“Dasar gadis bermulut pedas. Apa sewaktu lahir dia langsung makan cabai?” batin Beno kesal. Harga dirinya seakan merasa terinjak-injak setelah mendengar jawaban menyakitkan dari si gadis berambut merah itu. Beno baru saja akan mengurungkan niatnya, saat tangan lemah Revano mencengkeram lengan kiri Kareen dengan lembut. Dengan sisa tenaganya yang tak seberapa, Sang Raja dari Kerajaan Arash itu berujar dengan lemah, bahkan mungkin hampir tidak terdengar, "biarkan dia ikut. Toh tujuan aku dan Duyuta pergi ke sini karena memang ingin menyelamatkannya." Kareen menghela napas berat. Ada ketidaksudian dari gerak-geriknya saat ini. "Ck! Jika bukan karena permintaanmu, aku sungguh tak sudi untuk menyelamatkan nyawanya!" sungut Kareen dengan wajah tertekuk. Gadis itu kemudian mengulurkan tangan k

