Carmilla meregangkan otot tubuhnya untuk merasakan kenikmatan setelah beranjak dari ranjangnya, gadis tersebut mengingat bahwa dia ada kampus pada jam 8 pagi.
Carmilla pun harus mendapatkan sederet pertanyaan dari Xander karena pria itu juga mengingat putrinya belum pulang ketika dia berada di rumah setelah lembur bekerja.
"Tidak biasanya dirimu belum pulang sebelum Ayahmu ini berada di rumah, Carmilla."
"Aku pulang tidak lama setelah Ayah tiba di rumah, kata Ibu Ayah sedang istirahat jadi Carmilla tidak berani mengganggu, jadi ... Carmilla langsung ke kamar saja," jawabnya kemudian melahap roti berselaikan cokelat kacang.
"Hm, baiklah, kalau ada apa-apa kabari Ayahmu ini," balas Xander dan Carmilla mengangguk-angguk saja.
Di sela makannya, Carmilla benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan Kyler untuk menghajar pria itu, Carmilla tidak terima dengan perlakuannya semalam dan dia akan membuat Kyler malu di hadapan banyak mahasiswa, agar dia jera dan tidak mengganggu kehidupannya lagi.
"Carmilla, makan sarapanmu, Nak. Tidak perlu melamun," tegur Margaretta dan Carmilla tersadar dan mengucapkan, "Maaf, Mom."
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Xander.
"Tidak, Ayah. Aku hanya melamunkan pria tampan, dinikahi olehnya dan diberkahi beberapa anak yang lucu dan pintar," jawab Carmilla.
"Suruh saja Kyler menikahimu, dengan itu, kau tidak perlu berhalusinasi karena Ayah khawatir kalau dirimu bisa gila sewaktu-waktu," balas sang ayah dan Carnilla merengek cemberut.
"Ayah tidak perlu khawatir, putrimu ini jelas-jelas pintar dan tidak akan gila hanya karena berimajinasi, bukan berhalusinasi layaknya orang gila," balas Carmilla dan Xander melanjutkan makanannya dan itu membuat Carmilla sedikit sebal, walau beberap detik kemudian, dia kembali sayang kepada ayahnya lagi.
"Okay, Mom, Dad. Carmilla berangkat dulu ke kampus, dan Ayah, berhati-hatilah ketika ingin bekerja," pamit Carmilla lalu mengecup pipi ayahnya, kemudian ke Margaretta.
"Seharusnya Ayah yang berkata seperti itu terlebih dahulu, Nak."
"Tidak apa-apa, kalau begitu Carmilla duluan!" teriak Carmilla kemudian meninggalkan mereka yang masih mengunyah sarapan paginya.
Carmilla telah sampai di universitasnya, dia tampak berbeda ketika di pandangi oleh banyak mahasiswa, karena dari kemarin-kemarin, wanita itu akan bersama Kyler walau mereka masuk di jam yang berbeda. Namun, kali ini tidak sama sekali.
"Hai, Carmilla, ke mana Kyler-mu?" tanya seorang mahasiswi menanyakan pria itu dan Carmilla mengedikkan bahunya, menjawab tidak tahu membuat orang tersebut semakin keheranan.
"Mengapa?"
Carmilla mendekati wanita tersebut kemudian membisiknya, "Hubungan kami sudah berakhir, kalau begitu, aku lebih dulu, semoga harimu menyenangkan hari ini, sampai jumpa!" balas Carmilla dengan yang riang, membuat rasa heran wanita itu berkali lipat lagi.
"Ada apa denganmu, Carmilla? Kau tampak lain, orang yang putus cinta biasanya menunjukkan kesedihan tapi tidak dengan dirimu," gumamnya kemudian berlalu, walau sejujurnya wanita itu syok dengan kabar hubungan Kyler dan Carmilla di pagi ini, tapi dia beruntung, bahwa wanita itu merupakan yang pertama mengetahui retaknya hati Carmilla.
"Hai, Chloe," sapa Carmilla dan duduk di samping temannya yang asyik membaca sebuah novel.
"Kau mengganggu sesi bacaanku," sebal Chloe.
"Chloe, semalam aku membutuhkan bantuanmu dan mengapa ponselmu tidak aktif?" tanya Carmilla dan menarik novel Chloe agar wanita ini fokus pada pertanyaannya.
"Ada dua hal, ponselku lowbet atau aku sengaja mematikannya karena ingin tidur, kau tahu bukan kalau aku paling tidak suka mimpi indahku terganggu? Kuharap kau sudah mengerti itu, Nyonya Brigitta," jawab Chloe dan Carmilla mengembuskan napas sebalnya.
"Hei, semalam aku berada di situasi yang buruk, sampai-sampai diriku meneleponmu berulangkali, jika aku tidak lolos dari kejaran beberapa pria, kemungkinan dirimu sudah tidak bisa melihatku untuk selamanya," balas Carmilla dan Chloe merotasikan bola matanya.
"Kau terlalu berlebihan, memangnya apa yang menimpamu?"
"Kyler menjualku ke pria asing di club malam, dan kau tidak tahu betapa berusahanya diriku lari dari kejaran mereka hingga berakhir di rumah seorang pria asing yang tidak kukenal, hanya nekatkulah yang menyelamatkanku semalam," jawab Carmilla dan Chloe membulatkan mata dan berteriak, "Apa?! Kenapa Kyler setega itu?"
"Sekarang siapa yang berlebihan?" tanya Carmila dengan picingan matanya, membuat Chloe cengengesan.
"Ayo jawab pertanyaanku, Carmilla."
Carmilla mendengus, sekarang ... Chloe-lah yang menjadi heboh.
"Aku pun tidak tahu alasan yang sebenarnya, tapi untuk tebakanku, Kyler membutuhkan uang."
"Hm, kita harus cari tahu, mengapa dia membutuhkan uang?" gumam Chloe tiba-tiba dan langsung mendapatkan tepukan dari Carmilla di dahi gadis tersebut.
"Hei, sakit tahu!"
"Terima kasih banyak, Chloe! Yah, sebelum aku mengeksekusinya, aku akan bertanya untuk apa uang itu sehingga dia sangat membutuhkannya, benar bukan?"
"Tentu saja, tetapi ... kenapa tidak kau eksekusi saja terlebih dahulu? Menurutku, melimpahkan segala kekesalan kita terhadap pria semacam Kyler, sepertinya hal yang pantas, mengingat perlakuannya yang juga membuatku marah karena telah membuat temanku ini seperti seorang kupu-kupu malam," jelas Chloe dan Carmilla menerima pendapatnya, tetapi tidak untuk kupu-kupu malam itu.
"Baiklah, sekarang hubungi Kyler, Chloe, tanya dia apakah kita bisa bertemu? Tapi jangan sebutkan namaku agar dia hanya mengira dirimulah yang membutuhkannya, dan ketika dia setuju aku akan datang secara tiba-tiba untuk mengejutkannya," balas Carmilla dan Chloe setuju.
"Baiklah, aku akan menolongmu walau diriku yang menjadi umpan, sialan sekali," decak Chloe dan Carmilla memeluk temannya.
Chloe pun memulai apa yang dipinta Carmilla, menghubungi Kyler yang beruntungnya menjawab teleponnya.
Chloe pun berhasil membuat perjanjian di taman kamlus dan Carmilla ingin sekali menjerit karena Kyler menerima ajakan temannya ini, padahal dia heran, kenapa bisa? Chloe adalah wanita yang memiliki tampilan seperti preman, entahlah ... apa yang terjadi kepada Kyler.
"Sepertinya selera Kyler menjadi turun karena menerima ajakanmu," celetuk Carmilla dan Chloe menatapnya kesal.
"Baiklah, akan kubatalkan!"
"Jangan!"
"Hm, ternyata takut juga, jangan macam-macam makanya," balas Chloe dan Carmilla kapok untuk tidak melakukannya lagi.
Sesuai perjanjian, Chloe dan Kyler telah bertemu setelah mata kuliah pertama mereka selesai.
"Untuk apa kau mencariku, Chloe?" tanya Kyler.
"Aku hanya ingin bertanya, apa kau melihat Carmilla? Hari ini dia tidak datang ke kelas dan aku menghubunginya berulangkali, ditelepon ketiga dia mengangkatnya tapi aku mendengar suara jeritan yang keras, membuatku sangat khawatir apa yang terjadi pada gadis itu, sebagai kekasih, apa kau tahu bagaimana keadaannya?" tanya Chloe, Carmilla yang bersembunyi di balik kursi tempat mereka berbincang, ingin sekali memukuli mulut Chloe yang asal membuat cerita karangan.
"Chloe sialan, kenapa dia membuat cerita buruk seperti itu?" batin Carmilla gemas, ingin menelintir bibir tebal milik temannya ini.
Mendengar penjelasan Chloe membuat Kyler sedikit kalang kabut.
"Carmilla menjerit? Apa yang mereka lakukan? Aku tidak tahu jika akan separah itu, walau memang rata-rata, mereka yang akan dipuaskan, biasanya berlaku kasar saat bercinta," batin Kyler.
"Kyler, kenapa diam saja?"
"A-aku tidak tahu, tapi yang pasti aku akan mencarinya dan membunuh siapa orang yang menyakiti Carmilla," jawab Kyler.
Di belakang mereka, Carmilla berlagak muntah karena merasa bahwa Kyler telah berbohong, bagaimana dengan Chloe? Wanita itu lebih parah, karena ingin menggunting lidah Kyler yang pandai mencari alasan, padahal dia sudah tahu bahwa itu adalah kedustaan.