kar. Bantuin gue dong. Gue nggak mau ah merid sama Raka. Alamat bakal dimadu gue." Pandangan Leta meredup. Serius dengan ucapannya.
"Dimadu gimana? Dia kan cinta mati sama lo." Tangan Kara berhenti mengaduk es teh yang gulanya nggak mau cair-cair. Kini memandang Leta serius.
"Baru tunangan aja gue udah makan ati. Ya walaupun jujur gue belum ada perasaan apa-apa sih sama dia. Tapi coba lo bayangin, tiap gue sama dia jalan, matanya nggak pernah mau dikondisikan. Adaaaaa aja cewek yang digenitin. Bahkan gue pernah ditinggal hampir sejam cuma buat nungguin dia ngobrol sama matannya. Ah belom lagi, ini yang paling parah sih menurut gue, dia lebih milih nganter pulang cewek lain dibanding nganter gue yang jelas-jelas tunangannya. Ya kesel dong gue. Dari gue diemin hingga nyoba batalin ini pernikahan, tapi tetep aja pernikahan ni jadi, malah rencananya mau dimajuin. Tolongin gue dong Kar. Sumpah gue bingung mesti gimana lagi..." curhat Leta menggebu-gebu. Terlalu sesak dia pendam sendiri. Bahkan mata yang biasanya tampak bersemangat itu kini mengeluarkan air mata. Jarang sekali Kara melihat Leta seprti ini.
"Kok aneh ya Let." Jawaban Kara tidak sesuai keinginan Leta.
"Aneh gimana sih?? Hiks hiks hiks..." jawab Leta disela-sela isak tangisnya.
"Gini ya Let. Sejak malem pertunangan lo. Raka itu sering banget ke rumah gue. Sampe enek gue karna sekarang tu Raka kayak selingkuh sama suami gue. Dia minta diajarin ijab qobul, segala hal tentang agamalah sama suami gue. Terus dia juga tanya-tanya barang yang sekiranya lo pengen atau lo suka buat dijadiin seserahan. Itu dari jaman setelah lo tunangan loh sampe tadi malem dia juga dateng. Bikin kesel sih lama-lama. Tapi liat dia seserius itu sama lo, mau nggak mau ya gue ikhlasin waktu berduaan gue ama suami. Tapi denger cerita lo kok, buat gue jadi bingung ya." Kara menggaruk-garuk kepalanya.
"Bohong lo ah. Mana ada dia kek gitu." Leta tidak percaya. Karna nyatanya perlakuan yang dia dapat tak sebaik itu. Harapan dia punya suami ala cowok romantis di novel dan drama Korea, KANDASSS‼!
Leta mengambil gulungan tisu di meja kantin tempat mereka duduk. Digunakannya buat ngelapin ingus yang ikut meler bareng air matanya.
"Iyyuhhhh. Jorok banget lo ah." Kara menatap jijik saat Leta dengan entenganya mengeluarkan limbah hidung hingga menimbulkan suara khas.
"Dari pada diempet alah jadi penyakit." ujar Leta santai sambil melemparkan tisunya ke tempat sampah.
"Yes masuk."
Kara yang melihat itu hanya berdecak dan geleng-geleng kepala. Tadi nangis-nagis.
"Oke balik lagi ke ucapan lo. Kenapa Raka lebih milih tanya seserahan ke elo dibanding gue yang calonnya?"
"Ya mana gue tau. Mau bikin surpraise kali." Kara mengendikkan bahu.
"Kar, yang serius."
"Eaaaa...si mbak nggak sabar banget pengen cepet-cepet diseriusin." Kara menaik-turunkan alisnya, menggoda Leta. Yang dibalas dengan pelototan mata agar serius menjawab pertanyaannya tadi.
"Gue juga tanya gitu kali, tapi dianya kagak mau jawab."
Hufttt
Drrrt drrrt
"Tu telfon diangkat napa Let. Gue perhatiin dari tadi geter mulu." Kara melirik ke layar hape Leta yang tertulis nama Raka disana.
"Dari Raka tuh."
"Bodo ah."
"Separah itu ya let??"
"Apa?" Leta menaikkan alisnya bingung.
"Sakit hati lo."
"Lo tau kan gue nggak suka main-main kayak gini."
Hahhh...
"Lo diemin dia sejak kapan?"
"Nggak tau." Leta mengalihkan pandangannya, memilih menatap keluar. Menolak menjawab lebih rinci pada sahabatnya.
"Seminggu?"
"Lebih mungkin."
"Selama itu?? Lo nggak takut dosa marahan lebih dari tiga hari?"
"Takut Kar. Tapi disisi lain gue nggak suka dia giniin gue mulu." bahu Leta meluruh. Tertunduk lesu.
"Let, lo– "
"Sayang..."
Leta benci situasi ini.