“Entahlah. Rumornya dia meracuni para bangsawan dan membantai semua keluarganya. Ada pula yang bilang dia membakar gedung tempat para bangsawan dan menteri ini berkumpul. Rumor lain juga sempat berkembang, tapi tidak pernah dipublikasikan oleh kepolisian,” balas Marco.
“Siapa dalang dari pembunuhan istri Lucius?” Pustin penasaran terus menerus seperti seorang anak yang baru saja tahu dunia luar.
“Menurut cerita dari Lucius sendiri, Holtby yang memulainya. Dahulu Lucius dan istri memiliki gedung pertunjukkan teater dan musik. Istrinya Lucius, Anastasia, memang menjadi primadona di sana,” jawab Marco.
“Suatu ketika Holtby berniat untuk meniduri Anastasia dan menyewanya. Tapi ditolak mentah-mentah oleh Lucius,” lanjut Marco.
“Lalu?”
“Suatu saat Holtby memanggil Lucius dan istri untuk mengadakan pertunjukkan di rumahnya. Usai pertunjukkan, Lucius dihajar sampai babak belur dan tidak berdaya. Lalu Anastasia diperlakukan dengan tidak hormat di depan Lucius kemudian Anastasia dan anak Lucius di bunuh di depan matanya.” Marco menerangkan kisah Lucius dengan gemetar.
“Wah, Kejam sekali mereka. Kau tahu cerita itu dari mana, Marco?” Pustin penasaran dengan cerita informasi yang didapatkan sahabat barunya itu.
“Lucius sendiri yang cerita kepadaku. Tapi dia tidak pernah menceritakan secara detail bagaimana Lucius menghabisi para menteri dan bangsawan itu,” lanjut Marco lagi.
“Termasuk bagaimana dia menghabisi Holtby?” tanya Pustin.
“Dia cerita bagaimana Lucius menghabisi Holtby. Tapi aku tidak kuat menceritakannya. Benar-benar lebih kejam dari apa yang dilakukan Holtby kepada Anastasia.” Marco tampak ingin muntah ketika memikirkan cara Lucius menghabisi Holtby.
“Tapi pembalasan yang pas untuk pejabat jahat seperti itu,” jawab Pustin, “aku sangat ingin berbicara dengannya.”
“Kau tidak bisa, Pustin. Tugasmu hanya di gedung belakang. Sedangkan Lucius ada di gedung depan. Dan aku tidak bisa membawamu ke sana,” balas Marco.
Pustin cukup kecewa tidak bisa berbicara dengan Lucius. Dia juga sebenarnya ingin melihat lokasi keberadaan Mavra karena selama beberapa hari ini Pustin bekerja di gedung belakang, tidak ditemukan sosok Mavra.
Apakah dia berada di gedung depan, neraka Abodie In Hell? tanyanya dalam hati.
Tidak berapa lama Pustin akhirnya pamit pulang. Begitupun dengan Marco. Mereka berdua berpisah di pelabuhan karena tujuan yang berbeda.
Di tengah perjalanan Pustin melihat seorang wanita yang digoda oleh 2 pria. Tapi tampaknya kedua pria ini tidak bermaksud untuk menggoda. Dari gestur tubuh mereka, tampak kedua pria ini ingin menghabisi wanita tersebut. Ditambah lagi jalanan cukup sepi pada jam segini.
Pustin berteriak dan berlari ke arah mereka. Beruntung kedua pria tersebut kabur dan meninggalkan wanita ini sendirian.
“Kau tidak apa-apa? Berbahaya jalan malam-malam di sini.” Pustin membantu wanita ini untuk berdiri dan membereskan barang-barangnya.
“Terima kasih. Aku tidak apa-apa. Hanya kurang waspada,” balas wanita ini ramah.
“Baiklah. Segeralah pulang. Di luar cukup berbahaya,” saran Pustin yang hendak beranja.
“Maaf, siapa nama Anda. Aku Carol Powell.”
"Pustinen Luv." Balasan itu membuat wanita yang baru saja digoda kembali menggoda dirinya.
Pustin mendengus geram dan membantin, Pantas saja dia diganggu para pria itu. Ternyata memang tabiatnya suka menggoda.
"Maaf, saya harus pulang. Istri saya menunggu." Pustin menolaknya dan segera pergi.
Sesampainya dia di rumah, Salsa menyambut sang suami dengan penuh cinta. "Aku merindukanmu, Pustin."
"Aku juga." Pustin mengecupnya hangat dan akan menghabiskan waktu bersama selagi ibu dan anaknya tertidur lelap. Pulang di waktu yang larut, membuat orang-orang sudah istirahat.
"Aku sepertinya tidak bisa pulang sering-sering. Jaga putra kita juga ibuku, ya!" pinta Pustin.
"Iya, Pustin, aku mendukungmu. Meski aku sedih berjauhan, tetapi mengetahui kalau kau itu bekerja di pemerintahan, rasanya senang juga." Salsa menyandarkan diri di tubuh suaminya, satu selimut bersama.
"Apa kau bertemu dengan pelaku yang membunuh almarhum ayah?" tanyanya.
Pustin mendesah kecil, melirik istrinya. "Belum," jawabnya.
Salsa tersenyum kecut. "Jangan dendam padanya, Pustin."
Alis Pustin naik karena permintaan sang istri. Dia tidak mau membahas masalah Mavra karena misinya tidak akan goyah dengan alasan apapun.
Beberapa hari setelahnya.
Hari yang dinantikan telah tiba. Eksekusi Lucius Blake di depan mata. Aula halaman kantor pemerintahan yang luas dan biasanya sepi, kali ini penuh dengan manusia. Penjagaan ketat dilakukan oleh semua militer dan juga polisi di area ini.
Pustin yang sudah berada di kantor pemerintah, melihat antusias masyarakat untuk melihat proses eksekusi Lucius Blake merinding. Apalagi suara teriakan berbunyi “Bebaskan Lucius!" terus diteriakkan semua masyarakat di sekitar kantor pemerintah.
Area untuk Raja, Perdana Menteri dan jajaran kabinet juga sudah disediakan dan dijaga sangat ketat. Lalu untuk para bangsawan juga sudah dipersiapkan. Diletakkan di belakang kursi keluarga raja.
Pustin berada di ruang persiapan Konstantin Field. Ruangan ini memang dikhususkan untuk para eksekutor. Di sini sudah disediakan berbagai macam makanan serta fasilitas lain yang mewah.
Pustin tidak menyangka dia bisa mendapatkan fasilitas itu juga. Sayang Pustin tidak bisa membawa Salsa dan anaknya untuk ikut menikmati fasiltas mewah tersebut.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Kolonel Horton masuk bersama Perdana Menteri, Jenderal dan pengawalnya. Namun hanya Kolonel Horton, Jenderal dan Perdana Menteri yang datang menghampiri Pustin. Cukup kaget dengan pemandangan itu, Pustin bangkit dari tempat duduknya.
“Selamat, Pustinen Luv,” ucap Kolonel Horton kepadanya.
“Ini eksekutor Konstantin Field yang akan melaksanakan eksekusi hari ini.” Kolonel Horton memperkenalkan Pustin kepada Jenderal dan Perdana Menteri.
“Hebat, anak muda. Saya bangga denganmu,” ujar Perdana Menteri yang memegang bahu kanan Pustin, “Lakukan tugasmu dengan baik," lanjutnya.
Lalu Jenderal Panglima militer menghampirinya dan memberikan selamat, “Lakukan yang terbaik, Pustin.”
Tidak berapa lama Perdana Menteri dan Jenderal Panglima ini keluar dari ruangan tersebut. Hanya menyisakan Kolonel Horton yang diminta untuk mempersiapkan Pustin.
“Gugup, Pustin?” tanya Kolonel Horton setelah mengantar Perdana Menteri dan Panglima Militer keluar ruangan.
“Ya, Kolonel. Ini pertama kali saya harus mengeksekusi,” jawab Pustin.
Kolonel Horton tersenyum dan menatap wajah Pustin, “Kamu pasti bisa, Pustin. Kamu orang terpilih untuk masuk ke dalam Konstantin Field. Harapan Raja Helmsley, Perdana Menteri Patton dan semua masyarakat ada di pundakmu.”
Pustin hanya tersenyum. Dia tahu bahwa masyarakat lebih menginginkan untuk membebaskan Lucius. Namun sebagai eksekutor, Pustin harus menyingkirkan rasa empati dan juga perdulinya. Keputusan hukuman itu urusan hakim dan juri.
“Baiklah, aku akan menunggu di area VIP. Pastikan semua berjalan dengan baik, Pustin.” pamit Kolonel Horton.
“Kolonel,” panggil Pustin yang membuat langkah Kolonel terhenti, “Kemana peserta seleksi yang lain?”
“Mereka bertugas di penjara lain. Kemungkinan besar mereka ikut menyaksikan eksekusi ini,” jawab Kolonel Horton yang bergegas keluar dari ruangan.
Sementara itu, di kantin penjara.
Mavra Scott tampak duduk di kursi bersama narapidana lain. Dia melirik ke arah Lucius yang sedang dipersiapkan untuk dibawa menuju ke kantor pemerintah. Namun tidak ada tanda-tanda kesedihan di matanya. Justru mata Lucius berbinar-binar seolah dia hendak pergi berlibur.
“Benar jika Lucius sudah gila,” bisik narapidana yang duduk tidak jauh dari posisi Mavra.
“Iya, lihatlah betapa bahagianya dia. Apa dia tidak sadar bahwa dia akan mati,” balas narapidana lain di sebelahnya.
“Dia bahagia karena akan bertemu istri dan anaknya,” timpal Mavra menanggapi perkataan kedua narapidana itu. Keduanya melihat Mavra sesaat.
“Omong kosong. Kepercayaan apa itu?” balas narapidana itu.
Mavra terdiam. Dia tidak ingin berdebat dengan narapidana lain. Mavra tidak mau menghadapi masalah lagi dengan Finn. Dia ingin hidup tenang menjelang jadwal eksekusinya yang akan diumumkan dalam waktu dekat ini.
Lucius mengenakan borgol besi dan diantar oleh para sipir menuju ke kendaraan yang akan membawanya ke kantor pemerintah. Kala menunggu kendaraan itu, Lucius menatap Mavra. Dia memberikan salam hormat kepada Mavra yang dijawab senyuman olehnya.
Tidak lama kemudian, Lucius masuk ke dalam kendaraan dinas Abodie In Hell untuk dibawa ke aula eksekusi.