4. Debora

1000 Words
Bab 4 Sisilia terlihat kebingungan dengan wajah panik yang tidak bisa ditutupi ketika tiba di depan halaman rumahnya, namun tidak menemukan keberadaan motornya sama sekali. "Motor saya di mana? Kenapa motor saya nggak ada di sini?" Sisilia langsung berteriak panik, membuat beberapa penghuni kos yang sudah pulang langsung keluar dari tempat mereka masing-masing. "Bu Sisil cari apa? Motor Ibu bukannya ada di garasi? Tadi aku lihat Bu Sisil yang masukinnya sendiri." Salah satu penghuni kos bernama Ibrahim langsung berkata pada Sisilia, membuat perempuan cantik itu menepuk dahinya pelan. "Aduh, sorry banget, maklum Ibu lagi panik kayak gini makanya nggak bisa mencerna." Sisilia kembali masuk ke dalam rumahnya dengan kepala yang sudah tertutup helm. Tak lama kemudian ia keluar sambil membawa kunci rumah dan juga kunci motor yang sudah ada di tangannya. "Bu Sisil kenapa? Kenapa kelihatan panik seperti itu?" Sosok Novia melangkah mendekati Sisilia yang terlihat gemetaran saat mengunci pintu rumahnya. Segera perempuan 20 tahun itu membantu Sisilia mengunci pintu rumahnya sendiri. Orang panik memang kadang tidak bisa menggunakan logikanya dengan cermat, pikir Novia di dalam hatinya. "Teman ibu baru saja telepon katanya dia baru menabrak orang. Makanya ibu harus cepat pergi ke sana buat memastikan dia masih hidup apa enggak," sahut Sisilia. Debora memang selalu saja mengantarkan masalah padanya hingga membuatnya terkadang jika Debora selama satu minggu tidak membuat masalah rasanya aneh sekali. Minggu lalu tidak sengaja menabrak kucing, membuat Debora akhirnya membeli sebuah tempat pemakaman hewan, dan mengubur kucing tersebut. Kemudian, tanah yang ia beli dihibahkan untuk hewan-hewan yang meninggal dunia dan dikuburkan di sana. Jadi, setidaknya Debora sudah membeli tempat pemakaman hewan yang bersertifikat sebagai bentuk permintaan maaf dan juga rasa bersalahnya atas keteledorannya menabrak kucing. Minggu ini justru kejutan tidak terduga datang lagi dengan sahabatnya itu menghubunginya dan mengatakan jika dia menabrak. Pasti menabrak orang, pikir Sisilia di dalam hatinya. "Ooh!" Semua yang berada di halaman rumah Sisilia langsung berguma ria ketika mengetahui alasan mengapa Sisilia terlihat panik. Sisilia baru saja akan melangkah ke garasi mini yang berada di halaman samping rumahnya, ketika sosok David muncul. "Mbak, Mbak kelihatannya panik sekali. Bagaimana kalau aku mengantar Mbak ke tempat tujuan? Takutnya Mbak justru mengalami hal yang nggak terduga, kalau bawa motor dalam keadaan panik seperti ini," ucap David, ada benarnya juga. "Benar kata Mas David, Bu. Mendingan Bu Sisil diboncengin aja sama Mas David, takutnya ibu kenapa-kenapa," timpal Ibrahim menyetujuinya. "Iya, Mbak. Seperti tadi saja Mbak udah panik mengira motor hilang." Beberapa anak muda menganggukkan kepala mereka, membuat Sisilia akhirnya menganggukkan kepalanya, dan memutuskan untuk diantar oleh David dengan menggunakan Scoopy biru miliknya. Motor kemudian melaju pergi dengan David yang membawanya, sementara Sisilia duduk dengan cemas di belakang. "Debora ini kenapa sering banget buat masalah 'sih? Nggak ada hari tanpa masalah," gumam Sisilia begitu panik. "Namanya juga kehidupan, Mbak. Memang banyak masalahnya." Terdengar sahutan dari depan. "Ini jalannya belok ke mana? Kanan atau kiri?" "Ke kiri, dekat bundaran masjid, Debora ada di sana," jawab Sisilia cepat. Segera motor melaju mengikuti arah yang ditunjuk oleh Sisilia sampai akhirnya mereka melihat sebuah mobil sport berwarna merah terparkir dengan beberapa orang yang sedang menonton. Tepat pada saat motor berhenti, Sisilia langsung turun dari motor dan bergegas menghampiri Debora yang saat ini sedang berdiri, mengenakan celana jeans panjang, yang dipadupadankan dengan baju kaos lengan pendek. Terlihat sekali sahabatnya ini asyik mengobrol dengan beberapa bapak-bapak yang ada di dekatnya. Terlihat akrab, sampai-sampai Debora bahkan tertawa sambil memegang perutnya. Jantung Sisilia yang rasanya ingin copot sejak tadi akhirnya sedikit merasa lega melihat sahabatnya bisa tertawa. Tatapannya kemudian tertuju pada darah yang berceceran di aspal, kemudian ia menghampiri Debora dan memukul pelan pundaknya dari belakang, membuat si empunya menoleh. "Kamu udah sampai? Naik apa tadi?" Debora bertanya dengan tenang, membuat Sisilia mendengus. "Kamu nggak usah bahas aku dulu. Tadi siapa yang kamu tabrak?" Sisilia menatap sahabatnya itu dari atas sampai bawah, memastikan jika sahabatnya tidak mengalami luka apapun. "Oh, tadi aku buat menghindar dari anak-anak yang main sepeda, nggak sengaja menabrak Sinta sampai mati. Untungnya warga di sini langsung menolong." Debora menjelaskan dengan santai. "Sinta? Kok, nggak ada polisi di sini? Terus ke mana mayatnya?" tanya Sisilia panik. Ekspresi wajahnya langsung tegang dengan wajah pucat yang terlihat. Debora tersenyum. "Udah langsung dikubur. Tadi aku udah bilang sama pemiliknya dan udah bayar ganti rugi juga." "Hah?" Sisilia tercengang tidak percaya. "Bisa secepat itu? Kok?" "Sinta yang dimaksud itu ayam punya tetangga di sini, Mbak. Memang namanya Sinta. Tadi memang langsung dikuburin. Soalnya kalau mau dibuang ke tempat sampah, takut aromanya bakalan tersebar," celetuk seorang bapak-bapak pada Sisilia. Pria paruh baya itu tidak lupa untuk menutup mulutnya dengan telapak tangan sambil tertawa, karena mungkin perempuan muda yang baru turun dari motor ini sepertinya salah paham. Tubuh Sisilia yang sejak tadi tegang akhirnya melunak dengan sendirinya saat tahu jika yang ditabrak oleh sahabatnya adalah seekor ayam, bukan manusia. Tinju kecil Sisilia langsung melayang ke pundak sahabatnya hingga membuat si empunya meringis. "Kamu kenapa bikin aku panik aja, Bora? Kenapa nggak bilang dari tadi kalau kamu nabraknya ayam bukan manusia?" Rasanya Sisilia ingin berteriak pada sahabatnya, untuk tidak mempermainkannya, namun Debora memiliki alibinya sendiri. "Siapa suruh kamu langsung tutup telepon, padahal aku belum selesai bicara." Memang salahnya, batin Sisilia mengangguk setuju. Namun, tetap saja Debora memang selalu membuatnya mengalami sport jantung. "Eh?" Tatapan Debora kemudian tertuju pada sosok laki-laki yang mengikuti Sisilia dari belakang, kemudian menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala sebelum akhirnya ia beralih menatap sahabatnya. "Ini siapa, Sil? Gebetan kamu? Kayaknya jauh lebih muda dari kamu. Kamu udah memutuskan untuk move on? Ganteng lagi, ini 100 kali lebih ganteng dari Fahmi si mukanya mirip kuda beranak itu." Segala ocehan Debora langsung keluar begitu saja dari mulutnya, membuat Sisilia mendelik. "Ini anak kost baru di tempat aku, Jangan sembarangan bicara." "Nggak apa-apa dari anak kos dulu, nanti bakalan jadi bapak kos." Debora tersenyum-senyum sendiri. "Lebih ganteng dari Fahmi yang mukanya burik, tapi gayanya melebihi langit." Nah! Salah satu alasan Sisilia bisa menghilangkan sepenuhnya rasa cintanya pada Fahmi, karena mendengar gaya bicara Debora yang menjelek-jelekkan mantan suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD