“Mak, bisa buat kayak gini ndak??” Kara menunjukkan video makanan yang tengah ia tonton di youtub. Entah mengapa akhir-akhir ini dia demen banget nonton orang makan. Walau ujung-ujungnya bikin dia ngiler dan langsung buat pesan antar. Dan tadaaaa, makanan udah ditangannya.
Bahkan dia pernah ngambek hanya gara-gara makanan yang dia tonton sama sekali tidak ada yang jual di dekat tempat tinggalnya. Ada sih yang jual, itupun di luar kota. Mau ngajak suaminya tapi nggak enak. Padahal suaminya itukan bucin parah sama Kara. Mau ngajak kemana pasti hayuk-hayuk aja.
“Itu makanan apa sih?” Ratih merasa asing dengan makanan yang Kara tunjukkan.
“Samgyetang mak.”
“Oh... ini pake ayam ya?? Alahhh, gampang ini mah. Kayak sop ayam biasa, cuma nggak ada sayurnya.”
“Ih beda mak. Ini didalem ayamnya ada gingsengnya loh. Nih, nih tuh kan... bikinin ya mak.”
“Nggak. Lagi sibuk. Masak sendiri.” Ratih kembali pada masakannya yang sempat dia tinggal.
“Kan mamak tau Kara nggak bisa masak.” Kara manyun.
“Jadi selama ini Fatih kamu kasih makan apa??” teriak Ratih. Suaranya membuat orang-orang ara yang tengah menyiapkan tempat dan memanggang daging di halaman belakang menoleh ke dapur. Bahkan Fatih yang merasa nama-namanya disebut ikut menolehkan kepalanya dan melemparkan tanya tanpa suara pada Kara. Namun hanya dibalas Kara dengan ciuman dan kedipan genit. Membuat Fatih mau tak mau menahan senyumnya.
“Ih ni anak satu,” gemas Ratih melihat Kara yang kegenitan.
"Aw. Sakit mak. Lagian sama suami sendiri ini.” Kara megusap-usap lenganya yang mendapat cubitan.
“Udah, kamu potongin ini aja.” Kara bersungut-sungut saat Ratih menyerahkan semangkok bawang merah.
****
Arisan keluarga yang tengah berlangsung di rumah Pak Jayadi ini berlangsung hingga sore hari. Bahkan orang tua Fatih juga sempat datang meskipun tidak lama. Kakek buyut Kara memang mewajibkan anak cucunya untuk menyempatkan berkumpul meskipun satu bulan sekali. Dan kegiatan itu bisa telaksana hingga saat ini.
“Mau buah nggak A’.“ tanya Kara dipelukan Fatih. Tangannya mengusap-ngusap perut suaminya yang rada membuncit karna terus dijejalkan Kara dengan makanan. Perbaikan gizi katanya.
“Boleh.”
Tuhkan. Fatih itu nggak bakal menolak apa yang Kara tawarkan dan Kara sodorkan. Saat ditanya alasannya, biar dia dapet pahala terus. Singkat, padat, jelas. Ciri khas Fatih. Kara yang menerima jawaban seperti itu hanya mesem-mesem malu. Rasanya bukan seperti Kara.
"Yaudah aku ambilin bentar." Kara melepas pelukannya dan beranjak dari gazebo yang tengah mereka duduki. Padahal tadi sepupu-sepupu Kara mau gabung. Tapi langsung dia usir. Alasannya, sebagai pengantin baru mereka mau mesra-mesraan. Padahal pernikahan mereka sudah hampir berjalan dua bulan. Emang itu masih kategori pengantin baru?
“Berduaan mulu lo.” Bayu melirik Fatih yang tengah memperhatikan istrinya dari jauh.
“Sirik aja lo.” balas Kara. Tangannya mengambil beberapa buah dan mencelupkannya ke coklat cair yang disediakan.
“Awas, ketigaanya setan.”
“Nggak papa. Lagian udah sah ini. Berlisensi.” Bangga Kara. Dibisikin setan juga nggak papa. Paling ujung-ujungnya bawa ke kamar. Melakukan yang iya-iya. Sama-sama enak, dan dapet pahala. Bisikan yang membawa nikmat. Kara tertawa dalam hati.
“Gaya lo. Dikira barang apa. Suaminya jangan dikekepin mulu lah Kar. Biar dia kenal dan ngobrol-ngobrol sama yang lain.” Ucapan Bayu mulai serius.
“Nha tadikan udah.”
“Iya, tapi cuma sebentar. Setelah itu juga lo pepet-pepet lagi.“
Kara diam. Memikirkan bahwa ucapan Bayu ada benarnya. Sebenarnya bukan maksud Kara ingin selalu menempeli Fatih. Keseharian setelah menikah membuat dia dan Fatih selalu bersama. Dan ketika mereka sedang kumpul bersama yang lain seperti ini, membuat Kara setengah tidak rela jika perhatian Fatih teralih dengan yang lain. Katakanlah Kara memang seposesif itu. Tapi hatinya merasa tak suka.
“Lo bener mas.” Tatapan kara yang sebelumnnya selalu penuh semangat menjadi muram. Membuat Bayu merasa bersalah.
“Lah, kok jadi manyun sih kar. Gue kan Cuma mau ngingetin, bagaimanapun juga suami lo itu perlu bersosialisasi dengan keluarga lo. Mumpung hari ini kita ngumpul. Kapan lagi coba keluarga kita bisa kumpul kayak gini kalo nggak pas arisan atau lebaran??” jelas Bayu. Tak ingin membuat sepupu genitnya ini salah mengartikan ucapannya. Lagian tumben banget Kara se-sensi ini.
“Iya-iya mas.” Bibir Kara masih manyun. Tanda bahwa ucapan Bayu memang membuatnya kepikiran.
“Udah sana balik. Noh dari tadi suami lo liatin mulu." Bayu mencubit bibir Kara yang manyun.
“Aww, sakit mas.” teriak Kara heboh. Lalu membalas dengan menendang betis Bayu.
Melihat Kara yang tertawa senang diatas penderitaanya mau tidak mau sedikit membuat Bayu bersyukur. Tak terasa Kara sudah tumbuh dewasa. Sebagai sepupu yang tumbuh besar dengan Kara, Bayu selalu mengangap Kara seperti saudra kandungnya sendiri. Dan sebagai orang yang telah merasakan pahit manisnya pernikahan, sudah sepantasnya dia menasehati Kara. Dan sekarang dia bisa bernafas lega melihat Kara kini menemukan seseorang yag bisa menjaganya.
Kara berjalan ke gazebo tempatnya dan Fatih berduaan. Tangannya memegang piring buah dan es krim coklat hasil merebut dari tangan bayu.
"Ngobrol apa sama Bayu??" Fatih langsung bertanya pada Kara. Rasa penasarannya tak dapat ditahan saat melihat ekspresi Kara yang berubah saat mereka mengobrol tadi.
"Biasa, Mas Bayu godain gara-gara kita berduaan mulu." jawab Kara sambil menyuapkan potongan buah ke mulut Fatih. Fatih mengunyahnya dengan tatapan yang masih fokus ke Kara. Tidak puas dengan jawaban dari istrinya itu.
"Terus kenapa sedih?"
"Siapa yang sedih coba?" Saat hendak meyuapkan lagi,tangan Kara ditahan. Diambilnya garpu ditangan Kara, gantian Fatih yang menyuapi istrinya.
"Sadar nggak sih dari tadi kamu cuma makan dikit??" ucap Fatih sambil menyuapkan kembali.
"Emang iya??" tanya Kara disela-sela kunyahannya. Tatapannya keatas seolah-olah mengingat apa saja makanan yang sudah ia makan sejak tadi.
"Kamu bahkan belom makan nasi." Fatih masih terus menyuapkan Kara buah. Bahkan buah yang niatnya untuk Fatih, kini hampir ludes dimakan Kara.
"Aku ambilin ya??" Tawar Fatih. Tawaran kesekiannya.
"Nggak ah."
Hahh...
Tatapan Fatih lurus ke Kara. Menatap istrinya dalam-dalam.
"Sekarang lagi pengen makan apa??" Fatih sudah paham. Sekarang ini entah kenapa istrinya itu nggak akan makan makanana lain disaat ada makanan yang ingin dia makan. Kara yang sejak tadi menunduk, menghindari tatapan Fatih langsung menatap Fatih berbinar-binar. Alhamdulillah...
Bukan. Kara bukan bersyukur Kara makana yag sejak tadi pagi dia inginkan ditanyakan ole Fatih. Tapi dia bersyukur Fatih sudah tidak menanyainya lagi tentang pembicaraanya dengan Bayu.
"Mau makan apa?" tanya Fatih lagi.
"Samgyetang." jawab Kara semangat.
"Korean food lagi??" tanya Fatih memastikan.
"Iya." Kara mengangguk-anggukkan kepalanya semangat. Masalah ucapan Bayu pikir nanti. Batinnya.
Huft
Fatih mengambil handphonenya. Memesankan keingnana Kara. Kalo di sampingnya ada Fatih, Kara selalu menolak jika disuruh pesan sendiri. Padahal Fatih sering mengtopupkan saldo, jaga-jaga jika tidak ada uang cash.
"Restonya rada jauh dari sini. Nunggu lama nggak papa kan??"
"Iya." Kara tersenyum. Membuat Fatih ikut tersyum.
****
Langit sudah gelap. Tapi bukan berarti acara keluarga Kara selesi. Mereka menginap semua disini. Ruang keluarga dipenuhi oleh keluarga Kara yang muda-muda. Sedangkan para orang tua memilih ngeteh di depan.
Fatih, Bayu dan sepupu-sepupu Kara yang cowok sedang membicarakan entah apa di ruang tv, ada beberapa juga yang memilih main PS. Sedangkan para perempuuan lebih memilih pindah ke kamar Kara. Melakukan kegiatan ala wanita. Maskeran, mengutek kuku, hingga ghibahin orang.
"Mbak Kara bisa dapet suami kayak Mas Fatih gimana caranya sih??" Lena, sepupu Kara yang masih SMA duduk memeluk bantal, menatap Kara yang akan mengoles masker wajah.
"Lo nggak tau Len??" Reva terkejut. Dibanding Lena, Reva memang anak yang cepat paham akan situasi dan pembicaraan meskipun dia hanya mendengar setengah-setengah. Keluarga mereka memang tidak secara gamblang membicarakan sebab pernikahan Kara dipercepat untuk yang masih kategori dibawah umur. Tapi Reva bisa langsung paham. Ditambah dia sempat mengkonfirmasinya langsung ke Kara.
"Tau apa?? " Mata Lena mengerjap bingung.
"Tau kal– mmmhhh." Kara langsung membekap mulut Reva sebelum keceplosan. Padahal udah dibilangin jangan ember.
"Mulut Reva kenapa ditutup mbak?" tanya Lena heran.
"Tadi ada laler yang mau masuk." jawab Kara seadanya.
"Ohh..." Lena mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Anak polos ya gini, lurus-lurus aja pemikirannya.
"Pengen deh nanti punya suami kaya Mas Fatih." Tatapan Lena menerawang. Ucapan Lena sontak membuat empat perempuan yang ada di kamar Kara menatapnya.
"Emang suami mbak kenapa Len?" Kara penasaran. Jangan sampe ini anak SMA naksir ama suaminya. Enak aja.
"Ya habisnya, sikap mas Fatih ke mbak Kara itu kayak cowok-cowok di drama korea yang Lena tonton. Lena kan juga pengen." Bibir Lena melengkung ke bawah. Merasa sangat iri.
"Emang cowok lo kagak gitu??" tanya Reva. Mereka memang satu sekolah meskipun berbeda kelas.
"Eh, Lena punya cowok?" Nia, sepupu Kara yang sejak tadi diam memperhatikan kini mengeluarkan suaranya.
“Punya kali mbak. Tajir melintir lagi ni cowoknya." jawab Reva.
“Hebat!!! Pinter kamu Len." Kara menepuk-bepuk lengan Lena heboh. Merasa bangga. Pinter cari cowok. Wkwkwk
"Tapi Romi nggak kayak cowok-cowok di drama korea." Bibir Lena manyun.
"Yakan meskipun nggak sipit dan semulus cowok Korea, tapi tetep aja Romeo ganteng Len. Yang ngincer banyak."
“Yang bener namanya Romi apa Romeo sih?? Bingung nih yang dengerin....”
“Namanya Romeo mbak, tapi aku panggilnya Romi.”
“Oh, oke oke lanjut.”
"Eh-eh, kasih liat dong fotonya. Penasaran nih." Desak Kara pada Lena.
Reva langsung menyodorkan handphone Lena yang sejak tadi dipegangnya, dan terlihat gambar seorang cowok yang tersenyum konyol merangkul Lena.
"Cowok lo manis ya Len. Ada darah arabnya ya??" Perkataan Nia membuat mereka semakin mengerubung.
"Iya. Dari kakeknya." Lena melirik gambar yang dilihat sepupu-sepupunya itu sekilas.
"Oke. Fokus kepertanyaan tadi. Jadi, cowok lo kenapa?" tanya Kara mulai serius. Jiwa konsultan mode on.
"Ya abis, kalo di drama korea setiap cowok sama ceweknya tatap-tatapan nanti bakal ciuman. Lah ini enggak. Cuma pipi sama jidat aku yang dicium. Bibirnya enggak. Lena kan juga pengeennnnn‼‼
Gubrak
Kara dan sepupu-sepupunya terkejut dengan pengakuan Lena.
"Ya Allah Lenaaaaaaa..."