DL-22

1205 Words
Pustin mengikuti Marco dan Finn menuju ke area dapur. Cukup kaget melihat dapur di sana yang sangat bersih dan rapi. Dapurnya seperti rumah pejabat dan bangsawan. Semakin kaget Pustin melihat aneka makanan yang disajikan. Jauh lebih mewah dibandingkan makanan yang dia santap ketika melakukan seleksi. Marco mengantarkan makanan memakai peralatan troli terbuat dari kayu. Semua makanan kelas VIP ada di sana. Pustin juga ikut membantu mengantar. Sedangkan Finn mengawasi. Mereka bertiga masuk ke dalam sebuah ruangan makan yang sangat luas. 10 kali lipat dibandingkan dengan rumah Pustin. Para narapidana di sini adalah kalangan bangsawan dan juga pejabat. Mereka tengah asyik menikmati sajian minuman dan juga cerutu. Di dalam hati Pustin menggerutu. “Hei, cepat antar ke ruang makan. Kami sudah lapar menunggumu,” perintah salah seorang narapidana dengan badan gempal. “Baik, tuan Braden. Kami akan segera menyiapkannya,” jawab Finn dengan penuh ramah. Tanpa basa-basi mereka masuk ke ruang makan dan menyiapkannya. “Marco, kau bantu Pustin untuk menyiapkan makan dan beritahu jadwal makan siang dan malam serta camilan untuk sore,” perintah Finn yang bergegas pergi dari ruang makan tersebut. “Cih, jika kau tidak ada pengaruh di sini, sudah aku hajar,” gerutu Marco yang didengar Pustin. “Kenapa, Marco?” tanyanya. “Ah, tidak. Kau anggota baru?” tanya Marco sembari merapikan piring dan juga peralatan lainnya. “Iya. Baru hari ini bergabung,” jawab Pustin. “Baguslah. Aku juga bercita-cita ingin bergabung ke Konstantin Field, tapi fisikku lemah. Aku tidak berani melihat darah,” jawab Marco kecewa. “Jadi kau memutuskan untuk menjadi sipir saja?” tanya Pustin masih merapikan makanan di meja makan. “Ya, aku memutuskan untuk menjadi sipir. Itupun aku ditugaskan di gedung depan. Baru seminggu kemarin akhirnya aku ditugaskan di sini,” jelas Marco. “Gedung depan? Kenapa dibedakan antara gedung depan dan belakang?” tanya Pustin lagi. “Gedung depan untuk para pemberontak, pembunuh para pejabat dan bangsawan, narapidana yang terhukum mati. Di sana adalah neraka. Sementara di sini adalah surga,” balasnya. Pustin terdiam. Dia merasa tidak adil dan marah jika Mavra mendapatkan perlakuan yang enak seperti ini. Pustin merasa sangat marah. “Beruntung kau mendapatkan tugas memberikan makan di gedung ini. Kau tidak akan mendapatkan tugas ke sana,” lanjut Marco merapikan makanan terakhir. “Hei! Cepat sajikan! Lama sekali kalian,” teriak seorang wanita yang tiba-tiba masuk ke ruang makan. “Ba-baik, nona. Ini sudah selesai,” jawab Marco. “Sudah pergi sana. Kami tidak suka ada cecunguk ikut makan di sini. Pergi! Para bos sudah mau menikmati sarapan,” usir sang wanita. Pustin dan Marco bergegas keluar dari ruang makan. “Dasar, mentang-mentang bangsawan seenaknya saja kau mengusirku. Bisa saja kutarih sesuatu di makananmu,” gerutu Marco lagi. “Kenapa ada wanita di penjara ini, Marco? Bukannya penjara wanita bukan di Abodie In Hell?” tanya Pustin penasaran. “Dia bukan narapidana. Tapi dia penyalur para wanita panggilan untuk bos-bos di sini,” jawal Marco dengan muka masih masam. “Penyalur? Siapa dia?” tanya Pustin penasaran. “Nicole Bowyer.” Pustin kaget mendengar nama tersebut. Pustin mempersiapkan makan siang di ruang makan gedung belakang Abodie In Hell. Sendirian mempersiapkan makan siang untuk semua pejabat dan bangsawan yang korupsi dan ditahan di penjara ini. “Hei, cepat siapkan makan siangnya. Aku sudah lapar!” teriak narapidana dengan tubuh gempal yang kemarin memaki dia dan Marco. “Siap, Tuan. Semua makan siang sudah selesai,” jawab Pustin keluar dari ruang makan. Dilihatnya si pria gendut ini sedang dilayani 2 wanita cantik di sebelahnya. Salah satunya adalah Nicole Bowyer. “Kau siapa?” tanya Nicole melihat Pustin. “Saya Pustinen Luv. Sipir baru,” jawab Pustin penuh bangga. “Sipir katanya?” tanyanya sambil tertawa. Tawa Nicole disambut semua narapidana yang ada di sana. “Nicole, biarlah dia bangga dengan gelarnya. Tapi di sini tetap saja dia kacung. Mempersiapkan makan untuk kita semua,” ejek pria gendut itu yang membuat kuping Pustin merah. Tidak ingin membuat masalah, Pustin bergegas pergi dari sana menuju ke ruang kantin para penjaga dan sipir Abodie In Hell. Wajah dan muka Pustin memerah. Dia meletakkan nampan kayu dengan kencang sembari mengambil makanan yang disediakan. Marco juga berada di sana sedang makan. Dia melihat Pustin tampak begitu geram. Lalu dia memanggil Pustin, “Pustin! Bergabung bersamaku.” Pustin langsung menuju ke meja Marco. Pustin mendengus kesal, “Ah, kurang asam!” “Hei, Tenangkan dirimu dulu. Ada masalah apa, Pustin?” tanya Marco yang tampaknya sudah mengetahui masalah Pustin. “Si gendut itu meremehkanku. Dia bilang aku kacung,” jawab Pustin kesal. “Haha. Kau harus tahan dengan omongannya. Dia adalah Bos di sini,” balas Marco yang membuat Pustin tertegun. “Bos? Dia bos di Abodie In Hell?” tanyanya “Iya. Dia Vito Maggio. Salah satu mafia berpengaruh di kota ini. Dan dia adalah bos di sini. Semua sipir tunduk kepadanya. Karena gedung ini dibangun menggunakan uangnya.” Marco menjelaskan. “Lalu kenapa dia di penjara?” tanya Pustin penasaran sembari menikmati makan siang yang cukup lezat. “Penggelapan pajak. Itu yang dituduhkan oleh para hakim. Karena hanya itu yang bisa dilakukan oleh hakim,” jawab Marco. “Maksudnya?” Pustin masih belum mengerti. “Kau belum pernah dengar kasus Vito Maggio?” Marco cukup heran kasus cukup terkenal ini Pustin tidak pernah mendengarnya. Dan Pustin menggeleng. “Wow, kau selama ini hidup dimana,” ejek Marco, “Vito Maggio mendapatkan dakwaan melakukan pembunuhan berencana kepada keluarga mafia Frattesi Nereo. Tapi para hakim semua mendukung Vito. Jadi hanya kasus penggelapan pajak yang bisa didakwakan kepadanya.’ “Frattesi Nereo? Aku pernah dengar kasusnya sekilas,” jawab Pustin yang memang tidak terlalu memperhatikan kabar-kabar di kota. Dia hanya fokus kepada berita Mavra di surat kabar yang dia baca. “Kenapa para hakim mendukung Vito?” lanjut Pustin. “Para hakim mendapatkan rumah mewah, kehidupannya terjamin karena uang Vito,” balas Marco, “jadi apapun tuduhan dari jaksa dan polisi, Vito akan tetap menang.” Pustin cukup geram dengan kehidupan politik di kota ini, “Kenapa polisi dan jaksa hanya diam saja sekarang?” “Mereka tidak bisa melakukan apapun, Pustin. Liam Gibbs, polisi yang memperkarakan kasus Vito harus dimutasi ke kota lain. Jaksa Braddock W Morrissey sekarang terkapar koma akibat serangan jantung,” balas Marco lagi. Pustin semakin geram mendengarnya, “Kenapa tidak ada media yang memberitakan mengenai Vito dan juga kehidupan mewah di Abodie In Hell. Selama ini citra masyarakat kepada penjara ini cukup seram.” “Haha! kau ini terlalu naif, Pustin,” ejek Marco yang membuat Pustin mendengus kesal, “Semua media di kota ini sudah dibeli Vito. Kecuali media kecil seperti The Morning News milik Carol Powell dan Eddie Morant.” “Kenapa mereka tidak membahas dan meliput kesenjangan ini?” tanya Pustin. “Hei, Pustin. Apa mereka punya akses ke dalam sini?” Marco bertanya balik. “Tapi kita bisa cerita ke mereka!” bisik Pustin sedikit emosi. “Kau tidak baca surat perjanjian ketika masuk ke sini? Tidak boleh menceritakan apapun di dalam penjara ke dunia luar,” balas Marco santai. Pustin terdiam. Dia melupakan hal itu. Tapi melihat kesenjangan ini, ingin rasanya bercerita tentang penjara Abodie In Hell. Pustin menaikkan kelopak bawah matanya hingga membuat pandangannya menyempit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD