Kinan tidak tahu akan sampai mana mampu bertahan. Karena semenjak kehamilannya menginjak usia enam bulan, Kinan masih saja tenggelam dalam kesedihan mengingat Kanu. Ia tidak mampu menahan airmatanya ketika Bara pergi bekerja, dan ia memilih mengurung diri di kamar yang dulu Kanu gunakan. Selalu begitu ketika Kinan tidak didampingi. Dan saat Bara pulang, Kinan akan berpura-pura baik-baik saja. Kinan tidak ingin jika Bara mengetahui dirinya selalu berada di kamar Kanu, bukannya istirahat, malah menambah beban pikiran kesedihan pada bayinya. "Kamu sakit?" Bara selalu mencemaskan Kinan. Dia tidak pernah absen untuk mengecek keadaan Kinan dan bayinya. Bara tidak bodoh, bahwa Kinan stres. Bobot tubuh Kinan malah terhitung turun, jika dibanding wanita hamil lainnya. Mungkin bisa diibaratkan se

