11

243 Words
Mr Exe ternyata bisa berubah menjadi kejam dan bisa juga sangat lembut. Banyak sekali simulasi bahaya yang dilakukan di ruang bawah tanah ini. Ekstra hati hati harus selalu kami miliki. Lengah sedikit saja, bisa saja bahaya harus di terima. Memang benar, fasilitas di sini lebuh baik dan bagus dari kelas sebelumnya. Namun tingkat bahayanya juga tidak main main. “Aw!” aku merintih kesakitan kala aku dapati sebuah ranjau di bawah ranjangku. Aliran darah mulai mengalir di sana. “Lagi lagi aku lengah” ucapku sambil mencoba membersihkan darah yang terus keluar dari kakiku ini. “Tring! Tring! Tring!” Tanpa banyak berpikir, aku melupakan luka di kakiku. Rasa sakit tidak peduli lagi aku rasakan. Aku harus segera beranjak menuju sumber suara itu yang selalu berpindah pindah tempat. Lonceng itu ibarat panggilan yang memanggil kami dengan paksa. Aku terkejut. Ruangan yang baru aku masuki ini penuh dengan ranjau. Ujian apa lagi ini, aku menggerutu seakan tidak siap menghadapi materi pada hari ini. Bukan hanya wajahku yang tampak malas. Mereka bertiga pun tidak kalah bosannya denganku. Ini terbaca dari goresan ekspresi yang bersarang di wajahnya. Mau tidak mau, kami harus bisa sampai ke sisi ujung ruangan. Sisi di mana terdapat sebuah buku. Ya kami di sini sangat sulit untuk mendapatkan buku demi meningkatkan kemampuan. Di sini memang serba ada di bandingkan kelas sebelumnya. Salah satunya bahaya. Kekurangannya adalah di sini tidak menyediakan buku. Buku harus kami dapatkan dengan susah payah dan menghadapi berbagai bahaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD