“Lennnnn‼! Ada cowok lo di depannnn!‼” Teriakan Reva terdengar nyaring dari teras depan. Lena yang mendengar itu bersungut kesal. Bahkan sampai melempar sendok di genggaman ke piring kosong yang ada di depannya. Padahal dia udah bilang mau pergi sama sepupu-sepupunya hari ini. Tapi tetap saja datang. Padahal kapan lagi coba dia bisa kumpul kayak gini kalo nggak sekarang. Kezellllllll.
Lena menghampiri Romeo setelah membawa piring kotornya ke dapur. Wajahnya masih bertekuk kesal. Langkahnya dibuat malas-malasan saat mendekati pacarnya. Romeo yang melihat itu tersenyum maklum. Paham kalo pacarnya marah. Tapi Romeo nggak bisa kalo sehari saja nggak lihat Lena. Sadar nggak sih pacarnya itu.
Romeo nyengir dan merentangkan tangannya saat Lena beberapa langkah lagi mendekatinya. Namun bukannya memeluk, Lena malah mencubit dan menginjak kaki Romeo kuat.
“Aw, aw, sakit bebbb‼!” Romeo memegang tangan Lena yang masih mencubit pinggangnya.
“Rasain. Makan nih, makan. Kan Lena udah bilang hari ini mau pergi sama yang lain. Kok Romeo malah dateng sih.” Kaki Lena menghentak-hentak sebal.
“Yakan aku kangen. Sini peluk dulu." Romeo membawa Lena ke pelukannya. Mau tidak mau Lena membalas pelukan pacarnya itu. Kangen sih sebenernya. Tapi sebel juga. Padahal kemaren bilangnya nggak papa. Tapi buktinya??
“Padahalkan bisa telpon atau video call.” Masih dalam pelukan, Lena mendongakkan menatap Romeo.
“Biar sekalian ketemu keluarga kamu yang lain beb. Pendekatan gitu.” Romeo menaik turunkan alisnya, tersenyum menggoda.
"Pendekatan apanya. Padahal dari rumah kamu ke sini jauh lohh."
“Uluh-uluh... kamu kok makin nggemesin sih.” Romeo menguyel-nguyel pipi Lena. Membuat bibir Lena mengerucut sepert ikan.
Glek
kok pingin nyium ya
“Romeo.” Romeo mengerjap, kembali tersadar. “Nggak papa jauh. Yang penting bisa ketemu kamu.” ujar Romeo sambil membawa Lena kedekapannya kembali.
****
“Kara. Kamu ngapain?”
“Astaghfirullah,” Kara melonjak terkejut. “Ih, Aa’ ngaget-ngagetin aja deh.” Protes Kara pada suaminya. Menggangu aja. Kara kembali membalikkan badannya menghadap jendela. Melihat pasangan muda yang tengah berpeluka mesra di depan rumah orang tuanya.
Dasar anak jaman sekarang. Pada bucin semua.
“Kamu lihat apa sih??” Fatih mengikuti arah pandangan Kara.
“Lagi lihat Lena sama pacarnya.” Tatapan Kara tetap fokus ke depan.
“Ohh....” Fatih menganggukan kepalanya paham. Lena dan Romeo terlihat berbincang. Entah apa yang mereka perbincangkan, sama sekali tak terdengar hingga ke dalam. Yang terlihat hanya mereka sesekali tertawa dan Lena yang terus memainkan jemari Romeo.
“Kenapa nggak disuruh masuk??”
“Biarain A’. Nanti kalo para tetua lihat biar langsung digrebek.” jawab Kara sambil menolehkan kepalanya kesamping.
Cup
“Ihh... wajah Aa’ kedeketan.” Kara mendorong tubuh Fatih untuk membuat jarak padanya. Kemudian mengintip Lena dan Romeo kembali. Fatih memandang Kara heran. Padahal biasanya nyosor duluan.
“Terus kamu ngapain ngitipin terus??”
“Ya siapa tau mereka bakal melakukan yang iya-iya. Nanti mau aku grebek A’. Dinikahin, tau rasa ntar.”
“Kayak kita dong??” Kara langsung menoleh ke suaminya.
“Ihh Aaaaaa’. Jangan diingetinnnn‼!”
“Ya lagian kamu kayak nggak ada kerjaan aja. Sini.” ajak Fatih menggandeng Kara, membawanya kesuatu tempat.
****
"Len, kamu lihat Kara nggak??" tanya Nia saat Lena berjalan melewatinya.
"Nggak mbak. Kenapa?"
Nia melirik minuman yang dipegang Lena, "Kamu ngasihin tu minuman ke pacar mu dulu deh. Terus coba cari ke kamar Kara ya. Tanya jadi pergi nggak. Mbak mau urus anak mbak dulu."
"Iya mbak." Lena mengangguk paham. Setelah mengantarkan minuman untuk Romeo. Lena melangkahkan kakinya ke kamar Kara yang ada dipaling pojok.
Tok tok tok
"Mbak Kara..."
Tok tok tok
"Mbak. Kata Mbak Nia jadi pergi nggak??" Lena menempelkan telinganya ke pintu. Tidak terdengar suara apapun dari dalam kamar Kara. Jangan-jangan salah satu sepupunya ini kenapa-napa. Dengan panik Lena membuka pintu. Takut sesuatu terjadi dengan sepupunya itu.
"MBAK KARA NGGAK KENAPA-NAPA K-???" ucapan Lena terhenti saat melihat Kara dan Fatih tengah tidur berpelukan. Kaget dengan apa yang tengah dilihatnya saat ini.
Kara yang tengah tidur bersadar di d**a Fatih membuka matanya merasa terganggu dengan suara Lena. Lalu menaikkan selimut untuk menutupi kulit tubuh mereka yang tak mengenakan pakaian. Tangan Kara terangkat, melakukan gerakan untuk diam dan mengusir Lena keluar.
Untung suaminya ini nggak terbangun.
Lena menangguk dan menutup mulutnya menggunakan tangan. Melangkah mundur keluar dari kamar Kara. Ditutupnya pintu kamar pelan-pelan. Pikirannya bercabang. Tadi mbaknya itu ngapain ya sama mas Fatih? Kenapa nggak pake baju?? Lena terus memikirkan itu hingga tak sadar sudah duduk di samping Romeo, pacarnya.
"Kamu kenapa?"
"Eh?" Lena menatap Romeo lingung.
"Kamu kenapa?" Romeo mengusap kening Lena yang berkerut.
"Romeo. Tadi Lena lihat Mbak Kara sama Mas Fatih tidur nggak pake baju. Apa nggak dingin ya? Oh, jangan-jangan baju Mbak Kara sama Mas Fatih habis belum dicuci," Lena menatap Romeo dengan mata melebar. "Romeo tunggu bentar ya, Lena mau ngasih pinjem baju ke Mbak Kara dulu."
"Ehhh. Jangannn..."
"Loh kenapa? Kasian Mbak Kara sama Mas Fatih. Nanti masuk angin." Lena melepas cekalan tangan Romeo dilengannya. Lalu bangkit.
"Nggak usah. Kamu disini aja sama aku." Romeo masih mencegahnya.
"Kok gitu sih."
"Kamu disini aja sama aku. Mbak Kara sama Mas Fatih masih ada baju kok. Lagi dijemur di kamarnya." Romeo bingung cara menjelaskan yang sebenarnya ke Lena yang kadang polosnya kumat.
"Gitu ya??" Lena menatap Romeo sedikit kurang yakin.
"Iya. Kamu di sini aja." Romeo tetap memegang tangan Lena. Tak ingin Lena tetap pada niatannya. Cukup sudah mata pacarnya ini tercemar.
"Iya deh."
Hahhh. Legaaa
****
"Eunnggghhhhh...." Fatih menyipitkan matanya silau. Tubuhnya kaku. Ingin direnggangkan, namun tertahan saat melihat Kara masih tertidur pulas menindihnya. Tangannya yang bebas mengusap rambut Kara. Halus. Kara memang selalu merawat tubuhnya. Fatih akui itu. Salah satu sebab kenapa Fatih kadang lost control jika didekat Kara. Untung istrinya peka. Dan menanggapi ke-lost controlan-nya itu.
Fatih memiringkan tubuhnya. Membuat kepala Kara yang semula bersandar di dadanya kini berada di atas bantal. Dirapihkan selimut supaya tubuh Kara yang telanjang tidak kedinginan.
Sebenarnya tadi Fatih mengajak Kara ke kamar karna ingin meminta bantuannya mencarikan kaos yang sempat ketinggalan di sini. Namun karna cuaca begitu mendukung, mendung-mendung kelabu dan lumayan dingin, membuat mereka malah saling berbagi kehangatan.
Ada sedikit perasaan nggak enak sebenarnya sama keluarga Kara. Pagi-pagi bukannya kumpul dengan yang lain, malah mojok sama istrinya. Tapi biarlah. Fatih yakin keluarga Kara pasti maklum dengan mereka yang masih pengantin baru.
Diciumnya kening Kara sebelum beranjak memakai celananya kembali. Diletakkanya pakaian mereka di keranjang pakaian kotor sebelum dirinya melangkah ke kamar mandi.
Drrt drrt drrt
Handphone Kara menyala. Pertanda ada pesan masuk. Namun si pemilik masih tertidur pulas. Kara masih betah tidur hingga Fatih selesai mandi.
"A' dingin ahhh." Kara menggeliat. Menutup wajah dengan selimut saat merasakan usapan Fatih dipipinya.
"Bangun. Udah siang."
"Jam berapa?" tanya Kara dengan suara serak. Matanya mengerjap-ngerjap, menyesuaikan dengan cahaya dari luar.
"Jam 10. Ayo bangun." Fatih menarik tubuh Kara agar bangun. Namun Kara mengehempaskan tubuhnya lagi ke ranjang.
"Dingin A'. Diluar gerimis juga. Kita kelon aja. Sini." ajak Kara pada Fatih. Tangannya terbuka lebar ingin Fatih ke pelukannya.
"Nggak." Fatih memandangi Kara yang kini bibirnya mengerucut kecewa.
"Sini ih. Kedinginan aku tu, butuh diangetin." Kara menarik tangan Fatih agar mau ikut berbaring lagi. Namun Fatih mengkakukan tubuhnya, membuat Kara merasa berat saat menarik Fatih.
Belum kehabisan akal. Kini Kara sedikit menyandarkan tubuhnya ke atas. Membuat selimut yang semula menutupi hingga bahunya kini melorot hampir memperlihatkan puncak dadanya. Membuat kesan menggoda agar Fatih tertarik.
"Yakin nggak mau???"
Fatih memandang Kara datar. Sebisa mungkin menahan. Walaupun terlihat jika jakunnya naik turun berulang kali meneguk ludahnya sendiri. Fatih mendekati Kara. Membuat Kara tersenyum menang. Namun...
"Aaaaaa'." Kara memekik keras saat tindakan Fatih tidak sesuai ekspetasinya. Kara kira Fatih akan tergoda dan menyetujui ajakannya. Namun kini Fatih malah membawanya ke kamar mandi dan menurunkannya di bath up yang sudah terisi air.
"Mandi...sayang." ujar Fatih tersenyum. Melangkah meninggalkan Kara yang mencak-mencak membuat airnya menyiprat keluar.