"Ternyata kau tidak tahu mengenai kabarnya yah, tapi aku heran, mengapa dirimu sesantai itu, Kyler? Tidak seperti biasanya, di mana kau akan kalang kabut jika tak melihat temanku itu," tanya Chloe pura-pura keheranan, kemudian memicingkan matanya dan berlagak curiga kepada pria itu.
"Apakah hubungan kalian merenggang? Atau sudah berakhir?" tanyanya to the point dan Carmilla yang mendengar itu langsung memuji Chloe di dalam batinnya.
Bagus, Chloe, aku menjadi penasaran atas respon Kyler dan dapat kutebak jika dia memang sudah tidak peduli lagi. (Percaya Carmilla dengan dugaannya)
"Kau meragukanku, Chloe? Akhir-akhir ini pikiranku sedang kacau, dan aku akan berkata jujur bahwa hubunganku bersama Carmilla telah berakhir, aku sangat bodoh karena telah menjualnya semalam dan kau harus percaya bahwa diriku menyetujui sebuah taruhan, taruhan yang tidak perlu kau tahu, intinya ... aku kalah dan harus membayar sejumlah uang yang tidak main-main banyaknya, jika aku tidak membayarnya, maka Raymond akan memiliki Carmilla baik suka rela maupun terpaksa, tentu aku tidak menerima itu dan dengan secepat mungkin, aku menyimpulkan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya, dan di sinilah aku menyadari betapa bodohnya aku!" ungkap Kyler, bahasa tubuhnya benar-benar menunjukkan bahwa dia sangat frustasi kali ini. Kyler tak dapat menampik penyesalannya, dia ingin bertemu dengan Carmilla agar wanita itu mendengarkan semua alasan dari perbuatannya semalam, walau dia yakin bahwa wanita itu takkan mau memaafkannya kembali.
"Yah, dirimu sangat bodoh Kyler, sebagai teman atau sahabat Carmilla, aku sangat marah padamu! Kenapa kau tidak meminjam saja? Setidaknya itu lebih baik dan pasti Carmilla akan membantumu," balas Chloe.
"Aku tak seberani itu untuk meminjam sejumlah uang yang sangat besar Chloe, bahkan uang yang berasal dari hasil penjualan Carmilla, belumlah cukup dan itu pun aku menambah dengan uang tabunganku yang akhirnya bisa menutupi kekurangan," balas Kyler pula dan Chloe semakin menganggap pria di sampingnya ini sangatlah gila.
"Kau memang b******k, bahkan aku sangat membencimu dan aku akan berdoa agar Tuhan tak mempertemukanku dengan pria seperti dirimu!"
"Chloe, kumohon ... seandainya kau bertemu dengan Carmilla sampaikan kata maafku, baik cepat atau lambat jika memang diriku belum menemukannya," balas Kyler kemudian pergi begitu saja, meninggalkan Chloe yang ikut pusing setelah mengetahui masalah yang sesungguhnya.
Kini, Carmilla pun keluar dari tempat persembunyian setelah melihat punggung Kyler yang semakin menjauh.
"Baiklah, Carmilla. Apa yang akan kau lakukan setelah mendengarkan statement pria itu? Memaafkannya?" tanya Chloe.
"Jujur aku masih mencintainya walau di hatiku masih ada pula kebencian, tetapi ... jika dia ingin meminta maaf tentu akan kumaafkan. Namun, tidak semudah yang dia perkirakan setelah mengingat semua kejadian buruk yang berasal darinya," jawab Carmilla.
"Diriku setuju, dia harus diberi pelajaran terlebih dahulu agar tidak melakukannya lagi. Oh satu lagi, apakah kau ingin kembali rujuk dengannya? Jika semisalnya dia menyatakan cintanya kembali," tanya Chloe.
"Tidak! Sudah cukup hubunganku dengannya, luka yang dia tancapkan akan selalu berbekas, layaknya paku yang telah dicabut dari dinding."
"Tinggal tambal saja, dindingnya akan kembali mulus, mudah bukan?" balas Chloe dan mendapatkan jitakan dari Carmilla.
"Hei, apa salahku? Bukannya itu benar?"
"Kau sangat bodoh, Chloe, itu perumpamaan saja!" kesal Carmilla kemudian meninggalkan Chloe yang sekarang mengejarnya sembari berteriak, "Tunggu aku!"
Dua wanita yang bersahabat tersebut telah menyimpulkan bahwa pusat permasalahan berada pada Raymond dan Carmilla akan membuat perhitungan kepada pria itu terlebih dahulu.
Carmilla dan Chloe sepakat untuk menemui Raymond sepulang kampus, tidak seperti Kyler sebelumnya, kedua wanita itu kompak untuk menghadang Raymond yang sedang bermotor di jalanan, dan beruntung situasi di saat itu sedikit minim kendaraan.
"Carmilla, kau ingin bunuh diri?!" tanya Raymond dengan nada syok karena mengerem mendadak.
"Aku ingin membuat perhitungan kepadamu, Raymond!" bentak Carmilla dan mengabaikan pertanyaan Raymond sebelumnya.
Raymond mengangkat tangannya kemudian membalas, "Hei, ada apa ini? Sepertinya aku tidak memiliki masalah denganmu, Nona manis?"
"Tentu ada, karena kau, Carmilla berada di posisi yang sulit semalam dan harus mempertaruhkan kehormatannya, lengah sedikit saja, dia akan kehilangan dengan yang namanya keperawanan," bisik Chloe di akhir kalimat, mengambil jatah bicara Carmilla untuk menjawab pertanyaan pria tersebut.
"Apa yang terjadi? Aku benar-benar tidak mengerti dan apa hubungannya diriku dengan keperawanan Carmilla? Apakah kamu ingin menyuruhku untuk menerobosnya? Jika ia, aku akan senang hati," balas Raymond dan mendapatkan tamparan langsung dari Carmilla.
"Syarat dari taruhanmu itu benar-benar tidak masuk akal, kau sampai membuat Kyler melakukan hal gila untuk membayar semua kekalahannya kepadamu, dan akulah yang menjadi korban karena dia telah menjualku di club semalam, sampai sini kau paham? Jika tidak, aku takkan menahan lagi untuk meresleting pusakamu agar tidak nakal lagi kepada seorang perempuan, Raymond!" ancam Carmilla dengan nada yang mengerikan, sampai-sampai Raymond meneguk salivanya sendiri.
"A-aku tidak tahu akan hal itu, akan tetapi ... seorang pria harus berani mengambil resiko dan siap bertanggung jawab atas kekalahannya saat bermain sky kemarin, Carmilla," balas Raymond.
"Aku tahu itu, tetapi kenapa hukumannya begitu berat? Dirimu yang menjadi sahabat, seharusnya tidak seperti itu dan aku membencimu!" tegas Carmilla dengan tatapan marahnya kepada Raymond. Raymond membulatkan mata, dibenci oleh Carmilla adalah mimpi buruk untuknya, karena walau gadis itu merupakan pacar sahabatnya, dia takkan munafik untuk mengakui kalau dirinya juga menyukai wanita itu, bahkan ingin memiliki Carmilla jika perlu.
"Jangan! Kalau kau membenciku, aku takkan memiliki harapan lagi, Carmilla!" balas Raymond dengan panik.
Chloe yang mendengar itu langsung mendengus dan berkata, "Hei, kenapa kau tertarik kepada kekasih orang? Sekali-kali liriklah aku, jangan selalu Carmilla dan Carmilla, apakah aku kurang cantik?" celetuknya dan Raymond langsung cengengesan.
"Dirimu tentu saja cantik, tetapi kau bagaikan malaikat pencabut nyawa versi perempuannya, Chloe, aku merinding jika berada di sampingmu, jika kau tidak percaya, silakan membuat survey di sosial media dan buat pertanyaan apakah mereka menyukaimu atau tidak," jawab Raymond.
"Huft, seperti dugaanku dan sekarang lanjutkan permasalahan kalian," balas Chloe dengan nada pasrah karena merasa bahwa nasibnya benar-benar tidak seberuntung sang sahabat.
"Chloe, pria sepertinya tak pantas menyukaimu, dia m***m dan otaknya penuh dengan rencana kecabulan, sudah banyak wanita yang menjadi korban dari tipu daya kalimatnya, seharusnya kau bersyukur, ingat itu!" pesan Carmilla dan menekankan kata penting dalam kalimatnya barusan agar Chloe tidak mendekati Raymond lagi, karena sahabatnya sendiri saja dia sudah susahkan, bagaimana kalau pacarnya sendiri? Carmilla tak dapat membayangkan betapa kasihannya wanita yang bersama Raymond.
"Permisi nona-nona! Mana ada diriku yang m***m dan c***l, kecuali mereka sendiri yang memintanya, tapi tenanglah, jika dirimu yang memintaku, aku akan melalukannya dengan lembut sampai dirimu benar-benar hamil karena benihku," ucap Raymond melirik nakal pada bagian bawah Carmilla, sekaligus mengedipkan sebelah matanya sebagai sinyal penggoda.
"Menjijikkan!" Di saat yang bersamaan, keduanya kompak membalas perkataan Raymond yang membuat mereka hampir mual, dan respon pria itu hanyalah mengedikkan bahu sebelum dia melajukan motornya kembali dan mengabaikan dua wanita yang terus meneriakinya dengan berbagai umpatan.
....
Maaf dengan segala ke-typo-an jika kalian menemukannya, karena saya benar-benar ngebut ngetiknya dan malas untuk membaca ulang.
Sekian dan terima kasih, see you next chapter.