Morcant kemudian masuk ke teras tersebut. Tampak peluh dan juga baju Morcant yang penuh dengan lumpur. Tampaknya Morcant berhasil mengatasi proses seleksi tersebut.
“Kau berhasil, Morcant,” ujar Pustin melihat Morcant duduk di seberangnya. Morcant hanya melambaikan tangan. Nafasnya masih tersengal-sengal dan belum teratur.
“Apa kau terkena tembakan, Morcant?” tanya Pustin.
“Tidak. Aku berhasil mengikuti caramu. Hanya saja aku tidak secepat dirimu, Pustin,” jawab Morcant yang mengambil makanan di samping tempat duduknya.
“Enak sekali. Pertama kalinya aku merasakan kue ini,” lanjut Morcant yang meneteskan air mata.
Tampak Morcant merasa tertekan dengan kondisi ini.
“Nikmatilah selagi kau bisa menikmati makanan ini, Morcant,” jawab Pustin.
Selang beberapa menit kemudian Shelby juga hadir di sana. Namun Shelby jalan dengan kaki terpincang-pincang. Kaki kanannya terdapat luka goresan akibat peluru. Sama seperti Morcant, bajunya penuh lumpur dan mukanya penuh dengan peluh.
“Strategimu berhasil, Pustin,” puji Shelby sembari tersenyum ketika dia berada di teras tersebut.
Di Abodie In Hell, sipir Finn meminta Marco dan salah seorang sipir anak buahnya, Gunther guna mengikuti dirinya.
Finn menuju ke sebuah ruang isolasi di penjara Abodie In Hell.
“Marco, buka pintunya!” perintah Finn kepada Marco untuk membuka penjara isolasi tersebut.
Marco membuka pintu isolasi. Menyeruak bau yang tidak sedap. Marco dan Gunther sontak menutup hidung mereka.
“Uh, bau sekali. Hei Mavra! Bau sekali,” teriak Finn setelah pintu penjara isolasi dibuka.
Terlihat Mavra berada di dalam penjara isolasi dengan kondisi mengenaskan. Bau badan akibat keringat dan juga beberapa kotoran tikus serta air kencing yang menempel di bajunya.
“Bawa dia. Mandikan di ruang mandi,” perintah Finn yang segera dilaksanakan Marco serta Gunther.
Mereka berdua memegang kedua tangan Mavra dan menyeretnya ke ruang mandi. Kondisi Mavra sangat mengenaskan. Hidup segan mati pun tak mau. Mavra bahkan tidak bisa berdiri.
Ruang isolasi yang pengap dengan ukuran 2 x 1,5 meter dan tinggi hanya 2,4 meter tanpa ada jendela, membuat Mavra tidak mendapatkan udara yang pantas. Diisolasi selama 3 hari, Mavra tidak diberi makan. Sementara ruang isolasi dipenuhi tikus. Hanya ventilasi di atas ruang penjara yang menjadi saluran udara. Itupun hanya kecil.
Ruang penjara isolasi menjadi neraka bagi para tahanan yang dijebloskan kesana. Biasanya hukuman 3 hari akan membuat mereka menurut dan enggan untuk kembali lagi. Mavra baru kali ini merasakan penjara isolasi terburuk.
Sebelumnya dia sempat di masukkan penjara isolasi dengan kondisi yang lebih layak. Tapi ruang isolasi ini benar-benar seperti neraka. Di musim yang dingin ini, penjara tersebut sangat panas.
Mavra dibawa ke ruang mandi. Marco dan Gunther menggeletakkan tubuh Mavra di tengah-tengah ruang mandi. Mavra yang tidak bisa berdiri karena lemas, hanya pasrah saja.
“Kalian berdua mandikan dia. Tidak perlu membuka bajunya. Langsung guyur dengan air,” perintah Finn kepada Marco dan Gunther.
Kedua penjaga penjara tersebut mengambil ember berukuran besar dan mengguyur air ke arah Mavra. Ayah dari Scott ini menggigil kedinginan merasakan guyuran air dingin. Tidak hanya sekali, namun 4 kali Mavra di guyur air dingin tersbut.
“Bawa dia ke ruang tahanannya.” Finn kembali memerintahkan Marco dan Gunther membawa dan menyeret Mavra lagi dari ruang mandi ke ruang tahanannya.
Finn ternyata cukup disegani di kalangan para tahanan. Ketika dia berjalan menuju ke ruang tahanan, para tahanan lain yang sebelumnya sempat berbincang dengan tahanan lain sontak terdiam.
Tahanan yang saat ini berada di dalam ruang tidur mereka, sontak memilih untuk pura-pura tidur dibanding melihat kedatangan Finn. Marco dan Gunther akhirnya sampai di ruang tahanan Mavra. Mereka menyeret masuk dan melempar Mavra ke lantai.
Kondisi Mavra sangat mengenaskan. Dia bagaikan zombie dengan tubuh kurus yang hanya tersisa tulang belulang saja. Ditambah lagi baju tahanan miliknya yang basah kuyup. Finn, Marco dan Gunther lalu menutup ruang tahanan Mavra dan meninggalkannya dalam keadaan baju basah di kondisi cuaca yang sangat dingin. Mavra tidak lagi berdua di ruangan tersebut, karena Terios sudah membusuk di dalam tanah.
Sementara itu di pusat pelatihan.
Pustin, Shelby, Morcant dan salah seorang peserta bernama Brabham berhasil lolos di seleksi psikologis dan mental yang pertama. Mereka berempat kembali ke ruang tidur setelah berada di area teras.
Mereka berempat menuju ke ruang pemandian yang berada di gedung sayap kanan Kirkham. Dari 16 peserta yang tersisa, hanya 4 yang lolos dari tes hari ini. Tiga diantaranya tewas. Sementara sisanya terluka. Entah apakah mereka akan bergabung kembali atau tereliminasi.
“Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan menimpa kita hari ini,” ujar Morcant ketika mereka berada di kolam air panas.
“Kemungkinan akan lebih sadis dibanding tes hari ini. Dan nyawa kita taruhannya,” jawab Shelby.
“Siap atau tidak siap, kita tetap harus menempuhnya. Sudah sampai sejauh ini,” balas Brabham.
“Lupakan dulu hal itu. Kita nikmati mandi air panas ini. Aku tidak pernah merasakan kenikmatan ini,” balas Pustin sembari memejamkan mata menikmati air yang membuat tubuhnya kembali segar.
“Pustin, apakah kau tidak khawatir apa yang akan menimpa kita besok?” tanya Brabham.
Pustin membuka matanya dan menoleh ke arah Brabham, “Tentu aku khawatir. Tapi jika kita hanya terus khawatir tanpa memikirkan strategi, itu juga tidak bagus.”
“Pustin memiliki strategi yang hebat. Jika kita tidak mengikuti apa yang kau lakukan, mungkin kita tidak akan di sini,” puji Shelby.
“Benar. Aku akui strategi dan taktikmu cukup bagus. Aku tidak pernah berpikir akan melakukan cara seperti, Pustin,” timpal Brabham.
Pustin hanya tersenyum kecil mendengar pujian tersebut. Mereka mencoba menikmati apa yang mereka rasakan saat ini. Meski di dalam benak mereka, terdapat rasa kekhawatiran apa yang akan terjadi besok.
Tidak berapa lama Letkol Hustings masuk ke pemandian air panas, “Selamat kalian berhasil lolos dari tes psikologis.”
“Kolonel Horton sangat senang dengan performa kalian. Dan ini hadiah untuk kalian berempat dari Kolonel Horton,” lanjut Letkol Hustings.
Tiba-tiba empat wanita datang ke kolam pemandian air panas. Sontak membuat Pustin, Morcant, Shelby dan Brabham sangat terkejut dengan kedatangan mereka.
“Kalian layani mereka. Ini perintah Kolonel Horton,” ujar Lektol Hustings.
“Baik, Tuan Hustings,” jawab salah satu wanita berambut pirang dengan wajah panik.
Pustin menolak untuk diberi pelayanan oleh ke-4 wanita tersebut. Pustin tentu saja ingin menjaga perasaan Salsa sang istri yang sedang hamil.
“Pustin, jangan kau tolak hadiah dari Kolonel Horton.” Letkol Hustings mengancam Pustin yang sempat menolak hadiah tersebut.
“Kalian pilih siapa yang akan menemani kalian di sini,” lanjut Letkol Hustings.
Setelah Letkol Hustings pergi dari pemandian air panas, para wanita tersebut membersihkan badan ke-4 peserta yang lolos. Pustin memilih wanita dengan rambut sebahu berwarna brunette. Wanita dengan wajah khas aryan yang mirip dengan Salsa.
Morcant memilih wanita dengan rambut pirang berwajah hispanic. Sementara Brabham memilih wanita dengan rambut panjang yang diikat kuncir kuda. Wanita ini memiliki wajah khas nordic yang sempurna.
Shelby memilih paling terakhir. Dia menerima wanita dengan rambut pendek dengan wajah campuran oriental dan nordic yang menjadi seleranya.
Ke-4 wanita ini terus membersihkan badan di area bahu hingga punggung dari para peserta yang lolos. Selama itu mereka tidak ada yang berbicara satu patah kata pun.
Pustin, Shelby, Morcant dan Brabham membisu. Dan mereka hanya saling bertatapan mata. Dan beberapa kali tersenyum kecil dengan hadiah dari Kolonel Horton.
“Baik, tuan-tuan. Saatnya berpindah. Ini handuk yang sudah kami siapkan,” ujar wanita pilihan Morcant memecah kebisuan mereka.
Sontak membuat mereka berempat kaget usai terdiam dan menikmati pelayanan dari para wanita-wanita tersebut. Sempat ragu sesaat, akhirnya mereka menerima handuk tersebut dan menutupi bagian bawah mereka.