chapter 10

242 Words
*** (Sementara di Asrama utama) “Lik? Kamu merasakan sesuatu?” Wulan tiba tiba menghentikan langkahnya. Felix dan Arimbi pun ikut berhenti di tempat. Felix memejamkan matanya. Mencoba menerawang apa yang terjadi. Namun semuanya gelap. Ia tidak bisa membaca situasi. “SLET!!” Sebuah anak panah hampir saja mengenai tubuh Wulan. Wulan masih diam mematung. Tidak percaya apa yang barusan terjadi. “Huh Syukurlah aku tidak terlambat.” Arimbi bernafas lega. Andai saja ia telat satu detik saja untuk membuat pagar perlindungan dengan akar akar sihirnya di depan Wulan, bisa saja ia sudah terluka. “Ternyata masih saja ada yang mengincar kamu lan. Kamu ngga boleh lengah.” selesai berucap, Felix mencoba memejamkan matanya kembali. Lagi lagi gagal. Kekuatannya seakan langsung melemah. Aneh sungguh aneh! “Sudahlah kita segera ke asrama saja. Malam juga semakin larut” Arimbi memecah kepanikan. Felix segera menggunakan kekuatannya. Hanya butuh waktu beberapa detik mereka sudah berada di asrama. *** “Andai saja tidak ada Arimbi! Pasti dengan mudah aku mata panahku mengenai Wulan” Greve menggerutu dengan kesal. Langkahnya untuk memusnahkan Wulan gagal. Kepergian Fira ke ruang bawah tanah membuatnya kini seorang diri. Sedikit kesulitan memang. Keberadaan Fira ternyata cukup menguntungkan baginya. Kini ia harus bekerja sendiri. "Sepertinya aku akan sangat sulit jika seperti ini terus. Felix dan Arimbi harus aku pisahkan dari Wulan" Greve duduk sendirian di tempat biasa. Pikirannya terus memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan Wulan. Misi dari ayahnya yang diberikan kepadanya terlalu berat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD