DL-18

1046 Words
Ketika memasuki ruangan, dilihatnya 11 peserta yang kemarin gagal berkumpul di ruangan belajar yang cukup luas. Suara riuh berubah menjadi hening ketika Letkol Hustings dan juga Herbert memasuki ruangan. Pustin kemudian mengikuti di belakang kedua letkol tersebut. Morcant dan Shelby tampak senang melihat kedatangan Pustin. Mereka mengajak Pustin untuk duduk di sebelahnya. Para peserta duduk memutar membentuk huruf U dengan bagian tengahnya dan depannya terdapat papan tulis. Tidak berapa lama Kolonel Horton masuk. “Selamat pagi semua.” Suara Kolonel Horton menggelegar memecah keheningan. “Kali ini sisa 12 peserta dari 16 peserta. Tapi yang lolos dari ujian kemarin hanya 1 orang, Pustin Luv.” Kolonel Horton memandang Pustin. “Selamat kepada Pustin. Dan pada sesi kali ini saya meminta kepada Pustin untuk menceritakan apa strategi dan taktik yang dia lakukan untuk lolos dari ujian tersebut.” Kolonel Horton mempersilahkan Pustin untuk berdiri. “Pustin, kenapa kau bisa lolos dari serangan Gatling Gun? 10 peserta sebelumnya gagal. Dan 3 orang tewas. Lalu Morcant, Shelby dan Brabham berhasil lolos dengan mengikuti caramu,” tanya Kolonel Horton. “Saya membaca pergerakan dari Gatling Gun. Senjata itu memang luar biasa dengan kemampuan menembak. Tapi hanya bisa dilakukan searah. Jika berubah arah, Gatling Gun harus digerakkan terlebih dahulu,” jawab Pustin. “Jadi kau memilih untuk bergerak secara zig zag?” tanya Kolonel Horton atas jawaban Pustin. “Iya, Kolonel,” jawab Pustin singkat. “Bagus. Kita bisa lihat bagaimana Pustin mampu membaca situasi dan juga kondisi di lapangan. Dia tidak terintimidasi dengan kehebatan Gatling Gun,” puji Kolonel Horton. “Pustin justru membaca kelemahan dari senjata tersebut. Dan dia bisa lolos tanpa ada luka sedikitpun,” lanjut Kolonel Horton lagi. Kolonel Horton mendekati Pustin dan memberikan ucapan selamat kepadanya. Pustin menerima ucapan selamat tersebut. Namun dihati Pustin masih ada rasa curiga setelah apa yang mereka alami sebelumnya. “Jika kalian ingin menjadi eksekutor, kalian harus memahami situasi di lapangan. Karena proses ekskusi terkadang akan dilaksanakan di pusat kota yang disaksikan masyarakat banyak,” ujar Kolonel Horton setelah kembali ke tempatnya. “Dan ada kemungkinan kalian akan diserang oleh pasukan pemberontak. Dalam kondisi tersebut, tentu saja tentara dan petugas penjara tidak bisa menjaga kalian 100%. Di sinilah fungsinya ketelitian dan memahami situasi di lapangan,” lanjut Kolonel Horton. Semua peserta tampak mulai mengerti apa maksud dan tujuan pelatihan kemarin. Hampir semua mata tertuju kepada Pustin. Ada yang terkesima dengan kepintarannya, ada pula yang iri. “Pelatihan kedua hanya diikuti oleh Pustin, Shelby, Morcant dan Brabham. Mereka mendapatkan servis memuaskan dari wanita-wanita yang sudah saya siapkan.” Kolonel Horton tersenyum ke arah Pustin. “Dan Pustin lolos kembali. Kenapa?” tanya Kolonel Horton kepada Pustin. “Saya membaca buku di teras gedung Kirkham, Kolonel. Di sebutkan gas untuk eksekusi ini bisa diatasi dengan air dingin. Saya menggunakan handuk dan air dingin tersebut untuk keluar dari ruangan itu,” balas Pustin. “Bagus. Tapi pertanyaan saya, kenapa kau menolak hadiah wanita yang saya berikan kepadamu?” Kolonel Horton menunduk dan mendekatkan wajahnya ke Pustin. Pustin tertegun. Dia tidak menyangka Kolonel Horton akan menanyakan kenapa dia menolak Sophie yang sempat menggodanya tersebut. Sementara peserta lain tampak iri Pustin mendapatkan hadiah wanita cantik. “Ma-maafkan saya, Kolonel. Saya bukannya tidak tertarik. Tapi saya sudah memiliki istri dan tidak ingin mengkhianati istri saya,” jawab Pustin pelan. “Bagus. Jiwa setia. Saya suka dengan keputusanmu,” jawab Kolonel Horton yang membuat Pustin sedikit lega. “Para wanita yang saya berikan itu adalah para pembunuh bayaran. Mereka saya minta untuk membujuk dan merayu kalian untuk bercinta,” ujar Kolonel Horton sembari berjalan ke tengah-tengah peserta. “Pustin, menolak. Shelby nyaris saja mencium wanita tersebut. Morcant menolak. Akan tetapi Brabham dengan ganas dan nafsu mencium Astrid.” Kolonel Horton lanjut berbicara. Kolonel Horton diam sejenak. Dia melihat ke semua peserta. Tatapan matanya yang tajam, membuat para peserta bergidik ngeri. “Astrid adalah wanita tuna wicara. Dia tidak bisa bicara. Dan dia adalah salah satu pembunuh bayaran terhebat di kota ini. Kalian tahu apa kejadian berikutnya?” tanya Kolonel Horton kepada semua peserta. Suasana hening, tidak ada yang bisa menjawabnya. Pustin, Morcant dan Shelby juga ikut terdiam. Mereka bergidik ngeri dengan pemandangan dan memori kelam semalam. “Brabham mati terbunuh oleh Astrid. Kepalanya dipotong dan juga alat vitalnya terpotong, kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya,” lanjut Kolonel Horton memecah keheningan. Kolonel Horton berjalan menuju ke area depan di dekat papan tulis, lalu dia berkata, “Wanita itu adalah wujud dari suap yang akan kalian terima jika menjadi eksekutor. Harta dan wanita merupakan 2 hal yang menggoda para eksekutor.” “Dahulu cukup banyak eksekutor di Konstantin Field yang menerima suap dan enggan melakukan eksekusi. Dan terbukti, Pustin mampu mengalahkan nafsu tersebut,” lanjut Kolonel Horton. Peserta lain bergidik ngeri mendengar penjelasan Kolonel Horton. Ujian yang benar-benar menguras mental dan juga psikologis. Mereka tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika berada di posisi tersebut. Kolonel Horton melanjutkan pelajarannya, “Gas yang kau terima, itu merupakan gas percobaan yang akan digunakan untuk mengeksekusi para penjahat kriminal tingkat tinggi. Gas itu akan menyiksa selama beberapa menit sebelum tewas. Kau luar biasa bisa mengetahui cara mengatasinya.” Suasana kelas kembali hening. Kolonel Horton berdiri di depan Pustin dan memandang semua peserta. Satu persatu dia lihat. Tatapan tajam Kolonel semakin membikin ruangan menjadi hening. Tidak ada satupun suara keluar dari mulut mereka. Hanya ada desahan nafas dan jantung yang berdegup kencang. Kolonel Horton mengalihkan pandangannya ke arah Pustin, “Apa kira-kira yang kau pelajari dari tes tersebut, Pustin?” Pustin cukup kaget mendengar pertanyaan Kolonel Horton. Dia mencoba untuk menjawab sesuai kesimpulannya, “Kita diminta untuk tetap tenang dalam keadaan apapun.” “Bagus, tapi masih kurang tepat,” jawab Kolonel atas tanggapan Pustin. “Ujian tersebut untuk memberikan pelatihan bahwa kalian harus tenang dan juga memperhatikan sekeliling kalian,” lanjut Kolonel Horton. Kemudian Kolonel menunjuk Pustin dan berkata, “Pustin mampu memperhatikan keadaan dan menemukan bak air dingin. Dan ketika berada di teras Kirkham, kau membaca buku yang ada di rak.” Pustin, Morcant dan Shelby tertegun dengan jawaban dari Kolonel Horton. Semua pelatihan berbahaya yang diterima mereka, memiliki arti yang cukup penting. “Semua petunjuk mengenai ujian selanjutnya ada di teras tempat kalian berkumpul, Pustin. Entah kau mengerti atau kau tidak sengaja membaca salah satu petunjuk tersebut,” lanjut Kolonel Horton.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD