DL-21

1153 Words
Di dalam surat itu nantinya akan diberikan instruksi berikutnya jika lolos dari seleksi ini. Pustin dengan rasa deg-degan membuka amplop tersebut. Namun Pustin hanya mendapatkan rasa kecewa. Dia tidak lolos dari seleksi. Keinginannya untuk bergabung dengan Konstantin Field gagal. Pustin akhirnya sampai di rumah. Selama 90 hari dia tidak kembali ke rumah. Salsa sang istri sudah menunggunya di rumah. Rasa khawatir menyeruak setelah banyak berita bahwa beberapa peserta tewas dalam proses seleksi. Salsa menunggu di luar rumah. Salsa tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir sekaligus pengumuman bagi para peserta seleksi Konstantin Field. Dari kejauhan Salsa melihat sang suami datang dengan kaki masih terluka. Salsa berlari dan memeluknya, “Syukurlah kau tidak apa-apa, sayang.” Pustin memeluk sang istri. Salsa melepas pelukan dan melihat wajah sang suami yang tampak lelah. “Aku buat makanan spesial untuk kita,” ujar Salsa. Pustin hanya tersenyum. “Salsa, apakah Pustin sudah datang?” tanya Juanita ketika mendengar langkah kaki Salsa. “Pustin pulang, Ibu,” jawab Pustin mencium tangan sang ibunda. “Syukurlah kau tidak apa-apa, Pustin. Lalu bagaimana hasil seleksinya?” tanya sang ibunda lagi yang membuat Pustin sedih. Pustin menghela nafas, “Pustin tidak lolos, Bu.” “Syukurlah kau tidak lolos, Pustin,” jawab sang ibu mendengar hasil seleksi. Salsa juga terlihat sangat senang dengan hasil seleksi suaminya. Pustin hanya terdiam mendengar kedua wanita tersayangnya ini justru senang dengan ketidak lulusannya menjalani proses seleksi. Cita-cita Pustin akhirnya sirna untuk membalaskan dendam sang ayah. Tiga hari berlalu sejak terakhir Pustin keluar dari proses seleksi. Sudah 3 hari pula dia menjalani kehidupannya seperti sedia kala sebagai kurir. Dan seperti biasa pula Pustin kembali membaca koran di kios langganannya. “Hei, Pustin. Bagaimana proses seleksimu,” tanya pria tua pemilik kios koran. “Kurang baik,” jawabnya singkat. “Ah, kau tidak lolos rupanya,” balas pria itu lagi yang tidak dijawab oleh Pustin. Mata Pustin terbelalak mendapatkan berita bahwa Mavra Scott mendapatkan hukuman mati. Dan penentuan proses eksekusi akan diumumkan lebih lanjut. Pustin melanjutkan perjalanan ke tempat Tuan Frank. Ada sebuah pekerjaan yang menantinya di sana. Suasana hati Pustin senang, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu. Senang karena pembunuh ayahnya akan mendapatkan hukuman setimpal. Kecewa karena dia tidak bisa menjadi eksekutor dan juga sedih karena Alexei. Rencananya nanti sepulang kerja Pustin ingin mengunjungi Alexei. “Siang, Tuang Frank,” sapa Pustin ketika masuk ke ruang rahasia Tuan Frank. “Ah, kau datang juga. Pesanku sampai juga,” balas Frank. “Ya, kemarin anak buahmu datang. Ada perlu apa, Tuan Frank?” tanya Pustin. “Ada surat untukmu, Pustin.” Frank memberikan sebuah surat tanpa nama. “Dari siapa?” tanya Pustin heran. “Dari rekanku yang bekerja di Abodie In Hell. Kemarin dia menyuruh seorang pembawa kabar berita datang kemari,” balas Frank, “Entah kenapa dia ke sini bukan ke rumahmu.” Pustin membuka surat tersebut. Matanya terbelalak. Sedetik kemudian dia berlari dari ruang rahasia tuan Frank dan menuju ke rumah. Suara panggilan Frank tidak dia hiraukan. Senyum sumringah muncul di wajah Pustin ketika membaca, “SELAMAT ! KAU LOLOS BERGABUNG DENGAN KONSTANTIN FIELD!” Menanggapi kabar bahagia itu, Pustin langsung pergi untuk mencari tahu kebenaran dari isi suratnya. Pustin sudah berada di sebuah ruang tunggu dengan interior mewah di Abodie In Hell. Dia menunggu sesuai perintah dari surat yang dia terima kemarin. Sejak jam 6 pagi, Pustin duduk dan menunggu. Entah sudah berapa lama Pustin menunggu di sini. Pustin tidak memiliki jam. Karena itu hanya untuk warga kaya raya. Pustin tidak memberi tahu tentang kelulusannya kepada Salsa. Dia takut istrinya akan kecewa. Apalagi Salsa sedang hamil putra keduanya. Sembari menunggu, Pustin memandangi keindahan dan kemegahan ruang tunggu tersebut. Tidak berapa lama salah satu pintu terbuka. Kolonel Horton masuk bersama 2 orang lainnya yang belum pernah Pustin lihat. Bukan Letkol Hustings dan juga Herbert. Pustin berdiri untuk menghormati Kolonel Horton. “Silahkan duduk, Pustin,” perintah Kolonel Horton sembari duduk di seberang Pustin. “Pustin, perkenalkan Kepala Sipir Jones Wesley,” tunjuk Kolonel Horton kepada pria berambut putih yang duduk di sebelah kiri Pustin. “Dan ini Sipir Finn Lewis,” tunjuk Kolonel Horton kepada pria yang duduk di sebelah kanan. Finn tersenyum kepada Pustin. Dia pun menjawab senyumannya. “Terima kasih kau sudah datang ke sini, Pustin,” lanjutnya “Sama-sama, Kolonel Horton,” jawab Pustin. “Mungkin kau kaget mendapatkan surat panggilan tersebut. Karena memang sebenarnya kau tidak lolos untuk bergabung menjadi eksekutor lapangan Konstantin Field,” lanjut Kolonel Horton lagi. “Oleh sebab itu Kami merekrutmu menjadi Agen Spesial di Konstantin Field,” lanjutnya yang membuat Pustin cukup bingung. “Tugas Agen Spesial adalah melakukan eksekusi. Jika tidak ada jadwal eksekusi, kau mendapatkan tugas untuk mengantarkan makanan atau kegiatan lain seperti sipir dalam penjara di Abodie In Hell. Nanti Finn yang akan mengajakmu ke sana.” Kolonel Horton menjelaskan lebih detail mengenai tugasnya. “Baik, Kolonel,” jawab Pustin tampak sudah mengerti apa saja tugasnya. “Ingat, pekerjaan inti tersebut tidak boleh ada yang tahu di sini. Termasuk orang luar. Jadwal kerja untukmu dari jam 6 pagi hingga 7 malam. Setelah mengantarkan makan malam, kau boleh pulang Pustin,” ujar Kolonel Horton. Pustin mengangguk. Kolonel Horton mengeluarkan surat perjanjian kepada Pustin. Dia meminta Pustin untuk menanda tangani surat perjanjian tersebut. “Satu lagi, Pustin. Jangan membocorkan apapun yang ada di penjara ini ke pihak luar,” lanjut Kolonel Horton mengingatkan lagi. Pustin menyetujuinya. Setelah penanda tanganan selesai, Kolonel Horton dan Kepala Sipir Jones Wesley pergi dari ruangan tersebut. Hanya tersisa Pustin dan Finn. “Ikut saya, Pustin. Akan saya bawa berkeliling,” ajak Finn. Mereka keluar dari ruang tunggu. Finn berjalan menelusuri area selasar. Pustin melihat ada 2 buah gedung yang mempunyai bentuk yang berbeda jauh. “Pustin, gedung depan adalah penjara untuk narapidana yang sudah mendapatkan hukuman atau dakwaan mati. Mereka menunggu jadwal untuk dieksekusi,” tunjuk Finn ke arah gedung depan yang cukup kumuh. Dan gedung ini yang tampak dari pelabuhan kota. Finn kemudian menoleh ke arah gedung belakang, “Sementara gedung itu adalah untuk para narapidana yang berasal dari bangsawan dan para pejabat. Mereka berada di sana untuk menyelesaikan hukuman mereka.” Pustin cukup kaget melihat perbedaan antara gedung depan dan belakang. Bak bumi dan langit. Gedung belakang ini mempunyai desain sangat bagus. Bak istana yang megah. Dan gedung ini tidak terlihat dari pelabuhan dan juga pintu masuk. Pustin berpikir kenapa ada perbedaan seperti ini. Dia tidak terima jika Mavra Scott harus hidup tenang di gedung itu. “Marco!” teriak Finn kepada Marco ketika mereka bertemu. Marco tampak baru keluar dari gedung belakang. “Siap!” jawab Marco. “Perkenalkan, ini Marco. Marco, ini Pustin, sipir baru Konstantin Field yang baru.” Finn memperkenalkan keduanya. Pustin menjabat tangan Marco. Perkenalan pertama kedua sosok ini yang akan menjadi petualangan mereka berdua di Abodie In Hell. “Sebentar lagi jam sarapan. Kau boleh mengikuti Marco untuk melihat bagaimana penyajian sarapan di sini. Aku akan ikut membantumu,” jelas Finn.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD