Bab 4. Anak Baru 1

1014 Words
"Aca, katanya mau ada anak baru di kelas kita." Seorang teman yang biasanya jarang bicara tiba-tiba menyapa Aca. Merasa kepo karena tidak ada yang bisa diajak ngobrol. "Ha? Siapa?" tanya Aca. Merasa tidak mendapatkan informasi apa pun bahwa akan ada anak baru di kelasnya. "Aku juga enggak tahu, tapi kabarnya sih dari luar negri." Teman bernama Sera memberitahu. "Luar negri? Satu apa dua?" tanya Aca lagi. "Enggak tahu. Kayaknya sih dua." "Ish, pasti si Justine itu," gumam Aca. "Siapa Justine?" tanya Sera. "Sepupu aku, dia kalau gabut emang suka pindah sekolah." Sebagai pangeran Justine dan Juliete memiliki mentor pribadi di kerajaan alias mereka home schooling dan bahkan menurut catatan seharusnya mereka saat ini sudah memiliki ijazah S1, jadi mereka tidak perlu mengenyam pendidikan formal seperti rakyat jelata seperti dirinya. Tapi, sudah sedari bayi yang namanya Justine itu hyper aktif dan gampang bosan. Jadi tidak sekali dua kali tiba-tiba dia nongol di Indonesia dan masuk ke sekolahnya. Ketika mereka masih kelas 4 SD, Justin pamer ijazah SD miliknya tapi ikut masuk ke kelasnya selama satu semester dan begitu bosan kembali ke negaranya sendiri. Saat kelas 2 SMP, bahkan Justine menyeret kembarannya Juliette ikut masuk ke sekolah SMP dan satu kelas dengannya setahun penuh. Membuat Aca merasa krisis seketika. Karena sebagai orang yang selalu rangking 1, Aca seketika memiliki saingan yang sangat berat yaitu Juliette yang sama-sama rajin dan pintar seperti dirinya. Lalu mereka berdua bersaing dan berusaha saling melampaui satu sama lain. Tapi, yang bikin kesal adalah, mau serajin apa pun dia dan Juliete belajar, ternyata yang mengambil ranking 1 malah Justine. Membuat dia dan Juliete seketika mengerti, jangan meremehkan otak jenius, karena meski kamu pintar dan rajin, tapi kalau si jenius sudah turun tangan, mereka tetap akan menjadi yang ke dua. Itu masa suram Aca saat di SMP selain bertengkar dengan pacar Deva. Sekarang Justine akan ke sekolahnya lagi, Aca harus siap-siap belajar lebih rajin agar rangkingnya tidak turun banyak. Karena meskipun yang ranking pertama pastilah masih Justine, tapi dia tidak mau menjadi rangking 3 setelah Juliete menjadi rangking 2. "Hust, minggir!" ucap Deva pada Sera ketika dia kembali. Waktu istirahat Aca memang malas ke kantin, jadi Deva membawakan makanan untuk Aca dan langsung meletakkan di meja begitu Sera menyingkir. "Apa ini?" tanya Aca melihat sesuatu di bungkus daun pisang. "Enggak tahu, katanya namanya naga asri atau apa gitu tadi, enak kok." Deva memberitahu. "Nagasari kali Deva, malah naga asri." Sera yang mendengar tak jauh dari sana langsung mengoreksi. "Nah itu." Deva mengangguk. "Kamu mau?" Aca menawarkan pada temannya Sera saat melihat ada 5 nagasari yang dibawa Deva. "Makasih." Sera tidak sopan dan langsung mengambil satu. "Nih, teh susunya." Deva menaruh di depan Aca setelah menusuk sedotannya terlebih dahulu. "Terima kasih, kamu enggak makan?" tanya Aca karena Deva hanya meminum es jeruk. "Em, lupa kasih tahu, aku udah makan tadi bareng Justine, dia bawa bekal dari ...." "Hallo kembaran tak sedarah, i Miss you!" Seperti dipanggil, tiba-tiba Justin muncul di pintu kelas dengan rambut berwarna orange. Benar, warna orange yang sangat mencolok, di belakangnya Juliete seperti menghela napas dengan tingkah adiknya itu, tapi tetap dengan wajah tenang dan datar. Justine menghampiri Aca dan segera cipika-cipiki dengannya, memang paling akrab dengan Aca dan Deva karena mereka lahir di hari, tanggal dan tahun yang sama serta di rumah sakit yang sama. Sera yang melihat Justine seketika terpana, bahkan nagasari yang dia pegang terjatuh tanpa dia sadari. "Astaghfirullah, ganteng banget!" Bukan hanya Sera, bahkan teman sekelas yang lain terutama yang wanita langsung terpesona dengan ketampanan Justine. Di sekolah mereka, Mahesa diakui sebagai cowok paling tampan dan sekarang malah ada Justine yang juga sangat tampan. Membuat para wanita pusing harus pilih yang mana jika ada pemungutan suara. Jika Mahesa adalah ketampanan yang agung, maka Justine adalah ketampanan yang brutal. Melihat tingkah Justine, Deva menutup wajahnya ikut pusing karena yakin fans nya akan lari ke sepupunya itu. Di sekolah ini, Deva adalah yang tertampan nomor 2 setelah Mahesa, di rumah meski lebih tampan dari Dava dan Dika, Deva juga hanya nomor 2 di banding adiknya Dewa. Sekarang malah ketambah Justine yang jadi saingan. Jika hanya Mahesa, Deva akan santai karena jelas Mahesa tidak tertarik punya pacar. Sedangkan Justine pasti akan membuat dia kesulitan mencari pacar karena dia pemakan segalanya. "Kalian kenapa sih? Kok kaya enggak suka aku datang?" tanya Justine menyadari bahwa Aca dan Deva sama-sama menghela napas saat dia datang. "Enggak apa-apa, sini duduk sama aku, biar Juliette sama Aca," pinta Deva. "Kamu enggak di marahi opa Marco pake cat rambut kayak gitu?" tanya Aca sambil melihat rambut Justine yang sangat mencolok. "Enggaklah, lagian ini enggak permanen." Justine menjawab jujur, sebenarnya rambut asli Justine bahkan lebih menarik karena berwarna perak, kulitnya bahkan lebih putih dari Aca maupun Juliete kembarannya karena gen Cavendish miliknya sepertinya lebih kuat dari pada gen Indonesia yang lebih banyak di turunkan ke Juliette. "Kalau kamu di hukum guru aku enggak mau tahu ya." Aca berbalik dan baru ingat ada Juliete di sampingnya. "Jangan tanya aku, dia kalau punya kemauan tidak bisa dihentikan." Juliette menjawab tatapan Aca yang seperti menuduhnya. "Lagian aneh banget, kayaknya cuma di Indonesia sekolah banyak aturan, enggak boleh cat rambut, enggak boleh rambut panjang, enggak boleh di tindik." Justine menjabarkan dengan keluhan. "Ya namanya juga beda negara, jelas beda peraturan. Ingat di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung." Dava mengingatkan. "Iya-iya buat hari ini doang elah, nanti sore di keramas juga ilang." Justine duduk dengan santai. "Udah diam, guru datang." Juliette menegur dan seketika mereka menghadap ke depan dengan tertib. Guru yang masuk juga langsung berkedut matanya karena tiba-tiba melihat warna orange mencolok di barisan tengah. Untung dia sudah tahu bahwa itu adalah pangeran Cavendis sekaligus cucu pemilik sekolah, kalau tidak dia sudah menyuruhnya lari 10 kali mengelilingi lapangan karena berani mengecat rambut saat di sekolah. "Selamat siang murid-murid. Seperti yang kalian lihat, kita kedatangan murid baru, kalian bisa memperkenalkan diri." Justine langsung berdiri. "Hallo semuanya, aku Justin dan ini saudari kembarku Juliete, nomor ponselku adalah 08xxx, silahkan hubungi jika memiliki pertanyaan lanjutan." Justine langsung menebar jaring, membuat Deva di sampingnya menutup wajah semakin pasrah. Habis sudah cewek di sekolahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD