Ketika mereka sedang asyik berbincang-bincang, tim kebersihan tergopoh-gopoh pergi dari ruang kantin. Terdengar teriakan seorang wanita meminta ruang makan segera dibersihkan.
“Kau tidak perlu ke sana, Pustin. Itu sudah tugas tim kebersihan. Tugasmu hanya menyiapkan makanan dan eksekusi,” ujar Marco ketika melihat Pustin hendak bangkit dari tempat duduknya.
"Kau tahu aku seorang eksekutor?" tanya Pustin kaget.
"Haha, tentu saja! tenang hanya aku dan Finn." Marco merasa Pustin bisa dijadikan teman padahal baru bertemu beberapa saat saja.
Jeritan kembali terdengar dan Pustin pun menoleh.
“Suara siapa itu? Nicole?” tanya Pustin setelah mendengar suara itu.
“Ya, siapa lagi. Dia wanita kesayangan Vito Maggio,” balas Marco sembari membaca koran di meja kantin.
“Wanita kesayangan? Nicole?” Pustin kembali dibuat heran.
“Iya. Nicole adalah penyalur wanita-wanita satu malam untuk para narapidana di gedung ini. Dan dia kesayangan Vito Maggio,” jawab Marco.
“Bukannya Nicole ini pernah dinodai Francis Troussier?” tanya Pustin lagi.
“Apa kau percaya wanita seperti Nicole digoda, Pustin?” jawab Marco setengah terkekeh. Hal ini membuat Pustin semakin geram.
“Berarti dakwaan dan hukuman mati kepada Francis itu palsu?” tanya Pustin mengenai dakwaan Francis.
“Aku tidak bisa menjawab mengenai itu. Tapi jika kau lihat bagaimana Nicole dan ayahnya Bradley Bowyer, tentu kau bisa melihatnya sendiri,” balasnya
“Bradley Bowyer, siapa dia?” Pustin terus bertanya.
Marco menutup koran dan menatap Pustin dengan tajam, “Serius kau tidak tahu Bradley Bowyer? Kau sedang bercanda atau bagaimana?” Pustin menggeleng. Tanda bahwa dia benar-benar tidak tahu.
“Bradley Bowyer itu pemilik semua rumah judi di kota ini. Dia mendapatkan dana sangat besar. Dan kau tentu sudah tahu kemana arahnya,” balas Marco.
“Vito Maggio?” tebaknya. Marco menunjuk ke arah Pustin menyatakan bahwa tebakan Pustin benar. Hal ini semakin membuat Pustin geram.
“Lalu bagaimana kabar eksekutor Francis mengetahui kalau kakaknya tidak bersalah?” Pustin masih penasaran. Dia seperti mendapatkan hantaman bahwa Abodie In Hell ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Justru memuakkan.
“Dia bunuh diri 10 hari setelah eksekusi kakaknya,” balas Marco, “Hei, kenapa kau tahu eksekutor Francis adalah adiknya?”
“Kolonel Horton yang memberitahuku,” balas Pustin yang dijawab Marco dengan anggukan.
“Apa eksekutor di sini hanya aku saja? Aku tidak melihat ada eksekutor lain?” Pustin cukup heran karena selama di sini, dia tidak melihat eksekutor lainnya.
“Ada 2 orang selain kau, Pustin. Theseus dan Grayson. Tapi mereka memang hanya bertugas ketika ada eksekusi saja.” Marco masih fokus membaca koran.
“Apa hanya itu saja? Tidak ada eksekutor lainnya yang baru?” Pustin penasaran dengan para peserta seleksi Konstantin Field.
“Entahlah di penjara lainnya. Konstantin tidak hanya mengurus penjara Abodie In Hell. Mungkin mereka di tugaskan di penjara lain. Abodie In Hell penuh dengan tekanan mental.” Marco membalas sembari matanya fokus kepada salah satu berita.
“Hei, Pustin. Kemungkinan besar inilah korban pertama eksekusimu,” tunjuk Marco kepada sebuah berita dan foto.
Pustin membaca namanya yang tertera “LUCIUS BLAKE”
Beberapa saat setelahnya. Makan malam sudah selesai disiapkan meski diiringi oleh ocehan Marco.
Pustin sudah cukup kebal dengan suara cerewet Vito Maggio dan beberapa narapidana pejabat yang ada di sana. Tugas Pustin hanya menyiapkan makanan. Setelah itu selesai.
Pustin beristirahat terlebih dahulu di ruang kantin. Dia hanya menyantap beberapa makanan ringan. Pustin tidak ingin makan di kantin ini karena sudah hilang rasa laparnya akibat rahasia-rahasia yang didengarnya tadi.
Pustin melihat koran yang dibaca Marco tadi siang. Dia mengambilnya dan melihat berita pengumuman eksekusi Lucius Blake yang sudah ditetapkan akan digelar 3 hari lagi. Dan eksekusi ini akan dilakukan di halaman aula kantor pemerintah di pusat kota.
Pustin tertegun mendengarnya. Siapa Lucius ini hingga pelaksanaan eksekusi harus dilakukan di pusat kota? Biasanya proses eksekusi yang dilakukan di sana adalah penjahat kelas kakap yang sudah punya nama besar, tanya Pustin dalam hati karena tidak pernah mendengarnya.
Tidak lama kemudian Marco menghampiri Pustin dan duduk di seberangnya, “Lelah sekali hari ini!” gerutunya.
“Ada apa, Marco?” tanya Pustin melihat Marco tampak cukup lelah.
“Finn memberikanku pekerjaan yang cukup banyak.”keluh Marco.
“Finn? Kenapa bukan Kepala Sipir?” tanya Pustin cukup heran dengan tugas di sini.
“Ah, Kepala Sipir hanya jabatan formalitas. Finn yang memegang kendali di sini. Dia dipilih langsung oleh Perdana Menteri,” balasnya.
“Kenapa dia tidak langsung menjadi Kepala Sipir saja jika langsung dipilih?” Pustin penasaran.
“Finn tidak bisa berbicara di depan media. Dia akan gugup luar biasa dan kacau. Oleh sebab itu dia tidak menjadi Kepala Sipir. Tapi semua orang di gedung depan Abodie In Hell tahu siapa Finn,” lanjutnya.
Marco melirik koran yang dipegang Pustin. Dia melihat berita Lucius Blake, “Kau sedang membaca narapidana yang akan kau eksekusi?”
“Ah, iya. Aku membaca jadwal pengumumannya. Aku merasa heran, kenapa dia dieksekusi di aula kantor pemerintahan?” Pustin cukup penasaran dengan keputusan itu.
“Ah, Pustin, Pustin. Kau itu memang naif rupanya. Kau tidak tahu siapa Lucius Blake?” tanya Marco yang dijawab gelengan kepala.
“Lucius Blake mendapatkan julukan Phantom of The Night oleh masyarakat kota,” jelas Marco yang mengejutkan Pustin.
“Wah, Lucius?” teriak Pustin mendengar jawaban Marco.
“Iya. Dan ini tugas pertamamu sebagai eksekutor, Pustin. Bagaimana perasaanmu?” tanya Marco menggoda rekan barunya ini.
Pustin cukup gemetar mendengarnya. Dulu dia sempat memuja Lucius ketika masih berusia muda di awal 20 tahunan. Kasus 10 tahun yang lalu ini memang sangat terkenal.
Perbincangan terbuka hari ini membuat Pustin tercengang dan terkaget-kaget. Banyak orang yang terkenal berakhir di penjara tanpa ampunan ini. Namun, kekejaman yang dia dapat di pelatihan tidak terlihat sama sekali di dalam sini. Terlihat kesenjangan saja dan perundungan dari beberapa kalangan.
“Dulu aku memujanya,” gumam Pustin yang didengar Marco.
“Sebuah kehormatan sekarang kau bisa mengeksekusinya,” balas Marco, “Kenapa kau menyukai Lucius?”
“Entahlah. Waktu karena banyak masyarakat yang membela Lucius atas kasusnya,” jawab Pustin.
“Kau tidak tahu kasusnya?” tanya Marco yang dijawab gelengan kepala Pustin.
“Dia membantai 3 keluarga menteri dan 6 bangsawan dalam waktu 1 tahun,” lanjut Marco yang mengagetkan Pustin.
“Bukannya dia ditangkap karena membunuh menteri Holtby?” tanyanya.
“Dia bukan ditangkap, tapi menyerahkan kepala menteri itu kepada polisi. Dan menyerahkan diri,” balas Marco.
“Menyerahkan kepala? Dia memotong kepala menteri Holtby?” Pustin bergidik ngeri, “Kenapa dia melakukan itu?” tanyanya lagi merasa kalau dia sudah melewatkan banyak hal selama ini karena fokus pada Mavra saja.
“Kau tidak tahu cerita aslinya, Pustin?” tanya Marco yang lagi-lagi dijawab gelengan kepala oleh Pustin.
“Istri dia digoda oleh para menteri dan bangsawan-bangsawan tidak berpendidikan itu. Lalu dia dibunuh bersama anaknya,” jawab Marco yang membuat Pustin bergidik ngeri.
“Dia balas dendam?” tanyanya penasaran.
“Iya. Istri Lucius jadi korban dan dibunuh di depan matanya. Itu yang membuat dia membunuh para penjahat berbaju rapi itu,” balas Marco yang tampak geram menceritakannya.
“Tidak terpuji sekali kelakuan para menteri dan bangsawan itu. Aku pun akan melakukan hal yang sama,” jawab Pustin.
“Lucius sudah menantikan eksekusi ini sejak lama. Dia mendekam di Abodie In Hell selama 10 tahun dan berharap eksekusinya lebih cepat. Tapi Perdana Menteri dan raja berkeinginan lain. Lucius disiksa cukup lama di sini,” lanjut Marco.
“Mereka membalas apa yang Lucius perbuat,” gumam Pustin.
“Tentu saja. Jika kau melihat tubuh Lucius, sudah berapa banyak siksaan dia terima. Apalagi dari Finn yang terus menyiksa Lucius selama 5 tahun belakangan ini,” jawabnya.
“Bagaimana Lucius membunuh para menteri dan bangsawan itu?” tanya Pustin penasaran.