Bab 6. Senin

1036 Words
Bab 6 "Bagas!" "Bagas!" "Bagas buka pintunya, woy!" "Kalau kamu nggak buka juga, Ibu bakalan telepon damkar, biar bantuin kamu buka pintu sekalian!" "Bagaskara!" "Jalendra!" Sebagian para penghuni kos yang mendengar suara pemilik dari kos-kosan itu sudah terbiasa. Bagaimana tidak? Seperti sudah menjadi alarm rutin, jika pagi-pagi sang pemilik kos akan berteriak di depan sebuah pintu kamar salah satu penghuninya. Lokasinya masih berada di lantai bawah, yang memang sudah sangat terkenal pemalas dan tidak pernah bangun tepat waktu. Jika tidak dibangunkan seperti itu, bisa-bisa pemuda bernama Bagaskara Jalendra itu tidak akan bangun sampai jam 3 sore nanti. Sementara dia harus berangkat sekolah. "Bagas, kalau kamu nggak bangun-bangun juga, Ibu bakalan telepon mama kamu biar mama kamu sekalian yang ngomelin kamu!" Perempuan cantik itu langsung menolehkan kepalanya ke samping, saat mendengar suara pintu terbuka. Bukan pula Bagas yang keluar, melainkan sosok Novia dengan mulut menguap lebar, tanpa ditutup sama sekali. "Novia, itu mulut bukanya nggak usah lebar-lebar banget. Bisa mati mendadak laler di sekitar kamu," tegur Sisilia masih sempat-sempatnya. Segera Novia menutup mulutnya dengan mata sedikit membelalak, lalu menolehkan kepalanya menatap Sisilia yang berada di pintu sebelahnya. "Bagas masih belum bangun juga, Bu? Sini biar aku bantu bangunin." Novia segera mendekati pintu Bagaskara, kemudian menggedornya dengan kekuatan penuh, membuat Sisilia langsung mundur dua langkah ke belakang, karena suara gedoran yang menyakitkan telinganya. Dirinya saja tidak mau gedor-gedor pintu di depannya karena ia merasa suaranya saja sudah cukup untuk mengganggu. Ini bukan lagi suara ketukan tapi sudah suara gedoran yang jika dilakukan 1 jam lebih, bisa dipastikan pintu ini akan jebol. "Bagaskara! Buka pintunya sekarang juga! Kalau kamu nggak mau buka pintunya sekarang juga, Mbak akan dobrak pintunya!" teriak Novia. "Bagas! Kamu itu tidur apa simulasi mati?" Mungkin suara gedoran pintu dan juga suara teriakan Novia berhasil membangunkan Bagaskara dengan terbukti pintu akhirnya terbuka dan menampilkan sosok pemuda 17 tahun itu dengan rambut acak-acakan, hanya mengenakan celana pendek, dan wajah ciri khas baru bangun tidur terpampang nyata di hadapan kedua perempuan dengan perbedaan usia itu. "Hii, bau banget sih kamu. Udah kayak betina baru berhubungan dengan jantan aja," sungut Novia, sambil menutup hidungnya. "Mbak aja yang baru bangun tidur, tetap cantik dan paripurna, juga wangi sepanjang masa." Bagaskara yang baru saja membuka matanya, langsung menguap dengan mulut tanpa ditutup, membuat Novia spontan mundur lagi, menjauh dari hama mulut Bagas yang memang menurutnya agak bau. "Cakep-cakep tapi bau, jorok lagi. Siapa perempuan yang mau sama kamu, astaga Bagas!" Novia melemparkan tatapannya pada Sisilia yang berada di dekatnya. Ditatapnya iba pada pemilik kos. "Kasihan sama Bu Sisil, pasti menderita setiap pagi karena bangunin Bagaskara yang baunya kayak bau bangkai," ceplosnya. "Hahhh!" Bukannya merasa tersinggung dengan ucapan tetangga kosannya, Bagaskara justru menjadi-jadi dengan membuka mulutnya lebar dan meniupnya ke arah Novia, membuat perempuan 20 tahun itu langsung berteriak. "Bagaskara, anak setan!" Ini sudah merupakan pemandangan rutin yang sering terjadi di kos-kosan tersebut oleh para penghuninya. Hanya untuk membangunkan satu manusia, terkadang para tetangganya harus direpotkan. Sisilia yang melihat pemandangan di hadapannya berdecak. "Bagas, mandi sana. Sebentar lagi udah mau berangkat sekolah. Ibu nggak mau kalau melihat kamu terlambat datang ke sekolah." Sisilia berkata pada Bagas, kemudian memutar tubuhnya untuk kembali ke rumahnya. Perempuan cantik itu bersiap untuk berangkat ke sekolah karena hari ini adalah hari Senin dan Sisilia memiliki banyak tugas di pagi-pagi hari seperti ini. Seperti menjaring siswa-siswi yang terlambat datang ke sekolah, mencari siswa-siswi yang bolos, dan lain sebagainya. Sisilia melewati sosok pemuda yang sepertinya juga sudah sangat siap untuk berangkat ke sekolah dengan seragam yang dikenakan olehnya. "Mulai hari ini mengajar?" Sisilia bertanya berbasa-basi pada sosok David yang baru membuka pintunya, membuat si empunya menganggukkan kepalanya sambil melempar senyum manis dan mempesona. "Iya, Mbak. Pagi-pagi memang harus semangat karena hari ini pertama kali aku kerja," balasnya dengan suara lembut. "Mbak juga ke sekolah nanti?" Sisilia menganggukkan kepalanya sebagai respon. "Hari ini Senin, banyak tugas yang mau dijalankan," jelas perempuan cantik itu. "Kalau begitu, saya mau balik ke rumah dulu." Sisilia menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi melewati David, membuat pemuda itu memejamkan matanya ketika mencium aroma wangi sampo dan sabun Sisilia ketika melewatinya. "Ah, harumnya," gumamnya. _____ Sisilia berlari, menyusuri jalanan belakang yang tampak ramai. Kebetulan sekolah tempatnya bekerja di belakangnya merupakan sebuah jalanan yang memang ramai penduduk. Tujuan perempuan itu berlari karena mengejar 3 anak laki-laki yang saat ini membolos dari upacara. Mereka tadi sudah sempat melarikan diri ketika berhasil ditangkap oleh anak osis, namun saat mereka diam-diam melompat lagi pagar belakang yang untungnya berhasil ditemui oleh Sisilia. Beruntung perempuan cantik itu mengenakan celana sehingga gerakannya jauh lebih efisien, dan harus berlari dengan kencang mengejar mereka bertiga. "Aduh! Bu Sisil kayaknya nggak akan pernah berhenti sebelum berhasil mendapatkan kita. Apa kita nyerah aja?" Salah seorang anak laki-laki berhenti, dengan tubuh membungkuk memegang lututnya. Napasnya tersengal karena mereka berlari tanpa jeda, meninggalkan motor mereka yang sudah dipersiapkan untuk kabur. "Hoh! Hoh! Sebenarnya Bu Sisil jangan-jangan mantan atlet lari lagi. Larinya kencang sekali, mana kita nggak bakalan bisa kabur lagi," sahut temannya. Kepalanya menoleh ke belakang dan membelalakkan mata ketika melihat jarak antara guru BK mereka dengan mereka sudah terlalu dekat. Satu temannya yang lain menatap ke arah dua orang yang sudah mulai menyerah di tengah jalan. "Lo pada yakin kalau mau menyerah? Kayaknya kita memang hari ini nggak bakalan selamat," timpalnya, terdengar sangat pasrah. Mau berlari sekencang apapun, nyatanya guru mereka berhasil menemukan keberadaan mereka. "Gue nyerah." "Hah, baguslah kalau kalian bertiga menyerah. Ibu nggak perlu lagi adu otot dengan kalian. Duh, kalian bertiga ini benar-benar buat repot aja." Pamela yang sudah berada di belakang mereka meletakkan kedua tangannya di pinggang sambil mengatur napasnya. "Perpustakaan saat ini lagi berantakan. Tugas kalian merapikannya. Untuk guru mata pelajaran yang masuk ke kelas kalian, biar ibu yang bicara." Tiga pasang mata langsung memutar tubuh mereka menatap Pamela. Jelas ada protes yang terlihat dari raut wajah mereka, tidak terima jika mendapatkan hukuman untuk merapikan perpustakaan. Jika ukuran perpustakaan kecil, mungkin mereka tidak akan peduli. Masalahnya, perpustakaan berukuran sangat lebar dan besar. "Bu, bisa hukum dengan cara lain nggak? Misalnya kami teraktir Ibu bakso?" Seorang siswa tersenyum menatap Sisilia, namun perempuan itu menggelengkan kepalanya, membalas dengan senyuman yang tidak kalah manis. "Tenaga kalian jauh lebih berharga, daripada bakso yang akan kalian berikan ke ibu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD