Aroma disinfektan tercium di udara ketika dua sosok manusia saat ini sedang berdiri di depan IGD tengah menunggu satu sosok pemuda lainnya yang saat ini sedang ditangani oleh dokter.
Waktu sudah menunjukkan tengah malam, orang-orang yang seharusnya berada di dalam rumah dan tertidur di balik selimut, masih ada yang berkeliaran di lorong rumah sakit. Termasuk Sisilia dan Debora, yang saat ini sedang menunggu David tengah ditangani oleh dokter.
"Kok, bisa tiba-tiba David dikeroyok sama orang-orang itu? Apa permasalahannya?"
Sisilia menolehkan kepalanya menatap Debora yang berdiri bersandar pada tembok di belakangnya.
Ekspresi sahabatnya juga terlihat tenang, meskipun saat ini mereka berada di rumah sakit di tengah malam seperti ini. Kesan angker tentunya selalu membayangi, meski begitu tidak ada yang menakutkan. Maka dari itu, baik Sisilia maupun Debora tidak merasa takut sama sekali.
"Aku dengar-dengar, David nggak sengaja menyenggol salah satu dari mereka waktu lewat. David juga udah minta maaf sama mereka, tapi mereka tetap menyalahkan David. Makanya dia dipukul, terus teman-temannya juga ikut-ikutan."
"Teman-temannya David?"
"Bukanlah. Tapi, teman-temannya orang yang nggak sengaja kesenggol sama David," jawab Debora. "Kamu tenang aja, orang-orang itu udah dibawa ke kantor polisi. Untungnya aku gerak cepat buat hubungi polisi, kalau nggak, beuh, bisa kabur mereka."
Debora berkata seraya menatap Sisilia.
"Thank you kalau begitu. Semoga David nggak kenapa-kenapa."
"Kamu khawatir sama dia? Jangan-jangan, kamu udah mulai punya rasa lagi sama dia," kata Debora menatap Sisilia. Sebelah alis perempuan itu terangkat naik menggoda Sisilia yang langsung mendengus.
"Dia anak yang tinggal di kosan aku. Jelas aja aku harus khawatir, karena sedikit banyaknya seenggaknya aku bertanggung jawab." Sisilia membalas. Perempuan itu menegakkan tubuhnya saat melihat dokter keluar dari ruang tempat di mana saat ini David tengah ditangani. "Dok, gimana kondisi teman kami? Apa dia baik-baik saja?"
Dokter tersebut menganggukkan kepalanya menatap Sisilia dan juga Debora.
"Teman kalian baik-baik aja. Dia hanya mengalami memar dan luka luar aja. Nanti obatnya tebus di apotek, ya. Mungkin besok pagi udah bisa pulang."
Dokter menjelaskan dengan singkat membuat kedua perempuan itu menganggukkan kepala mereka mengerti.
Baru kemudian David akhirnya dipindahkan ke ruang rawat biasa, sebelum besok pemuda itu akan dibawa pulang.
Tentunya Debora memesan kamar VIP, tanpa pasien lain di dalam kamar tersebut. Mereka berniat untuk menunggu David sampai besok pagi dan akan pulang bersama. Debora tidak mau kalau harus menunggu pasien dengan banyak keluarga yang menunggu dan menemani. Setidaknya dengan kamar VIP, mereka bisa menempati kamar sendiri.
David sudah sadarkan diri. Pemuda itu dipindahkan ke ruangan dengan Sisilia yang mengikuti dan Debora yang langsung merebahkan tubuhnya di atas set sofa yang tersedia.
"Kalau kamu mau tidur, tidur aja, De. Kalau nggak, kamu pesan kamar aja di hotel. Aku lihat nggak jauh dari rumah sakit ini ada hotel. Siapa tahu kamu nggak nyaman di rumah sakit," kata Sisilia menatap sahabatnya. Saat ini Sisilia sendiri sedang memperbaiki selimut untuk menutupi tubuh David agar tidak dingin akibat terpaan angin.
"Nggak apa-apa, aku di sini aja. Lagian juga, nggak mungkin aku mau ninggalin kamu berdua dengan David. Gimana kalau kalian main kuda-kudaan di sini?"
Sisilia mendelik mendengar perkataan sahabatnya. "Kamu pikirannya negatif terus. Otak kamu ini mesum."
Debora mengangkat bahunya sambil terkekeh. Perempuan cantik itu kemudian merebahkan tubuhnya dan mengambil selimut yang memang tersedia di dalam mobilnya untuk menutupi tubuhnya.
"Kamu tidurnya sambil duduk aja. Soalnya sofa panjang ini aku yang bakalan menempatinya." Debora berkata pada Sisilia, membuat perempuan itu menganggukkan kepalanya.
Tatapan Sisilia tertuju pada David yang kelopak matanya masih terbuka.
"Kamu mau minum? Apa tubuh kamu masih merasa sakit?" Perempuan itu bertanya, membuat David yang mendapatkan perhatian menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Cuma nyeri sedikit-sedikit aja, Mbak. Mbak Sisil tidur aja, aku nggak enak kalau harus merepotkan Mbak Sisil dan Mbak Debora."
"Nggak apa-apa. Kamu lagi nggak sehat, makanya aku yang bakalan nemenin kamu di sini." Sisilia menarik kursi menghadap pada tempat tidur David. "Tidur aja, ini udah tengah malam. Besok kita bakalan pulang setelah dapat izin dari dokter."
David menganggukkan kepalanya sekali lagi dengan senyum tipis, sebelum akhirnya pemuda itu memejamkan matanya dan mulai larut ke alam mimpi.
Sementara Sisilia menatap wajah tampan pemuda di hadapannya. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang sangat bibirable, belum lagi rahang yang tegas, dengan wajah yang terlihat tampan meskipun babak belur dan lebam, tidak menutupi ketampanan yang dimiliki olehnya.
Definisi pemuda dengan wajah sempurna bisa dinobatkan pada David yang memang sangat tampan. Sisilia jadi membayangkan akan seimut apa wajah istrinya kelak, yang pasti bisa membuat David begitu tergila-gila pada istrinya nanti.
Terlalu banyak pikiran di dalam kepalanya membuat Sisilia tanpa sadar akhirnya mulai memejamkan matanya.
Perempuan cantik itu menjatuhkan kepalanya di atas tempat tidur berdekatan dengan tangan David.
Tak lama setelah Sisilia terlelap dalam tidurnya, baru kemudian David membuka kelopak matanya.
Pemuda itu menurunkan kepalanya dan menatap dengan lekat wajah tidur Sisilia yang bisa dilihat dari dekat. Tidak hanya bisa dilihat dari layar saja.
Sisilia mungkin tidak memiliki wajah imut, namun wajah ini dan juga perilakunya lah yang membuat David berkali-kali jatuh cinta.
Ini juga yang membuat David semakin bertekad untuk memiliki Sisilia agar bisa masuk ke dalam dekapannya.
Tangan pemuda itu bergerak mengusap kepala Sisilia dengan gerakan lembut, yang tentunya tidak disadari oleh perempuan itu sendiri.
"Aku pasti bisa mendapatkan kamu dan memiliki kamu, Sil. Kamu itu milik aku, dan hanya buat aku," kata David dengan suara pelan.
Suaranya yang halus dan lembut terhembus oleh angin dan tidak disadari oleh dua perempuan yang terlelap di masing-masing tempatnya.
Tak lama kemudian sebuah notifikasi masuk melalui ponselnya membuat David segera mengambil ponsel yang diletakkan di samping tempat tidurnya.
Pemuda itu membuka pesan chat dari Ilyas yang saat ini berada di seberang rumah sakit tempat di mana saat ini ia berada.
"Tuan David, orang-orang yang sudah melukai Tuan David sudah saya urus. Apa kita perlu menuntut keluarga mereka juga agar mendapatkan balasan?"
David membacanya kemudian segera membalasnya. "Nggak usah. Selesaikan masalahnya dan tetap beri mereka hukuman."
Lima orang yang mengkeroyok dirinya tentu mendapatkan masing-masing hukuman karena meskipun ini sudah dalam perencanaan David, tetap ia akan membalas.
Jika David ingin membalas mereka, tentu tidak sulit baginya.