"Ada apa Alexa? pak Budi ingin bertemu?"
"Tidak tahu," ucap seorang wanita di sebrang telepon. "Aku dapat telepon dari pak Budi, dan menyuruhmu untuk menemui nya. Aku lupa tidak memberikan nomor telepon mu." lalu Alexa menutup panggilannya. Aku berpamitan dengan Bunda, dan akan kembali lagi kesini menuntaskan masalah yang belum usai.
Saat itu juga aku berangkat, mencari bus dengan keberangkatan sore hari. Sampai tiba di jakarta sudah tengah malam. Ingin mencari tempat menginap namun uang tidak cukup. Kontrakan ku yang dulu mungkin sekarang sudah di tempati orang lain. Dan barang-barangku? Ah aku tidak menyimpan banyak barang di sana. Tidak ada barang yang penting juga. Mungkin sudah di buang sama pemilik kontrakan. Alhasil aku teringat seseorang. Aku pergi ke alamatnya dan ah ketemu. Ku ketuk pintu tidak ada sahutan. Akhirnya ku panggil lewat telepon.
"Bangun, gue diluar." Sudah empat kali aku memanggilnya dan baru diangkat.
"Maaf, siapa? Salah sambung Tuan." Sepertinya dia mengigau. Ku keraskan suaraku.
"Gue Rama! Buka pintu nya," bentakku yang membuat Angga seketika tersadar lalu bergegas membuka pintu dengan mata merem melek.
"Loh, ada apa malem-malem kesini?" tanya Angga seraya duduk di sofa. Aku lantas membaringkan tubuhku di tempat tidurnya. Saat ini aku hanya ingin cepat tidur. Mengistirahatkan badan dan pikiranku karena lelah. Ya, lelah.
Sementara Angga terus mengoceh entah sudah berapa lama sampai aku terlelap ke alam mimpi.
"Ram, bangun woi." Teriakan lelaki itu membangunkan ku. Kulihat dia sedang duduk sembari memakai sepatu. Ah hari ini dia masuk kantor seperti biasa. Aku duduk bersandar pada bahu ranjang. Jam berapa ini? Pantas dia sudah rapih. Aku bergegas ke kamar mandi melakukan aktifitas yang biasa dilakukan di kamar mandi. Keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk di pinggang. Semua wanita jika melihatku seperti ini pasti akan teriak histeris, atau mungkin pingsan melihat kharisma yang keluar dari wajah tampanku. Begitu kata Angga. Apa benar aku tampan? Apa dia hanya membual saja?
"Pinjam baju loe." Angga menghentikan aktifitas memakai sepatunya. Dia melihat ke arahku.
"Semalem datang tanpa ngasih tau, lalu tidur seenaknya tanpa ngejawab gue. Dan sekarang loe minta baju?" Angga menaikkan sebelah alisnya meminta jawaban segera dariku.
"Sorry Ga, semalem gue capek banget. Dan ini gue ngedadak dapat telepon dari Alexa kalau pak Budi nyuruh gue ke Jakarta. Makanya sore berangkat dari Bandung nyampe sini udah malam. Ya udah tanpa pikir panjang gue ke apartemen loe," jelasku panjang lebar agar lelaki itu tidak marah-marah.
"Ngapain pak Budi nyuruh loe ke Jakarta? Mau ngangkat loe jadi CEO lagi? Wah beruntung banget kalo itu terjadi."
"Gak tau," jawabku cepat. "Mana baju loe, gue berangkat bareng loe ya, kan kita satu tujuan."
"Hemm," jawab Angga. Kami berdua berangkat dengan menaiki motor Angga.
"Loe udah dapet info tentang Alexa?" tanyaku. Saat ini kami sedang dalam perjalanan.
"Belum bos, gue belum ada waktu. Sibuk banget. Besok ok, gue kan liburnya besok. Jadi gue usahain. Buat apa sih nyari-nyari info tentang Alexa? Angga menjalankan motornya dengan pelan. Apa aku kasih tahu saja ya? Ah tapi jangan dulu, ini kan masih asumsi. Belum pasti. Dan aku tidak mau melibatkan Angga dalam masalahku.
"Pengen tau aja. Dia kan sekretaris gue, jadi gue harus tau." Oh iya, Angga tidak tahu masalah sebenarnya yang terjadi padaku di Bandung. Dan dia berfikiran bahwa aku resign. Siapa yang bilang aku resign? Alexa? Aku tanya sama Angga ternyata yang bilang aku resign pak Budi. Kok bisa? Beliau juga tidak tahu masalahku di bandung. Apa mungkin Alexa yang memberitahu nya?
Sampai di kantor aku berjalan di belakang Angga. Semua mata staff dan karyawan melihat ke arahku. Bahkan ada juga yang berbisik-bisik. Tapi mereka seperti tidak berani bertanya padaku. Benci, takut, tidak suka? Atau entahlah. Tapi aku mengartikan tatapan mereka seolah penuh pertanyaan.
Angga berhenti di meja nya. Dia menyemangati ku agar tidak terlalu memikirkan para karyawan tadi. Aku berjalan keruangan dimana sebelumnya aku menjadi CEO sehari. Pak Budi pasti berada di ruangan itu. Dan benar, dia sedang menungguku.
"Pak," ucapku masuk setelah mengetuk pintu.
"Apa kabar Rama, lama tidak bertemu." Beliau tersenyum ramah padaku seperti aku tidak melakukan kesalahan.
"Emm, baik pak. Maaf soal jabatanku waktu itu--"
"Duduklah Rama, bapak mengerti. Alexa sudah memberitahuku." Ternyata beliau sudah tahu. Aku duduk di sofa, dia berjalan ke arahku dan ikut duduk di hadapanku.
"Bapak percaya sama kamu." pak Budi mengelus pundakku. Percaya? Kini sudah tiga orang yang percaya padaku. Bunda, Alexa dan pak Budi. Aku seperti bersemangat kembali, mendapatkan kekuatan dan dukungan.
"Bapak menyuruh Alexa untuk meminta ku datang kesini? Ada apa?" pak Budi membenarkan duduknya.
"Bapak tidak tahu nomor telepon mu, jadi bapak minta tolong sama Alexa. Apa kamu sudah menemukan pelaku sebenarnya?" Aku menggeleng, memang sampai sekarang ini masih teka teki. Aku ceritakan semua pada beliau tentang pria yang masuk ke ruangan bapak dan sidik jari wanita yang tertinggal di tubuh pak Ganda. Aku ceritakan juga kalau pak Ganda meninggal karena ada cairan seperti racun di dalam tubuhnya, namun aku tidak menyebutkan nama Alexa di dalam nya. Biar lah aku yang mengetahui sendiri.
"Bapak percaya sama kamu. Bapak mendukungmu. Oh ya, apa kamu yang menyuruh Alexa untuk jadi sekretarismu?" tanya pak Budi? Apa? Bukannya Alexa bilang kalau Bapak yang menyuruhnya untuk menjadi sekretarisku? Ada apa ini?
"Ah iya, aku yang menyuruhnya." Padahal aku benar-benar tidak tahu. Aku berbohong, bukan untuk melindunginya tapi untuk mengetahui seberapa jauh Alexa mungkin terlibat.
"Kamu sebelumnya sudah kenal Alexa?"
"Iya pak, Alexa temanku. Dia juga pintar dan cantik. Jadi aku memilihnya. Memangnya kenapa pak?" tanya aku yang tentu saja penasaran.
"Tidak apa-apa, ya sudah kalau dia memang temanmu. Tapi aku hanya memberimu saran, jangan kasih info penting tentang masalah mu di Bandung kepada siapa saja, termasuk Angga teman kantormu dulu. Dan jangan terlalu percaya dengan orang lain." Aku hanya mengangguk.
"Rama," ucapnya lagi. "Kamu masih mau bekerja disini?" Tentu saja aku mau Pak. Tapi aku harus menyelesaikan masalahku dulu.
"Tapi pak, masalah di Bandung--"
"Selesaikan dulu, bapak tahu kamu bisa dan mampu menyelesaikannya. Setelah semua beres. Datanglah kembali ke Jakarta. Dan aku akan memberimu sesuatu."
"Sesuatu? Apa?" kedua alisku mengkerut.
"Bereskan dulu." Beliau kemudian berdiri dan kembali ke kursi kebesarannya.
"Apa bapak yang memberitahu Angga kalau aku resign?" pak Budi mengangguk. Ternyata memang bapak. Dibalik orang-orang yang membenciku ternyata masih ada orang yang baik padaku. Alu tersenyum di balik pintu.
"Ga, gue ke tempat loe ya. Kalau pulang hari ini gue gak sanggup. Capek banget." Angga masih berkutat dengan komputernya. Jam pulangnya juga masih lama, aku mending menunggu di apartemenya saja sambil istirahat mengumpulkan tenaga untuk besok kembali ke bandung.
"Ya sudah, nih kunci nya." dia memberikan kunci dengan gantungan love, aku terkekeh melihatnya seraya menerima. "Dilarang ketawa," mata tajam nya seperti ingin menusukku.
Aku sudah berada di apartemenya. Minimalis namun terlihat elegan. Angga tipe lelaki yang cinta kebersihan. Bisa dilihat semua barangnya bersih tanpa ada debu yang menempel. Rak buku mini yang berjejer rapi, sofa tunggal namun besar, tempat tidur yang cukup untuk dua orang. Cat yang berwarna cream dan wangi parfum maskulin menguar ke seluruh ruangan. Menambah kesan kalau itu memang ruangan lelaki. Ku ganti kemeja dengan kaos putih miliknya. Semua baju yang ada di lemarinya pas di badanku dan pernah aku pakai semua. Dimasa-masa magang kerja dulu. Aku dan Angga bagai sahabat kepompong. Susah dan duka kami selalu bersama. Dia memang anak orang kaya, tapi lelaki itu tidak pernah menonjolkannya, bahkan selama kami berteman aku tidak pernah bertemu dengan orang tua nya. Mungkin Angga ingin hidup mandiri tanpa harus minta dari orang tua. Aku bangga padanya.
Ku rebahkan tubuhku di tempat tidur dan menatap langit-langit kamar. Lama ku perhatikan sampai akhirnya aku masuk ke alam mimpi.
"Ayaaaah."