Bab 6. Pergi Bersama

1383 Words
"Hai, lagi santai kawan?" Suara Deva membuat obrolan Aris dan Aca segera terhenti karena mereka sedang ada di perpustakaan sekolah dan suara Deva sangat keras hingga bukan hanya Aca dan Aris tapi semua penghuni perpustakaan terkejut oleh sapaannya. "Ngapain lihatin, lanjut belajar sana." Deva melambaikan tangan ke semua orang dan mereka seketika menunduk dan kembali pada kesibukan masing-masing. "Deva? Kamu ngapain di sini? Enggak jadi pergi?" tanya Aca heran saat melihat Deva menyusulnya, padahal belum ada 10 menit dia bilang mau nyari cewek. Aris sendiri langsung memasang wajah bete karena sudah beberapa hari ini dia berusaha dekat dengan Aca, tapi setiap kali dia mulai berduaan dengan Aca akan selalu muncul Deva yang selalu mengganggunya. Seolah-olah mereka kembar sialan yang tidak terpisahkan. "Kenapa? Enggak boleh ke sini? Ganggu kalian ya?" tanya Deva dengan nada bercanda seperti sengaja menggoda Aca karena berduaan dengan Aris. "Ish, mana ada ganggu, yang ada aku malah senang kamu datang," ucap Aca karena di manapun tempatnya asal bersama Deva, akan tetap menjadi hal yang paling membahagiakan baginya. "Aku juga senang bisa datang ke sini." Deva mengambil gelas plastik di depan Aca dan langsung meminumnya dengan rasa lega. "Itu punya Aca," protes Aris. Merasa tidak senang karena minuman yang dia belikan untuk Aca malah diminum oleh Deva. Benar-benar cowok enggak punya sopan santun. Untung saja Aca belum sempat meminumnya jika tidak maka akan seperti ciuman tidak langsung. "Tsk, nanti aku gantian beliin. Lagipula Aca lebih suka milkshake rasa strawberry dari pada sekedar teh susu." Deva memberitahu dan kembali menyeruput esnya dengan wajah puas, namun entah mengapa Aris merasa Deva seperti mengejeknya. "Benarkah?" tanya Aris pada Aca, ingin memastikan sendiri agar tidak dibohongi. "Ya, apa yang dikatakan Deva benar kok, aku suka semua yang memiliki rasa strawberry," jawab Aca jujur karena hampir semua orang di kelasnya juga tahu bahwa dia suka strawberry. Bahkan jika ulang tahun kebanyakan mereka akan dengan sadar memberinya hadiah yang memiliki hubungan dengan strawberry. Entah kaus dengan gambar strawberry, coklat campur strawberry, tas berbentuk strawberry, gantungan kunci, stiker bahkan buah strawberry asli yang di datangkan dari luar negeri. "Oke, lain kali aku akan mengingatnya," ucap Aris bersungguh-sungguh karena dia benar-benar ingin mendekati Aca maka dia memang harus mengetahui kesukaannya terlebih dahulu. Jangan sampai suatu hari dia membelikan sesuatu yang tidak dia suka. "Lalu, apakah kamu punya alergi makanan?" tanya Aris lagi ingin tahu lebih detail. "Enggak ada, cuma aku enggak suka durian." Aca selalu langsung pusing saat mencium aroma durian. Itulah kenapa, setiap musim durian tiba dan keluarga besarnya berbondong-bondong membeli durian kualitas super untuk di makan bersama, sebagai satu-satunya yang enggak doyan, Aca akan mengungsi ke tempat lain sementara sampai keluarganya puas makan durian, termasuk ibunya yang bisa makan 3 buah durian sendirian. "Buy the way kamu benar-benar enggak jadi kencan?" tanya Aca, soalnya tadi dia sudah pamitan mau jalan sama cewek kelas sebelah yang baru dikenal kemarin. "Tsk, jangan diingatkan, sudah pergi sama Justine itu cewek." Deva memberitahu dengan ekspresi kesal karena saat sampai di lokasi malah Justine yang bergerak duluan dan akhirnya dia ketinggalan start dan harus kembali dengan kekecewaan. "Owh." Aca menunduk tapi bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang tidak akan diketahui oleh Deva, dia sudah menduga bahwa setiap kali Justine muncul maka pamor Deva secara otomatis akan turun, hal yang membuat Aca senang karena yakin meskipun Deva bisa dekat dengan cewek, namun tidak akan berhasil selama ada Justine di sekolah ini. Itulah sebabnya beberapa hari terakhir Aca sangat santai dan tidak meminta Deva menemaninya ke manapun dia pergi karena merasa aman dan tidak ada wanita ganjen yang perlu dia waspadai. "Kalian rebutan cewek?" tanya Aris dengan nada yang jelas tidak senang. Aris sudah memandang rendah Deva dan Justine karena mendengar bahwa Deva bisa menjadi peringkat kedua karena sering dibantu Aca saat menyelesaikan tugasnya karena sebenarnya Deva sendiri tidak terlalu pintar dan suka membolos. Aris jadi curiga bahwa hasil nilai milik Deva selama ini adalah karena Deva menyontek Aca saat ujian, sehingga nilainya selalu hampir sama dengan Aca. Lihat saja nanti, saat ujian tiba, Aris yakin dia akan bisa langsung menduduki peringkat pertama. Sedangkan untuk Justine, Aris bahkan lebih tidak respek dengan dia karena penampilannya yang terkesan arogan dan seenaknya sendiri. Lihat saja rambutnya, baru beberapa hari masuk sekolah, dia bahkan sudah mengganti warna rambut sebanyak tiga kali, itupun dengan warna-warna yang sangat mencolok. Membuat orang yang melihatnya secara otomatis akan berpikir bahwa dia adalah tuan muda kaya raya yang suka main-main dan hanya menuruti kesenangan duniawi. Seandainya saja Justine tidak kaya atau tampan, pasti semua orang akan menganggapnya sebagai berandalan yang sering melakukan perbuatan kriminal atau paling tidak dia pasti dikira pecandu narkoba yang suka bermain dengan p*****r murahan. "Ha? Rebutan cewek? Buat apa? Kita mah santai, kalau memang ceweknya suka Justine buat apa diributin, kek enggak ada cewek lain saja. Begitupun sebaliknya, kalau cewek incaran Justine ternyata lebih suka aku, ya sudah Justine enggak akan mempermasalahkan hal sepele seperti itu." Deva dengan santai mengatakan itu. Awalnya dia memang sudah menitipkan Aca agar pulang sekolah bersama Dava kakaknya, tapi karena dia gagal kencan maka pada akhirnya dia yang sudah jalan memilih kembali ke sekolah untuk menjemputnya sendiri agar kakaknya bisa langsung ke perusahaan dan membantu ayahnya bekerja. "Baguslah kalau begitu, habis ini kamu antar aku ke toko buku ya, ada buku baru yang keluar," pinta Aca. "Lho, tapi 'kan kamu sudah janjian sama aku mau ke toko buku barengan, kok malah sama Deva sih?" protes Aris lagi. "Ya kita memang pergi bersama, cuma ketambahan Deva saja, soalnya selain sepupuku Deva itu juga merupakan bodyguard tidak resmi dari keluargaku, jadi memang tugasnya menemaniku ke manapun aku pergi, enggak masalah 'kan kalau kita barengan, bukankah semakin ramai semakin seru?" tanya Aca berusaha menjelaskan agar Aris tidak tersinggung. Karena setelah bergaul beberapa saat Aca harus mengakui bahwa Aris memiliki pengetahuan yang luas dan sangat cocok diajak bertukar pikiran, itulah kenapa Aca yang biasanya terkenal cuek dan sombong lumayan bisa menerima interaksi dari Aris karena menghargai ilmunya. Jujur saja Aris sebenarnya ingin menolak, tapi jika dia melakukannya maka dia akan terlihat sangat picik dan sulit bergaul, jadi dengan senyum terpaksa dia mengangguk setuju. Semua demi pengejarannya pada Aca, jika tidak mana sudi dia berteman dengan Deva yang kelihatan sok keren itu. Aris kembali berpikir bahwa dia harus segera mencari cara untuk menyingkirkan Deva dari dekat Aca, karena kalau tidak maka rencananya mendekati Aca akan selalu terganggu dengan keberadaannya. Kan enggak lucu setiap kali dia mengajak Aca kencan si Deva selalu datang sebagai obat nyamuk. "Aku sudah selesai, bagaimana kalau kita berangkat sekarang?" usul Aca setelah menyelesaikan tugasnya. Aris sebenarnya masih kurang beberapa soal, dan tidak menyangka bahwa Aca bisa menyelesaikan soal sulit seperti ini dengan sangat cepat, namun dia tidak akan mengatakan pada Aca karena khawatir akan ditinggal. "Aku juga sudah selesai, kalau begitu ayo berangkat," ucap Aris dengan ekspresi setenang mungkin. Mengira pasti si Aca menjawab dengan asal dan banyak yang salah karena pertanyaan yang mereka kerjakan saat ini adalah soal kompetensi internasional yang sangat sulit. "Toko buku yang biasa 'kan?" tanya Deva sambil berdiri dan membawa tas serta buku Aca. "Yup." Aca menjawab dan mengikuti langkah Deva disusul Aris dibelakangnya yang seperti bola lampu yang mengganggu dua orang itu. "Tapi, kita makan siang dulu ya, aku tahu kamu pasti belum makan." Deva mengusulkan saat melihat sudah jam 1 siang. "Kalian mau makan di mana? Biar aku yang traktir kalian sebagai tanda perkenalan dengan teman baru." Aris segera menyela khawatir tidak akan dilibatkan dalam kegiatan mereka. "Yang bener?" tanya Deva, sebagai keturunan Alxi tentu dia juga suka barang gratisan, apalagi jika yang mentraktir adalah cowok yang jelas-jelas mengincar Aca, pasti akan lebih royal. "Ya, restoran mana saja boleh." Aris meyakinkan. Sebagai anak orang kaya tentu dia tidak khawatir tentang uang, apalagi harga makanan di Indonesia 10 kali lipat lebih rendah daripada harga makanan di restoran Inggris, bahkan jika Aca dan Deva ingin di traktir di restoran Michellin sekalipun, dia yakin bahwa dia masih mampu membayarnya meski harus mengorbankan uang sakunya selama sebulan. "Enggak perlu ke restoran, kita ke tempat biasa aja." Deva mengusulkan. "Oke." Aca juga setuju. "Tidak masalah." Meski Aris tidak tahu di mana tempat biasa yang dimaksud Deva, namun dia tetap setuju karena yakin bahwa dia masih akan mampu mentraktir mereka berdua. Mendengar itu Deva sangat senang. Karena kapan lagi dia bisa makan di bayarin di cafenya sendiri. Perut kenyang dan cafenya mendapatkan penghasilan tambahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD