Adinda terbangun lebih awal pagi ini, tubuhnya kembali segar setelah istirahat semalam. Untungnya Yoyo tak memaksanya untuk bermain seperti biasanya. Mungkin karena keduanya sama-sama lelah.
Setelah menghubungi Tante Maria dan Anna untuk memberitahu keadaannya, Adinda pun memilih untuk mematikan ponselnya. Ia terlalu takut untuk melihat hal yang lebih buruk dari ini. Ia tidak sanggup lagi terguncang untuk ke sekian kalinya. Dinda merasa hidupnya kini akan berantakan jika video itu belum menemukan penyelesaian.
Matahari pagi terasa nyaman dan udara pun masih segar. Dinda memilih untuk membuat sarapan sebisanya. Baju yoyo yang dinda kenakan terlalu besar di tubuhnya, kaos oversize ini terasa sangat nyaman. Dinda memang tidak terlalu pusing dengan apa yang ia kenakan, jika itu nyaman di tubuhnya makan Dinda akan terus memakainya.
Karena ia tak membawa celana, jadi dinda hanya memakai panty didalamnya. Dinda memang punya kebiasaan membawa panty cadangan yang banyak layaknya ia membawa pembalut. Namun dinda adalah penganut without a bra, my life is better. Ia rasa sangat sakit jika harus mengenakan bra sepanjang waktu, Dinda tak peduli dengan tatapan orang-orang kita tanpa sengaja melihat kedua payudaranya.
Dinda pun melangkahkan kakinya menuju dapur, ia merasa perutnya lapar dan segera ingin minta diisi. Dinda menatap isi kulkas yoyo dan hanya ada telur, sosis dan roti. Juga sekotak s**u besar, ia jadi bingung harus membuat sarapan apa. Tapi akhirnya dinda memilih membuat sandwich sederhana saja tanpa sayur.
Pintu kamar terbuka dan terlihat yoyo sudah selesai mandi, ia menatap dinda yang sedang sibuk menggoreng telur dan sosis. Pria itu pun berjingkat pelan lalu memeluk tubuh dinda. Gadis itu menjerit karena terkejut.
"Aahhhh... Yoyo ... kenapa bikin kaget sih..."
"Hehehe abisnya serius banget.. masaknya.."
"Aku buatin kamu sarapan nih yo, jam berapa ke kantornya ??"
Dinda terlihat mengambil piring lalu memindahkan telur dan sosis disana dan membawanya ke meja makan. Masih dalam posisi Yoyo yang memeluknya erat. Agak susah memang namun sayang jika di lepas, Dinda menyukai saat pria ini berubah manja padanya.
"Aku ga kerja yang.." jawabnya begitu enteng.
"Loh kenapa ??" Tanya ku heran.
"Aku mau nemenin kamu aja dirumah.."
Yoyo pun duduk di meja makan diiringi tatapan protes dinda..
"Gapapa dinda.. aku udah bilang kok sama Adrian buat menghandle kerjaan ku, lagian aku udah minta cuti 3 hari"
"Tsk.. enak banget ya.." gumam dinda sembari memberikan roti ke piring yoyo yang telah berisi sosis dan telur.
Yoyo hanya tersenyum dan mengecup pipi dinda lembut. Namun detik berikutnya mata yoyo membulat menatap ke arah dinda.
"Astaga dinda...."
Dinda pun menoleh menatap yoyo yang menunjukan raut wajah kagetnya..
"Kenapa ? Kok kaget gitu? “tanya dinda terheran-heran.
"Dinda ga pake bra ya..?" Tunjuk yoyo ke arah d**a dinda yang begitu bulat dan n****e nya tercetak jelas..
Dinda pun menoleh ke arah dadanya sendiri dan tertawa pelan "Aku lupa bawa bra yang, pake yang malam tadi malas.."
Yoyo hanya menggeleng pelan, dinda memang punya kebiasaan aneh. Pikiran nakal Yoyo jadi muncul karena melihat pemandangan yang menggoda pagi ini. Ia ingin segera menerkam tubuh gadis di hadapannya ini. Tapi ponselnya yang bergetar di sampingnya menghentikan niat yoyo sesaat. Ia menatap nama yang tertera di layarnya.
"Sayang.. aku angkat telepon dari Kak Yasmin dulu ya" ucap yoyo sambil menunjuk ke arah ponselnya.
Dinda hanya mengangguk, Kak Yasmin itu kakak Yoyo.
Pria itu terlihat keluar menuju ke arah balkon dan terlihat raut wajah yoyo begitu serius saat bicara. Dinda pun tak ingin mengganggunya. Ia rasa ada sesuatu yang Yoyo sembunyikan darinya.
Perasaan dinda mulai tak enak, apa semua ini ada hubungannya sama video dia yang viral itu. Tiba-tiba saja nafasnya menjadi sesak karena cemas lalu diikuti perasaan mual yang hebat. Adinda pun berlari ke kamar mandi dan muntahkan segala isi sarapannya. Nafasnya masih agak sedikit sesak, dinda menatap ke kaca berkali-kali. Ia melihat dirinya sendiri..
Adinda.. Kamu harus kuat..
Kamu harus ngelawan semuanya..
Jangan biarin diri kamu kembali hancur seperti dulu..
Sekarang kamu punya kesempatan menjadi baik..
Adinda menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya dengan kuat. Ia pun menggosok kembali giginya untuk menghilangkan rasa mual tadi. Ia pun menggosok kembali giginya untuk menghilangkan rasa mual tadi
Terdengar ketukan di pintu kamar mandi, yoyo memanggilnya pelan.
"Sayang kamu ngapain ???"
"Lagi sikat gigi yo"
Hening tak ada sahutan kembali dari yoyo, dinda pun membersihkan mulutnya. Sekali lagi ia menatap wajahnya. Meyakinkan dirinya untuk tetap tenang. Tiba-tiba terlintas pikiran dinda untuk menggila seharian bersama yoyo hari ini. Itu pasti membuat rasa cemasnya pergi.
Terlihat yoyo sedang duduk menatap layar TV, namun pikirannya sedang tidak disana. Percakapan dengan Yasmin membuatnya agak kesal dan emosi. Semua ini tentang masalah video Adinda yang beredar. Yoyo menatap dinda yang sedang membereskan sisa sarapan mereka, lalu gadis itu menghampirinya dan memberikan segelas s**u.
"Nih yo.. biar tambah gede hehehe" Ucap Dinda sambil memberikan s**u itu pada Yoyo.
"Apanya yang tambah gede sayang ?? Punya ku ya?" Tanya Yoyo dengan lirikan mata yang nakal.
Dinda hanya mencebikkan bibirnya sambil duduk disamping yoyo. Ia mendekap lengan pria dengan manja, rasanya begitu nyaman berada di saling Yoyo seperti ini.
"Sayang.. tadi kak yasmin kenapa nelpon ?" Tanya Dinda.
"Oh.. nanya kapan aku pulang" jawab yoyo berbohong, mana mungkin ia jujur sama dinda
"Loh kak Yasmin ga tau kamu pindah ke rumah sendiri?"
"Ga.. malas ngasih tau ntar dia tambah cerewet, terus mama juga ikutan-ikutan ribut"
Dinda hanya diam tanpa bertanya lebih jauh lagi, yoyo memang tak terlalu dekat dengan ibunya. Yoyo sudah tinggal terpisah dengan ibunya semenjak ia SMP ketika ibunya memilih untuk menikah lagi disaat ayahnya sedang sekarat dalam sakitnya.
Dinda pun memilih untuk menggoda pria tampan di sampingnya ketimbang banyak bertanya yang macam-macam. Ia menarik tangan yoyo lalu meletakkannya di dadanya, yoyo pun terkejut menatap dinda. Dinda hanya tertawa melihat raut wajah yoyo, pria itu hanya menggelengkan kepalanya atas ulah dinda.
"Yo.. main yuk.." bisik dinda menggoda di telinga pria itu..
"Tsk.. masih pagi sayang..." Sahut Yoyo sembari memasang wajah pura-pura menolak. Padahal dalam hati ia sangat menunggu ajakan Dinda.
"Bagus malah.. yuk..." Sahut Dinda menahan tawa
"Huh.. punya calon istri nakal banget sih.." ucap yoyo sembari menggendong tubuh dinda kedalam kamar..
Dinda hanya tertawa pelan, ia sungguh menginginkannya hari ini. Dan Dinda tak ingin permainan yang biasa, ia ingin lebih lama dan juga b*******h. Ia tahu hanya pada Yoyo Dinda bisa menemukan kehangatan itu.
*****