David menyandarkan tubuhnya pada sofa kulit berwarna hitam setelah duduk di lantai 2 sebuah kelab ternama yang ia datangi.
Menurut informasi yang ia dapatkan jika Sisilia berada di kelab malam ini dan sedang merayakan ulang tahun bersama teman-temannya.
David tidak tahu siapa temannya yang berulang tahun, namun David berharap agar ia bisa bertemu dengan Sisilia di tempat ini.
Mungkin saja wanita itu akan turun ke lantai dua tempat di mana saat ini ia berada.
Lantai 2 penuh dengan sofa-sofa dan meja yang sudah ditata sedemikian rupa. Ada juga bar tempat di mana bartender sedang meracik minuman dengan serius untuk para customer yang datang.
"Tuan David, Nona Sisilia berada di lantai atas. Sepertinya tadi dia sedang pergi ke kamar mandi. Saya tadi sempat memeriksanya." Ilyas yang baru saja datang langsung memberitahu pada David tentang Sisilia yang memang tadi sempat dilihat olehnya.
Menolehkan kepalanya menatap Ilyas, David kemudian bergumam, "sepertinya aku harus mencari cara supaya dia bisa datang ke tempatku."
"Tuan David memiliki ide?" Ilyas bertanya, namun gelengan kepala David adalah jawabannya.
"Untuk saat ini aku belum menemukan ide apapun." Pria itu menjawab mantap setelah hening beberapa detik.
David mengambil satu gelas kecil minuman beralkohol di hadapannya kemudian meneguknya.
Pria itu memejamkan matanya, menikmati manis anggur yang sudah difermentasi memasuki area tenggorokannya.
David membuka kelopak matanya, lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar. Pemuda itu menemukan beberapa pria yang terlihat bukan pria baik-baik, melihat bagaimana cara mereka menggoda perempuan.
Tiba-tiba saja David memiliki ide yang agak berani. Belum sempat ia mengutarakan idenya pada Ilyas, pria paruh baya itu lebih dulu mendekati David.
"Tuan David, saya baru saja mendapatkan informasi dari anak buah kita kalau Nona Sisilia sepertinya bertemu dengan kenalan lamanya. Saat ini mereka sedang berbicara di lorong yang dekat dengan area toilet," kata Ilyas, setelah menutup layar ponselnya.
David menegakkan tubuhnya ketika mendengar informasi yang disampaikan oleh Ilyas. Ekspresi wajahnya berubah dingin, membuat Ilyas menelan ludahnya sedikit takut dengan reaksi yang diberikan oleh Tuan mudanya.
David memberi kode pada Ilyas untuk mendekat padanya, membuat pria baru baya itu mendekat dan saat itu David mengatakan beberapa kalimat hingga membuat Ilyas menatapnya terkejut.
"Apa Tuan yakin ingin melakukannya?" Kelopak mata pria itu melebar, tidak percaya jika Tuan mudanya akan nekat melakukan hal seperti itu hanya untuk menarik perhatian perempuan yang menjadi dambaan hati Tuan mudanya.
"Lakukan saja apa yang aku minta. Ingat, jangan sampai Sisil tahu kalau ini rencana kita."
Ilyas menganggukkan kepalanya, tidak berani membantah ucapan dari Tuan mudanya.
Segera ia memberi koordinasi pada anak buahnya yang lain untuk menjalankan rencana mereka.
Sementara di sisi lain, Sisilia tampak mengobrol santai dengan sosok pria yang seusia dengannya.
Dia adalah Hamid, yang dulunya teman sekelas Sisilia. Hamid ini adalah manusia yang membuat Sisilia menjadi musuh Geisha karena dulu saat mereka masih duduk di bangku SMA, Hamid beberapa kali menyatakan perasaan padanya di saat dia sendiri masih menjalin hubungan dengan Geisha.
Sisilia juga sudah menolaknya berulang kali karena ia sendiri tidak tertarik untuk menjalin hubungan saat masih SMA. Fokus Sisilia saat itu hanya belajar dan belajar. Bukan untuk urusan cinta-cintaan anak SMA. Sayangnya, demi mau putus dengan Geisha karena sudah tidak kuat lagi menjalin hubungan, Hamid menargetkan Sisilia untuk dijadikan kekasih. Mau menargetkan Debora, bisa-bisa Debora akan meminta pengawalnya untuk memukulinya. Itu juga Hamid harus beberapa kali masuk rumah sakit karena Debora meminta pengawal yang diperkerjakan oleh kedua orang tuanya untuk memukul Hamid karena selalu mengganggu Sisilia.
"Sil, aku benar-benar minta maaf atas apa yang aku lakukan dulu sama kamu. Aku nggak tahu kalau permusuhan Geisha bahkan sampai sekarang. Kalau aku tahu, mungkin aku nggak akan dekat-dekat sama kamu."
Hamid berdiri sambil tersenyum penuh penyesalan akan apa yang dilakukannya di masa muda.
"Yah, gara-gara kamu juga akhirnya 2 tahun aku sekolah, selalu diganggu oleh Geisha. Kamu 'sih kalau mau putus ya putus aja, kenapa harus bawa aku segala?"
Meskipun sudah memaafkan kejadian masa lalu tetap saja tidak bisa dilupakan begitu saja. Terlebih lagi Geisha bahkan sampai detik ini masih memusuhinya. Padahal Hamid sendiri tidak menikah dengan dirinya maupun Geisha, tapi menikah dengan salah seorang pengusaha yang bergerak di bidang kuliner. Itu yang diketahui oleh Sisilia saat Hamid bercerita.
"Aku benar-benar minta maaf soal itu. Soalnya aku tahu kamu nggak mungkin jatuh cinta sama aku. Sementara Geisha sendiri kayak ular, susah banget buat dilepasin." Hamid terkekeh. "Sekarang aku sudah punya istri dan 3 orang anak. Aku juga doain kamu semoga kamu ketemu dengan jodoh yang baik, jodoh dunia dan akhirat."
Sisilia tersenyum menerima permintaan maaf pria di hadapannya. Lagi pula ia juga bukan tipe manusia yang mudah dibully, apalagi ada Debora yang selalu mendukungnya.
"Tenang aja, masa lalu biar aja masa lalu. Sepertinya mungkin tanpa kamu, Geisha memang selalu memusuhi aku. Lihat aja dia, katanya hidup udah bahagia, tapi masih aja sinis sama aku."
"Dia memang kayak gitu. Aku kadang nggak percaya kalau dia terlahir sebagai perempuan."
Keduanya sedang berbicara ketika tiba-tiba saja Debora melangkah dengan tergesa-gesa mendekati tempat mereka saat ini berada.
Sisilia yang sedang bersandar pada tembok di belakang segera menegakkan tubuhnya melihat ekspresi panik yang ditampilkan oleh sahabatnya itu.
"De, kamu kenapa--"
"Sil, gawat! Tadi waktu aku mau turun ke lantai 2, nggak sengaja aku lihat anak kos kamu yang lagi dikeroyok sama cowok-cowok yang ada di sini. Dia di keroyok sama 4 apa 5 orang."
Sisilia melebarkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh Debora.
"Anak kos aku yang mana? Anak-anak kos aku mana mungkin mereka bisa sampai ke kelab malam ini."
Ini adalah sebuah tempat hiburan malam versi premium yang didatangi oleh para pengusaha, artis, bahkan para pejabat sering menghabiskan waktu mereka di sini, juga orang-orang yang memiliki keuangan stabil tentunya mereka sering menghabiskan waktu entah untuk minum, mengobrol, ataupun senang-senang.
Sementara anak kos tempatnya tidak mungkin mereka akan mengeluarkan uang banyak hanya untuk satu sloki minuman.
"David Jackson, cowok yang nge-kos di tempat kamu itu. Mendingan sekarang kamu lihatin, gih. Kasihan dia sudah agak
babak-babak belum."
Sisilia spontan melebarkan matanya mendengar nama David yang disebutkan oleh sahabatnya.
Segera ia menarik tangan Debora untuk pergi meninggalkan Hamid yang berdiri di tempat menatap punggung kedua perempuan itu yang pergi tanpa pamit padanya.
"Sepertinya laki-laki bernama David Jackson ini orang penting," gumam Hamid pada dirinya sendiri.
Hamid berniat untuk melangkah pergi, bergabung dengan teman-temannya yang lain, saat 3 orang pria mendekat padanya dan tanpa aba-aba langsung memukulnya membuatnya berusaha untuk menghindar, namun tiga orang ini sepertinya sudah terlatih hingga membuat Hamid akhirnya terbaring dengan wajah dan tubuh membiru.
"Ya Tuhan, apa di kelab malam ini lagi trend buat pukul orang sembarangan?"
Hamid menatap langit plafon gedung kelab dengan nelangsa akibat pukulan yang ditayangkan oleh 3 orang tidak dikenalnya itu.