"Pakek." Fatih mengangsurkan sweater. Kara yang menerima itu tentu saja melongo heran. Ini maksudnya dia disuruh pake sweater??
"Dipake?? Ih, nggak mau." Tolak Kara.
Fatih menatap Kara datar. Menegaskan dia tidak mau ditolak. Bahkan dia memakaikan sendiri ditubuh Kara.
"Ih Aa'. Panas ini. Ya Allah gerah A' gerah!!!" jerit Kara tertahan saat Fatih menarik resletingnya hingga ke atas. Kara langsung menarik kmbali resletingnya ke bawah dan membuka sweaternya hingga terlepas.
"Ya Allah A' kejem bener sama istri sendiri. Panas A', panas. Suka tega ih." Sungut Kara sebal. Cuaca panas malah disuruh pake sweater. Ya tambah panas lah.
Fatih menghela nafas kasar. "Yaudah ganti baju. "
"A' kan aku abis mandi. Baru ganti baju."
"Kara..." Fatih tak menerima bantahan. Ditarik tanga istrinya itu ke kamar. Dibukanya lemari yang berisi baju-baju Kara. Mencari baju yang lebih baik dari yang dipakai Kara saat ini. Fatih tak masalah jika Kara ingin memakai kaos atau celana pendek. Selama itu hanya di rumah dan berduaan dengannya. Catat itu. Tapi apa Kara nggak sadar. Pakainnya itu bahkan lebih cocok untuk menggodanya ke kamar. Bukan ke luar.
Diambilnya celana kulot warna coklat dan kaos lengan sesiku warna serupa. Diangsurkannya ke arah Kara.
"Pake ini." Kara menerimanya tanpa kata. Bibirnya maju cemberut. Kezell maksimal dengan suaminya ini.
Dengan diam Kara menganggalkan pakainnya satu-persatu. Tak peduli dengan keberadaan Fatih yang memperhatikannya dalam diam. Toh udah nikah kan?? Bebas lah mau buka-buka.
"Udah kan??" ucap Kara jutek. Masih kesal.
Fatih yang mendengar itu tentu saja merasa bersalah. Tapi dia tetap dengan keputusannya.
"Maaf." Singkat. Dibawanya Kara kepelukannya.
Kara membalas pelukan Fatih dengan erat. Kepalanya mendongak menatap Fatih.
"Bakal aku maafin, tapi Aa' cium aku dulu." Kara manatap Fatih dengan bibir dimonyongkan.
Fatih menaikkan sebelah alisnya bingung. Cari kesempatan banget istri cantiknya ini. Tapi tak urung dirinya memeberikan kecupan. Hanya satu kecupan.
"Ih, cium apaan itu. Nggak kerasa. Lagi A'."
Huft
Diciumnya lagi bibir Kara. Awalnya hanya kecupan beberapa kali. Lalu lumatan-lumatan singkat. Tapi lama kelamaan ciuman itu berubah dengan sedikit sentuhan gairah didalamnya. Fatih dan Kara bahkan memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Mencari posisi yang pas. Nyaman akan ciuman mereka, hingga Kara tak sadar posisinya sudah duduk di pangkuan Fatih. Bahkan kakinya membelit pinggang Fatih, Kara semakin merapatkan tubuhnya. Tak rela jika ciumannya terlepas.
Entah berapa lama mereka bertahan diposisi itu. Jika Kara tak melepas ciuman mereka, Kara yakin sekali mereka akan berakhir di ranjang dan tidak jadi keluar. Hell no!. Dia nggak mau. Untuk sekarang urusan perut lebih penting.
"Hahh.. Hahh.." Deru nafas mereka beradu. Kening mereka masih menempel. Tatapan Fatih tak lepas dari bibir Kara. Masih ingin merasakannya. Kara yang tau keinginan Fatih mengusap bibir suaminya lembut.
"Udah A'. Lanjut nanti malem." Kara menangkup pipi suaminya. Fatih merasa malu. Kenapa sekarang dirinya mikir m***m mulu sih kalo deket Kara. Ya ampun... Fatih menenggelamkan wajahnya diceruk leher Kara. Malu. Dipeluknya tubuh Kara erat. Kara terkekeh melihat tingkah Fatih. Lucunya suamiku ini. Ih emesh emesh emesh.
"Ayo A' nanti makin sore." Ajak Kara mulai beranjak dari pangkuan Fatih.
"Hm."
****
"Wuihhh. Rame ya." Kara celingukan ke kanan dan ke kiri. Mencari makanan pertama yang akan dia beli.
"Aa' pengen beli apa?"
"Kerak telor enak kayaknya." Fatih memandang penjual kerak telor yang lumayan jauh dari mereka.
"Oke. Kita beli es pisang ijo dulu. Kuy!" Kara menarik tangan Fatih semangat. Yang ditarik memandang heran. Lalu buat apa nawarin kalo ujung-ujungnya beli yang lain??!
Tapi Fatih tetap mengikuti kemauan Kara. Bahkan tangannya yang semula bergandengan erat dengan Kara kini berpindah merangkul bahunya. Kondisi yang rame antar pejalan kaki dan pengendara motor membuatnya harus waspada akan keselamatan istrinya.
Setelah mendapatkan keinginan Kara. Kini mereka berpindah tempat. Kerak telor. Kara tau kok tadi suaminya lumayan kesel dia kerjain. Ya tapi gimana lagi, muka suaminya jadi tambah lucu dan nggemesin kalo ngambek. Lagian siapa suruh tadi nggak protes!
Setelah keliling beli ini itu, kini mereka duduk di kursi taman yang dilengkapi meja semen. Kondisi taman lumayan rame, meski didominasi para Abg yang ngumpul-ngumpul dan pasti ghibah isinya. Duh, Kara jadi kangen masa-masa sekolahnya.
Mereka menikmati makanan yang dibeli. Kara makan dikit, Fatih yang ngabisin. Gitu terus sampe perut Fatih begah rasanya saking kekenyangan.
"KARAAAA!!!! TOLONGIN GUEEEE!!!!" Mendengar namanya disebut, Kara dan Fatih menolehkan kepalanya. Mencari siapa yang manggil.
Terlihat dari arah kanan, Leta berlari menghampiri Kara.
"Hosh hosh hosh." Nafas Leta putus-putus. Tubuhnya membungkuk, tangannya memegang lutut. Keringatnya bercucuran.
Setelah nafasnya mulai membaik, Leta mendudukkan dirinya di kursi depan Farih dan Kara. Bersebrangan. Leta belum sadar jika di samping Kara ada Fatih, suami Kara sekaligus dosennya.
"Kar, bagi minum. Ini minuman lo kan?? " belum diizinkan, Leta langsung menenggak minuman di depannya.
Kara yang hendak menjawab langsung merubah ekspresinya jadi datar. "Nona Leta yang terhormat, itu minuman suami saya. Masih untung suami saya belum minum, kalo udah Matik lo ditangan gue." jawab Kara galak sambil menggeplak-geplak tubuh Leta.
"Aw aw aw.. Kar, gilak lo sakit Kar- wait??! Suami? Ya Allah, Pak Fatih maapin Leta pak. Leta ganti, leta ganti." Leta menangkupkan tangannya, meminta maaf. Bahkan bandannya sesekali membungkuk. Takut oy.
"Ya ampun yang. Ternyata kamu disini."
Mampus