“Umn, kau ... bisa menjaga dirimu sendiri selama aku di rumah ayah dan ibu, kan?” tanyanya seperti aku ini anak kecil yang tidak bisa melakukan apapun. Jadi, kuangkat tanganku untuk mengusap rambutnya sambil tersenyum. “Pergilah, kasihan ayah dan ibumu harus menunggu.” Ujarku. Hari ini, setelah menginap semalam dan menghabiskan waktu untuk mengobrol bahkan ayah mertuaku sengaja membawa papan shogi hanya untuk mengajakku bermain, mereka bersiap untuk pergi ke Kobe setelah sarapan. “A—aku akan meneleponmu rutin dan mengabarkan tentang anak ini, dan ... kalau ... kalau dia mau lahir, kau ha—“ “Aku paham, aku akan menemanimu, sekarang pergilah.” Ucapku lagi. Dia mengangguk. Meski wajahnya tidak menunjukkan bagaimana harusnya dia merasa senang karena permintaannya kuturuti, tapi dia beru

