Bab 7. Rana

1089 Words
"Mbak, jadi nggak nanti kita pergi ke pasar besar? Kebetulan aku bawa mobil hari ini, jadi kalau Mbak mau belanja sekalian, barang-barangnya bisa dimasukin ke dalam mobil." Sisilia yang sedang bersantai di jam istirahat seperti ini langsung menolehkan kepalanya menatap Rana, rekan kerjanya yang 2 tahun lebih muda darinya. "Memangnya nggak apa-apa kalau hari ini? Takutnya kamu sibuk," kata Sisilia. Rana tidak langsung menjawab. Perempuan itu menarik kursi dan merapatkan tubuhnya pada rekannya yang sudah saling mengenal 2 tahun ini, dan yang pasti Rana jauh lebih akrab dengan Sisilia daripada dengan rekan-rekan kerjanya yang lain karena menurutnya hanya dengan Sisilia mereka berada dalam satu frekuensi. "Mbak tenang aja kalau soal itu, aku nggak kerepotan sama sekali. Sekalian aku mau bermalam di tempat mbak, biar besok kita bisa berangkat kerja bareng. Aku lagi boring di rumah," sahut Rana. Sisilia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Boleh deh kalau begitu. Aku juga udah nggak sabar pengen kreditan dan juga jual-jual baju. Eh, aku udah bicara dengan anak-anak kosku, ternyata banyak juga yang mau jualan. Tapi, mereka jualnya secara online." "Hmmm, kalau kayak gitu jauh lebih mudah. Nanti aku kenalin Mbak sama beberapa distributor. Aku juga lagi cari tahu pabrik baju yang bisa ambil harga paling murah. Tapi, ilmu ini mahal, Mbak. Nggak bisa didapatkan dengan cara mudah." Rana mengedipkan matanya pada Sisilia, membuat perempuan itu terkekeh. "Gampang soal itu. Nomor rekening kamu masih yang lama 'kan? Nanti Mbak transfer satu juta buat kamu jajan." Kali ini Rana langsung tersenyum semeringah dan memeluk Sisilia. "Aaa, thank you, Mbak Sisil. Mbak memang yang terbaik," katanya dengan antusias. "Ehem!" Rana segera melepaskan pelukannya pada Sisilia, kemudian menolehkan kepalanya menatap sosok guru muda yang baru masuk mengajar hari ini dan langsung menjadi topik hangat di kalangan murid dan juga para guru karena ketampanannya. "Pak David, ada perlu?" Rana bertanya pada laki-laki yang lebih muda darinya itu. Tentu demi untuk kesopanan, mereka harus memanggil dengan panggilan yang cukup sopan di lingkup kerja seperti ini. Terlihat David tersenyum menatap ke arah Sisilia. "Aku mau kasih Mbak Sisilia makan siang. Kebetulan tadi nggak sengaja beli lebih, terus ingat kalau mbak Sisilia dari tadi sibuk karena mengurusi anak-anak yang bolos. Makanya sekalian aja, aku tawarin Mbak Sisil," jawab David dengan senyumannya. "Ini, Mbak. Kalau mbak nggak makan, bisa dibuang," tambahnya. Sisilia menatap kotak makanan yang berada di tangan David. Tentu ia tidak akan membiarkan makanan yang sudah dibeli dengan susah payah akan terbuang begitu saja. Apalagi di zaman sekarang ini semuanya serba kesulitan, jelas membuang makanan bukanlah suatu hal yang baik untuk dilakukan. Berhubung dirinya yang ditawarkan, Sisilia tersenyum. Tangannya terulur kemudian mengambil kotak yang diberikan oleh David. "Thank you banget, Pak David. Makanannya saya terima. Semoga nanti Pak David semakin banyak rezekinya," ujarnya. David tersenyum. "Amin, terima kasih, Mbak Sisil. Tapi, Mbak panggil aja aku dengan sebutan nama, nggak usah pakai embel-embel." Pemuda itu menatap Sisilia, membuat perempuan cantik berusia 29 tahun itu terlihat kebingungan. "Di sini Aku cuma kenal sama Mbak Sisil aja. Boleh nggak kalau aku makan siang gabung dengan Mbak Sisil?" Menatap wajah melas dan juga gelisah yang ditampilkan oleh David tentunya membuat Sisilia tidak tega untuk menolaknya. Maka perempuan itu menganggukkan kepalanya, membuat David segera menarik kursi yang berada tak jauh dari posisinya, kemudian duduk berhadapan dengan Sisilia yang masih duduk di sebelah Rana. "Kamu mau makan juga, Ran?" tawar Sisilia seraya menatap Rana. Namun, perempuan itu menggelengkan kepalanya. "Aku lagi pesan makanan. Sebentar lagi mungkin bakalan diantar ke sini, kalian makan duluan aja. Oh, sekalian juga aku ada kerjaan yang harus diselesaikan." Segera Rana menggeser kursinya ke mejanya sendiri, mulai membuka laptopnya, namun diam-diam ia memerhatikan Sisilia dan David yang duduk saling berhadapan. Radarnya sebagai perempuan yang sudah terlalu hatam sekali dengan tatapan laki-laki tentu ia tahu tatapan yang ditujukan David pada Sisilia adalah tatapan suka, cinta, sayang, dan keinginan untuk memiliki. Sejak pertama kali masuk ke dalam kantor ini, fokus David hanya tertuju pada Sisilia. Rana diam-diam berdoa di dalam hatinya semoga saja pemuda ini bisa membuat temannya membuka hati lagi untuk laki-laki dan tidak trauma lagi. Meskipun trauma sangat sulit untuk dihilangkan, namun sebagai seorang teman, ia sangat mengharapkan kebahagiaan datang untuk Sisilia yang pernah dikhianati oleh mantan suaminya dulu, hingga berakhir perceraian yang meninggalkan trauma. "Mbak sini, daun bawangnya. Aku tahu kalau mbak nggak suka daun bawang." David segera menyodorkan kotak makanannya ketika melihat ada beberapa daun bawang yang ada di dalam makanan Sisilia. Hal ini spontan membuat Sisilia mengangkat kepalanya, menatap David dengan tatapan aneh. "Kamu kok tahu kalau mbak nggak suka daun bawang?" Senyum David langsung sedikit sirna mendengar pertanyaan itu. Meski begitu, hanya beberapa detik sebelum akhirnya pemuda itu terkekeh. "Aku dengar dari anak kos kalau Mbak nggak suka dengan daun bawang." Mendengar itu tentu Sisilia menganggukkan kepalanya. Dirinya yang memang tidak suka dengan daun bawang sudah menjadi pengetahuan dasar dari anak-anak kosnya. Maka dari itu ketika mereka memberikannya makanan, tidak pernah ada daun bawang. Sisilia segera mengambil daun bawang dari dalam kotak makannya, kemudian memindahkannya dalam kotak makan David. "Thank you, David." "Sama-sama, Mbak." "Gimana kamu mengajar hari ini? Ada tantangan tersendiri nggak? Kalau lagi hari pertama biasanya cuma lagi pengenalan diri aja. Kalau kamu ketemu dengan anak-anak nakal di sini, bilang aja kalau kamu itu saudaranya Mbak, biar mereka nggak macam-macam," kata Sisilia, mengingatkan David. Anak-anak di sini tentu masih memiliki ketakutan terhadapnya yang memang selalu tegas dalam menghukum murid sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing. "Anak-anak menyambut aku dengan baik, Mbak. Mereka cerdas dan mau menerima pelajaran." David berkata dengan tenang. "Aku jadi betah buat mengajar di sini." Apalagi kalau sama kamu, lanjut David di dalam hatinya. "Syukurlah kalau begitu. Kamu juga mengajarnya harus tegas, jangan sampai mereka berani untuk menganggap remeh kamu sehingga mereka bisa menganggap juga pelajaran yang kamu ajarin remeh. Nanti kalau mereka nggak bisa dapat nilai sempurna, guru pengajar pasti yang bakal dipertanyakan, karena dianggap nggak bisa mengajari murid. Padahal, jelas bukan salah guru lagi," celoteh Sisilia. Tangannya bergerak menyuap makanan ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya dengan perlahan. "Iya, Mbak. Aku juga mengusahakan supaya mereka bisa mengerti mata pelajaran yang aku ajari." "Baguslah kalau kamu berpikir demikian. Anak-anak itu memang harus diperlakukan dengan tegas. Cuma, kalau kita lagi emosi jangan main tangan. Bisa-bisa kita yang bakalan dapat masalah," ujar Sisilia, mengingatkan David lagi. Davi tersenyum menatap Sisilia. "Iya, Mbak." Ada perasaan berbunga-bunga di hatinya mendapatkan perhatian yang begitu lembut dari Sisilia, membuat David ingin segera memilikinya, namun tentu ia harus melewati banyak sekali proses dan tahapan agar bisa dekat dengan Sisilia dan membuat perempuan di hadapannya ini menyadari jika kehadirannya juga sangat berharga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD