bc

Tuhan, tolong aku

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
HE
tragedy
sweet
like
intro-logo
Blurb

dilema keluarga, antara suami pekerja, istri full time dan balita

fenomena yang memang sering terjadi.

tentang keluarga kecil Arman, Lia dan putri nya Nara yang berusia dua setengah tahun.

tentang suami yang menganggap istri nya hanya memiliki banyak alasan, hingga akhirnya ia menyadari.. bahwa..

chap-preview
Free preview
Tuhan, Tolong aku..
Hari jum'at sore Rumah kecil itu selalu terlihat sama setiap sore. Mainan berserakan di ruang tamu. Botol s**u di meja. Piring di wastafel. Dan seorang pria yang berdiri di ambang pintu dengan wajah lelah. Arman baru saja pulang kerja. Jam menunjukkan pukul lima sore. Ia bekerja dari jam tujuh pagi. Ditambah perjalanan pulang pergi hampir satu jam setiap hari. Tubuhnya pegal, kepalanya penuh. Begitu masuk rumah, pemandangan yang sama kembali menyambutnya. Rumah berantakan. Anaknya yang berusia dua setengah tahun berlari-lari tanpa celana sambil tertawa. Istrinya duduk di lantai ruang tamu dengan rambut diikat asal, wajah pucat, baju rumah yang sama seperti kemarin. Arman menghela napas panjang. "Lagi-lagi begini." Istrinya menoleh. "Apanya?" "Rumah. Berantakan terus. Kamu di rumah seharian ngapain sih?" Istrinya tidak langsung menjawab. Anak mereka, Nara, tiba-tiba berlari ke arah Arman dan memeluk kakinya. "Papa!" Arman mengangkatnya sebentar, lalu menurunkannya lagi. "Ayah capek." Ia berjalan ke dapur, membuka tutup panci. Kosong. "Ada makan?" Istrinya menjawab pelan dari ruang tamu. "Aku belum sempat masak." Arman tertawa pendek, tapi bukan karena lucu. "Belum sempat? Kamu kan di rumah." "Aku dari pagi jagain Nara…" Belum selesai kalimat itu, Arman sudah memotong. "Jagain anak doang capeknya kaya kerja tambang." Istrinya terdiam. Beberapa detik kemudian ia berkata lirih. "Aku bahkan belum mandi hari ini." Arman menggeleng. "Itu pilihan kamu sendiri." "Aku mau mandi tadi, tapi Nara nangis kalau ditinggal." "Ya tinggal mandi aja. Anak nangis bentar juga diam." Istrinya menatap lantai. "Aku juga belum makan." "Ya makan aja. Tinggal makan." Percakapan itu berakhir seperti biasa. Dengan Arman yang kesal. Dan istrinya yang akhirnya diam. Belakangan ini dia memang lebih sering memilih diam. Karena menjelaskan pun tidak pernah membuat Arman mengerti. --- Arman baru saja duduk di sofa ketika ponselnya berdering. Nama "Mama ku"muncul di layar. Ia mengangkat. "Ma?" Suara mamanya terdengar lemah. "Mama di rumah sakit." Arman langsung duduk tegak. "Kenapa?" "Perut mama sakit, tadi dokter periksa, katanya usus buntu, mama harus segera operasi." Jarak rumah Arman di Lampung Selatan dengan rumah mamanya di Bandar Lampung sekitar dua jam perjalanan. Mamanya hidup sendiri sejak ayahnya meninggal. "Aku kesana temenin mama sekarang, tunggu ya ma,?" "Tidak usah. Kalaupun kamu disini, kamu enggak bisa bantu apa-apa." Arman mengusap wajahnya. "Lalu?" Mamanya terdiam sebentar sebelum berkata pelan. "Mama mau minta tolong…" "Apa?" "Bisa kirim istrimu ke sini beberapa hari? Temenin mama di rumah sakit. Nara jangan di bawa, balita di larang masuk rumah sakit. Kamu bisa kan jaga Nara saat istri kamu dengan mama" Arman berpikir sebentar. Sabtu dan Minggu dia libur. Artinya dia bisa menjaga Nara sendiri. Ia melirik ke arah istrinya yang sedang membereskan mainan anak mereka. Ide tiba-tiba muncul di kepalanya. Kesempatan. "Baik, Ma. Nanti aku suruh dia ke sana." Sore itu Arman memberi tahu istrinya segera setelah menutup panggilan telpon. "Mama masuk rumah sakit." Istrinya langsung berdiri. "Serius? Kenapa?" "Usus buntu, mama harus di operasi. Sore ini kamu ke Bandar Lampung. Temenin dia di sana." "Sekarang?" "Iya." Istrinya terlihat ragu. "Nara…" "Nara sama aku." Istrinya menatapnya seakan tidak yakin. "Kamu bisa?" Arman tersenyum tipis. "Tentu bisa." Lalu dengan nada yang sedikit menyindir ia menambahkan, "Lagian jagain anak doang." Istrinya tidak menjawab. Hanya mengangguk kecil. Setelah istrinya pergi dengan travel, rumah itu tiba-tiba terasa sangat berbeda. -- Dan sekarang, di rumah ini tinggal Arman Dan Nara. malam terlewat dengan tenang, tidak ada drama seperti yang biasa istrinya keluhkan ke dia. Nara sangat mudah di atur. Ia bahkan tidur tanpa perlu nangis seperti biasanya. Cukup berikan botol susunya, tepuk tepuk sebentar, Dan Nara sudah ada di alam mimpinya. sebelum tertidur Arman sudah membuat rencana untuk nya dan Nara esok hari. Ia bahkan tersenyum membayangkan muka istrinya bila ia lihat apa yang akan ia tunjukan esok hari. Arman akan membuktikan bahwa semua keluhan istrinya selama ini hanya drama, kalau perlu ia akan buat video sebagai bukti bahwa menjaga anak dan beresin rumah itu tidak sesulit yang dia katakan --- (Jam empat pagi.) "Papa… susu." Arman membuka mata. Nara duduk di samping nya dengan botol kosong. Ia menghela napas. "Sebentar." Ia bangun dan berjalan ke dapur. Lima menit kemudian ia masih membuka-buka lemari. Sepuluh menit. Ia tidak tahu di mana istrinya menyimpan s**u. Ia melirik jam, hampir jam lima subuh. Susu akhirnya jadi. Tapi saat ia masuk kamar, Nara sudah kembali tertidur sendiri. Mungkin karena ia terlalu lama menunggu dan bosan. Arman kembali ke kasurnya. Ingin kembali memejamkan mata. Rasanya, baru saja Arman memejam kan matanya, namun Nara sudah bangun dan kembali merengek minta susunya. Arman dengan sigap memberikan s**u yang tadi ia buat ke Nara lalu kembali Arman pejamkan mata. Tiba-tiba Arman terbangun, pipinya basah dengan air, ia mengelap nya dengan tangannya dan mencium bau nya. Bau s**u. Matanya langsung terang sempurna. Di samping nya, ia melihat Nara sedang memainkan botol susunya. Kasurnya basah. Nara menumpahkannya di kasur. Arman segera bangkit dan membawa Nara turun dari kasur nya, ia mau membersihkan dan mengganti sprei. Tiba-tiba "Papa… pup." Arman membeku. Ia belum pernah mengganti popok seumur hidupnya. Ia melirik jam. Jam tujuh pagi, Ia menghela nafas panjang. Arman segera membawa Nara ke kamar mandi untuk bersihkan dan mandikan Nara. (Jam delapan) Nara menangis karena kartunnya tidak sesuai. Dan makanan yang Arman usahakan untuk masuk ke mulut Nara semua berakhir di lantai karena Nara melepehkannya tiap kali nasinya masuk mulutnya. (Jam sepuluh.) Mainan berserakan. Susu tumpah di lantai. Biskuit hancur di sofa. (Jam sebelas.) Arman lapar. Ia membuka dapur. Ada bahan makanan. Semua mentah. Ia tidak tahu harus memasak apa. Akhirnya ia membuat mie instan. Nara tidak mau makan mie instan. Nara menangis. Arman terpaksa makan sambil menggendong Nara. (Jam dua siang.) Arman belum mandi. Tapi setidaknya Ia bisa bernafas sedikit lega karna Nara tertidur. Namun sekarang Ia bingung. Mau kerjakan yang mana dulu rumah nya ini. (Jam tiga sore.) Rumah masih belum selesai Ia bereskan. Nara sudah terbangun. Ia mencoba mandi sambil mengawasi anaknya yang bermain air di kamar mandi. Setengah mandi. Setengah panik. (Jam lima sore.) Rumah itu lebih berantakan dari biasanya. Arman duduk di lantai ruang tamu. Nara tertidur di pangkuannya setelah menangis hampir setengah jam. Sunyi. Untuk pertama kalinya hari itu. Arman melihat sekeliling rumah. Mainan. Botol s**u. Popok. Piring. Lantai lengket. Ia menelan ludah. Baru satu hari. Baru satu hari. Dan ia sudah merasa seperti habis lari maraton. Istrinya melakukan ini… Setiap hari. Sendirian. Tanpa libur. Ponselnya berbunyi. Pesan dari istrinya. "Mama sudah selesai dioperasi. Aku masih jaga di sini malam ini." Arman menatap layar lama. Lalu menatap rumah lagi. Kemudian menatap anaknya yang tidur di pangkuannya. Akhirnya ia mengetik balasan. Lama sekali sebelum terkirim. "Besok pulanglah kalau bisa." "Tidak bisa, setidaknya mama harus tiga hari di rawat. Sabar yaa.. Saya pasti segera pulang saat mama pulih" Arman membeku. Ia menatap layar ponsel lama. Hari Selasa. Hari ini baru Sabtu. Artinya… Masih tiga hari lagi. Tiga hari. Dengan balita. Sendirian. Wajah Arman perlahan pucat. Ia menatap Nara yang tidur di pangkuannya. Lalu menatap rumah yang berantakan. Lalu kembali melihat ponselnya. Dengan suara pelan sekali, hampir seperti berdoa, ia berbisik sendiri. "Ya Tuhan…tolonglah aku..." "Lia… pulanglah lebih cepat."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.2K
bc

Kali kedua

read
222.1K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
45.2K
bc

AKU DAN JIN CANTIK

read
4.4K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
7.8K
bc

TERNODA

read
202.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook