"Pulang dengan penampilan kacau dan tidak memakai alas kaki, apa yang terjadi padamu, Nak?" Margaretta, ibu Carmilla sedikit khawatir kepada putrinya, dia takut jika ada yang tidak beres, dan ... ke mana Kyler? Biasanya dia akan pamit sebelum pria itu pulang.
"Maaf, Mom. Semuanya karena Kyler, ceritanya panjang sekali hingga diriku bertemu dengan pria baik yang bernama Austin Blade," jawab Carmilla. Dengan dugaan yang benar, Margaretta menarik tangan Carmilla untuk menuju kursi ruang tamu, sebagai ibu dia tentu panik, segeralah Margaretta memeriksa keadaan tubuh dari Carmilla, di mana sang ibu tersebut melihat pergelangan putrinya yang sedikit memar.
"Kenapa ini? Apa yang terjadi sebenarnya? Aku adalah Ibumu, jangan menutupi sedikit pun Carmilla," ucap Margaretta yang ingin menangis, hati lembutnya seringkali membuat Carmilla ikut rapuh, bahkan ayahnya saja tidak tega membuat ibunya sedih.
"Kyler menjualku di club malam, Mom, meninggalkanku tanpa adanya rasa kasihan sedikit pun, bahkan mengucapkan maaf, dirinya sampai tersenyum dan aku sudah yakin di situlah hubungan kami berakhir. Namun, aku tentu melawan empat pria seorang diri untuk kabur dari tempat itu dan berakhir di rumah Austin yang merupakan orang asing, aku bersyukur jika dia ingin membantuku walau awalnya aku tidak yakin jika dia akan meminta imbalan setelah menolongku, tapi ... aku salah sangka, dia memang pria yang baik bahkan sampai-sampai mengantarku untuk pulang secara gratis," balas Carmilla menyeritakan segalanya, dia tidak mungkin membohongi ibunya yang telah membesarkannya dengan tulus.
Margaretta memang menyayangi putrinya, jika Carmilla ditanya, apakah ibumu pernah berperilaku kasar? Maka Carmilla akan menjawab: tidak! Tidak sama sekali, karena Margaretta adalah seorang yang penyayang, jika dia ingin memukul Carmilla, maka Margarettalah yang duluan menangis karena merasa tidak tega.
"Aku bersyukur sekali, lalu ... ke mana pria yang menolongmu itu? Ibu ingin berterima kasih, Carmilla," tanya Margaretta.
"Dia sudah, Mom. Tapi tenang saja, aku akan menyampaikan salammu."
"Nak, tetap ingatlah untuk selalu berwaspada, orang yang kamu cintai saja sebelumnya, tega melakukan itu, kemungkinan besar ... teman barumu itu juga bisa melakukan kejahatan walau belum terlihat," pesan Margaretta dan Carmilla paham akan hal itu.
"Tentu saja, Mom. Masa lalu adalah pelajaran bagiku, aku akan lebih berhati-hati kali ini," balas Carmilla.
"Carmilla segeralah ke kamar, mumpung ayahmu beristirahat sebentar di kamar karena dirinya baru pulang bekerja, jika dia melihat keadaanmu dan mengetahui apa yang terjadi, Ibu tidak yakin jika dia tidak akan membunuh Kyler," suruh Margaret dan Carmilla segera melaksanakannya agar tidak melihat kengerian sang ayah ketika marah.
"Baiklah, Mom, aku ke kamar dulu."
Margaret, merupakan pasangan dari Alexander Brigitta, Alex ataupun Xander, merupakan pengusaha dan dosen di universitas ternama, latar belakang keluarganya juga lumayan mumpuni dari segi ekonomi, akan tetapi ... Xander merupakan pria mandiri karena di usia 18 tahun, memang orang tua sudah membebaskan anaknya untuk menentukan pilihan, di mana pilihan Xander memilih untuk berpisah tempat dan mencari pekerjaan baru yang berupa pengusaha kecil-kecilan, usaha yang didirakannya adalah sebuah restoran sederhana yang membuahkan hasil, dari mengontrak rumah hingga dapat membeli rumah yang baru serta membiayai kuliahnya sendiri hingga lulus dan menjadi dosen, lalu menikahi Margaretta lalu memiliki seorang putri tunggal bernama Carmilla Brigitta.
Di tempat lain, terdapat seorang pria yang baru saja sampai di rumahnya dengan wajah yang sumringah, uang yang dia dapatkan dari pria di club tadi lumayan banyak setelah menjual mantan kekasihnya sendiri, yaitu Carmilla.
Kyler sangat membutuhkan uang agar dapat melunasi hutangnya setelah melakukan taruhan bersama teman-temannya pada saat bermain Sky, di mana pemenangnya akan dibayar sesuai dengan yang dijanjikan, jika tidak mampu membayar, maka ada hukuman yang harus dibayar, yaitu: Kyler siap memberikan kekasihnya kepada sahabatnya sendiri. Kyler tentu tidak mau, lebih baik dia menjual Carmilla kepada orang lain di banding sahabatnya yang bernama Raymond, karena tidak akan sanggup jika melihat Raymond mencumbu Carmilla, bisa-bisa dia membunuh pria itu.
Kyler sadar bahwa dia adalah pria b******n. Namun ketahuilah bahwa dia juga menyesal karena mengikuti taruhan tersebut lantaran gengsi akan teman-temannya yang akan meledek bahwa dia pria pengecut yang tak punya nyali seperti pria semestinya.
"Carmilla, maafkan aku, aku akan membayar semua kesalahanku, aku benar-benar ceroboh dalam bertindak, senyumku tadi hanyalah topeng untuk menutupi kesedihanku, baby. Senyumku membawa luka untukmu," sesal Kyler.
Uang yang dia dapatkan, diletakkan begitu saja di atas meja, Kyler ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu, dengan memejamkan mata sembari mengembuskan napas berkali-kali.
Kyler kini tersadar oleh dering ponselnya yang nyaring, dia melihat nama Raymond tertera di sana, sontak tangannya mengepal kuat karena rasa ingin menghabisi pria itu benar-benar memekat.
"Tenanglah, Kyler. Dia sahabatmu, ayo ... tenangkan dirimu dan perlahan angkatlah teleponnya," gumam Kyler meredakan emosinya.
Hallo brother, bagaimana dengan kesepakatannya? Kau sudah menyiapkan uang untukku bukan? (tanya Raymond, kemudian diiringi dengan gelak tawanya)
Sementara Kyler mendengar tawa teman-temannya pula di seberang telepon yang artinya, Raymond tak sendirian di sana.
Tenang saja, semuanya telah kupersiapkan (jawab Kyler, lalu melanjutkan kalimatnya di dalam batin bahwa: aku juga telah memersiapkan kematianmu, sialan!)
Bagus sekali, kalau boleh sertakan pula dengan Carmilla, ambil saja uang itu karena diriku sudah kaya, brother, aku hanya membutuhkan kekasihmu itu, benar tidak? (Raymond bertanya pada teman-temannya yang lain, dan mereka menjawab dengan seruan: yah, tentu saja! Ha ha ha)
Sesuai kesepakatan sebelumnya Raymond, jangan memancingku. (Kyler membalas pelan, tapi artinya begitu dalam di balik kalimatnya itu, bahwa dia sedang merencanakan sesuatu, karena dia sudah menahan emosinya yang sudah berada di ujung tanduk, bahkan giginya pun bergemeletuk dengan rahang yang mengetat keras, menunjukkan emosinya yang sulit untuk dikontrol lagi)
Ha ha ha, aku hanya bercanda, brother, kalau begitu, aku menunggumu. (Raymond pun menutup panggilan)
Pikiran dan hati Kyler sudah menggelap, seharusnya Raymond sebagai sahabatnya tidak perlu memberikan syarat dari taruhan mereka seberat itu, dan Raymond meminta dirinya agar putus dari Carmilla tanpa merasa bersalah sedikit pun, dan sekarang ... Kyler menyesalinya, jika dia memang ingin membunuh pria itu, dirinya tidak perlu menjual Carmilla, cukup membohongi Raymond dan lakukan tugas tersebut.
"k*****t! sudah terlambat dan Raymond harus menanggung semuanya, akan kubuat kau menderita sebelum nyawamu benar-benar di ujung tenggorokan, pria sialan, aku takkan menarik kata-kataku, untuk malam ini nikmati pestamu bersama mereka. Namun, jangan lupakan diriku yang akan datang sebagai malaikat pencabut nyawamu, Raymod Stealer."