Tidak Sadarkan Diri

1189 Words
Tok.. Tok.. Ceklekk.. "Tuan, saya masuk ke dalam" ucap Ifa dengan membuka pintu kamar El dengan pelan Ifa, membuka sedikit pintu kamar El, dia memastikan apa ada orang atau tidak. saat Ifa, merasa aman, dia masuk ke dalam kamar dengan membawa kemucing, sapu, lap meja. Ifa, menatap sekeliling kamar yang sangat indah dan sangat nyaman. meskipun El, pria tapi dia tidak jorok, dia tidak suka kamar nya kotor dan berantakan. Menurut El tempat ternyaman setelah pulang kerja adalah kamar pribadinya, dimana dia bisa bergerak bebas tanpa ada yang tau. Bahkan mau El tidur dengan segala tingkah, tidak akan ada yang melihatnya, tidak akan ada yang memprotesnya. El, tipe pria yang sangat bersih, mulai dari kamarnya yang tercium bau wangi khas pria tampan, bau kekayaan, tidak ada barang-barang berserakan, bahkan ranjangnya saja sangat rapi. El, kini tengah memanjakan dirinya didalam kamar mandi, tanpa sadar ada seseorang yang tengah membersihkan kamarnya, menyiapkan segala keperluannya, untuk pergi kekantor. Ifa, dengan sangat cekatan membersihkan kamar tidur El, mulai dari menyapu, mengelap meja, kaca dan sebagainya, menyiapkan pakaiannya mulai dari jas, kemeja, celana, sepatu, kaos kaki, dasi, sabuk, jam tangan, dan paling penting boxer El. Ifa mengangkat boxer yang dia ambil dari lemari ke depan mukanya dengan tangan yang terlihat jelas sangat jijik dengan boxer milik El. "Astaga!!! ukuran nya" lirih Ifa Ifa, melemparkan boxer El ke atas lemari kaca yang berbentuk kotak, tempat penyimpanan jam-jam mahal milik El. "Apa, begitu cara kamu menyiapkan pakaian ku??" tanya El dengan melihat Ifa yang diam mematung mendengar suara El Ifa, menoleh ke arah pintu walk in closet dengan pelan, betapa terkejutnya Ifa saat melihat pemandangan yang sangat indah pintu walk in closet. Ahh.. Ifa menutup wajah nya dengan kedua tangannya, hanya saja dia melonggarkan jari telunjuk dengan tengah. Ifa, ingin mengintip 8 perut kotak-kotak milik El. "Kamu, ingin melihatnya??" tanya El dengan mendekati Ifa dengan langkah pelan "Tuan, anda mau apa??" tanya Ifa saat melihat El melangkah mendekatinya "Bukan, kah kamu ingin melihatnya??" sahut El dengan senyum miring "Tidak!! stop Tuan!!" ucap Ifa dengan mengarahkan tangannya ke depan. El, bukannya menghentikan langkahnya, dia semakin mendekati Ifa yang terus mundur kebelakang. sampai, akhirnya Ifa tidak bisa mundur kebelakang lagi, karena terhalang lemari. Dhukk.. Sheee.. Ifa mengusap kepala belakangnya saat dia terbentur lemari koko dibelakangnya, dia terus mengusap dengan memejamkan matanya, sampai dia tidak merasa kalau El sudah ada didepannya. "Kamu, ingin melihatnya dengan jelas??" goda El Ifa membuka satu matanya, saat dia mendengar suara El yang terdengar sangat dekat dengannya. "Ahhh!!" pekik Ifa "Tuan, anda mau apa??" tanya dengan kembali memejamkan mata indahnya. El, mengarahkan tangannya ke arah tangan Ifa dengan pelan, sedangkan Ifa hanya diam, tanpa perlawanan. El mengarahkan tangan Ifa ke perut kotak-kotak milik nya. El dengan sengaja meraba perutnya dengan tangan Ifa, agar Ifa merasakan sesuatu. El, menahan sesuatu yang ada didalam dirinya saat Ifa dengan santainya malah mengikuti tangan El. "Ter-ternyata perutnya sangat keras" lirih Ifa tanpa sadar "Apa, sudah cukup merabanya??" tanya El menatap Ifa dengan tatapan penuh dengan kabut hasrat. Pertanyaan El menyadarkan Ifa yang sudah larut ke dalam godaan El. Ifa, segera menarik tangannya, tapi sayang El malah kuat memegang pergelangan tangan Ifa. "Astaga!! Tuan" ucap Ifa "Kenapa hem?? bukannya kamu tadi menikmatinya??" goda El senyum miring "A-anda" kesal Ifa dengan membuka matanya. Ifa, mendongak menatap El dengan kesal. diwaktu yang masih sangat pagi, El dengan beraninya menggoda Ifa. "Awas yah anda!!!" kesal Ifa El, menaikan satu alisnya mendengar perkataan Ifa. sedangkan Ifa kini malah berkacak pinggang dengan menaikan dagunya seolah menantang El. El, mengurung Ifa dengan kedua tangannya. nyali Ifa menciut saat, adanya tanda-tanda akan ada ancaman dan bahaya untuknya, tapi dia berpura-pura berani. "Mau apa hah??" tanya Ifa dengan menaik-naikan dagunya "Mau apa?? kamu harusnya tau bukan??" El semakin menggoda Ifa "A-a-apa?? aku masih polos dan masih anak-anak yang belum cukup umur" sahut Ifa dengan terbata-bata El, tersenyum miring mendengar mendengar perkataan Ifa. El sangat tau kalau saat ini Ifa tengah menahan takut padanya, tapi dia berusaha menutupinya dengan ketenangan. El, mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ifa dengan pelan, Ifa mengarahkan tangan nya ke d**a bidang El yang terekspos dengan sangat menggoda. Cucuran air dari rambut basa El membuat ketampanan El menjadi bertambah, lebih menggoda. Ifa, tanpa sadar menyentuh d**a bidang El yang belum perna dipegang siapa pun, karena memang tidak ada satu perempuan pun yang mampu. Tapi Ifa dengan mudahnya menyentuh dan tanpa Ifa sadari dia menekan-nekan jarinya didada bidang El. El, yang baru pertama kali disentuh perempuan, dia merasakan sesuatu aneh dalam dirinya. "Apa, kamu memancing ku??" tanya El dengan nada suara sedikit serak "Apa??" tanya Ifa belum menyadari apa yang dia lakukan. "Kamu, ingin merasakannya diwaktu pagi?? apa kamu sangat bersemangat pagi ini??" ucap El dengan sangat ambigu Ifa tidak paham dengan apa yang dikatakan El, apa yang membuatnya bersemangat, dia datang memang dengan semangat, karena dia ingin segera pergi dari kamar yang bak kandang singa. "Kenapa, kamu diam saja??" tanya El dengan semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ifa Ifa, semakin menurunkan salah satu tangan nya menyentuh perut kotak-kotak El, tanpa sadar. Ifa hanya tau kalau bahaya tengah mengancam nya. "Tu-Tuan" lirih Ifa Shee.. El meringis menahan sesuatu yang sudah bangkit, malah kini Ifa semakin menantangnya tanpa Ifa sadari. El seolah dipermainkan perempuan dalam kungkungannya. "Ka-kamu, semakin berani ternyata menggoda ku" ucap El "Tidak!! aku tidak menggoda Tuan" sahut Ifa "Kamu, masih berani mengatakan tidak menggoda ku" ucap El dengan memegang kedua tangan Ifa yang satu didada bidang El dan satu lagi ada di perut kotak-kotak yang hampir saja menyentuh handuk yang El gunakan untuk menutupi senjatanya. Ifa, terkejut bukan main saat dia menyadari kalau kedua tangannya sangat nakal menyentuh sesuatu yang memang sangat indah untuk tidak dipandang. Ifa, menarik tangan nya dengan kasar, El tidak membiarkan tangan Ifa lepas begitu saja, dia semakin mengeratkan pegangannya. "Kenapa??" tanya El dengan menggoda. "Bukannya kamu suka menyentuhnya??" lanjut El "Tuan, anda jangan salah paham! saya tidak sengaja" sahut Ifa "Sengaja atau tidak, aku tidak peduli" sahut El "Tu-Tuan!! saya akan berteriak" ancam Ifa "Teriak dengan sangat kencang!! aku ingin tau, siapa yang akan menolong kamu disini" tantang El Glekk.. Ifa menelan ludahnya dengan susah paya, dia lupa kalau pria yang ada didepannya tidak mudah dia ancam, apalagi saat ini Ifa ada di Mansionnya. "Kamu, sudah menggoda saya, sekarang kamu mau kabur begitu saja" lirih El "Ah, Tuan, pekerjaan saya masih sangat banyak" ucap Ifa dengan meronta-ronta, tanpa sadar dia menyenggol handuk yang El kenakan, membuat handuk yang dikenakan El jatuh tanpa perlawanan. El terdiam membeku saat handuknya terjatuh. El menatap Ifa dengan tatapan sulit dijelaskan. "Kamu" lirih El dengan nada suara ditekan "Tu-Tuan, saya-saya!!" lirih Ifa "Berani nya, kamu menjatuhkan handuk saya" Shett . Ahhh.. Ifa, menunduk mendengar perkataan El. dia melihat burung tegang, yang sangat menggoda, burung berurat yang siap bertempur. Membuat Ifa langsung jatuh tidak sadarkan diri, di pelukan El. El mendengus melihat perempuan yang sejak tadi menggodanya malah jatuh tidak sadarkan diri, melihat burungnya. "Hah, ada-ada saja" batin El dengan menggendong Ifa ala bridal style, El membawa Ifa kembali kedalam kamarnya, El menidurkan Ifa ke ranjang miliknya yang biasanya tidak ada yang bisa menidurinya, kini Ifa perempuan pertama yang mampu naik keranjang El.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD