DL-25

1097 Words
Masyarakat sudah semakin padat dan suara gemuruh meneriakkan protes agar Lucius dibebaskan terus berkumandang. Namun tidak ada tanggapan apapun dari pihak kerajaan, Perdana Menteri dan juga militer. Mereka seolah tutup kuping. Tidak berapa lama kendaraan yang membawa Lucius datang ke kantor pemerintah. Kendaraan ini menuju ke gedung belakang. Mengetahui bahwa Lucius sudah tiba, masyarakat semakin kencang berteriak. Pustin memandangi kejadian ini melalui jendela ruang Konstantin Field. "Aku gugup," ucap Pustin sendiri, tanpa ada yang mendengarnya. Dia sudah bersiap mengenakan jubah dan juga topeng serta sarung tangan kulit. Pustin menghela nafas untuk mengusir rasa gugupnya. Kemudian dia keluar dari ruang Konstantin Field dan berjalan menuju ke altar eksekusi di aula depan kantor pemerintah. Penjaga sudah mengetahui kedatangan eksekutor dengan identitas rahasia. Dia memerintahkan Pustin untuk berdiri di belakang panggung. Bersiap-siap untuk naik. Tidak berapa lama, Lucius datang di ruangan yang berbeda. Petugas membawa Lucius naik ke atas panggung. Bak seorang pahlawan, masyarakat mengelu-elukan Lucius. "Lucius, kau akan masuk ke Surga! sedangkan yang menghukum kau akan mendapat balasan pedih!" umpat seseorang dari arah kerumunan. Penjaga akhirnya mempersilahkan Pustin untuk naik ke atas panggung. Dilihatnya masyarakat melempar kerikil dan juga tanah ke arah panggung. Namun jarak antara panggung dan juga tempat masyarakat berkumpul ini cukup jauh, membuat lemparan mereka hanya mengenai bibir depannya saja. Lucius di tidurkan di atas guillotine. Sebelumnya Pustin dan Lucius bertatapan mata. Pustin melihat tidak ada senyum sedih atau panik ketika menghadapi hukuman. Justru mata yang berbinar dan penuh dengan kebahagiaan muncul dari Lucius. Petugas mengunci Lucius dan membacakan dakwaan, “Lucius Blake ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan berencana tingkat I kepada 9 korban. Dan mendapatkan hukuman mati dengan memakai guillotine. Apa ada kata-kata terakhir yang mau disampaikan?” Lucius hanya tertawa dan menggeleng. Sementara suara teriakan untuk membebaskan Lucius semakin kencang terdengar. Sayup-sayup juga terdengar teriakan untuk memenjarakan Perdana Menteri Patton. Setelah tidak ada kata-kata terakhir yang mau diucapkan, Pustin langsung melepaskan tali penahan pisau hingga akhirnya jatuh dan memenggal kepala Lucius dari badannya. Kepala itu terjatuh dari atas panggung ke tanah. Seketika suara teriakan masyarakat hening. Tidak ada yang bersuara. Para petugas mengambil kepala tersebut dan juga badannya. Kepala Lucius diberikan kepada Perdana Menteri. Sementara badan Lucius di pindahkan menggunakan gerobak kuda. Pustin juga ikut turun panggung dan kembali ke ruang Konstantin Field. Usai eksekusi, Pustin langsung pulang dari kantor pemerintahan. Ketika ada jadwal eksekusi, Pustin tidak menyediakan sajian makan untuk narapidana eksklusif Abodie In Hell karena memang tugas utamanya adalah sebagai eksekutor. Lagi pula hari ini hari pertama dia melakukan pekerjaan. Menyuruhnya pulang bertujuan agar selera makan Pustin tak terganggu. Pustin berjalan kaki dengan syal menutup wajah bagian bawah dan topi. Ini dimaksudkan untuk menghalau udara dingin yang sebenarnya sudah tidak terlalu menusuk tubuh. Pustin tidak lupa pula membawa beberapa makanan enak yang dia ambil dari Konstantin Field. Namun Pustin tidak langsung menuju ke rumah. Dia memasuki sebuah restoran yang berada di daerah Timur kota. Tidak jauh dari rumahnya. Pustin masuk ke dalam restoran. Dia menuju ke bagian dalam yang jauh dari jendela dan juga jauh dari orang lalu lalang di jalan. Dia akhirnya duduk di depan seorang wanita cantik dengan rambut hitam sebahu. “Hai, Pustin,” sapa wanita tersebut menutup bukunya. “Hai, Carol. Sampai dimana tulisan tentang Abodie In Hell?” Carol Powell tampak sumringah melihat Pustin datang. Dia sudah menunggu sejak tadi siang. Informasi yang diberikan Pustin mengenai Abodie In Hell bagaikan berlian bagi wartawan seperti dirinya. Apalagi Carol dan Eddie memang ingin memberitakan masalah kesenjangan kehidupan di kota ini. “Kau sudah selesai bertugas, Pustin?” tanya Carol setelah Pustin duduk dan menyeruput kopi panas yang terhidang. “Sudah. Antusiasme luar biasa dari masyarakat,” balas Pustin. “Apa kau tidak merasa berdosa, Pustin?” Carol menanyakan masalah moral kepada Pustin. “Tidak. Bukan tugasku menjatuhkan vonis. Tugasku hanya melakukan eksekusi yang sudah dibebankan kepadaku.” Pustin kembali menyeruput kopinya. “Apa kau tidak ada beban moral sedikitpun, Pustin?” Carol terus memojokkan Pustin. “Hei, jika bicara masalah moral, ada yang lebih buruk dariku. Dan aku membantumu untuk berbicara kepada masyarakat bahwa keadaan ini sedang tidak baik-baik saja,” balas Pustin yang membuat Carol terdiam. “Akan berakibat buruk jika aku tidak menjalankan pekerjaan yang sudah diberikan. Mereka yang memilihku,” lanjut Pustin yang coba dimaklumi oleh Carol. “Tapi apa kau tahu kisah tentang Lucius Blake?” tanya Carol menyelidik. “Ya, aku tahu. Kisah dan cerita pilu Lucius. Tapi aku tidak bisa berbuat apapun, Carol. Hanya ini yang bisa aku perbuat. Melalui dirimu,” jawab Pustin. “Baiklah. Mari kita saling membantu, Pustin. Kita lanjutkan investigasi kita.” Carol mengeluarkan kertas dan pena untuk menuliskan apa yang diinformasikan kepada Pustin. “Kau sudah menulis tentang Vito Maggio bukan?” tanya Pustin lagi. “Sudah. Kau bercerita kemarin tentang si gendut nan mengganggu, Maggio,” jawab Carol penuh emosi. “Kau tampak membenci dia sekali. Apa kau pernah bermasalah dengannya?” selidik Pustin. “Sudah, aku tidak mau membahasnya. Selain Vito Maggio siapa lagi yang kau tahu, Pustin?” kilah Carol seraya bertanya kembali mengenai informasi Abodie In Hell. “Aku pernah mendengar pria bernama Braden.” Pustin mengingat siapa saja yang pernah dia temui di Abodie In Hell. “Braden? Mads Braden?” Carol cukup kaget mendengar nama itu. “Aku tidak tahu nama lengkapnya. Tapi Finn memanggilnya Tuan Braden,” balas Pustin. Carol tampak mengambil sesuatu dari tas besarnya. Lalu dia menunjukkan sebuah foto pria dengan badan gemuk, “Apakah ini orangnya?” “Ya, dia Tuan Braden,” balas Pustin setelah memastikan bahwa foto yang ditunjukkan oleh Carol adalah orang yang sama. “Haha! Aku kira selama ini dia menderita di Abodie In Hell. Rupanya justru dia hidup semakin enak di sana,” umpat Carol. “Ada apa dengan Mads Braden?” Pustin penasaran dengan sosok pria ini yang membuat Carol cukup marah. “Dia didakwa hukuman mati oleh hakim. Dan diutus ke Abodie In Hell. Tidak kusangka dia hidup enak di sana.” Carol tampak masih kesal. “Didakwa hukuman mati? Atas kasus apa?” Pustin cukup kaget mendengar jawaban Carol. “Pelecehan dan penjualan wanita,” jawab Carol yang semakin membuat Pustin kaget. “Huh, Apa dia memiliki hubungan dengan Vito Maggio?” Pustin juga cukup heran. “Ya, dia adalah salah satu penyalur para wanita untuk si gendut Maggio,” geram Carol. Pustin cukup kaget dengan berita dari Carol. Sebuah kabar yang mengagetkan dirinya. Tidak menyangka bahwa sudah sebejat ini kehidupan sosial di kota. “Vito memiliki 2 penyalur wanita untuk memuaskan hasrat seksualnya,” ujar Pustin setelah terdiam beberapa saat. “Ya, Nicole Bowyer dan Mads Braden,” jawab Carol.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD