Tiga

682 Words
"Nah ini dia pengantin barunya." Suara Bayu menggema dari meja makan saat Fatih dan Kara datang. Kara yang mendapat sambutan seperti itu tersenyum jumawa. Dia bahkan mengibaskan rambutnya sok cantik.  Sama sekali tak merasa malu atau risih saat sepupu-sepupunya bersorak heboh. Berbeda dengan Fatih yang tersenyum sekedarnya. "Biasa aja dong jalannya. Nggak usah diliatin banget kalo abis belah duren." Ingin rasanya Kara menampol mulut Bayu. Omongannya itu loh.  "Nggak papa sante aja. Di sini yang udah nikah paham kok kamu abis ngapain. Rambut pada keramas, leher merah-merah. Jangan ganas-ganas lah  mainnya... " Gelak tawa memenuhi ruang makan. Hampir seluruh keluarga besar Kara sedang berkumpul. "Mas Bayu!!! Diem nggak! Diemmm!!!!!" Sekarang Kara baru merasakan malu. Kalo saja yang bawah nggak kerasa nyut-nyutan, Kara nggak jamin wajah mulus Bayu akan selamat. "Aaaa'." Kara menggoyang-goyangkan lengan Fatih. Mencari pembelaan. "Lah, ngadu-ngadu. Cemen lo Kar." "Mas Bay... " "Nah, Mbak Isti, marahin tuh mbak marahin." Kara mencoba mencari pembelaan dari Isti, istri Bayu. Berharap bisa dijadikan sekutu. Isti yang membawa sayur dari arah dapur memberi tatapan peringatan kepada suaminya. Fatih hanya tersenyum menghadapi godaan dari sepupu-sepupu Kara. Sama sekali tak terpengaruh dengan godaan-godaan yang dilayangkan padanya. Toh memang benarkan. Pikirnya.  Kalo Kara jangan ditanya. Dia ladenin semua godaan. Yang dijawab pake segala macem gayalah. Tempur sampe pagilah. Sampe protes tidak terima, bahkan hampir ngelempar centong nasi karna ada yang bilang dia payah nyenengin suami. Pokoknya dia tidak terima kalah.  "A', kamu jangan diam aja dong. Bantuin aku..." Kara protes. Tidak terima dengan respon Fatih yang keliatannya adem ayem  mendengar godaan sepupu-sepupunya. "Sudah-sudah. Ayo makan." Hadi, ayah Kara menengahi. Pria paruh baya yang masih kelihatan muda karna umur hampir 60 tahun, rambut lelaki itu sama sekali belum kelihatan akan muncul ubannya. Berbeda dengan Ratih yang 10 tahun lebih muda, dia sampai harus menyemir rambutnya berkali-kali untuk menutupi ubannya yang hampir rata sekepala. Saking lelahnya, seluruh penghuni rumah Kara, termasuk sepupu-sepupu Kara yang menginap bangun kesiangan. Jadi tidak heran jika jam yang menunjukkan hampir setengah 9 mereka baru sarapan.   ****   Fatih melirik Kara yang sejak 10 menit lalu masih diam. Sangat bukan Kara sekali.  "Mmm.. Ka-kara." Tidak ada respon. "Kara?!" Masih nggak ada respon "Sa-sayang..." Fatih mencoba cara lain, sebelah tangannya mencoba menyentuh tangan Kara. "Eh iya!!" Kara kaget. Segera Fatih menarik tangannya. "Ka-kamu nggak suka ya kalo kita..pindah??" Fatih cemas. Dia merasa bersalah, mungkin Kara sedih karna harus berpisah dengan orang tuanya. Tapi jika dipikir-pikir, antara rumah yang akan mereka tempati dan rumah orangtua Kara hanya perlu waktu 15 menit. Jika rada macet paling lambat juga setengah jam. Jadi apakah Kara sesedih itu, hingga jarak yang menurutnya dekat saja terasa sangat jauh?? "Ka-mu mau kita kembali ke rumah bapak??" "Eh? Hah? Kenapa A'?" "Kamu mau kita putar balik?" "Eh? Kok gitu??" "Ka-kamu dari tadi diam. Aku pikir kamu nggak suka kalo cuma tinggal berdua bareng aku." Suara Fatih sedikit rendah di kalimat terakhir, terlalu berhati-hati. "Eh- hahahahha. Ya ampun A', aku tuh lagi mikir." "Mikir apa?" "Tempat paling enak bikin dedek di rumah kita di mana aja ya??? " Kara mengerlingkan matanya menggoda Fatih. Eh??   **** Rumah yang setahun lalu dibeli Fatih ini memang tidak terlalu mewah. Dua lantai dengan halaman depan belakang yang luas dan rindang menjadikan rumah itu terasa asri. Memang tidak semewah rumah orangtuanya, atau seluas rumah mertuanya. Tapi setidaknya cukup nyaman untuk ditinggali keluarga kecil mereka. "Kok sepi ya A'." "Iya, diajakin ke sini pada nggak mau." "Lho kenapa??" "Takut ganggu katannya." jawab Fatih lirih. Wajahnya memerah. Tapi Kara mendengarnya. "Kok ganggu sih A'. Kan malah rame." Kara belum conect maksud ucapan Fatih. Dia masih asik memperhatikan isi rumah baru mereka. "Eh? Emm.. Nggak tau." Fatih salah tingkah. Sadar, Kara mulai paham. Bibirnya tersenyum kecil. Otaknya memikirkan sesuatu. Kara membalikkan badannya. Dan mulai mendekati Fatih yang sedang membawa koper baju-baju miliknya. Dipeluknya Fatih dari depan. "A'..." Tak ketinggalan, tangannya mulai meraba-raba. Jika disurvei, Kara mungkin termasuk istri yang lebih sering menggoda suaminya. Istrinya makin aktif ya pak??! Ya mau gimana lagi. Udah dibilangin dia itu suka nggak tahan kalo deket-deket sama Fatih. "Jadi A', bikin dedeknya  mau dimulai dari ruang mana dulu??"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD