Bab 8. Nilai

1079 Words
"Aca, kenapa nilai bahasa mandarinmu cuma 99? Kemana yang 1?" protes Aurora pada putrinya. Alca sang suami yang ada di sampingnya hampir tersedak paha ayam karena pertanyaan itu. Istrinya itu kenapa mempermasalah 1 angka, padahal dulu ketika dia SMA, bisa lulus dan naik kelas saja sudah termasuk keajaiban karena dia yang lebih sering nongkrong dan main-main sama Alxi. "Diambil Justine," jawab Aca segera sebelum emaknya protes lagi. Dia memegang sendok gambar strawbery yang lucu sambil menyuapkan makan malam ke mulutnya. "Owh, ya sudahlah." Benar saja, begitu tahu bahwa Justine yang dapat nilai 100, Aurora segera memaklumi. Karena sangat sadar saingan sama anak abangnya sendiri itu mustahil. "Sayangku emang paling hebat, karena selalu dapat nilai 100 pas SMA," puji Alca pada isterinya. Seketika Aurora melupakan kekecewaannya pada sang anak dan tersenyum pada suami tercinta. "Kak Alca juga hebat, bisa jadi kapten tim basket waktu SMA," puji Aurora tidak mau mendengar apa pun kejelekan suaminya. Padahal Alca jadi ketua tim basket cuma seminggu, selebihnya langsung suren. Benar-benar standar ganda. Karena saat dengan Aca, Aurora menuntut anaknya sempurna, tapi dengan suaminya sejelek apa pun dia, Aurora tetap cinta. "Kamu juga hebat lho Aca sayang, bisa saingan dengan anaknya Junior, mau hadiah apa buat merayakannya?" Sebelum anaknya kesal karena dia memuja sang istri, Alca sebagai suami dan ayah yang sangat menyayangi ke dua bidadari di rumahnya segera memuji keduanya dengan adil. "Liburan ke Antartika," jawab Aca langsung. "Ya jangan ke Antartika juga kali Aca, kayak enggak ada negara lain saja." Deva yang baru masuk ruang makan karena mau ikut makan malam di rumah Aca langsung ikut menjawab. Tentu saja Dia sangat keberatan jika harus ke Antartika, karena sebagai pengawal ujung-ujungnya dia juga yang akan dibawa. "Tapi, semua negara sudah pernah aku kunjungi, cuman Antartika yang belum?" Aca membalas. "Kalau seluruh pulau di Indonesia sudah belum?" tanya Deva. "Belum sih." "Ya sudah, ratain dulu lah semua pulau di Indonesia baru nambah ke luar negeri lagi. Cinta Indonesia enggak sih kamu?" Deva segera mencari celah. "Ya sudah deh kalau itu yang kamu mau, nanti liburan kita keliling Indonesia." Aca segera mengalah karena bagaimanapun juga orang yang paling dia cintai maunya keliling Indonesia saja. "Kalau nilaimu bisa lebih bagus dari Justine, mamah akan kasih apa pun yang kamu mau. Bahkan ke Antartika." Aurora tiba-tiba bicara. Ingin menantang kemampuan maksimal anaknya, karena dia tahu bahwa saat ini anaknya tidak mengeluarkan semua skillnya. "Serius?" tanya Aca, jarang-jarang ibunya mau kasih hadiah. "Iyalah, kapan mamah pernah becanda." Aurora menjawab dengan yakin. "Sebentar." Aca tiba-tiba mengeluarkan ponsel dan memanggil Justine. "Apa Aca?" tanya Justine begitu panggilan tersambung. "Kirim semua foto nilai kamu pas ulangan tadi." Aca meminta. "Buat apaan?" Justine males bawa kertas nilainya dan dia tinggal di sekolah. Lagipula ini hanya ujian mingguan yang jarang dia ikuti, kebetulan saja hari ini dia tidak ada kegiatan jadi Dia memutuskan untuk berangkat ke sekolah dan mengikuti ujian mingguan. "Sudah kasih saja." "Nilai B.Indonesia 100, nilai ...." Justine segera menyebutkan nilainya." "Ish ketik sajalah," ucap Aca dan segera menutup panggilan. Justine di seberang sana segera mengirimkan chat sesuai permintaan Aca. Karena tahu, kalau enggak di turutin anak tantenya itu akan terus menghubungi dirinya sampai bisa mendapatkan apa yang dia mau. "Mama, lihat nilai Justine bagian Ekonomi akuntansi cuma 70, sedangkan aku 100." Aca segera menunjukkan bahwa ada nilainya yang lebih baik dari pada Justine. "Benarkah?" Aurora melihat ponsel putrinya dengan curiga. Merasa aneh karena Justine bisa mendapatkan nilai serendah itu. Padahal Justine memang bukan tidak bisa menjawab tapi dia mager menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan keuangan. Jadi saat ulangan mata pelajaran itu, setelah menjawab beberapa soal yang dianggap sangat membosankan, Justine memilih tidur dan mengabaikan sisanya. "Ini jelas-jelas Justine sendiri yang chat, mana mungkin aku bohong." Aca meyakinkan. "Jadi, Aca boleh ke Antartika?" tanya Aca masih mau ke sana. "Please Aca jangan ke Antartika, kamu ke cina saja kedinginan pas musim salju, di Antartika lebih dingin, mau mati beku di sana?" Deva menatap Aca dengan wajah memohon. Mereka itu satu paket, di mana ada Aca pasti ada Deva, jadi kalau harus ke tempat yang dinginnya menusuk tulang, Deva enggak sanggup karena dia memang paling enggak tahan dingin. "Ya sudah kalau begitu, hadiahnya kapan-kapan saja aku mintanya ya mama." Aca menoleh ke arah ibunya. Meskipun Aurora merasa masih ada yang janggal, namun dia tetap mengangguk setuju. Apalagi dia sudah berjanji dan harus ditepati. "Malam ini mau main enggak?" tanya Deva. "Ish, jangan ajak anak gue keluar-keluar mulu elah," protes Alca pada Deva. "Aku enggak ngajak Om, aku nanya, jadi kalau Aca enggak mau main, aku mau pulang." Deva segera membela diri. "Apasih papa, lagian kalaupun aku main nggak pernah kan Deva nganterin aku pulang lebih dari jam 10 plus biasanya juga ada Dava dan yang lainnya." Aca segera membela Deva. "Iya, lagian Aca kalau main juga enggak pernah ke tempat aneh-aneh dan pasti aman. Kak Alca enggak perlu khawatir, selama ada Dava dan Deva aku percaya mereka aka baik-baik saja." Aurora membela putrinya, hal yang membuat semua orang seketika tercengang. Tumben ini Aurora enggak iseng ke anaknya. Padahal, Aurora memang senang kalau Aca enggak ada di rumah, kerena dengan begitu dia bisa berduaan saja dengan suaminya tanpa ada pengganggu. Bisa cium-cium bisa pegang-pegang di ruang tamu, di ruang makan tanpa khawatir ada yang melihat. Alca hanya bisa mengangguk, istrinya mungkin lupa. Dulu, Aurora ke mana-mana juga di jaga ketat sama pengawal yang disediakan oleh bapaknya bahkan lebih dari 2 dan tidak pernah pulang lebih dari jam 09.00 malam. Dulu saat Alca naksir, dia baru ngintip dari gerbang saja sudah dipelototi sama Marco. Tapi apa? Pada akhirnya kebobolan juga karena dia yang dapat bantuan dari orang dalam berhasil merayu Aurora yang masih piyik hingga termehek-mehek padanya sehingga Marco tidak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya mengikhlaskan anaknya menikah dengannya. Sekarang sebagai bapak, Alca akhirnya menyadari seperti apa perasaan Marco saat itu. ketar-ketir kalau anak perempuannya ada yang naksir. Gimana kalau anak perempuannya bernasib sama, karena meski Deva adalah pengawal tapi dia tidak bisa selalu ikut menampik kalau ada buaya daratan yang merayu putrinya. Atau malah orang terdekat yang akan merayu putrinya. Tapi untuk Deva, dia paling tidak curiga karena Alca selalu tahu bahwa, Dava, Deva dan Dika selalu punya pacar diluar sana, jadi kemungkinan mereka jatuh cinta pada anaknya sangat kecil. Jadi kewaspadaannya pada orang sekitar lebih ringan dan selalu meminta Dava dan Deva untuk memberitahunya kalau ada yang berusaha mendekati putrinya itu untuk mengambil langkah pertama jika ada yang tidak beres. Jangan sampai ada buaya daratan yang mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti dirinya dulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD