Yoyo menggeliat pelan, ia terbangun dengan kepala yang sakit luar biasa. Ia pun mencari dinda yang tak berada di sampingnya. Gadis itu terlihat berdiri didepan jendela, ia termenung. Yoyo pun berusaha bangun dengan kepala yang semakin berat, sepertinya vertigo yoyo kambuh lagi. Dinda menoleh ke belakang, ia melihat yoyo telah bangun. Tapi pria itu terlihat sedang menahan sakit dikepalanya. Dinda pun bergegas mendekatinya. Ia mengelus pelan rambut yoyo dan pria itu menatapnya.
“Yo kepala kamu kenapa ??...sakit ya?” Tanya adinda lembut.
Wajah yoyo terlihat menahan sakit.
“Iya dinda... Vertigo aku kambuh..” jawab yoyo sambil merebahkan kembali tubuhnya.
“Obat kamu ada ?? Aku ambilin ya..”
Yoyo pun menunjuk ke arah ranselnya, adinda bergegas membuka tas itu dan menemukan obatnya. Dinda mengambil segelas air putih dan memberikannya pada yoyo.
“Yo ga papa kali ya minum obat tapi kamu belum makan?” Suara adinda terdengar cemas..
Yoyo hanya tersenyum menatap gadis manis ini. Ia semakin merasa bersalah atas perlakuannya malam tadi. Yoyo menarik tangan dinda pelan untuk duduk disampingnya. Gadis itu pun duduk sambil menatapnya penuh pertanyaan.
“Maafin aku ya.. soal semalam dinda, aku kayanya ga bakal bisa sembuh kecuali aku mati”.
Dinda agak terkejut mendengar ucapan yoyo, ia pun memeluk yoyo terasa tetesan air mata yang jatuh dan basah di pundak yoyo..
“Please jangan ngomong yang aneh-aneh, kita masih punya waktu buat nyembuhin kamu yo...”
“Tapi aku takut bikin kamu semakin menderita din, lo liat kan malam tadi gimana aku bikin kamu sakit lagi”..
“Yo udah deh... Aku ga mau pagi-pagi udah banjir mata kaya gini, kamu mending mandi.. soalnya kamu bau banget hehehe” ucap dinda tertawa, mencairkan suasana yang menyedihkan ini.
“Iyaa aku mandi.. dinda mau sarapan dimana ?” Tanya yoyo sambil beranjak pelan ke kamar mandi. Ia berhenti untuk menunggu jawaban dinda.
“Heemmm sarapan di kafe dekat kampus aku yuk..”
“Dinda ada kuliah ?”
“Iya yo jam 10...”
Yoyo pun mengangguk dan berlalu ke kamar mandi.
Setelah mereka check out dari hotel dinda dan yoyo berhenti ke sebuah kafe yang tak terlalu penuh pengunjung. Kepala yoyo mulai berangsur mereda sakitnya, jadi ia bisa dengan tenang menyantap sarapannya.
“Yo kepalanya ga sakit lagi kan ??” Tanya dinda menatap pria ini yang tengah meminum teh nya.. ia hanya mengangguk.
“Udah selesai ?? Yuk aku antar...” Ucap yoyo sambil menatap dinda yang membereskan tas nya.
Mereka berdua pun bergegas masuk kemobil dan pergi. Dinda meminta yoyo untuk mengantarnya ke parkiran di belakang kampus yang sepi, sangat jarang orang ada kesini kecuali yang pengen berbuat m***m. Hehehe-
Yoyo agak heran menatap ke sekeliling yang sepi ini, buat apa dinda lewat sini coba. Guman yoyo..
“Dinda ini beneran mau turun disini ?” Tanya yoyo menoleh ke arah dinda yang hanya tersenyum-senyum nakal..
“Iya gak papa kok, tenang aja..” ucap dinda sambil membuka seatbealt nya dan menarik wajah yoyo.
Pria itu agak heran melihat ekspresi dinda yang penuh rahasia ini. Tiba-tiba dinda melumat bibir yoyo tanpa aba-aba, ia begitu menikmati menghisap bibir manis pria itu.
“Mhhpppp... Dinda...”
Akhirnya ciuman dinda terlepas namun ia langsung membuat kursi yoyo agak mundur ke belakang. Sehingga ia bisa duduk di pangkuan yoyo dengan leluasa. Wajah yoyo terlihat agak kebingungan dengan sikap Dinda yang mendadak seperti ini, namun ia terlalu bingung harus bertanya apa.
“Dinda.. mau ngapain ???diliat orang dinda...”
“Sssttt diam aja yo, aku h***y nih...” Ucap dinda sambil memberi isyarat untuk pria itu diam..
Dinda pun kembali mencium penuh nafsu ke bibir yoyo, ia benar-benar begitu terangsang hingga tak kenal tempat. Yoyo pun bereaksi atas ciuman panas yang dinda berikan untuknya, dengan kuat ia meremas p******a kenyal dinda dari luar kemejanya.
Bokong dinda terus bergerak nakal di pangkuannya, gadis ini bahkan mulai mendesah-desah tanpa takut. Yoyo menarik kemeja dinda ke atas dan melepas bra tanpa talinya tersebut. Dengan rakus ia menghisap kedua p****g dinda bergantian, hingga gadis itu mendesah sambil menjambak rambutnya.
“Sshhhh yo... Bangsat.. enak banget kamu mainin p****g aku yo... Ouchhh...” Desahan dan makian dinda terdengar begitu seksi ditelinga yoyo.
Ia meminta dinda untuk menaikan bokongnya sendiri, lalu satu jarinya menyusup kedalam celah surgawi Adinda yang benar-benar telah basah kuyup.
Dinda benar-benar horny.. rupanya.
“Dinda.. punyanya becek banget nih.. You really are so h***y my dear ... “ Ucap yoyo menatap mata dinda yang semakin sayu karena nafsunya.
Tangan yoyo memutar perlahan didalam liang dinda dan membuat gadis itu melumat kasar bibir yoyo. Jari jemari yoyo dengan cepat bergerak keluar masuk hingga dinda makin mendesah penuh nikmat.
Yoyo pun semakin bernafsu seiring gerakan tangannya yang berirama dengan bunyi cairan dinda yang tiada henti terus keluar. Ia menarik rambut dinda ke samping agar bisa melihat dengan seksama wajah gadis yang begitu memikatnya.
“Ahhhhh.... Yo masukin punya kamu... Uhhhh...”
“Aku takut kelepasan lagi dinda...” Ucap yoyo ragu, ia takut jika sampai membuat dinda terluka disini.
“Please....aku ga sanggup nahan nafsu aku sendiri yo, 10 menit aja...please...aahhhhh”
Akhirnya yoyo mengalah dan menurunkan celananya kebawah, ia berharap tak ada satupun orang yang datang kesini. Dinda sedang diluar kendali sekarang. Dengan mudahnya milik yoyo lolos kedalam surgawi dinda, dan tubuh gadis itu meliuk-liuk penuh gairah.
Ia benar-benar tidak terkendali saat ini, dengan susah payah yoyo menutup mulut adinda yang mulai menjerit-jerit keenakan. Yoyo pun mulai kewalahan dengan serangan dinda, bibirnya terus dilumat gadis ini seperti melumat sebuah jelly.
Ahhhh aku ga sanggup lagi. Kalau dinda seliar ini.
Yoyo pun memasukan ibu jarinya untuk menahan desahan dinda, ia menghisap kuat jari yoyo dan tetap bergoyang semakin cepat. Suara liang dinda yang begitu becek dan basah membuat semuanya terasa begitu panas.
Dinda menaik kan bokongnya begitu cepat dan menghentak kuat kebawah, terasa miliknya semakin geli dan nikmat. Ia benar-benar tak peduli jika yoyo bisa menjadi kasar saat ini. Bahkan ia mulai memikirkan untuk bermain di bokongnya, namun waktu dinda hanya sedikit.
“Aahhhhh Yoo...remes p******a aku kuat-kuat yo.. hisap putingnya...fuck...ssshhhhhh” dinda mulai meracau menahan nafsunya.
“Din... Kamu nyiksa aku banget nih...aaakkhhhh....”
Plak.. sebuah tamparan mendarat dipipi lembut dinda, namun tak terlalu kuat hingga adinda merasa baik-baik saja. Namun ia malah menjadi semakin terangsang. Dinda membalas yoyo dengan menghisap kuat leher pria itu hingga menyisakan bekas yang begitu jelas.
Yoyo semakin kewalahan rasanya ia akan keluar sedikit lagi. Karena posisi ini tidak memungkinkan nya untuk mengambil alih, jadi ia pasrah dengan goyangan dinda. Dinda pun merasa sudah semakin dekat dengan puncak nya, ia mencoba menampar lembut wajah tampan pria ini.
Astaga sensasinya terasa berbeda. Apa ia mulai menjadi seperti yoyo.
Yoyo hanya menikmati semua perlakuan dinda ke tubuhnya, dan anehnya ia mulai bisa menahan sedikit demi sedikit keinginannya untuk bertindak lebih kasar seperti biasanya.
“Aaaahhh....Ahhhhhkkk yo aku keluar....”
“Iyaa dinda.. Aku juga... Makin cepat sayang goyangnya...”
Akhirnya permainan panas ini berakhir dengan ciuman yang panjang hingga dinda merasa sulit bernafas. Lagi dan lagi yoyo mengeluarkan cairannya didalam. Dinda pun hanya terdiam, ia masih menikmati milik yoyo yang memenuhi liang surgawinya. Cairan yoyo terasa hangat..
“Yo... Minta tisu.. Kamu keluar didalam nih” pinta dinda pada yoyo yang matanya masih terpejam.
Mata yoyo lalu terbuka perlahan dan menarik tisu yang ada di atasnya, dinda menarik perlahan miliknya dan mengelapnya asal.
“Kalau kamu kenapa-kenapa aku yang tanggung jawab dinda..” ucap yoyo mengelus pelan pipi gadis manis ini.
Dinda hanya tersenyum tanpa menjawab apapun. Milik yoyo masih terlihat tegang dan basah. Ia terlihat lelah namun puas.
“Dinda.. lebih ngeri kalau lagi h***y ya..” ucap yoyo tertawa pelan.
“Ga tahu nih aku kok tiba-tiba high aja...” Dinda terlihat mengambil tisu basah di tas nya dan membersihkan sisa cairan yang keluar, begitu juga di milik yoyo.
“Udah nanti aku bersihin sendiri.. masih sempat ga nih masuk kelas?”
Dinda pun melirik jam ditangannya, ia masih punya 5 menit untuk mampir ke kamar mandi disamping kelasnya.
“Sempat kok.. Aku pergi sekarang ya...” Ucap dinda sambil membuka pintu..
Namun yoyo sadari itu cewek belum memakai bra dan panty nya.. Astaga.
“Dinda stop.. ini ga dipake apa ???” Ucap yoyo menunjuk bra dan panty ditangannya.
“Hehehe ditas aku ada panty baru kok.. simpan aja yo..” jawab dinda pelan sambil memberikan lambaian tangannya dan berlari kecil menuju gedung kampusnya.
Astaga dinda benar-benar gila. Apa dia selama dikelas tidak memakai bra nya? Yoyo hanya tersenyum simpul. Gadis ini benar-benar luar biasa untuknya. Hanya ia yang mampu membuat yoyo seperti ini.