Tok tok tok
Tok tok tok
"Uhhhmmm....." Suara lenguhan terdengar dari sebuah kamar.
Tok tok tok
"A' kayaknya ada tamu." Kara bergumam serak. Dia masih mengantuk. Tapi suara gedoran pintu, bel, dan teriakan yang bersahut-sahutan menggangu tidurnya.
"Hm??" Fatih belum sadar. Bahkan dia tetap memejamkan matanya, dan mempererat pelukannya.
"A', ada yang ketok-ketok pintu." Kara mengguncang-guncang tangan Fatih yang ada di perutnya.
Kara lelah. Badannya pegal-pegal. Dia juga masih ngantuk. Baru tidur pukul dua, bangun subuh untuk ibadah, lanjuta gituan terus tidur lagi. Pokoknya seharian dia pengen tidur setelah kemarin seharian keliling rumah nidurin Fatih. Eh??!
"A'... Sanaaa lihat." Kara terus memaksa Fatih. Matanya masih terpejam.
Fatih nurut. Dia bangun. Masih dengan mata yang sesekali terpejam menahan kantuk, dia mengambil bokser yang subuh tadi dia pakai sebelum kembali dilempar Kara. Fatih mengusap wajahnya kasar dan mengacak-ngacak rambutnya, berharap kantuknya hilang.
Baru saja akan keluar kamar tapi Kara menahannya. Tadi diburu-buru, sekarang malah ditahan-tahan. Fatih bingung.
Masih hanya menggunakan pakaian dalam, Kara mengangsurkan celana piyama yang semalam Fatih pakai dan mengambilkan kaus putih polos dari lemari. Enak aja Fatih mau nemuin tamu cuma pakai bokser. Kalo cuma ada dia mah nggak masalah.
Dikecupnya kedua mata Fatih. "Melek A'..."
"Hm..."
"Kamu mandi dulu sana." Setelah itu Fatih keluar. Menemui tamu yang sejak tadi menggangu pagi mereka. Fatih menuruni tangga sambil sesekali menguap. Dilihatnya jam yang menempel di dinding menunjukkan pukul tujuh. Pantes masih ngantuk.
Ceklek
"Lama banget sih buka pintunya. Sampe pegel ibu dan mertuamu ini." Ayu, Ibu Fatih protes.
"Salam dulu bu'." Fatih menyalami Ayu dan Ratih tanpa mempedulikan gerutuan ibunya.
"Ih kamu ini." Tapi tak urung Ayu mengucapkan salam juga saat masuk ke rumah Fatih. Sedangkan Ratih jangan tanya. Setelah masuk rumah dia langsung mencari dan menanyakan keberadaan anaknya.
"Masih di kamar bu'."
"Jam segini belum bangun??!" Ratih kaget. Malu-maluin banget anak perempuannya itu. Udah punya suami tapi tetep aja bangunnya siang.
"Tadi udah bangun. Masih mandi kayaknya." jawab Fatih sambil memasak air panas untuk minum tamu-tamu tak diundangnya.
"Kamu kasih tau Kara dong supaya rajin bangun pagi. Biar nggak kebiasaan dianya. Udah jadi istri kok masih suka bangun siang. Haduh...bikin emak malu sama Ibu kamu ini." Terbiasa dipanggil emak oleh keluarganya, tak membuat Ratih mempermasalahkan panggilan Fatih yang berbeda dari yang lain. Hanya saja dia sulit menyesuaikan untuk mengganti panggilan untuk dirinya sendiri dengan kata ibu jika dengan Fatih, lidahnya sudah terbiasa dengan kata emak.
"Ih mamak tu suka gitu. Kan ini hari minggu mak. Weekend mak weekend. Hari nyantai seduniaaa." Kara tiba-tiba muncul dari arah tangga. Rambutnya masih basah dan belum tersisir dengan rapi.
Kara mencium tangan Ratih dan ibu mertuanya. Gini-gini dia masih punya sopan santun. Apalagi di depan mertuanya. Jaim dikit.
"Kayaknya kita ganggu mereka deh Jeng.." Ayu buka suara saat Kara duduk di kursi pantri menghadap Fatih, tapi langsung berbalik menatap Ayu.
Yang menjadi bahan pembicaraan tentu salah tingkah. Fatih bahkan berdehem dan memilih meracik teh membelakangi mereka untuk menyembunyikan wajah merahnya. Kara malah meringis. Sepertinya keputusan dia mengambil baju asal-asalan salah. Kara lupa kalo terusan putih gading bertali spageti ini tak bisa menutupi napak tilas Fatih.
Fatih menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ehem. Nggak kok Bu'. Nggak ganggu."
Tentu saja Ratih dan Ayu tidak percaya. Pengantin baru ini baru bangun saat Ayu dan Ratih datang. Bukain pintu lama. Ketemu yang punya rumah juga yang satu rambutnya awut-awutan, masih ngantuk -leher Fatih juga ada bercak-bercak merah dan luka, seperti luka cakaran- yang satu keluar-keluar rambut udah keramas. Jangan lupakan, mereka sesekali nguap. Ayu dan Ratih saat masuk rumah juga memperhatikan jika keadaan rumah berantakan. Bantal sofa di lantai semua. Sofanya ada yang miring tak beraturan. Belum kursi makan yang jaraknya ada yang mepet ada yang renggang. Meja makan juga posisinya miring sebelum tadi dibenerin Fatih saat mereka ke dapur. Di meja pantri juga barang-barangnya seperti ke geser paksa, sebelum Kara diam-diam menatanya kembali. Oh jangan lupakan, tadi Ayu juga melihat kain seperti bokser dan kutang di tangga. Punya siapa lagi kalo bukan milik si punya rumah??
Seliar apa sih mereka mainnya??
"Ibu' sama Mamak sarapan sini ya." Tawar Kara, mencoba mengalihkan perhatian mereka.
"Emang wes biso masak??" Ratih mengangkat alisnya bertanya. Heran sama anaknya yang berlagak ingin membuatkan mereka sarapan. Ratih tak percaya hanya dalam dua hari Kara secepat itu bisa memasak.
*(Emang udah bisa masak?)
"Eh? Oh iya lupa. Kan nggak bisa masak ya?!" Kara menepuk jidatnya. Duh malu-maluin di depan Ibu mertua. Untung Ibu mertuanya itu sayang dan terima dia apa adanya.
"Tenang ibu-ibu. Tukang bubur sebentar lagi lewat. Kita sarapa itu. Oke??"
"Nggak ah. Makan bubur nggak bikin kenyang," tolak Ratih. "Mamak sama mertuamu ini cuma mau nengok kalian sebentar sebelum kita senam ke alun-alun." sambungnya.
"Yahh.. Kok gitu." Kara memasang wajah kecewa. Tepatnya pura-pura kecewa.
"Nggak usah sok-sok an kecewa. Mamak reti yo isi utek mu kui... " Ratih menujuk-nunjuk kepala Kara.
*(Mamak tau ya isi otakmu itu)
Ayu dan Fatih yang sejak tadi diam memperhatikan interaksi ibu dan anak itu hanya tersenyum geli. Ratih yang galak dan Kara yang pecicilan menjadi hiburan untuk mereka.
"Yuk jeng, nanti senamnya keburu mulai." Ratih bangun, mengambil tasnya yang di letakkan di meja.
"Yaudah ibu dan mama kamu pergi dulu ya. Fatih Karanya dijaga loh. Diperhatiin. Jangan didiemin terus." Pesan Ayu pada anak lelakinya.
Haduh manisnya ibu mertuaku ini, puji Kara dalam hati. Kalo emak nya dengar, bisa dianggap pilih kasih dia. Tapi memang pembawaan Ayu lebih kalem dibanding Ratih yang tegas menjurus galak. Tapi Kara tetep sayang kok. Sayang pake banget.
Setelah mengantar ibu-ibu ke depan, dan memastikan mereka sudah pergi, Kara langsung mengunci pagar dan pintu rumah. Menarik tangan Fatih masuk ke dalam Kamar.
Fatih yang tangannya ditarik mendadak tentu saja kaget. Tapi dia tetap mengikuti ke mana Kara akan membawanya.
Setelah Fatih masuk. Kara langsung menutup dan mengunci pintu. Walaupun hanya ada mereka di rumah bukan berarti harus melengahkan penjagaan kan??
Fatih memandang Kara bingung saat Kara menarik dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang.
"Eh? Eh? Mau apa??" Fatih panik begitu Kara menduduki tubuhnya.
"Mau nerusin yang semalem. Ayo lagi A'."