"Alexa?" Dugaanku benar. Kenapa Alexa membeli obat itu? Siapa yang menyuruhnya? Tidak mungkin dia yang... Ah tidak, itu hanya dugaanku. Hanya kebetulan saja kan dia membeli obat yang sama. Apa keluarganya petani? Pikiranku terus berlarian di udara. Ku acak rambutku frustasi. Arrgh!! Untuk mencari satu kebenaran saja rasanya seperti mencari jarum kecil dalam tumpukan jerami. Ya Tuhan, bantulah hamba mu ini.
Ke esokan pagi nya aku menelpon Alexa dan bilang kalau aku akan ke panti sendiri bertemu dengan Bunda. Ya, memang aku akan ke panti tapi sebelum itu aku ingin melihat kemana saja Alexa akan pergi hari ini. Aku hanya sedikit curiga saja.
Sekarang aku sudah berada di luar apartemennya. Aku tahu karena dia pernah memberikan alamatnya padaku, jika suatu saat aku membutuhkan Alexa, aku datang ke apartemennya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Aku sudah menunggu lebih dari dua jam namun tidak ada tanda-tanda Alexa keluar. Apa dia benar sakit? gumamku.
Panjang umur, orang yang sedang aku tunggu, keluar. Ia berpakaian rapih seperti biasanya. Namun tidak memakai mobilnya, dia malah naik taxi. Ku ikuti arah taxi yang Alexa tumpangi dengan ojeg. Aku naik ojeg agar lebih cepat dan bisa selap-selip. Taxi itu berhenti di sebuah kafe, dia masuk. Aku yang memperhatikan dari luar, hendak ingin masuk namun tertahan. Suasana di kafe sepi, kalau aku masuk dia akan tahu aku disini dan berfikir aku mengikutinya. Ku putuskan untuk menunggunya diluar. Dan ternyata Alexa menemui seorang lelaki. Siapa dia? Keluarga? Teman? Atau pacarnya? Aku hanya melihat punggungnya saja. Pacar? Alexa bilang dia tidak punya pacar.
"Halo, Angga ini gue Rama," ucapku menelpon Angga teman kantor nya di Jakarta. Untungnya aku masih hafal nomor ponsel lelaki itu.
"Rama, kemana aja loe? Disini, loe tau---"
"Ssttt..! Nanti gue jelasin," potong ku. "Loe tau Alexa? Yang sempat akan menjadi sekretaris gue?" tanyaku dengan suara pelan.
"Ya, kenapa?"Ya, kenapa?"
"Apa dia sering ke kantor?"
"Tidak, dia hanya sekali ke kantor. Itu pun hanya mengambil berkas. Terus pergi. Kenapa? Loe resign dari kantor kenapa gak bilang? Gue disi--"
"Bisa tolong gue?" lagi-lagi aku memotong ucapannya. Sambil sesekali memperhatikan interaksi Alexa dengan pria yang bersamanya. "Tolong cari informasi tentang Alexa?"
"Untuk apa?" tanya nya.
"Loe mau geu jodohin sama dia gak? Kalau mau turutin aja. Cari informasi tentang Alexa. Gue perlu banget." alasanku yang membuat Angga mengiyakan. Dia memang hebat kalau soal mencari informasi seseorang. Bahkan hampir 90% informasi nya akurat. Entah belajar darimana temanku ini. Yang jelas aku mempercayakan padanya.
Hampir setengah jam aku menunggu nya. Akhirnya dia keluar hanya sendiri. Lelaki yang bersamanya tadi masih duduk sambil menyeruput kopi. Alexa lalu berjalan sepertinya mencari toko, dan benar dia masuk ke
Toko bunga? Lalu dia keluar dengan membawa se buket bunga Lili. Untuk siapa bunga itu? Dia menaiki taxi lagi dan pergi hilang dari pandangan. Aku tidak mengikuti nya lagi. Sebenarnya aku penasaran kemana Alexa membawa bunga itu. Tapi hari sudah semakin siang. Aku harus menemui Bunda hari ini juga.
Sepanjang perjalanan menuju panti aku terus memikirkan Alexa. Bunga lili? Sepintas yang ada dikepalaku muncul wajah Rara. Rara juga menyukai bunga Lili. Ya Tuhan, kemana kamu Rara? Aku kangen sama kamu. Aku turun dari ojeg dan membayar si abang ojegnya.
"Bundaaa!" teriakku melihat Bunda seperti biasa sedang duduk di taman, kali ini beliau bersama anak-anak asuhnya yang sedang asyik bermain ayunan, perosotan dan permainan lainnya. Bunda menoleh dan berdiri.
"Rama, sini!" Bunda melambaikan tangannya menyuruhku mendekat. "Bunda sedang mengasuh anak-anak. Kamu kenapa baru kemari? Dan sekarang kamu tinggal dimana?" Aku duduk di samping Bunda, terkekeh mendengar pertanyaan yang dilontarkan wanita paruh baya itu.
"Satu-satu Bun nanya nya. Aku baru ada waktu hari ini, dan aku tinggal di kontrakan Bun."
"Kenapa tidak tinggal disini saja." Bunda mengelus rambutku, sepertinya aku masih di anggap anak kecil.
"Aku mau, tapi lihat orang-orang yang tinggal disini. Mereka seperti tidak menyukai ku." Memang benar setiap aku kesini mata mereka seolah menunjukkan kebencian.
"Itu karena mereka belum tau yang sebenarnya. Mereka masih menyangka kalau kamu yang melakukannya. Tapi kalau sudah tahu, mereka pasti akan baik sama kamu. Mengerti lah Rama, mereka juga sangat menghormati pak Ganda, jadi wajar kalau ada orang yang melukai nya pasti mereka juga terluka," ucap Bunda panjang lebar. Aku mencerna setiap kalimat yang di ucapkan Bunda. Ya memang benar.
"Eh, ada apa Rama kemari? Kangen sama Bunda?" goda wanita itu dan aku mengangguk. Aku sampai lupa tujuan ku datang kemari.
"Bun, tau Alexa? Yang pernah datang kesini bersamaku." langsung ke intinya. Mudah-mudahan Bunda tahu informasi tentang Alexa.
"Kenapa Rama?" Pandangan Bunda lurus ke depan melihat arus danau yang tenang. "Entahlah Rama, Bunda sepertinya juga pernah melihat nya tapi dimana, wajahnya seperti tidak asing." Apa aku beritahu saja tentang obat itu?
"Bun, aku mencari apotek tempat obat itu di beli. Dan pelayan itu menyebutkan bahwa wanita bernama Alexa yang membeli nya." Aku melirik Bunda, kami saling berpandangan. "Tapi aku juga belum yakin. Untuk apa kalau memang Alexa membeli ya buat apa? Aku belum mau menyimpulkan sesuatu yang masih abu-abu." Ku lihat tatapan Bunda menjadi sendu.
"Apa kamu yakin Alexa yang membelinya?" tanya Bunda.
"Kata pelayannya begitu." Ku erat tangan Bunda. "Jangan khawatir, aku akan mencari bukti yang lain. Dan kuharapa memang bukan Alexa."
Setelah ucapanku itu, kami saling diam. Mencoba mencerna semua peristiwa yang terjadi sampai hari ini. Setelah beberapa lama kami menjernihkan pikiran. Bunda memulai percakapan.
"Lelah?" Bunda melihatku. Ya, memang aku sangat lelah. Lelah hati dan pikiran. Membayangkan kejadian di malam itu saja membuatku rasanya seperti tercabik-cabik, sakit, perih namun tidak meninggalkan bekas. Aku tidak menjawab pertanyaan Bunda.
"Bersabarlah sebentar lagi. Ingat, Tuhan selalu bersamamu."
"Bunda," tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Wanita muda itu yang didapur, yang dimalam kejadian berteriak menuduhku, aku sudah bertemu dengannya. Apa dia memberi tahu Bunda?" dan ia mengangguk.
"Novi. Dia sudah cerita sama Bunda. Bunda juga penasaran siapa pria yang masuk ke ruangan pak Ganda. Seingat Bunda memang tidak ada orang yang datang selain kamu malam itu." Bunda seperti tampak berfikir. Bunda juga tidak tahu ternyata.
Bugg, bola kecil mengenai kaki Bunda.
"Maaf Bunda, tidak sakit kan?" ucap seorang anak laki-laki yang menghampiri nya.
"Tidak sayang, nih bola nya." ucap bunda dengan senyum. "Sini Bunda kenalin, ini nama nya bang Rama. Dia juga waktu kecil disini rumahnya." Aku mengangguk kepada anak laki-laki itu.
"Benarkah?" tanya nya antusias. "Terus sekarang abang dimana tinggalnya?" anak kecil itu memperhatikan wajahku. Lucu sekali mimik wajahnya.
"Sekarang bang Rama tinggal di Jakarta, sudah menjadi orang sukses," ucap Bunda yang membuat aku malu. Sukses nya hanya sehari, besoknya malah jadi gini. Ucapku dalam hati.
"Nanti kalau aku besar, aku mau kaya abang. Jadi orang kaya." Aku terkekeh geli mendengarnya. Sungguh anak yang polos. Dia kemudian kembali ke area taman bermain, bergabung kembali dengan teman-teman sebaya nya.
"Lebih baik jadi anak-anak selamanya. Tidak pernah memikirkan kehidupan yang keras ini. Selalu bahagia, tanpa merasakan beban," gumamku dalam hati.
"Aku jadi ingat masa kecil ku dulu Bun, sama Rara dan Kinan." Kalau ada lorong waktu, aku ingin kembali ke masa itu, hanya menghabiskan waktu dengan mereka.
"Bun," ucapku lagi karena beliau hanya diam.
"Iya Rama, bunda juga kangen mereka. Kinan sekarang mungkin sudah menjadi orang sukses."
"Kira-kira kemana ya dia?" tanya ku.
"Bunda tidak tahu, seingat Bunda setelah Kinan mendapat orang tua adopsi. Katanya dia langsung dibawa ke luar negeri. Dan Bunda tidak mendengar kabar lagi."
"Dan Rara?" Bunda hanya menggeleng. "Bunda benar tidak tahu kemana Rara?"
"Rama," beliau menggantung kalimatnya. "Rara--"
Tuuut... Tuuut...
"Rama, pak Budi ingin bertemu denganmu. Besok datanglah ke kantor."