5. Ada dimana-mana

1029 Words
Bab 5 Masalah Debora sudah selesai kemarin. Baik Debora maupun pemilik ayam itu sama-sama memutuskan untuk berdamai dengan catatan Debora membayar ganti rugi ayam tersebut dengan nominal 500 ribu. Uang sekecil itu tidak masalah bagi seorang Debora. Debora memang terlahir dari keluarga kaya raya, banyak uang, jadi tidak terlalu mempermasalahkannya. Hari ini karena libur, Sisilia tidak perlu bangun pagi-pagi sekali untuk mencari target operasi alias murid yang bersiap untuk membolos. Maka dari itu ketika sudah bangun dari tidur, perempuan cantik itu segera merapikan rumahnya, menyapu dan mengepel. Baru kemudian ia membuat sarapan untuknya. Tidak banyak, hanya satu porsi saja sudah cukup. Siang nanti ia akan memasak lagi, yang akan dimakan dua kali untuk siang dan juga sore. Setelah menyelesaikan pekerjaannya merapikan rumah dan sarapan, Sisilia kemudian melangkah keluar dari rumahnya. Halaman depan rumahnya hanya ditanami sebuah pohon mangga yang untungnya tahun ini sudah mulai berbuah setelah penantiannya beberapa tahun. Sisilia tersenyum di teras rumah dan menatap anak-anak kosan yang sibuk merapikan tempat tinggal mereka masing-masing. Sisilia sudah menekankan pada mereka jika mereka harus bersih dan rapi, tidak boleh jorok. 10 hari sekali perempuan cantik itu akan mengecek kamar masing-masing anak kosnya, memastikan jika tidak ada sampah menumpuk. Sisilia tidak ingin kalau sampai ada salah satu anak kosnya yang mengalami hoarding disorder karena tidak hanya akan merugikan sang pemilik kos, tapi juga penyewanya. Ini adalah kesepakatan yang mereka buat sebelum serah terima kunci kosan. Mengedarkan pandangannya ke sekitar, Sisilia dapat melihat salah satu anak kosnya yang sedang menyapu halaman depan rumahnya dan membersihkan daun-daun yang berada di bawah pohon. Perempuan cantik itu berdecak sambil tersenyum. "Semoga jodohnya Andita nanti bule ganteng yang sayang dengan dia." Sisilia berkata seraya menghampiri sosok perempuan cantik bernama Andita yang sedang menyapu. Pemilik nama menoleh dan tersenyum. "Amin dan terima kasih doanya, Mbak Sisil." "Beruntung banget suami kamu nanti karena dapat istri yang rajin seperti kamu." Andita tersenyum malu-malu. "Mbak Sisil bisa aja." Sisilia tersenyum simpul. "Ya udah kalau begitu Mbak mau ke toko sebentar. Kamu yang rajin beres-beresnya, biar dapat bule ganteng," timpal Sisilia, membuat Andita tertawa pelan. Andita memang selalu ringan tangan dan tidak sungkan untuk membantunya dalam menyapu halaman depan rumahnya. Sisilia sendiri tidak pernah menyindir ataupun meminta tolong pada mereka, namun terkadang anak-anak kosnya seringkali melakukan hal yang tidak pernah dimintainya. Mereka beralasan jika sebagai pemilik kosan, Sisilia memperlakukan mereka dengan sangat baik. Bahkan, pernah ada anak kosan yang menunggak 3 bulan karena belum mendapat kiriman dari kedua orang tuanya, tidak ditagih oleh Sisilia karena ia cukup memahami kesulitan orang lain. Perempuan itu segera menyeberang jalan mendatangi toko minimarket miliknya yang sudah beroperasi sejak beberapa waktu yang lalu. Ini adalah toko tersibuk karena meskipun hari masih pagi, namun sudah banyak pelanggan yang datang. Sisilia membuka pintu kaca dan masuk ke dalam, melihat kasir yang sibuk, perempuan itu sekali lagi tersenyum. Sisilia mengedarkan pandangan ke sekitar dan menatap banyak pengunjung yang sedang memilih produk mereka. Perempuan cantik itu kemudian berniat untuk membeli Snack yang akan ia berikan pada Andita karena sudah membantunya. Menyusuri lorong rak sambil menenteng keranjang, perempuan itu memilih beberapa snack yang ia tahu jika Andita menyukainya, kemudian memasukkannya ke dalam keranjang. Saat sedang memilih snack yang akan ia bawa pulang juga, tiba-tiba tatapan Sisilia tak sengaja tertuju pada sosok yang saat ini sedang mendisplay barang. "Lho? David?" Sisilia terkejut, menyebutkan nama hingga sang pemilik nama menolehkan kepala dan melemparkan senyumnya. "Mbak Sisil belanja juga?" Segera David menghampiri Sisilia, bertanya pada perempuan yang sedikit lebih pendek darinya. "Iya, nih." Sisilia menatap David dari ujung kaki sampai ujung kepala yang mengenakan seragam khas tokonya. "Kamu pakai seragam ini, berarti kamu udah kerja di toko ini juga? Lho, sejak kapan?" Sisilia bertanya dengan nada heran karena ia tidak tahu jika David yang katanya akan mengajar di sekolahnya juga kini bekerja sebagai pramuniaga. David terlihat tersenyum. "Iya, Mbak. Aku kerja di sini juga buat tambah-tambahan. Mbak ada butuh sesuatu? Biar sekalian aku bantu cari." Sisilia menelan ludahnya, terutama melihat wajah tampan David, membuatnya mulai berpikir siapa jodoh yang cocok untuk David ini. Pasti perempuan yang akan dinikahinya cantik sekali, pikir batinnya. "Oh, nggak perlu. Nanti saya akan cari sendiri," jawab Sisilia, dengan tenang. Perempuan itu melanjutkan mencari beberapa snack favoritnya dan memasukkan ke dalam keranjang yang mungkin nanti akan dipisahkan dengan apa yang akan diberikannya pada Andita. "Mbak mau aku bantu buat bawa pulang ke rumah barang-barang Mbak?" "Ehh?" Sisilia spontan menolehkan kepalanya saat mendengar suara lembut dari samping, dengan ekspresi terkejut tidak menyadari jika sejak tadi ternyata David mengikutinya. "Nggak usah. Bawa kayak gini enteng banget. Saya juga lagi belum mau pulang, mau ketemu dengan Pak Rully dulu." Sisilia berlalu pergi menuju kasir, meletakkan keranjangnya dan menatap kasir yang tampak sibuk. "Mbak Sisil mau tanya apa? Siapa tahu aku bisa jawab," tegur David lagi. Sisilia sekali lagi memutar tubuhnya dan tepat pada saat itu tatapan matanya langsung bertemu pandang dengan manik mata teduh milik David yang jaraknya begitu dekat dengannya. Spontan perempuan itu mundur, membuat David juga mundur selangkah karena posisinya memang sangat dekat dengan posisi atasannya. "Nyari Pak Rully. Dimana dia? Kok, nggak ada?" "Oh, Pak Rully ada di belakang. Lagi mengurus barang-barang yang baru turun tadi. Ayo, Mbak, aku bawa ketemu dengan Pak Rully." Belum juga Sisilia menjawab, tangannya sudah lebih dulu ditarik oleh David, meninggalkan area kasir yang masih banyak antrian. Kasir yang bertugas sudah tahu ada barang belanjaannya, jadi tidak perlu bertanya lagi. Sisilia mengikuti langkah David dengan kernyitan di dahinya, namun anehnya ia tidak bisa protes ketika tangannya ditarik begitu saja masuk ke dalam area belakang yang terlihat luas dengan gudang yang menumpuk barang-barang. Pak Rully yang saat ini sedang berada di atas tangga sedang menata barang-barang, sementara di bawahnya ada dua karyawan laki-laki yang melempar dus enteng ke atas. "Pak Rully, manjat aja, kayak monkey. Nggak takut jatuh?" Suara Sisilia terdengar menggema di dalam ruangan tersebut, sambil melepaskan tangannya dan menghampiri Pak Rully yang langsung menunduk menatap bosnya. "Nggak takut, Bu. Anggap aja lagi olahraga, biar istri saya nggak kecantol dengan perempuan lain," balas Pak Rully, membuat Sisilia langsung memasang wajah cemberut. Pasalnya, dirinya yang merupakan seorang janda 100 hari sudah diketahui oleh banyak orang dan setiap kali ia mengejek orang, mereka tidak sungkan untuk membalas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD