Bab 3. Jatuh Cinta

1159 Words
Deva baru keluar dari kamar mandi ketika mendengar ponselnya berbunyi. Hanya bermodalkan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, dia mengambil ponsel itu dan membaca chat dari pacarnya. "Kita putus!" Dua kata yang seketika membuat Deva terpaku seperti salah baca. Bukankah semalam mereka habis berguling-guling di atas seprai dengan kebahagiaan? Kenapa hari ini tiba-tiba minta putus? Deva membuka handuk dan melihat zucchini kebanggaannya, bentuknya jelas besar dan panjang, uratnya bagus dan yang paling penting bisa membuat pacarnya kejang-kejang hingga pingsan. Lalu, jika bukan karena masalah ranjang, apa yang membuat pacarnya tidak puas sampai ingin putus? Uang? Tidak mungkin, Deva selalu jadi pihak yang membayar semua pengeluaran saat dia kencan dengan pacar pacarnya. Soal wajah? Lebih tidak mungkin lagi, karena meskipun dia tidak setampan Justin ataupun Mahesa, namun dia juga masuk kategori idola di sekolahnya. Dava mengikat handuk di pinggangnya lagi dan segera membalas chat dari pacarnya saat tidak menemukan kekurangan pada dirinya sendiri. Jadi, pasti masalah itu terletak pada pacarnya. "Kenapa mau putus?" tanya Deva. Berpikir mungkin tidak akan di balas, tapi ternyata langsung ada jawabannya. "Aku enggak mau punya pacar m***m kayak kamu." Mesum? Dia? Tapi, bukankah semalam mereka melakukan dengan sukarela, bahkan itu bukan pertama kalinya dan pacarnya selalu mengatakan dia luar biasa senang bisa melakukan itu dengannya. Kenapa sekarang dia jadi b******n m***m? "Kalau kamu enggak mau begituan, aku 'kan juga enggak maksa sayang," jawab Deva. "Pikir aja, sebagai pacar kamu ngajak begitu, kalau aku nolak dan kamu malah ngelakuin sama cewek lain, nanti aku juga yang disalahkan karena enggak mau kasih jatah." "Sudahlah aku enggak mau ribet, aku mau punya pacar yang cinta sama aku bukan karena nafsu." "Bye-bye, kita putus." Setelah balasan itu, Deva mendapati bahwa nomornya telah di blokir. Dia tidak sedih, dia juga tidak galau dan langsung menghapus nomor mantan pacarnya itu dan bersiap untuk mencari kekasih baru. "Deva, buruan!" Deva yang baru mengambil pakaian ganti mendengar suara Aca dan dari balik pintu, segera dia mengenakan celananya dengan cepat dan benar saja, begitu resleting di tarik ke atas, pintu sudah terbuka lebar. "Aca, sudah berapa kali aku bilang, jangan masuk kamar cowok sembarangan!" Deva yang bagian atas tubuhnya masih polos tidak merasa malu karena sudah terbiasa di lihat Aca saat bertelanjang d**a. Aca hanya bersidekap dengan ekspresi masa bodoh, "Aku juga sudah bilang ya, kalau kamu sedang melakukan sesuatu, kamarnya di kunci," balasnya. "Buruan! Nanti kalau kena macet lagi bisa telat kita." Aca berbalik tanpa menutup pintu kamar Deva. Sebenarnya ketika mereka mulai masuk bangku SMA, Deva tidak lagi tinggal di rumah Aca, namun sesekali dia akan tetap menginap di sana saat malas pulang karena pasti ganggu oleh adik-adiknya. "Sabarlah, aku lagi galau ini habis diputusin." Deva mengenakan seragam sekolahnya dengan cepat. "Putus? Sama Regina? Bukankah kalian baru jadian dua bulan ya?" Aca berbalik dan melihat ekspresi Deva. Meski mengatakan dia galau, tapi ekspresi Deva masih biasa saja tanpa terlihat sedikitpun kesedihan di matanya. Deva hanya mengangkat bahu tanda tidak mengerti. "Sudahlah, nanti cari lagi," jawabnya sambil menyisir rambutnya yang masih basah dengan asal, lalu mengambil ponsel dan meletakkan di saku sebelum keluar dari kamar. "Oh." Aca bersikap cuek dan mengikuti Deva ke arah mobil yang akan mereka gunakan ke sekolah. Begitu duduk di kursi penumpang dan memastikan Deva fokus menyetir. Aca membuka ponselnya, di mana ada satu chat baru yang sudah masuk. "Aku sudah putus dengan Deva, please jangan ganggu keluarga aku lagi." Lalu ada emote memohon di sana. Aca tersenyum meremehkan, membalas dengan kata 'Oke' dan menghapus sekaligus memblokir nomor itu. Di dalam kotak blokir, sudah ada 14 nama yang lebih dulu masuk di sana dan semuanya adalah mantan pacar Deva. Sejak kecil, Aca sudah terbiasa bersama Deva. Makan, minum, bermain, ke sekolah, bahkan berlibur semua dia lakukan bersama Deva. Jadi, ketika kelas 2 SMP dan tiba-tiba Deva punya pacar. Aca awalnya tidak mengerti, kenapa dia merasa kesal dan marah setiap kali Deva bersama pacarnya. Aca bahkan tidak bisa tidur setiap kali tahu Deva pergi berkencan dengan kekasihnya itu. Membuat Aca yang terbiasa menjadi prioritas sangat tidak senang. Lalu, Aca mendatangi wanita itu. Bertengkar dengannya hingga membuat keributan dan saling menjambak hingga berguling-guling di tanah. Itulah pertama kalinya dan satu-satunya masa Aca pernah bertengkar hingga membuat orang tuanya di panggil ke sekolah. Mereka hanya berpikir bahwa itu pertengkaran anak-anak dan Aca marah karena Deva yang notabenenya adalah bodyguardnya malah keseringan main dengan pacarnya dan mengabaikan kepentingan Aca. Deva dihukum dan putus dengan pacarnya, tapi Aca juga merasa tidak bahagia karena sudah membuat Deva putus. Baru setelah Deva memiliki pacar yang ke dua, Aca baru mengerti. Dia marah dan kesal pada pacar Deva bukan karena merasa Deva melalaikan tugasnya tapi karena dia cemburu. Aca jatuh cinta pada Dava. Mungkin apa yang pepatah Jawa katakan sesuai dengan perasaan Aca saat itu. Witeng tresno jalaran soko kulino, cintanya tumbuh karena sudah terbiasa bersama Dava. Meskipun orang mengatakan itu cinta monyet, tapi bagi Aca tidak sesederhana itu, karena saat usianya bertambah, Aca tatap merasa bahwa perasaannya pada Deva bukan sekedar cinta monyet tapi juga cinta pertama yang tidak akan pernah bisa dia lupakan. Setelah mengerti perasaannya sendiri, Aca mulai berpikir bagaimana mengungkapkan perasaannya pada Deva. Sayangnya semakin Aca ingin mengerti perasaan Deva, semakin dia tahu bahwa bagi Deva, dia selalu menganggap Aca seperti adiknya sendiri, apalagi mereka masih memiliki hubungan kekerabatan. Hal yang pasti akan dianggap candaan jika Aca mengatakan cintanya. Itulah kenapa Aca hanya bisa memendam perasaannya, namun juga tidak tinggal diam saat ada yang mendekati Dava, karena jika Aca tidak bisa mendapatkan Deva maka orang lain juga tidak. Aca akan selalu menghalau para wanita yang berusaha dekat dengan Deva meskipun pada akhirnya tetap saja ada yang jadian dengan Deva karena Deva sendiri yang mendekati wanita itu. Jika sudah seperti itu, maka Aca hanya bisa menjadi mawar berduri tajam. Di depan Deva dia akan membatu memberi hadiah, mencari tempat dan bahkan meminjamkan kendaraan saat mereka kencan, namun di belakang secara diam-diam akan mengganggu pacarnya Deva agar mereka putus. Entah dengan sogokan uang atau membuat masalah pada bisnis keluarganya, meskipun ada beberapa yang alot tapi semuanya tidak ada yang gagal dan berjalan sesuai keinginannya. Deva selalu putus dari pacarnya tidak lebih dari tiga bulan setelah jadian. "Kamu tadi sudah sarapan belum?" tanya Deva tiba-tiba, membuat perhatian Aca segera teralihkan. "Mana sempat." "Ya sudah, sarapan dulu di sana yuk." Kebetulan mereka melewati hotel dengan restoran di lantai pertama. "Nanti kita telat." Sebagai siswa pintar dan selalu rangking pertama, Aca sama seperti ibunya dulu, rajin dan tidak pernah telat apalagi bolos. "Mending telat sekolah dari pada kamu telat makan. Kesehatanmu itu lebih penting dari pada nilai sempurna Aca yang paling cantik," ucap Dava sambil membelokkan mobil ke parkiran, tidak membiarkan Aca menolak. Aca juga tidak bermaksud membantah dan bahkan tersenyum karena merasa diperhatikan oleh Dava. Bagi Dava mungkin ini kewajiban, tapi bagi Aca, ini adalah kasih sayang. Jadi, jangan salahkan Aca yang jatuh cinta pada Deva, salahkan saja Deva yang terlalu sempurna dalam melayaninya. Cinta tidak akan tumbuh tanpa adanya kasih sayang dari Deva yang terus menyiraminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD