DL-26

1375 Words
Tidak berapa lama datang seorang pria muda berusia 30 tahunan dengan rambut pirang menghampiri mereka berdua, “Maaf aku terlambat.” “Hei, Eddie. Perkenalkan ini Pustinen Luv.” Carol memperkenalkan Pustin kepada Eddie. “Hai, aku Eddie Morant.” Eddie menjulurkan tangannya, “Pustin Luv.” Pustin menjabat tangan Eddie. “Terima kasih, Pustin atas semua informasi yang kau berikan pada Kami,” jawab Eddie. “Ini sebuah berita yang pasti akan menggemparkan,” lanjut Eddie sembari mengeluarkan kertas. Pustin hanya terdiam. Dia menunggu Eddie mempersiapkan semua kertas yang akan digunakan untuk mencatat semua informasi mengenai Abodie In Hell. “Kau baru saja mengeksekusi Lucius Blake?” tanya Eddie lagi. “Ya. Tapi cerita ini tidak akan kau terbitkan di koranmu, bukan?” Pustin khawatir terhadap pertanyaan Eddie. “Ah, tidak. Tenang saja. Aku hanya bertanya saja. Kebetulan aku juga menyaksikannya. Kau langsung menjatuhkan guillotine itu tepat di kepala Lucius hingga tewas,” lanjut Eddie bercerita. Carol menendang kaki Eddie perlahan. Memberikan kode bahwa lebih baik untuk bertanya mengenai Abodie In Hell. Dan tampaknya Eddie cukup tanggap. “Pustin, apa saja yang kau temukan di Abodie In Hell?” tanya Eddie, “Carol memang sudah bercerita kepadaku. Tapi aku ingin mendengarkannya secara langsung.” “Abodie In Hell ada 2 gedung. Depan dan belakang. Gedung depan itu seperti kita tahu tampak kumuh dan tidak terurus. Di sini tempat bagi para tahanan mati kalangan rakyat jelata dan pekerja.” Pustin mengambil kopi dan menyeruputnya. “Sementara gedung belakang tampilannya jauh berbeda. Bagaikan bumi dan langit. Di sini banyak berisi para pejabat, bangsawan dan juga mafia yang punya uang di negeri ini. Mereka di sini karena hukuman yang didapat oleh hakim.” Pustin melanjutkan ceritanya. “Siapa saja yang ada di sana, Pustin?” Eddie kembali bertanya sembari menulis dengan detail informasi dari Pustin. “Yang aku tahu dari pejabat dan mafia itu ada Vito Maggio, Gacy Joe, Weller Grisham, Brolin Bircken, Neto Silva dan Mads Braden,” jawab Pustin. “Mads Braden? Dia yang menikmati tubuh dan menjual adikmu, Carol?” tanya Eddie yang dijawab tatapan mata tajam Carol, “Ah, maaf.” “Dinodai?" gumam Pustin yang cukup kaget mendengar ucapan Eddie. “Teruskan, Pustin.” Carol tampak tidak ingin membicarakan hal tersebut. Dan Pustin tampak mengerti. “Nama-nama pejabat dan mafia yang kau sebutkan tadi.” Eddie mengalihkan pembicaraan. “Ya, dan Vito Maggio yang memimpin di sana. Bersama Nicole Bowyer,” jawab Pustin. “Si wanita tanpa mahkota tersebut selalu bersama si penjahat itu,” geram Carol. “Itu sudah pasti. Nicole tentu cari pelindung,” balas Eddie, “Apa saja fasilitas di sana, Pustin?” “Di gedung belakang fasilitas sangat lengkap. Ada ruang makan, perpustakaan, ruang menonton, tempat tidur lux dan juga pijat serta ruang mandi air panas,” jelas Pustin yang membuat Eddie dan Carol bengong, “Makanan di gedung belakang juga cukup mewah.” “Sekomplit itu? Hampir menyamai istana dan kantor Perdana Menteri.” Eddie merasa tidak percaya mendengar informasi tersebut. “Pantas saja semua pejabat yang terkena kasus, merasa betah di Abodie In Hell. Kehidupannya seperti itu,” geram Carol lagi. “Ada informasi apa lagi, Pustin?” tanya Eddie mencoba menggali informasi penting. “Itu saja yang aku tahu. Narapidana yang ada di sana aku belum mengetahui siapa-siapa saja. Aku tidak kenal dengan mereka,” jawab Pustin. “Baiklah. Terima kasih informasinya. Kabari aku dan Carol jika kau sudah mendapatkan informasi terbaru,” pinta Eddie. “Baiklah. Lalu kapan rencana koran tentang Abodie In Hell ini dipublikasikan?” tanya Pustin sebelum mereka beranjak. “Setelah semua informasi Kami dapatkan, akan segera dicetak,” jawab Eddie yang berlalu dari restoran bersama Carol. Cukup lama mereka berbincang. Pustin berharap mereka bisa tutup mulut untuk masalah yang tak seharusnya diumbar. Jika suatu saat kabar dirinya sebagai eksekutor tersiar ke luar, maka Pustin akan memberi hukuman pada mereka. "Baiklah, sepertinya kami masih ada urusan lain. Terima kasih atas waktu dan juga ceritamu. Semua aman bersamaku dan kau jangan khawatir." Pustin mengangguk setuju, lalu menyampaikan ancamannya sekali lagi agar mereka bisa tutup mulut mengenai identitas narasumbernya. Mereka pun bergerak meninggalkan restoran, begitu pula dengan Pustin. Namun, dia tidak langsung keluar, menunggu beberapa menit usai Eddie dan Carol pulang dan juga minuman di cangkirnya belum habis. Setelah di rasa cukup aman, Pustin akhirnya keluar dari sana. Tiba-tiba saja, ketika Pustin hendak berjalan ke arah rumah, ada yang memanggilnya. “Pustin? Apa yang kau lakukan di sini?” teriak sebuah suara mengagetkan Pustin. Pustin menoleh dan alisnya ikut menanjak. “Hei, Scott? oh, aku sedang mengantar paket dari Tuan Frank ke restoran itu,” tunjuk Pustin ke arah restoran, jawaban bohong agar tidak diketahui oleh sahabatnya. “Ah, sekarang mereka mulai menggunakan barang dari Tuan Frank?” tanya Scott. “Iya. Apa kabarmu, Scott?” Pustin mencoba mengalihkan pembicaraan. “Yah seperti ini. Sedang tidak baik-baik saja,” jawab Scott lemas. “Ada apa, sobat? Kau tampak murung?” tanya Pustin melihat Scott cukup lemas. “Kau belum dengar kabar tentang ayahku?” Scott bertanya balik. Pustin mengerti kemana arahnya. Dan dia sudah mengetahui kabar tentang hukuman ayahnya tersebut. “Aku belum tahu. Memangnya bagaimana tentang kabar ayahmu, Scott?” Pustin berbohong. "Meski aku kerja di sana, tetapi tidak bisa melihat ayahmu," lanjutnya. “Mereka memutuskan hukuman mati untuk ayahku,” jawab Scott sedih dan matanya mulai berkaca-kaca. "Meski aku tahu akhirnya begitu, tetapi tetap saja aku sedih." “Aku turut bersedih, Scott. Seandainya ada yang bisa aku bantu, mungkin kau akan bahagia.” Pustin memeluk sahabatnya itu. Sementara di sisi lain dia sudah tidak sabar menunggu kepastian kapan hukuman tersebut akan dimulai. “Hei, Pustin. Apakah kau ingin menemaniku minum?” ajak Scott. “Ah, maafkan aku, sobat. Aku harus segera pulang. Salsa sudah menantiku hari ini. Bagaimana kalau lain hari?” tolak Pustin. “Pustin," panggilnya lirih. "Ya, Scott?" sahut Pustin. "Semoga kau semangat terus bekerja. Doakan aku juga bisa mendapatkan pekerjaan sebaikmu." "Haha, apa hebatnya sipir?" "Kau merendah, Pustin!" Sontak mereka berdua pun tertawa bersama. Setelah itu Pustin dan Scott pisah arah dan melanjutkan tujuan untuk melakukan aktivitas masing-masing. Beberapa hari kemudian di Abodie In Hell. Pustin bertemu dengan Marco, teman baik di dalam pekerjaannya. “Hei, hari masih pagi kau sudah melamun saja,” panggil Marco yang membuyarkan lamunan Pustin tentang pertemuan dirinya dengan Scott kemarin sore. “Ah, Marco.” Pustin melihat Marco yang duduk di seberangnya. “Kau sudah sarapan?” tanya Marco kepada Pustin. “Sudah? Tadi selesai menyiapkan sarapan,” jawab Pustin lagi. “Kau menjadi buah bibir di kalangan sipir dan pegawai Konstantin Field,” ujar Marco sembari membuka koran yang dia bawa. “Maksudmu?” Pustin tidak mengerti ucapan dari Marco. “Keberhasilanmu mengeksekusi Lucius Blake mendapatkan apresiasi luar biasa. Kau bisa mengatasi tekanan dari masyarakat yang begitu luar biasa,” jawab Marco. “Ah, soal itu. Bukan apa-apa,” jawab Pustin merendah. "Aku hanya melakukan eksekusi sesuai aturan. Hebatnya di mana?" lanjut Pustin. “Merendah kau. Tapi aku akui bahwa kau luar biasa. Jika aku berada di posisi itu, sudah pasti aku akan gugup dan tidak sanggup melakukannya,” balas Marco. Pustin tertawa kecil, lalu melihat ke sekitar. “Hei, Marco,” panggil Pustin. “Hem,” jawan Marco berdehem. “Kenapa hari ini narapidana di gedung eksklusif cuma sedikit? Ke mana mereka?” tanya Pustin. “Mereka sedang mengadakan rapat bersama Perdana Menteri Patton dan Jenderal Arthur,” jawab Marco. Pustin cukup kaget mendengar kabar tersebut, “Mereka keluar dari Abodie In Hell?” “Iya, tadi pagi. Jika kau melihat banyak kereta kuda yang keluar dari pelabuhan, itulah mereka,” lanjut Marco. “Vito juga?” tanya Pustin lagi cukup heran dengan keadaan di Abodie In Hell. “Sudah pasti dia akan ikut. Perdana Menteri Patton punya utang besar kepada Vito Maggio.” Marco masih fokus kepada koran di depannya. Pustin cukup heran dan geram. Sudah seburuk itu perlakuan pemerintah. Sangat kontras perbedaan antara rakyat biasa dan rakyat menengah ke atas. “Marco, apa yang kau baca di koran setiap hari?” tanya Pustin terheran-heran. “Seperti biasa, lomba pacuan kuda. Aku melihat siapa yang akan menang minggu ini,” jawab Marco matanya masih fokus ke koran. “Pacuan kuda? Kau ikut taruhan di sana?” tanya Pustin mengernyit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD