“Kita mampir makan dulu,” ucap Bos Tio saat Desti sudah masuk ke mobilnya. Tiba-tiba keringat dingin keluar dari dahi Desti. Dia tak pernah sama sekali hanya berdua dengan lelaki asing seperti ini. Meski ada sopir, tetap saja, cara memandang Tio padanya terlihat jelas tatapan yang tak biasa. Desti merasa seperti berada dalam perangkap. Tak mungkin Prita menjebaknya. Karena Prita adalah sepupu Rizal. Apa, Prita tak tahu kelakuan direkturnya seperti ini? Atau, kelakuan direkturnya yang seperti ini hanya berlaku padanya? “Ta-tapi, Pak. Bukannya setelah ini bapak ada meeting?” Desti mencoba mengingatkan. “Meeting sudah aku batalkan,” ucap Tio dengan senyum menyeringai. Baru kali ini Tio punya karyawan secantik Desti, yang lebih cocok menjadi model dibandingkan sebagai staf kantor

