Bab 5. Anak Baru 2

1171 Words
"Justine, kenapa kamu tidak ke depan saat memperkenalkan diri?" tegur Aca. "Lho, kata pak guru suruh memperkenalkan diri, tapi tidak ada perintah harus memperkenalkan diri di depan kelas," jawab Justine yang masih berdiri di sebelah Dava. "Ehem, baiklah Justine boleh duduk." Guru merasa tidak perlu menegur Justine karena dia cucu pemilik sekolah, jadi suka-suka dia sajalah. "Selain Justine dan Juliete kita juga masih ada satu lagi teman baru, kamu silahkan masuk!" Guru memanggil orang di depan pintu kelas. Cowok itu terlihat tinggi dan juga tampan, jelas memiliki wajah blasteran seperti Justine dan Deva. Tapi, meski tampan orang yang lebih dulu melihat Justine secara otomatis akan berpikir bahwa Justine masih yang paling tampan. "Selamat siang, nama saya Aris, usia 18 tahun dan merupakan pindahan dari Rishworth School inggris, mohon bimbingannya." Aris memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa inggris yang lancar. Semua yang ada di kelas bisa memahami karena di SMA Cavendish semua siswa minimal harus menguasai 2 bahasa wajib yaitu indonesia dan Inggris serta tiga bahasa tambahan seperti Mandarin, Arab dan juga Prancis. "Silahkan duduk di sebelah sana." Kebetulan tempat duduk Aris di sebelah Sera dan di depan Aca. Dia tersenyum pada Aca dan Juliete sebelum duduk tanda menyapa. Sera sendiri menatap anak baru dengan rasa campur aduk. Hanya sehari dan ada dua tambahan cowok ganteng di sekolahnya, di tambah yang satu malah duduk di sebelahnya. Membuat jantung serta hati dan usus seperti terkena tegangan tinggi. Aris awalnya sudah sangat percaya diri dan yakin akan menjadi idola baru di sekolahnya karena sejak masih di Inggris, dia selalu menjadi murid pintar dan tertampan. Jadi, dia yakin bahwa di sekolah barunya, dia juga akan menempati posisi itu. Namun, siapa sangka. Ternyata bukan hanya dia yang masuk sebagai anak baru, tapi ada Justine yang bahkan sebagai pria dia juga harus mengakui bahwa Justin lebih tampan daripada dirinya. Tapi, Aris tidak khawatir sama sekali, karena dilihat dari segi mana pun, jelas Justin adalah tipe anak bad boy dan berandalan, pasti nilainya sangat jelek dan tidak pantas diperhatikan olehnya. "Hallo aku Sera." Sera memperkenalkan diri. "Hallo," sapa Aris dengan ramah. "Kamu kenapa pindah? Bukankah sekolahmu adalah sekolah terbaik di Inggris?" tanya Sera lagi. "Orangtuaku membuka bisnis di Indonesia dan akhirnya aku harus ikut pindah." Aris tentu tidak akan memberitahu orang lain bahwa usaha keluarganya yang berada di inggris telah bangkrut sehingga dia tidak akan mampu membiayai sekolahnya di sana lagi dan akhirnya harus pindah ke Indonesia dengan biaya sekolah yang lebih murah. "Oh begitu. Ngomong-ngomong bisnis orang tuamu apa?" tanya Sera lagi. "Perhotelan," Aris menjawab masih dengan ramah. "Hotel apa? Mungkin kapan-kapan aku bisa berkunjung." Sera bertanya. "Hotel Aris," jawabnya lagi. "Oh, oke." Sera merasa belum pernah mendengar nama hotel tersebut. Sepertinya hotel milik keluarga Aris bukan hotel bintang lima, jadi Sera tidak mau bertanya lebih karena tidak mau membuat teman sebangkunya malu jika dia terlalu kepo. "Oh iya, kalau boleh tahu di kelas ini siapa yang selalu rangking pertama?" sebagai siswa berprestasi Aris tentu ingin tahu siapa yang akan menjadi saingannya. "Tuh, si Aca." Sera menoleh ke belakang. "Dia selalu rangking pertama sejak kelas 1 dan di belakangnya ada Deva yang juga selalu rangking 2, sedangkan aku, bisa masuk 10 besar sudah merupakan anugrah." Sera berkata jujur sembari menunjukkan siapa Aca dan siapa Deva pada Aris. Aris tidak mempedulikan nomor dua, tapi dia langsung fokus pada nomor satu di Aca. Hal yang tidak akan pernah dia duga bahwa pelajar terbaik di kelasnya adalah seorang wanita yang sangat cantik. Dari pada dijadikan saingan bukan karena lebih menarik jika wanita itu dia jadikan kekasih? Seketika minat Aris terhadap Aca semakin tinggi. Dia suka wanita cantik dan dia lebih suka wanita yang cerdas, Aca memiliki ke duanya. Juliette di samping Aca juga terlihat sangat cantik hanya saja dia memiliki ekspresi yang datar sehingga membuat banyak pria langsung kehilangan minatnya karena terlalu dingin, khawatir saat mendekati Juliette mereka malah mati kutu karena terlalu kaku. Aris tidak bertanya lebih karena pelajaran sudah di mulai dan semua murid mulai fokus dengan penjelasan guru, selain itu dia tidak mau menimbulkan kecurigaan, dia masih memiliki banyak waktu untuk mencari tahu tentang orang-orang penting di sekolahnya ini. Bagaimanapun Cavendis adalah sekolah internasional, di mana sebagian besar yang bersekolah di sini adalah anak orang kaya dan berprestasi. *** "Maaf, boleh saya ikut duduk di sini?" tanya Aris pada Aca. Setelah seminggu pindah ke sekolah ini dia kurang lebih mengerti bahwa, di mana ada Aca akan ada Deva. Jikapun tidak ada Deva akan ada Juliete atau Justine. Bahkan ada juga Mahesa yang katanya merupakan cowok tertampan di sekolah ini. Aris belum pernah melihat Mahesa, tapi dia mendengar bahwa saat ini Mahesa sudah menjadi ahli bedah di usia muda, jadi statusnya sebenarnya bukan pelajar lagi, tapi langsung meningkat menjadi pengajar. Hanya saja menurut keterangan teman-temannya, terkadang Mahesa juga masuk kelas untuk menjadi pelajar normal saat bersama Aca dan Deva. Ini adalah hari langka, di mana Aca duduk sendiri tanpa ada Deva atau Justine. "Oh, silahkan." Aca tidak berpikir lebih dan mempersilahkan teman sekelasnya duduk di depannya. Kantin memang sedang penuh dan wajar jika berbagi meja dengan teman sekelas. "Kamu tumben sendirian, enggak sama yang lain?" tanya Aris basa basi. "Kamu nanyain Deva, dia lagi sama Justin di tempat basket, katanya mau taruhan entah apalah, kurang kerjaan memang mereka berdua," ucap Aca dengan malas sudah menduga bahwa Justine dan Deva akan ribut saat berkumpul. Sama-sama Aries jadi sama-sama cepat panas. "Trus si Juliette?" "Enggak masuk, dia balik ke Cavendis kemarin." Sebagai calon Ratu, dia tidak segabut Justine yang bisa main lama sesuka hati. Apalagi sekarang usianya sudah dianggap dewasa dan mulai bertanggung jawab mengurus beberapa hal di kerjaan. "Oh, betewe aku dengar kamu adalah yang rangking 1 di kelas kita, bahkan di sekolah ini nilaimu yang selalu menduduki posisi pertama." "Itu dulu, enggak tahu kalau semeter ini, saingannya berat." Aca bicara tentang Justine. Sedangkan Aris dengan percaya diri menganggap bahwa Aca sedang membicarakan dirinya karena nilai dan prestasinya di Inggris sempat di publikasikan di grup sekolah sehingga banyak membuat siswa yang awalnya tidak tahu siapa dia, dalam sekejap dia menjadi salah satu cowok paling diincar di sekolahan ini. Tentu saja setelah Justine dan Deva. "Sebenarnya meski berprestasi di Inggris aku merasa belum beradaptasi dengan mata pelajaran di Indonesia, Jadi jika kamu tidak keberatan, mau enggak sharing denganku di perpustakaan tentang pelajaran di sini?" tanya Aris dengan percaya diri. "Kita bisa saling tukar beberapa hal tentang mata pelajaran yang mungkin ada di Inggris tapi tidak ada di sini dan juga sebaliknya." "Em ... boleh juga." Aca merasa hal ini cukup menarik, siapa tahu dengan dia sharing mata pelajaran baru bisa membuat Aca tetap menjadi rangking pertama dan mengalahkan Justine. Setelah makan siang, Aca dan Aris pergi ke perpustakaan bersama, di mana Deva yang baru kembali dari tempat basket dan hendak pergi minum melihat kepergiannya. "Lho itu Aca sama anak baru kan?" Justine juga melihat mereka. "Ck, gue susul deh." Deva merasa kesal, baru juga ditinggal 10 menit sudah ada aja yang nempelin Aca, kalau sampai ketahuan mata-mata Tante Aurora nanti Deva yang kena. Emang sialan anak baru itu, bikin repot saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD