Chapter 11

1158 Words
Mobil yoyo terus melaju menembus jalanan yang semakin beranjak malam, ia bahkan tak merasa lelah sedikit pun hari ini. Di pikirannya hanya ada adinda dan bagaimana caranya menemukan gadis itu. Setelah yoyo bertanya pada Tante Maria, ternyata Adinda tidak ada dirumahnya. Perasaan panik Yoyo semakin menjadi. Untung saja Tante Maria menyarankan nya untuk datang ke kantornya. Dinda memang menyimpan kunci ruangannya, karena terkadang gadis itu membantunya di klinik. Yoyo pun bergegas kesana semoga saja Adinda benar ada disana. Klinik Tante Maria telah sepi, karena jika malam memang tak buka. Hanya terlihat dua security yang sedang berjaga. Yoyo pun menghampiri mereka dan memberitahu tujuannya, sebelumnya Tante Maria telah memberitahu mereka duluan. Yoyo pun setengah berlari menuju lantai dua dimana ruangan Tante Maria berada. Ia melihat ruangan itu gelap gulita, dan tak menemukan dinda didalamnya. Astaga... Dinda, kamu dimana ?... Perasaan yoyo benar-benar panik dan merasa cemas, namun sekelebat bayangan yang sedang duduk disudut meja membuat yoyo menghampirinya. Ia menatap perlahan ke arah sosok itu, dan betapa leganya ia ternyata itu adinda. Gadis itu meringkuk dan menangis, ia seperti ketakutan dan tertekan. Ditelinganya terpasang earphone yang bervolume kencang. Yoyo pun menarik tubuh gadis itu dan melepas earphone nya. Adinda terkejut ketika ia melihat yoyo di hadapannya, ia tak menyangka pria ini muncul di hadapannya sekarang. "Yo....kok bisa disini??" Tanya adinda sambil menatap bingung ke arah bayangan pria itu yang berusaha mencari sakelar menyalakan lampu diruangan gelap ini. Ruangan ini pun menjadi terang dan terlihat dinda dengan wajah yang begitu pucat dan lusuh. Ia seperti habis menangis cukup lama. "Duduk disini dinda..." Yoyo pun menarik pelan tangannya lalu duduk di sofa yang biasa dipakai klien tante Maria. Yoyo menghela nafas panjang, ia merasa begitu putus asa melihat Adinda sekarang. Tanpa sadar ia begitu cemas dan ketakutan tak menemukan dinda di mana pun. Ia memeluk tubuh dinda dengan erat dan menjatuhkan kepalanya di pundak dinda.. Adinda hanya mampu terdiam, ia menduga Yoyo pasti telah mengetahui tentang video dan foto itu. Pundaknya terasa basah dan tubuh Yoyo begitu bergetar. Adinda tahu pria ini sedang terisak di pelukannya. Air mata dinda kembali jatuh, perasaan takut dan malu menjadi satu. Ia tak peduli jika hanya dirinya yang terluka, namun betapa menyedihkannya jika orang-orang yang tulus padanya ikut menanggung rasa malu ini. "Dinda...kamu ga boleh pergi lagi kayak gini, masih ada aku di samping kamu sayang..." Yoyo pun menarik tubuhnya dan menatap Adinda yang masih menunduk. Air mata gadis itu jatuh semakin deras, membuat hati yoyo nyeri. Ia pernah melihat raut wajah ini ketika ia pertama kali menyakiti tubuhnya. "Maafin aku yo... Aku pasti bikin kamu kecewa, kamu malu pasti yo" "Aku gak malu..dan aku benar-benar sayang sama kamu, aku ga akan pernah kecewa hanya karena masalah ini dinda" Dinda hanya menggelengkan kepalanya, ia benar-benar merasa malu. Akhirnya hanya tangis yang tertahan bisa Adinda keluarkan sebagai rasa frusatasinya. Yoyo pun lebih memilih mendekap tubuh gadis ini, ia tak akan lagi pernah membiarkan dinda jauh darinya. Sekarang ia tahu Tuhan selalu mengijikan kesempatan kedua dalam hidupnya untuk menjaga gadis yang dicintainya. "Dinda.. kita pulang yuk, kamu ga mungkin kan disini sampai pagi" ucap yoyo membelai lembut rambut dinda.. "Ga mau.. aku ga sanggup balik ke kost yo..." "Kerumah kita aja ya..." "Rumah kita ???" "Iya sayang..??" "Oh iya yang waktu itu kan.., ga mau yo.." Yoyo menarik wajah gadis ini menciumnya sekilas.. "Bukan yang itu sayang.. rumahnya udah aku kontrakkan kok, aku tahu kamu ga suka" Dinda menatap dengan rasa yang terkejut.. rumah mewah itu ??Yoyo tersenyum menatap ekspresi dinda yang penuh heran. Wajahnya begitu pucat.. gadis ini terlalu lelah. "terus rumah yang mana kamu maksud yo?" "Aku beli apartemen udah dari lama sih.." "Serius ???" "Iya itu rencananya buat kita nikah nanti, tapi kayanya aku ga sabar deh ngajak kamu tinggal bareng aku" Adinda terdiam namun ujung matanya kembali terasa panas dan berembun, ia menangis namun bukan sedih. Kenapa yoyo selalu baik padanya. Sedangkan semua orang telah membuangnya. "Heii kok nangis lagi.. marah ya aku ngajak tinggal bareng ? Aku cuman pengen sama-sama terus sambil nunggu kamu siap terima lamaran aku" Dinda tak menjawab ia hanya memeluk pria itu dan menciumnya dalam. Rasanya saat ini hanya sebuah pelukan dan ciuman sanggup menggambarkan perasaannya. Yoyo tersenyum perasaannya menghangat, tuhan tahu ada hal baik yang ia berikan dibalik kejadian buruk hari ini. Sebuah kebahagiaan yang bisa ia rasakan jika dinda setuju untuk tinggal bersamanya. "Jadi.. bisa ya kita pulang sekarang...??" "Iyaa yo.. tapi baju ku cuman ada baju kuliah ditas" "Ga papa pake baju ku aja yang..." "Eemm tapi yo kalau aku ga pake baju, boleh ga ??" Dinda menatapnya dengan mata menggoda yang masih penuh air mata. Yoyo hanya mencubit pelan pipi gadis manis itu. "Boleh aja.. tapi jangan salahin aku ya kalo kamu seharian bakalan aku bikin ngedesah terus hehe.." "Emang kuat ??? Hehehe" "Seorang yoyo ??? Kuat dong..." Mereka berdua tertawa bersama dan kembali pulang. Rasanya semuanya menjadi aman dan nyaman ketika Yoyo berada disampingnya sekarang. Tak ada lagi rasa ketakutan yang membuat dinda harus mengingat masa lalu. ****** Adinda tercengang menatap apartemen minimalis ini, bukan sebuah ruangan yang mewah dan besar namun semua yang didalam sini sangat indah. Warna abu-abu dan pink membuat ruangan ini terlihat cantik dan serasi. Kamar yang mereka miliki ada dua, dan satu kamar mandi utama didalam kamarnya. Sebuah dapur minimalis langsung berhadapan dengan ruangan TV. Yoyo menatap gadis itu yang begitu senang dengan apartement baru ini. Ia sengaja memilih yang sederhana, karena yoyo pun baru menyadari jika dinda membenci ruangan yang terlalu luas dan mempunyai banyak kamar. Karena hal itu ia dengan yakin untuk pindah kesini. Warna abu-abu adalah kesukaannya dan warna pink favorit dinda. Ternyata 2 warna ini menjadi perpaduan yang cantik. "Gimana dinda suka sama yang ini ??" Ucap yoyo sambil memeluk tubuh gadis itu belakang.. "Yes... Suka banget, ga terlalu luas yo..jadi nyaman aja" "Janji yaa tinggal disini sama aku.." "Hehe iya iya.. yo.." Dinda pun membalik tubuhnya menatap pria itu dan mencium lembut bibirnya.. dinda merasa dirinya semakin terjerat pesona dan ketulusan pria ini. Hal yang awalnya ia sangat takuti. Terasa pundak dinda begitu berat karena kepala yoyo bersandar penuh disana. Ia terlihat begitu lelah, jelas saja habis dari luar kota ia langsung kelimpungan mencari dinda. "Yo.. kamu capek ya.. istirahat yuk... Tapi mandi dulu" ucap dinda sambil mengusap lembut kepala pria ini.. "Mandi bareng yuk..." Yoyo menatap dinda dengan kerlingan mata yang menggodanya.. "Ga mau.. mandi aja duluan, aku capek yo.. malam ini istirahat aja ya..." "Isshh.. kan udah lama ga disayang-sayang" "Disayang-sayang apa ena-ena yo ??? Capek ahh" "Hehehe iya deh.. tapi besok seharian ya..?" Mata dinda terlihat protes dan mencubit pinggang pria itu pelan, yoyo pun mengaduh sambil tertawa. "Kamu mau bikin aku pingsan apa..." Protes dinda dan gadis itu berlalu ke arah dapur untuk minum. Yoyo hanya tertawa nyaring dan ia pun menuruti ucapan dinda lalu ia pun menuju ke kamar mandi. Malam ini terlewati dengan perasaan tenang karena kehadiran yoyo. Dinda berharap ia mempunyai kekuatan menghadapi kenyataan esok hari. ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD