Lima

1526 Words
Hari-hari terus berlalu. Tak terasa kepindahan Kara dan Fatih sudah hampir seminggu lamanya. Mereka juga sudah kembali ke aktivitas mereka semula. Hanya saja setelah menikah, aktivitas mereka mulai bertambah. Seperti makan bareng, bobok bareng, mandi bareng-ehhh. Pokoknya serba bareng. Fatih juga mulai terbiasa dengan sifat Kara yang suka ngomong terutama mengeluhkan dosennya yang kalo ngasih tugas nggak pernah pake perasaan. Kara yakin sekali, pas jaman dosennya kuliah, dosennya punya dosen yang suka menyengsarakan mahasiswanya. Bahkan mungkin lebih killer dari Virus di film 3 i***t favoritnya. Makanya saat dosennya menjadi dosen -duh muter-muter- dia balas dendam dengan menjadi si dhozen zyuper killer kepada mahasiswa-mahasiswi unyu seperti dirinya. Kara juga mulai menerima sikap Fatih yang ternyata emang dari sononya pendiem. Walau kadang masih protes. Itupun karna dia tidak terima, ya coba aja kalian ngomong panjang lebar curhat ini itu dijawabnya cuma 'iya??'. Ekspresinya itu lho yang seperti tak percaya. Dongkol hati Kara rasanya. Seperti saat ini, Kara sedang berkutat dengan tugas-tugas didepannya. Laptop, kertas-kertas bertebaran di ruang tv. Jangan lupakan air putih dan cemilan. Hal yang wajib bagi Kara saat mengerjakan tugas. Sedangkan Fatih terlihat adem ayem menemani Kara sambil nonton tv. Sesekali menimpali saat Kara bertanya tentang tugas yang masih dibingungkannya. "A' bantuin atuh. Biar cepet selesai" bujuk Kara. Dia sudah muak dengan tugas-tugasnya ini. Pengen cepet selesai tapi dia malas sekali mengerjakannya. "Apa yang nggak paham??" tanya Fatih. Kini matanya terfokuskan pada Kara. "Ih bukan bantu jelasin A'. Tapi bantuin ngerjain. Aa' ngerjain yang ini aku ngerjain yang ini. Ya A' ya... " Rengek Kara. Pokoknya biar cepat selesai. "Tapi itu kan tugas mu Kara." Tolak Fatih. "Ih Aa'.." Mata Kara berkaca-kaca. Sungguh Kara merasa benar-benar lelah. Bayangkan saja. Lusa dia sudah harus mengumpulkan ini. Sedangkan disaat bersamaan lusa juga dia ada ujian. Dan tiga tugas yang ada di depannya ini belum ada separuhnya dia kerjain. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 9. Besok dia ada kuliah hingga jam 1, masih ada waktu memang untuk menyelesaikannya. Tapikan dia juga perlu belajar untuk ujiannya. Dan mata dia selalu sulit diajak kerja sama saat malam hari. Bawaanya sepet, pengen tidur. Kara menangis. Tanpa ditahan-tahan dia mengangis sesenggukan sambil memeluk lututnya. Capek pokoknya Kara capek. Kesel, marah sama Fatih dan dosennya. Pokoknya nggak like. "Eh, eh, kok nangis."  Fatih panik. Jelaslah mana ada suami yang nggak panik lihat istrinya tiba-tiba nangis sesengukan seperti ini. Fatih turun dari sofa. Duduk di samping Kara yang terjepit diantara sofa dan meja di ruang tengah. Didorongnya meja yang menganggu pergerakan tubuhnya. Tubuh Kara di bawa ke pelukannya. Meskipun awalnya menolak, bahkan berontak, Fatih tidak peduli. Dipeluknya tubuh Kara erat, sedikit dipaksa. Di angkatnya Kara agar duduk di pangkuannya. Kara masih nangis sesenggukan. Terdengar pilu. Memeluk leher Fatih erat, menangis di pundaknya. Tangisan terheboh Kara sejak mereka menikah. Semester 5 aja dia udah nangis seperti ini. Apalagi kalo bikin skripsi. Batin Fatih. Tak mungkin dia mengatakan itu dengan jelas. Yang ada nanti istrinya ini minta pulang kerumah mertuanya. Fatih mengusap-usap kepala hingga punggung Kara. Berharap tangisnya segera mereda. Terbukti. Beberapa saat kemudian tangis Kara tak sekeras tadi. Hanya menyisakan sesenggukan. Tangan Fatih memegang pipi Kara, didongakkan agar mau menatapnya. Dikecupnya dua mata yang yang basah itu. "Udah ya nangisnya." ujar Fatih sambil menghapus sisa air mata. "Kita sholat isya' dulu, setelah itu kita selesain tugas kamu bareng-bareng. Oke??!" tawar Fatih. Tak ingin membuat istrinya ini bersedih lagi. Cukup hari ini Kara sedih dan menangis seperti tadi. Tak boleh ada air mata dan kesedihan di mata Kara untuk seterusnya. Kara menganggukkan kepalanya. Tenggorokannya sakit karna kebannyakan menangis. "Ayo." **** "Gimana Kar ujian lo? kayaknya punya gue yang salah banyak deh." Pikiran Leta menerawang, mengingat-ngingat. Tangnnya menggaruk kepala yang tak gatal. Mereka berjalan ke kantin, dengan Leta yang terus menerocos sepanjang jalan. Temannya yang satu ini kalo energinya masih banyak, aktifnya nggak ketulungan. Sama dengan Kara sebenarnya. Makanya sampai sekaranng mereka jadi teman bagaikan ulat bulu. Alias bikin geli. Pokoknya kalo Kara dan Leta ketemu, suasana bakal jadi rame, apa aja bakal dibahas. Apalagi kalo ngobrolnya tentang pacar halu mereka. Bakal Pecah. Tapi kalo Kara dan Aa' Fatih ketemu, bawaannya pengen langsung ke kamar aja. Aww!!! "Yo bisa dong!!! Kara gitcu loh." Bangga Kara. Tak ingin terlihat kalah di depan sahabatnya. "Lah, sombong-sombong. Belagu amat lo. Tau deh yang udah jadi istri dosennya sendiri. Dapet les tambahan kagak bagi-bagi. Gitu lo ya Kar sama gue sekarang. Kita putus." Leta memalingkan wajahnya. Pura-pura merajuk. "Biasa aja kali mbak. Selow. Lagian yakin mau tau ilmu yang dibagi sama Bapak dosen rasa suami ke gue. Yakin jiwa jomblow lo sanggup dengernya?" "Emang Pak Fatih ngajarin apa aja ke lo kalo di rumah? Lo pasti di suruh ngerjain soal-soal banyak banget ya?? Ya ampun kasihan banget sih temen gue ini. Sini-sini dedek peyuk." Leta merentangkan tangannya sambil memasang muka prihatin. "Suami gue enak kok ngajarinnya kalo di rumah. Segala macem cara dia ajarin." "Serius??" Tanya Leta tak percaya. "Iyalah. " Kara terkekeh dalam hati. "Dia ngajarin apa aja?" "Sini deketan gue bisikin." Leta mendekatkan telinganya ke arah Kara. "GILA!! Astaghfirullah. Ampuni dedek yang telah mendengar kata-kata tak pantas seperti itu ya Allah." Doa Leta sambil menengadahkan tangannya ke atas. Mulutnya terus melafalkan doa dan gerutuan atas sikap Kara. Kara hanya tertawa melihatnya. Siapa suruh jadi orang kepo banget. Mereka tak peduli dengan pandangan orang-orang yang memandang mereka terganggu. Ingatan Kara kembali ke kemarin malam. Di mana Fatih menepati janjinya untuk membantu Kara memyelesaikan tugasnya. Fatih bahkan semalam juga membantu Kara memahami mengenai materi kuliah yang akan diujikan hari ini. Padahal Kara yakin bahwa suaminya itu pasti lelah setelah seharian mengajar. Dan saat Kara menyuruhnya istirahat, Fatih malah tetap diam dan memilih menemai Kara belajar hingga malam. Ya ampun... Pak suami kiyowo banget deh. Gemas Kara jika ingat itu. "Hayoo.. Mikirin apa lo?" Kara menyingkirkan tangan Leta yang menunjuk-nunjuk kepalanya. "Nggak sopan tau." Kara mendengus kesal. Jari leta terlalu dekat dengan kepalanya, nanti kalo matanya kecolok gimana?? "Ya lo diajak ngobrol malah senyam-senyum nggak jelas. Dedek kezelll!!" Protes Leta menggebrak meja. "Berisik. Kakak cantik mau makan dulu." "Iya-iya yang cantik. Tau deh yang remahan debu kayak aku. Sekali tiup kelempar sana-sini." jawab Leta mengeluhkan dirinya sendiri. Padahal jika Leta sadar, dirinya tak kalah menarik dengan Kara. Leta malah lebih manis dan tertutup dibanding Kara yang belum berhijab. Banyak laki-laki yang datang untuk melamarnya. Tapi selalu ditolak dengan alasan belum siap nikah. Padahal... "Eh Kar, tapi gue beneran penasaran deh. Pak Fatih pernah ngasih bocoran soal nggak ke lo??" tanya Leta. Gimana nggak penasaran, temennya yang pinter ini jadi keliatan makin pinter setelah nikah. Yakan kalo nikah bikin nambah pinter orang, Leta juga mau cepet-cepet nikah. "Boro-boro taa... Yang ada pipi gue kena cubitan mulu. Yaaa walaupun setelah itu diusap-usap sama dicium sih." Kara senyum-senyum saat mengingat itu. Dimana Fatih mengelus-elus pipi dan menciumnya sambil berkata maaf. Leta mendengus jijik. Dasar bucin. Dulu aja nolak sampai nangis-nangis ke dirinya. Tapi coba lihat sekarang?? "Eh let, kemarin Raka ke rumah ku loh." "Terus aku mesti bilang wow gitu, amazing gitu, mending aku bilang oh. " Leta tak peduli. "Heh, jangan gitu. Gue sumpahin lo lebih bucin dari gue tau rasa lo." Kara mencibir. Kara ingin temannya itu sadar, bahwa teman suaminya itu cinta mati denganya. "Eh kok gitu- KAR!!! WOI!! MAU KEMANA LO!!" Teriak Leta saat melihat Kara berlari pergi setelah meghabiskan makannya. "Dasar! Suami kaya tapi makan minta bayarin mulu." Leta bangkit sambil menggurutu kesal. Berkurang sudah duit tabungannya.   ****   "Aa' ku, cintaku, pipinya embul-embul." Kara mencolek-colek pipi Fatih. Dirinya gabut. Nggak ada kerjaan. "Apa sih." Fatih menyingkirkan tangan Kara dari wajahnya. Merasa terganggu. "Kemana yuk A'." Ajak Kara. "Hm?" Fatih menatap Kara. Berhenti memeriksa jawaban para mahasiswanya. "Yuk jalan-jalan. Ke depan komplek nggak papa. Jalan kaki juga nggak papa. Yang penting sambil gandengan tangan dan pulangnya bawa jajan. Ya A' ya... Hayu' keluar.." Ajak Kara, mengeluarkan jurusan andalan jika ingin mengajak Fatih keluar. Mengedip-ngedip genit dan memasang senyum lebar. Matanya membentuk bulan sabit, menambah kecantikan alami Kara. "Hah.." Fatih menghela nafas. Pekerjaannya masih banyak. Kertas ujian mahasiswa yang harus dia koreksi masih menumpuk di depannya. Cuaca sore yang cerah memang mendukung untuk pergi keluar. Apalagi setiap sore di pinggir-pinggir jalan banyak yang menjual makanan, dari yang ringan hingga yang berat. Dari yang kering hingga basah. Semua makanan hampir ada. Dan itu kesukaan Kara sekali. JIka kuliah hingga sore, pulangnya dia selalu membeli sesuatu untuk dimakannya sambil mengendarai motor. Bahaya memang. Tapi Kara selalu tak sabar jika menunggu sampai rumah. Lagian dia juga membelikan untuk keluarganya kok. "Pengen beli apa??" "Ya liat dulu apa aja yang ada disitu." Kalo suaminya ini nggak mau diajak keluar, nggak papa deh kesana sendiri. Deket juga. Paling sebelum maghrib juga sudah pulang. "Makanan di rumah juga banyak." Diusap-usapnya kepala Kara sayang. Bingung caranya menolak tanpa menyakiti perasaan istrinya ini. "Yah.." Kara menunduk lesu. Tapi ditatapnya lagi Fatih dengan senyuman lebar. "Yaudah, aku beli sendiri ya. Naik motor. Bolehkan??"  Kara harap-harap cemas. Sejak menikah, suaminya ini jarang mengizinkannya keluar sendiri. Apalagi membawa motor. "Hahhh... Yaudah ayok." Fatih mengalah. Dia meletakkan lembar jawab yang sedari tadi dipegangnya. Dibereskan meja yang berserakan kertas-kertas. Disusunnya rapi menjadi satu. "Aku naruh ini bentar." "Oke." jawab Kara sumringah. Makanan I'am Cominggggggh!!!!!  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD