Bab 10

1146 Words
"Lex, kamu yakin tidak apa-apa?" Raut wajahnya sedikit pucat. Aku sentuh dahi nya memang sedikit hangat. "Apa besok saja kita lanjutinnya?" Alexa menggeleng.   "Aku tidak apa-apa Rama, aku hanya sedikit memakai bedak jadi kelihatannya seperti mayat hehe." Disaat seperti ini dia malah bercanda.    "Nanti kalau aku sudah bisa nyetir, aku aja yang nyetir." Aku malu kalau selalu Alexa yang mengemudi. Dimana harga diriku sebagai laki-laki. Wanita itu malah tertawa ringan.   "Bunda?" gumamku. "Mau kemana?" Bunda menaiki taxi seorang diri dan taxi itu melaju berlawanan arah dengan mobil Alexa. Aku terus memperhatikan laju mobil taxi itu sampi menghilang dari pandangan.    "Ada apa Rama?" Alexa melihat diriku seperti sedang melihat sesuatu diluar mobilnya.   "Ah tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengingat jalan nya, supaya nanti tidak tersesat kalau kesini lagi," alasanku.    Apa yang Bunda lakukan disini? Aku ingin mengikutinya, tapi aku juga harus ke kantor polisi. Baiklah kalau bertemu nanti, aku akan menanyakannya.   "Lex," ucapku padanya. "Lexa!" aku sedikit berteriak memanggil nama nya untuk yang ke sekian kali.   "Hemm, ia apa?" Pandangannya masih lurus ke depan.    "Lexa, tidak dengar itu ponsel kamu berbunyi beberapa kali." Aku menunjuk ke ponsel yang tergelatak di kursi belakang.   "Oh, ah iya." Buru-buru dia mengambil ponselnya. Dan sebentar melirik layar ponsel lalu mematikannya.    "Kenapa di matikan?"   "Telepon tidak penting." Dia bahkan memode pesawatkan jaringannya. Aku menganggapnya mungkin memang telepon tidak penting dan dengan situasi dia yang sedang mengemudi, takut konsentrasi nya terganggu.    "Kira-kira siapa ya wanita itu? Dan kenapa dia tega  melakukan itu?"   "Tidak tahu." Alexa mengangkat bahu nya. "Nanti kita tanya saja disana kalau sudah sampai."   "Apa wanita itu rekan bisnis nya Bapak?" gumamku. Pikiranku sudah seperti jalan buntu, belum memiliki titik terang.   Sampai kita di kantor polisi dan masuk ke ruangan. Polisi yang mengenalku, dia tahu lalu menyuruhku untuk menunggu.    "Ada apa anda kemari?" Polisi itu duduk di kursi kebesarannya.    "Maaf pak, aku hanya ingin tahu apa ada bukti baru mengenai kasus pak Ganda?"   "Maaf kami tidak bisa memberi tahu anda."   "Tapi saya keluarga nya. Dan saya berhak untuk tahu," ucapku emosi.   "Anda hanya anak asuhnya, bukan anak kandung. Kami sudah bertemu dengan anak kandung pak Ganda." Anak pak Ganda? Siapa? Aku berfikir lama, dan akhirnya    "Rama, kamu Rama?" Seorang lelaki memanggilku. Aku berbalik dan melihat wajahnya dengan seksama. Ku pandangi dalam, dan ah aku ingat.    "Gara?" Dia mengangguk dan kami menjabat tangan.     "Sudah lama ya kita tidak bertemu lagi sejak kamu masuk Smp." Ya, dia Gara Leon Pramansya, anak pemilik panti. Terakhir aku bertemu dengannya sekitar 12 tahun yang lalu.   "Aku turut prihatin atas kepergian Bapak, aku juga sangat sedih."   "Sudahlah, gue juga minta maaf atas tuduhan yang orang berikan padamu. Gue percaya loe tidak melakukan itu," ucapnya santai seraya melirik wanita  yang sejak tadi diam. Aku lupa tidak mengenalkannya.   "Kenalin ini Alexa, temanku. Dan lex, kenalin ini Gara anaknya pak Ganda." Alexa ragu untuk berjabat tangan dengannya, namun Gara dengan cepat mengulurkan tangannya. Aku melihat ekspresi Alexa yang tiba-tiba berubah, seperti tidak menyukai kehadiran Gara. Ya memang ku akui tampangnya seperti playboy, tapi sebenarnya baik. Mungkin Raut wajah Gara yang terlihat sedikit garang membuat Alexa takut.    "Aku kesini untuk mengetahui kabar terbaru dari kasus Bapak, katanya polisi menemukan sidik jari wanita. Aku ingin tahu itu punya siapa."   "Kamu masih memanggilnya dengan sebutan Bapak?" Aku mengangguk. "Tidak usah dipikirkan, polisi akan segera mencari wanita itu."  Gara melirik Alexa. "Kamu tahu?" tanyaku penasaran.   "Tidak," tukas Gara. "Aku pulang duluan," Gara menepuk pundakku. "Bye Alexa," ucapnya pelan namun masih terdengar olehku. Alexa hanya diam, hari ini dia tidak banyak bicara seperti biasanya. Apalagi saat melihat Gara, dia sepertinya takut. Ah tapi entahlah.   "Lex, ayo kita pulang saja. Aku tidak mendapat jawaban yang memuaskan."    "I-iya." Alexa mengikutiku dari belakang. Alexa kamu kenapa? Sepertinya ada sesuatu yang kamu sembunyikan.    Tunggu.   Aku berbalik. "Pak, apa bapak tahu siapa pemilik obat serangga itu?"    "Kami masih menyelidiki."   "Boleh aku lihat sebentar?" Polisi itu seperti memikirkan sesuatu kemudian mengambil barang bukti itu.   "Untuk apa Rama?" Alexa ikut bertanya.   "Sudah diamlah, aku hanya ingin tahu." Ku lihat botol itu depan belakang mencari dan membaca sesuatu. Lalu aku kembalikan lagi ke polisi dan pamit keluar.   "Kamu menemukan sesuatu?" tanya Alexa.   "Tidak, aku tidak menemukan apa-apa. Aku hanya ingin melihat saja apa nama obatnya." Tanpa membuat Alexa curiga, dia pun membulatkan mulutnya membentuk huruf O dan mengangguk. Aku memperhatikan mimik wajah dan gerak-geriknya. Aku tidak mencurigainya tapi sedikit curiga bolehkan? Aku hanya memastikannya saja. Dan mudah-mudahan Alexa tidak ada hubungannya dengan semua ini. Ya, semoga.   "Rama, sekarang mau kemana?" tanya Alexa yang sudah memasuki mobil.   "Kita pulang saja, kamu kan juga sepertinya memang tidak enak badan. Pulang saja istirahat. Besok kalau aku ada rencana. Aku hubungi kamu." Alexa memang tidak baik-baik saja hari ini. Dia menjalankan mobil nya pelan. Gara, apa dia bekerja diperusahaan Bapak? Kebetulan sekali hari ini aku bertemu dengannya. Apa dia menyukai Alexa ya? Entahlah, tapi  dari gelagat nya sepertinya dia tertarik dengannya. Dalam perjalanan aku memilih untuk berhenti di terminal. Alasannya aku tidak mau Alexa terlalu capek harus mengantarku pulang. Secara tempat kami pulang berlawanan arah. Lebih jauh Alexa, dengan kondisi nya saat ini aku tidak tega. Sempat dia menolak, namun aku memberi alasan yang masuk akal dan membuat wanita itu akhirnya menyetujui.   "Ingat minum obat lalu istirahat," ucapku melihat ke dalam mobil. Alexa hanya mengacungkan jempol ke arahku. Ku perhatikan mobilnya sampai jauh dari pandangan dan menghilang.    Aku tidak langsung pulang ke kontrakan. Alasan ku yang lainnya adalah aku ingin mendatangi apotek tempat obat serangga itu dijual. Di kantor polisi ku perhatikan di ujung botol yang tertera nama apoteknya dan nama obat serangga itu. Aku ingat-ingat sepanjang jalan karena nama obat serangga itu memakai nama biologi yang sedikit susah di ingat. Mudah-mudahan ini diluar dugaanku.   "Mbak, maaf apa obat ini dijual disini?" seraya mengambil pulpen di etalase dan menuliskan nama obat di telapak tanganku, karena susah melafakannya. Ku perlihatkan tanganku. Dan dia  mengangguk.  "Mau beli berapa?" Lho, bukannya beli obat ini harus sesuai resepnya ya? gumamku dalam hati. Gampang sekali dapat obat ini disini.   "Ah tidak aku hanya bertanya, apa beberapa hari yang lalu atau beberapa minggu yang lalu ada yang membeli obat ini kesini? Aku disuruh oleh para petani untuk menanyakan ini. Katanya beli tiga, tapi malah ada satu," ucapku bohong agar si pelayan tidak curiga. Kemudian dia mengambil buku catatan yang menurutku itu bersisi daftar para pembeli.    Dilihat kembali nama obat itu dan selama dalam dua minggu ini hanya ada dua pembeli.   "Ada dua orang yang beli pak, yang pertama itu 10 hari yang lalu, dan yang kedua baru kemarin." Pelayan itu sambil memeriksa ulang daftar di buku.   "Boleh aku tahu siapa namanya?"   "Sebentar!" Dia melihat ke bagian daftar nama.   "Yang kemarin itu yang beli atas nama Pak Yana, membeli sekitar 8 botol." Pelayan membalikan selembar kertas. "Ah ini, yang 10 hari yang lalu, atas nama Alexa, dia hanya membeli satu botol pak. Ya mungkin itu yang salah beli," ucap pelayan itu.   "Alexa?" Dugaanku benar.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD