Bab 21. Geisha

1019 Words
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang sampai kemudian tiba di sebuah kelab malam yang terlihat sangat ramai dengan para pengunjung. Seorang perempuan cantik turun dari mobil dengan pakaian serba terbuka. Dimulai dari punggungnya yang terlihat, roknya yang terlalu pendek, lengannya yang tidak tertutup helai kain, dan rambutnya yang digulung, membuatnya terlihat sangat cantik dan seksi. Siapapun mata yang memandang, akan menoleh dua kali hanya untuk menatap sosok tersebut. Perempuan itu melangkahkan kakinya dengan mengenakan sepatu hak tinggi yang memperlihatkan kaki jenjangnya, melewati petugas penjaga dengan santai dan tenangnya. Masuk ke dalam area kelab yang terlihat ramai dengan para pengunjung sedang mencari kesenangan, perempuan itu mengedarkan pandangannya ke sekitar. Senyum miring tersungging di bibirnya, sambil melangkahkan kaki menuju lift yang akan membawanya ke lantai 3, tempat di mana acara berlangsung. Dia adalah Geisha Gemora, perempuan cantik dan glamor, memiliki bisnis salon dan toko kosmetik yang sudah banyak cabangnya. Hidupnya yang dulu SMA sangat pas-pasan, kini sudah meningkat pesat dengan banyak uang yang dimiliki olehnya. Tibanya di lantai 3 yang dituju, Geisha kemudian melangkah keluar dan menatap pemandangan ramai orang-orang yang sedang menari, mengobrol, bahkan sedang menikmati hidangan maupun minuman yang disajikan. "Kanaya, happy birthday!" Sosok Geisha segera menghampiri Kanaya yang memiliki acara. Menolehkan kepalanya ke samping, Kanaya tersenyum menyadari kehadiran Geisha, salah satu tamu undangan yang tidak disangkanya akan hadir. "Hei, Ge. Thank you banget udah hadir di acara ulang tahunku. Repot sekali." Kanaya tersenyum menghampiri Geisha, dan melakukan cium pipi kiri serta cium pipi kanan, sambil menyerahkan kado yang dipersiapkan untuk Kanaya. "Nggak merepotkan. Kebetulan aku lagi nggak terlalu sibuk. Soalnya dua hari yang lalu aku baru balik dari Singapore dan beristirahat dulu. Lusa rencananya aku mau holiday ke Jerman." Geisha berkata dengan nada rendah, menatap Kanaya yang tersenyum. "Holiday terus kamu. Have fun, ya! Kapan-kapan bawa aku holiday juga, ke Eropa." "Gampang itu. Nanti aku yang traktir, kita bisa pergi ke beberapa negara yang ada di Eropa." Kanaya tersenyum dan mereka berbicara selama 2 menit sebelum akhirnya Kanaya bergegas untuk menyambut tamu yang lain. Sementara Geisha mengedarkan pandangannya ke sekitar sampai kemudian tatapannya langsung tertuju pada sosok perempuan yang sangat dibenci olehnya. Sosok perempuan yang menghancurkan perasaannya saat masa SMA dulu. Tersenyum miring, Geisha kemudian melangkahkan kakinya menuju set sofa yang tersedia. Ada tempat kosong yang bisa ia duduk, kemudian ia duduk dan dengan santainya mengambil satu gelas minuman beralkohol yang tersaji di depannya dan belum disentuh. Di set sofa tersebut tidak hanya ada Debora dan Sisilia, tapi juga beberapa teman mereka dari SMA yang bergabung. Tamu undangan Kanaya tentunya bukan hanya mereka yang lulusan dari SMA yang sama, tapi juga teman kerja dan juga teman kuliahnya. Kebetulan sofa tempat di mana Debora dan Sisilia duduk diisi oleh alumni SMA mereka. "Geisha, bos besar kita sudah datang. Semakin sukses kamu kalau dilihat-lihat," kata Irene, menatap Geisha, yang tersenyum manis membalas pujian. "Ah, nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kalian. Aku bisa sukses sekarang juga karena usaha dan kerja keras aku," balas Geisha. "Aku juga nggak seperti Debora, yang keluarganya banyak perusahaan. Dia bisa hidup mewah dan nyaman tanpa bekerja," lanjutnya menatap Debora. "Wah, jangan bahas Debora kalau begitu. Debora ini bukan bekerja untuk mendapatkan uang tapi uang yang bekerja untuk dia." Sosok Niko juga angkat bicara sambil menatap ke arah Debora. Sejak dulu mereka memang tahu jika Debora adalah anak dari seorang pengusaha kaya raya dengan dua keluarga yang sama-sama pengusaha terkenal baik dari pihak papa dan juga mamanya. Tidak heran jika Debora meskipun tidak bekerja, perempuan itu tidak mengalami kemunduran atau kesulitan dalam hal finansial. Debora yang menjadi pusat pembicara hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon. Tidak membantah karena memang apa yang dikatakan oleh mereka benar. "Aku memang terlahir sebagai Dewi keberuntungan," kata Debora. Mereka akhirnya mulai membicarakan tentang Debora yang memang terlahir sebagai anak yang beruntung. Tiba-tiba saja Geisha menatap ke arah Sisilia yang sejak tadi tidak bersuara. "Kalau kamu gimana, Sil? Aku dengar-dengar kalau kamu udah jadi janda ya sekarang? Nggak nyangka kalau kamu nikahnya cuma sebentar terus sampai sekarang jadi janda. Itu bukan prestasi, lho, Sil. Padahal waktu di kelas dulu, kamu yang paling rajin belajar," ujar Geisha, menatap Sisilia. Ekspresi wajah Sisilia sedikit berubah ketika fokus mereka akhirnya tertuju padanya. Dibalasnya tatapan Geisha dengan tenang. "Namanya juga takdir. Nggak pernah ada yang bilang kalau jadi janda itu prestasi. Lagian juga, kalau tahu aku setelah menikah akan menjadi janda, kayaknya nggak mungkin aku bakalan menikah," sahutnya tenang. Geisha yang mendengarnya menganggukkan kepala. "Benar juga apa yang kamu bilang. Jadi janda bukan prestasi yang patut dibanggakan 'sih. Tapi, aku nggak nyangka aja, kalau di antara teman-teman kita, kamu yang duluan menyandang status sebagai janda." Teman-teman mereka yang lain tidak lagi ikut berkomentar karena kali ini pembahasannya sudah agak sensitif. Siapapun pasti tidak akan senang jika ada orang yang mengorek masa lalunya. Apalagi pengalaman masa lalu yang begitu buruk, membuat siapapun akan emosional. "Nggak apa-apa aku doang yang jadi janda. Siapa tahu nanti kamu menyusul," kekeh Sisilia tidak merasa tersinggung. Melihat Sisilia yang tidak memberi tanggapan seperti apa yang diharapkannya, Geisha mulai muak. Perempuan itu akhirnya mulai membanggakan dan memamerkan kesuksesannya dalam membuka salon juga toko kosmetik yang sudah memiliki banyak cabang. Sementara Sisilia mengangkat bahunya. Perempuan itu merasakan kantung kemihnya mulai penuh, dan memilih untuk bangkit dari tempat duduknya. "Kamu mau ke mana?" Debora mendongakkan kepalanya menatap sahabatnya yang tiba-tiba saja berdiri dari sofa. "Aku mau ke toilet sebentar." Segera setelah menjawab pertanyaan Debora, Sisilia kemudian segera pergi meninggalkan Debora dan teman-teman mereka yang lain. Langkah kakinya menuju toilet yang berada di lantai ini, dan setelah menemukannya ia langsung masuk salah satu bilik yang kosong. Sisilia menghembuskan napasnya lega saat apa yang sudah ia tahan sejak beberapa menit yang lalu akhirnya keluar juga. Setelah selesai baru kemudian Sisilia pergi menuju wastafel, mencuci tangannya kemudian merapikan riasannya. "Sebentar lagi aku bakalan minta pulang sama Debora," kata Sisilia pada dirinya. Perempuan cantik itu melangkah keluar dari toilet dengan santai, sampai kemudian dia menghentikan langkahnya ketika namanya dipanggil oleh seseorang. "Sisilia Contesta? Ini kamu?" Sosok pria yang tidak disangka-sangkanya muncul kembali dalam kehidupannya dan saat ini berdiri di hadapannya dengan senyum menawan yang dulu mampu membuat banyak perempuan terpesona.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD