Sang eksekutor langsung melepaskan tali yang menambat senjata tajam berukuran besar di atas. Hanya beberapa detik benda pipih terbuat dari baja tipis itu siap memenggal kepala Nicholas Louisette. Kepalanya menggelinding dari panggung dan jatuh ke sebuah lubang yang sudah disiapkan. Darah mengucur dari guillotine.
Narapidana mati kedua yang melihat proses itu mendadak berontak ingin pergi dari sana. Namun pasukan sipir sudah berjaga-jaga dan menahannya. Narapidana ini tidak bisa mengelak hingga dibaringkan di guillotine tersebut.
“Aku tidak bersalah. Aku difitnah. Aku tidak mau hukuman ini!” teriak narapidana ini terus menerus.
Sipir kemudian mengumumkan tuduhannya, “Francis Troussier. Mendapatkan hukuman mati karena mencuri di rumah bangsawan, Tuan Bradsley Bowyer dan menodai putri sulung, Nicole Bowyer. Francis Troussier memilih hukuman mati menggunakan guillotine,” ucap sipir tentang dakwaan Troussier.
“Apa ada kata-kata terakhir yang ingin engkau utarakan?” tanya sipir tersebut. Francis Troussier terus mengatakan hal yang sama berulang-ulang. Muka panik dan juga keinginan memberontak mencuat di benaknya. Namun usahanya sia-sia.
Eksekutor langsung melepaskan pisau guillotine dan dengan cepat pisau itu memenggal kepalanya dan menggelinding ke lubang bawah yang sudah disediakan. Menyatu bersama kepala Nicholas Louisette.
Tubuh dari Francis Troussier dibawa oleh para sipir dan dibuang ke gerobak kuda yang sudah ada di belakang panggung. Tubuh Nicholas Louisette dan juga Francis Troussier dibawa oleh gerobak kuda ke dalam penjara Abodie In Hell.
Kepala sipir menghampiri seseorang yang mengenakan pakaian mewah dan emas di sekitar tubuhnya. Para pejabat yang juga hadir menghampiri bangsawan tersebut.
Pustin melihat keriuhan di barisan depan. Para bangsawan dan pejabat tampak tertawa senang dengan proses eksekusi narapidana tersebut. Pustin bertanya dalam hatinya, siapa para bangsawan tersebut yang cukup senang melihat narapidana terbunuh.
“Dia adalah Tuan Bradsley Bowyer,” ujar Kolonel Horton duduk di sebelah Pustin. Mendengar jawaban itu membuat Pustin cukup kaget.
“Francis Troussier mendapatkan dakwaan karena mencuri beberapa emas dan melakukan hal tak senonoh pada Nicole Troussier,” lanjut Kolonel Horton.
“Tapi Francis mengatakan sebaliknya ketika hendak dieksekusi, Kolonel? Apa benar seperti itu?” tanya Pustin pelan.
“Entahlah. Bukan tugas kita untuk menentukan apakah Francis bersalah atau tidak. Itu tugas juri dan hakim. Tugas kita adalah mengeksekusi para narapidana,” jawab Kolonel Horton. Pustin terdiam.
“Jika masih ada keraguan di dalam hatimu apakah narapidana itu bersalah atau tidak, kau tidak akan melakukan tugas itu dengan baik, Pustin,” lanjut Kolonel Horton. Pustin hanya mengangguk pelan.
“Buang semua rasa takut, rasa bimbang dan juga menghakimi kepada narapidana. Kau harus netral dan fokus kepada tugasmu untuk melaksanakan tugas. Walaupun narapidana yang kau eksekusi adalah keluargamu.” Kolonel Horton memberikan pengertian kepada Pustin.
“Jika keluarga saya yang harus saya eksekusi, kemungkinan rasa bimbang ada, Kolonel. Apa mungkin eksekutor akan tetap diperintah untuk mengeksekusi narapidana yang memiliki hubungan saudara?” balas Pustin.
“Pustin, jangan ada rasa bimbang. Kau tahu, itu?” tanya Kolonel Horton yang terhenti ucapannya dan matanya memandang ke arah panggung.
Lalu dia melanjutkan ucapannya, “Eksekutor yang kau lihat sekarang, dia adalah adik kandung dari Francis Troussier."
Sontak Pustin terkaget-kaget mendengar lanjutan dari ucapan Kolonel Horton. Ternyata nyali dan mental seorang eksekutor harus besar dan mungkin hanya berpura-pura tegar padahal telah melakukan eksekusi pada keluarga sendiri.
Hari terakhir pelatihan akhirnya tiba. Total peserta yang ikut di tes terakhir ini sejumlah 20 orang. Sisa 130 orang dinyatakan tidak lulus dan sebagian kecil harus tewas pada tes seleksi pertama.
Pustin yang masuk ke dalam peserta 12 seleksi pertama, menempuh pendidikan cara menggunakan guillotine, lalu praktek eksekusi dengan menggantung boneka. Dan juga praktek pemakaian gas chamber.
Kedua belas peserta ini mendapatkan tambahan 8 peserta dari seleksi berikutnya yang berhasil lolos seleksi. Dan hari ke-90 merupakan hari terakhir untuk para peserta melakukan tes seleksi terakhir untuk semua pelajaran yang sudah diterima.
Pustin harus menjalani sesi terakhir. Dia berada di grid pertama. Setiap grid berisi 4 peserta. Tes pertama berlari ke arah bukit Kirkham, lalu lanjut ke tes fisik dan dilanjutkan dengan tes Gatling Gun serta terakhir adalah mengambil lencana Konstantin Field di dalam Gas Chamber.
Alangkah kagetnya Pustin ketika hendak melakukan tes pertama. Berbeda dengan tes-tes pada awal masuk, kali ini semua peserta harus membawa tas dengan berat sekitar 5 kilogram. Dan mereka harus membawa tas itu menuju ke bukit Kirkham.
Pustin berlari menuju ke bukit Kirkham. Jika bicara kecepatan, Pustin cukup kencang. Namun jika sembari membawa tas beban, tentu saja lain cerita. Pustin tidak bisa berlari dengan cepat. Namun masih yang terdepan diantara 4 peserta lainnya pada grid pertama. Pustin membutuhkan waktu setengah jam lebih untuk bolak-balik dari pos pertama. Dia masih berada di posisi pertama yang telah selesai.
Kemudian Pustin langsung mengikuti tes kedua. Dan masih dengan menggunakan tas beban tersebut. Pustin beberapa kali gagal mengangkat kayu log. Kelelahan fisik mempengaruhinya. Namun bukan hanya Pustin semata, peserta yang berada di grid yang sama dengan Pustin juga mengalami masalah serupa.
Pustin akhirnya berhasil mengangkat kayu dan membawanya ke pos berikutnya. Pustin menjatuhkan kayu di pos kedua tersebut. Namun tidak ada ucapan apapun dari pengawas seleksi di sana. Akhirnya Pustin melanjutkan proses seleksi di tes ke-2 ini.
Pada seleksi Gatling Gun, Pustin mendapati tes yang berbeda dibanding seleksi yang pertama. Kali ini terdapat 3 Gatling Gun yang mengincar para peserta seleksi. Dari arah depan dan samping kanan dan kiri. Kali ini para peserta tidak diminta untuk mengambil senjata, mereka akan mengambil kunci yang tergantung di tempat yang sudah disediakan.
Pustin berlari dengan zig zag sembari memperhatikan arah sasaran dari Gatling Gun. Serangan-serangan peluru Gatling Gun membabi buta ditujukan ke arah Pustin. Kali ini dia benar-benar kesulitan untuk lolos.
"Kalau seperti ini aku bisa mati! aku harus bisa mengalahkan tantangan."
Sebuah peluru menyerempet bahu kiri dari Pustin. "Ah!" jeritan keluar meski kecil.
Luka goresan diterima oleh Pustin. Dia menunggu momen semua peluru dimuntahkan oleh Gatling Gun. Ketika peluru habis dan harus diganti, Pustin memanfaatkan kesempatan untuk berlari menuju ke ujung tempat seleksi.
Gatling Gun dari sisi kanan langsung memuntahkan peluru ke arah Pustin. Sebuah peluru menyerempet kaki kanan Pustin yang membuatnya harus terjatuh. Pustin langsung bangkit. Dia tidak mau menjadi target peluru dari Gatling Gun tersebut. Beruntung jarak ke tempat kunci cukup dekat.
Dengan terpincang-pincang, Pustin menuju ke tempat tersebut. Dia mengambil salah satu kunci. Dan melanjutkan perjalanan menuju ke Gas Chamber. Kaki kanan Pustin masih cukup sakit. Namun dia tetap harus melanjutkan proses seleksi.
Pustin masuk ke dalam gas chamber. Dia mencari lencana Konstantin Field sebelum akhirnya lampu di ruangan mati dan gas mulai masuk perlahan-lahan. Pustin melepas bajunya untuk digunakan menutup mata dan hidung. Sembari meraba-raba, Pustin mencoba mencari lencana Konstantin Field. Dan akhirnya Pustin berhasil mendapatkannya.
"Ini dia!" ucapnya dengan senang.
Pustin segera keluar dari Gas Chamber dan menyerahkan lencana tersebut ke petugas seleksi yang berjaga di pintu keluar. Pustin diarahkan untuk menunggu di ruangan yang sudah tersedia.
Satu persatu peserta selesai. Pengumuman akan diumumkan saat itu juga melalui surat yang diberikan kepada para peserta satu persatu. Giliran Pustin dipanggil oleh petugas akhirnya tiba. Dia masuk ke dalam ruangan. Lalu petugas seleksi menyerahkan surat. Pustin keluar dari pintu lainnya untuk pulang kembali ke rumah.